Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Legenda Masa Kini: Seorang Gadis Mengepakkan Sayapnya

18 Des. 2009 |   Oleh: Wang Haotian

(Minghui.org) Semester baru saja dimulai. Banyak mahasiswa keturunan Tionghoa bergabung di sekolah tinggi seni itu. Pada suatu hari ketika kami pergi ke sebuah taman dekat asrama mahasiswa untuk berlatih Falun Gong dan menyebarkan materi klarifikasi fakta, seorang gadis Tionghoa yang berusia sekitar 17 atau 18 tahun tengah duduk di sebuah bangku. Dia mengenakan make-up tebal dan wajahnya seperti lukisan cat minyak. Dengan rambut panjang yang dicelup dengan warna kuning tipis serta diikat, dia nampak seperti Bushi Jepang. Dia juga mengenakan jeans mode dengan beberapa sobekan yang disengaja.

Tatkala saya memandang ke arahnya, saya bingung bagaimana cara memulai pembicaraan dengannya. Saya sedikit ragu karena dia terlihat dingin dan angkuh. Akan tetapi, Shifu telah memberi tahu kita agar selalu berbelas kasih terhadap semua makhluk, dan kita tidak boleh hanya memperhatikan penampilan luar saja. Saya menenangkan hati dan memiliki perasaan samar-samar sepertinya saya pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Saya mulai memancarkan pikiran lurus untuk membasmi segala pikiran buruk pada diri saya dan sekaligus untuk membersihkan dimensinya.

Saya tersenyum dan berjalan menghampirinya. Dia sedang merokok, dan segera mematikan api rokoknya ketika dia melihat saya berjalan ke arahnya. Saya berbicara dengannya perihal pentingnya mengundurkan diri dari Partai Komunis China (PKC). Dia membaca materi klarifikasi fakta yang saya berikan kepadanya sambil mendengarkan apa yang saya bicarakan. Kemudian dia berkata, ”Saya mahasiswi jurusan seni, dan saya tidak tertarik pada urusan-urusan begini atau perihal partai, tetapi saya pernah menjadi anggota pelopor muda (komunis) ketika saya masih kecil. Apakah perlu mengundurkan diri?” Saya menjawab, “Tentu, jika anda mengundurkan diri, maka tidak ada yang anda perlu khawatirkan dan memungkinkan anda berkarya lebih baik dalam bidang seni.” Dia tersenyum: “Baik, saya mengundurkan diri.” Dia menggunakan nama samaran “Bidadari.”

Ketika saya melihat dia untuk yang kedua kalinya, make-up yang biasanya begitu tebal berubah menjadi lebih tipis dan lukisan cat minyaknya berubah menjadi lukisan cat air yang indah. Dia menyapa saya dan mengundang saya untuk datang ke kamar di asramanya. Ada sebuah gambar yang tergantung di dinding persis di bagian dalam pintu---itu adalah lukisan seorang bidadari yang duduk di bulan dengan bintang-bintang di langit biru sebagai latar belakangnya. Bidadari itu sedang berpikir dengan posisi tangan di bawah rahang dan sayapnya yang tergantung turun. Ada beberapa buah kata di samping gambar itu: “Saya seorang bidadari yang turun ke dunia manusia dengan sayap yang patah.”

Gadis itu berkata bahwa lukisan itu adalah kisah dirinya. Saya tersentuh oleh lamanya waktu penantian dan pengembaraan para makhluk hidup. Kami berbicara cukup lama. Dia sederhana dan terbuka. Saya dapat simpulkan bahwa dia sangat bijak dan tidak terkontaminasi oleh masyarakat modern sekarang ini. Kemudian, setelah kami berbicara panjang lebar, saya mengajaknya untuk menyaksikan video ceramah Fa Shifu. Hari berikutnya, dia tidak pergi ke mana-mana hingga selesai menyaksikan video tersebut. Dia tersenyum dan menunjuk ke arah foto Shifu yang ada di dinding sambil berkata, “Shifu sedang menatap ke arah saya.”

Hari berikutnya, dia terlihat sangat gembira, “Tadi malam, saya memimpikan seorang peri. Dia memberi saya sebuah buku dengan gerakan tangan lemah gemulai. Dia sangat cantik dan saya masih teringat padanya.” Dia berbicara mengenangnya seraya menirukan gerakan tangan peri pada saat itu juga. Kemudian dia menunjuk pada dahi di antara kedua alis matanya, “Sekarang saya dapat melihat beberapa kata di sini dan kata yang pertama adalah ‘keberanian’.” Saya senang mendengarnya, khususnya karena dia baru mulai berlatih. Tampaknya dia tidak punya kesulitan ketika melakukan posisi sila ganda. Praktisi lainnya juga gembira menyaksikan hal ini.

Ketika menoleh di sekitar kita, ada banyak makhluk hidup yang masih sedang menunggu. Mereka bisa diselamatkan jika kita menolong mereka. Ketika mengarahkan pandangan pada diri saya dan kehidupan yang lalu lalang, saya menyadari bahwa perbedaannya mungkin hanyalah sekilas pikiran kita, yaitu pikiran belas kasih seorang praktisi xiulian (kultivasi) yang mampu menentukan masa depan makhluk hidup.

Sekalipun seorang bidadari yang turun ke dunia manusia dengan sayap yang sudah patah, gadis itu sekarang tengah meluruskan dirinya sendiri dan kembali ke jati dirinya yang asli. Sejak itu, gadis itu berubah dan berhenti menggunakan make-up dan telah menampakkan keindahan dan kesejatian dirinya. Dengan mengepakkan sayapnya, sekarang dia sedang terbang ke dunianya yang indah.