Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Melepaskan Ego Diri Sendiri Dan Berasimilasi Dengan ‘Sejati-Baik-Sabar’

1 Feb. 2008

Pengalaman Praktisi

Melepaskan Ego Diri Sendiri Dan Berasimilasi Dengan ‘Sejati-Baik-Sabar’

(Minghui.org) Saya mulai terlibat di dalam Penyiaran Minghui pada akhir tahun 2005. Pekerjaan saya adalah melakukan acara wawancara 10 menit sekali seminggu. Saya telah melakukan pekerjaan itu selama satu setengah tahun. Saya bermaksud berbagi beberapa pemahaman dan pengalaman-pengalaman saya.
 
1. Melepaskan Keterikatan akan Kemampuan
 
Ketika pertama kali saya mulai, saya mewawancarai seorang praktisi yang sering menghimbau di depan Kedutaan Besar China. Saya tidak suka dengannya sebab saya pikir dia tidak rasional. Walaupun dia adalah orang Barat, bahasa Inggris-nya banyak yang keliru dan saya seringkali harus terlebih dulu mengira-ngira apa yang sedang dia coba katakan. Kadang-kadang dia hanya bergumam. Saya mempunyai suatu keterikatan: Saya suka berbicara dengan orang-orang yang logis dan dapat berbicara dengan jelas atau orang-orang yang sangat berkompeten. Praktisi ini tidak layak. Saya benar-benar tidak sabar dengannya. Ketika dia sedang berbicara, saya tidak dapat menghentikan pikiran bahwa hal tersebut akan banyak menghabiskan waktu saya untuk membersihkan file suara (keahlian teknis saya sangat terbatas pada waktu itu).
 
Ketika pada akhirnya saya selesai mewawancarainya dan mulai mengedit file suara, saya menjadi tambah gelisah. Saya mulai merasa pusing, tidak dapat melihat dengan jelas, merasa lemah, dan perut saya juga mulai mengganggu. Ini sangat tidak lazim. Saya dulu bekerja pada komputer satu hari penuh tanpa ada keluhan. Apa yang salah pada diri saya? Saya menghentikan apa yang sedang saya lakukan kemudian mulai berpikir. Saya menyadari bahwa kondisi pikiran saya tidaklah benar. Saya telah menyalahkan praktisi lain untuk masalah saya: itu memang benar-benar membutuhkan waktu untuk mengedit file suaranya. Saya tidak suka dengan gayanya, dan lain-lain. Saya hanya memperhatikan diri sendiri.
 
Saya menyadari bahwa saya sangat egois. Saya baru saja telah memperlihatkan celah kekosongan yang sangat besar pada kejahatan. Saya tidak dapat membiarkan hal ini terjadi, maka saya akan mengelolanya. Saya mengingatkan diri sendiri untuk tidak mencampur-baurkan emosi saya dengan pekerjaan Dafa dan hanya melakukan apa yang harus saya lakukan, tanpa berprasangka terhadap rekan-rekan praktisi lainnya.
 
Sesaat kemudian, kegelisahan saya menjadi surut. Ketika saya mendengarkan file suara tersebut, saya menemukan bahwa praktisi tersebut telah berbicara dengan baik sekali. Tadinya saya terlalu terfokus pada kelemahannya sehingga telah mengabaikan kelebihannya.
 
Saya menemukan bahwa, di dalam kultivasi dan kehidupan sehari-hari, saya adalah individu yang banyak menuntut, terutama pada suatu bidang yang saya kuasai dengan baik. Saya terlalu memperhatikan kelemahan-kelemahan orang lain dan selalu heran mengapa orang-orang tidak dapat meningkat. Sesungguhnya, saya hanya memandang diri sendiri terlalu tinggi.
 
Keterikatan ini mungkin telah berakar terlalu mendalam. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah bermimpi. Saya bermimpi tentang mahluk-mahluk hidup yang sedang diganggu oleh kejahatan. Mereka sedang menunggu dua Dewa untuk menghukum kejahatan. Dua dewa tersebut terbang di atas, yang satu agak muda, yang satunya lagi setengah baya dan seorang dewi. Saya adalah dewi di dalam mimpi itu. Yang muda adalah asisten saya. Saya menyadari dengan baik bagaimana orang-orang memandang saya di dalam mimpi itu. Mereka menghormati kemampuan saya dan mempercayai saya. Saya sangat bangga akan rasionalitas dan kemampuan saya. Saya tidak memikirkan orang lain. Juga, saya menunjukkan kepuasan diri saya pada permukaan. Saya terlihat seperti Dewa. Ketika saya terbangun, saya menyadari bahwa Xinxing (kriteria moral) saya telah menyimpang dari apa yang diharapkan pada tingkat itu. Saya sungguh egois. Walaupun terlihat masih merupakan sebuah alam Dewa, namun ia telah mengalami degenerasi.
 
Keterikatan saya telah diperkuat di dalam kehidupan ini sebab saya mempunyai kemampuan dan kelebihan tertentu yang sering memperoleh pujian. Secara berangsur-angsur, tanpa disadari, kepuasan diri sendiri dan ketidaktoleranan saya terhadap ketidakmampuan telah diperkuat. Sejak saya mulai berkultivasi, saya telah banyak dipuji oleh rekan-rekan praktisi. Tanggapan saya terhadap pujian-pujian seperti itu adalah serupa dengan yang ada di dalam mimpi saya. Saya sangat bangga akan diri sendiri dan memandang diri sendiri sangat tinggi. Kekuatan lama telah memanfaatkan berbagai kemampuan ini untuk memperkuat sisi saya yang telah menyimpang dari Fa.
 
Namun, Dafa dapat meluruskan segalanya. Melalui belajar Fa, saya memahami bahwa kemampuan kita datang dari Dafa dan mereka adalah untuk membantu Guru meluruskan alam semesta, bukan untuk memperkuat keterikatan hati kita. Kita semua mempunyai karakteristik masing-masing, dengan misi yang berbeda di dunia ini. Kemampuan kita, kelebihan atau kelemahan, telah diatur oleh Guru dengan suatu alasan. Saya telah memiliki berbagai kemampuan tersebut, bukan karena saya yang luar biasa tetapi karena Dafa-lah yang luar biasa. Sebagai suatu mahluk di dalam Dafa, saya seharusnya tidak bangga akan segala kemampuan yang saya peroleh dari Dafa, dan tidak ada alasan untuk meremehkan mereka yang kelihatannya tidak memiliki kemampuan yang menonjol.
 
2. Xinxing Terungkap selama Konflik
 
Beberapa bulan kemudian, saya hamil untuk anak yang kedua. Saya menemukan bahwa saya tidak bisa berdiri banyak seperti sebelumnya, atau saya merasa mual. Sehingga saya menghindari tidur larut malam. Suatu ketika saya harus meng-upload suatu program malam itu, maka saya berkata kepada suami saya bahwa segera setelah putra kami tidur, saya akan mulai rekaman sehingga saya dapat menyelesaikannya jam 12 pagi. Saya tidak mengijinkan suami saya menggunakan telepon saat saya sedang rekaman. Ketika saya siap untuk melakukan rekaman, saya menemukan suami saya masih bercakap-cakap lewat telepon. Saya memberi isyarat padanya bahwa saya mau mulai untuk rekaman. Ia mengangguk, tetapi 20 menit talah lewat namun ia masih berbicara terus di telepon. Saya merasa terganggu. Saya berpikir bahwa ia kurang perhatian pada orang lain dan saya  mulai mendidih di dalam: "Kamu tidak pernah di rumah. Saya ditinggal sendiri untuk mengasuh si kecil. Saya harus bekerja dan melakukan pekerjaan Dafa. Sekarang saya sedang hamil. Jika saya tidur terlambat, saya tidak akan dapat tidur dengan nyenyak, dll, dll." Semua luka lama telah terbuka.
 
Saya memberi isyarat lagi kepada suami dengan mikrofon saya. Akan tetapi, ia hanya mengangguk, bersungut, dan melanjutkan percakapan. Saya sangat marah. "Ia tidak memperhatikan saya!" Saya hampir ingin merebut telepon itu dan berteriak padanya. Tetapi saya mengendalikan diri karena tidak ingin rekan praktisi yang sedang berbicara dengannya, mengetahui hal ini. Saya merangsak ke luar dari kamar kemudian membanting pintu.
 
Suami saya mungkin menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Secepat saya duduk, ia menyelesaikan percakapannya kemudian datang menghampiri. Bahkan saya lebih marah lagi ketika melihat wajahnya yang merasa tidak bersalah. Saya mengeluh dengan pahit tentang betapa kurangnya perhatian dirinya terhadap saya. Ia mendengarkan. Setelah saya kembali tenang ia berkata, "Saya tahu kalau kamu tertekan. Apakah kamu tahu bahwa saya juga sangat tertekan? Saya tidak ahli dalam berkoordinasi. Saya berpikir bahwa saya tidak pantas untuk pekerjaan saya."
 
Saya mengetahui bahwa ia sedang berkata jujur dengan saya. Ia tengah merasakan tekanan besar. Seandainya saya tahu bahwa ia akan memikul banyak pekerjaan koordinasi, saya tidak akan menginginkan anak ke-dua. Ibu saya datang untuk tinggal bersama saya dua kali semasa awal kehamilan, dan setelah putra saya lahir, ibu datang lagi untuk membantu saya. Suatu ketika dia mengeluh akibat kelelahan. Ibu baru saja mulai belajar Falun Gong dan waktu itu belum benar-benar menjadi seorang praktisi. Ibu tidak dapat memahami mengapa suami saya menghabiskan banyak waktu dan upaya untuk sesuatu yang tidak menghasilkan uang. Saya sungguh tidak dapat membuatnya mengerti. Beruntung, ibu menjadi berubah setelah menyaksikan pertunjukan Spectacular.

Dengan tekanan dari pekerjaan Dafa, ketidaknyamanan dari kehamilan, dan suasana hati yang mudah berubah, telah membuat saya sungguh terganggu. Saya tidak masalah dengan ibu saya sebab dia adalah manusia biasa, dan saya memahami dari mana dia berasal. Itu dapat dimengerti kalau dia mengeluh karena kelelahan dan tidak mengerti makna penting pertunjukan Chinese New Year Spectacular. Tetapi suami saya adalah seorang praktisi. Saya berharap dia berprilaku sebagai seorang praktisi. Jika ia berbuat tidak sesuai dengan kriteria, saya menjadi kesal dengannya. Saya lupa dengan segala ajaran Guru, bahwa para praktisi semestinya tidak menjadi marah dan harus bersikap toleran, dan kita harus memikirkan orang lain terlebih dulu. Di bawah keadaan seperti itu, suatu konflik yang kecil menjadi meluas.
 
Sesungguhnya, saya telah meluangkan banyak waktu untuk belajar Fa selama periode tersebut. Saya menyadari bahwa saya tidak mantap dalam kultivasi, maka saya belajar lebih banyak. Ketika saya sedang membaca Fa, saya merasakan simpul demi simpul hati dibuka. Saya menjadi orang yang berbeda, dengan pikiran yang sangat tenang, dan segala keluhan saya menghilang. Tetapi ketika saya merasakan tekanan, banyak dari keterikatan saya muncul kembali.
 
Saya menemukan bahwa ketika kita tidak berada dalam keadaan tertekan, egoisme kita tertutupi oleh hal-hal tertentu, seperti sopan-santun atau suatu pemahaman dari apa yang harus kita lakukan pada permukaan. Tetapi itu tidak berarti bahwa keterikatan itu telah dilepas. Ia masih dapat menyelinap pada diri kita ketika kita berada dalam keadaan tertekan. Maka saya menyadari bahwa kultivasi saya belum kuat. Saya berketerikatan dengan apa yang harus saya lakukan sehingga tidak menghiraukan bagaimana perasaan orang lain.
 
Satu-satunya solusi adalah belajar Fa lebih banyak lagi, memikirkan orang lain terlebih dulu, dan menjadi lebih pemaaf. Sekali kita mempunyai kapasitas yang lebih besar dan melepaskan segala keterikatan hati, kita akan mampu menangani tekanan tersebut dengan lebih baik lagi.
 
Menoleh ke belakang pada pengalaman saya, saya dapat merasakan Guru telah menuntun saya sejak awal. Tak peduli berapa banyak konflik yang kita hadapi di antara rekan-rekan praktisi, tak peduli berapa banyak kita telah berbuat yang tidak sesuai sebagai praktisi, Guru tidak akan pernah melepaskan kita. Saya telah memutuskan  untuk melakukannya lebih baik dan meluruskan segalanya yang ada dalam diri saya yang tidak sesuai dengan prinsip "Sejati, Baik, Sabar."
 
Terima kasih Guru, atas kesempatan yang diberikan untuk berkultivasi dan memurnikan diri kami sehingga kami dapat kembali ke jati diri kami yang asli.
 
Artikel berbagi pengalaman antaranggota redaksi Minghui, 2007
 
Chinese: http://minghui.org/mh/articles/2008/2/1/159586.html

English: http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2008/2/24/94750.html