Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Menunjukkan Kekurangan Orang Lain Dengan Belas Kasih dan Mencari Ke Dalam

30 Sep. 2009 |   Oleh: Praktisi Israel


(Minghui.org) Baru-baru ini seorang praktisi bertanya lewat e-mail kepada praktisi-praktisi lokal kami dan bertanya, "Mengapa demikian sulit untuk menunjukkan kekurangan orang lain (baik praktisi maupun bukan praktisi) dengan belas kasih?" Saya menulis jawaban, bahwa yang dia katakan kepada saya sangatlah bermanfaat, dari pengalaman dan pemahaman saya sendiri dan saya pikir untuk berbagi dengan rekan-rekan.

Dari pengalaman saya, jika sesuatu tidak dapat ditunjukkan dengan belas kasih, dikarenakan hal tersebut menyentuh masalah saya sendiri. Saya telah memperhatikan jika hal tertentu membuat saya kesal terhadap orang lain, itu dikarenakan saya mempunyai masalah yang belum terselesaikan, bukan orang itu sendiri. Isu apa yang telah saya lihat dalam diri sendiri? Salah satunya adalah saya ingin mengubah dunia bukannya diri saya sendiri-- termasuk memperbaiki dunia dan orang lain, memperbaiki situasi, dan mencoba untuk "meluruskan semua yang salah." Saya mempelajari bahwa apa yang benar-benar dibutuhkan adalah belajar untuk menerima dunia dan orang-orang seperti apa adanya, bukannya mengubah mereka. Ketika saya bisa menerima dunia seperti apa adanya, saya menemukan bahwa seringkali masalahnya tidak ada lagi. Itu bukan berarti bahwa seseorang tidak boleh menunjukkan kekurangan, tetapi itu harus diutarakan atas dasar penerimaan, bukannya penyangkalan dan pertentangan.  

Yang lainnya adalah saya menginginkan sesuatu harus dilakukan dengan "cara saya,"  menginginkan dunia untuk memuaskan saya, dari pada saya mengakomodasi dunia. Saya sedang belajar untuk melepas, untuk berkompromi, untuk memikirkan kepentingan orang lain terlebih dulu. Ini adalah tantangan bagi saya saat ini. Seorang praktisi pada suatu hari menunjukkan saya: "Apakah kamu menginginkan sesuatu harus dilakukan dengan caramu selamanya?" Ingin “mengubah dunia atau orang-orang" adalah keterikatan hendak mengendalikan, dan keterikatan hendak mengendalikan berasal dari keterikatan yang lebih dalam lagi yaitu perasaan tidak aman (takut). Pada jalur kultivasi, saya belajar untuk melepas dan mengikuti pengaturan Guru. Guru sudah merencanakan kehidupan para pengikut Dafa, apa lagi yang harus ditakuti atau ingin dikendalikan? Hidup kita sudah diatur kembali dan dikaitkan dengan kultivasi.

Guru berkata dalam "Ceramah Fa pada Konferensi Fa Internasional di New York tahun 2004":

“Jika diri sendiri tidak berkultivasi dengan baik, juga membuat pengikut Dafa lainnya atau banyak pengikut Dafa dipengaruhi sehingga tidak berhasil berkultivasi, itu adalah dosa berat yang mengganggu Xiulian pengikut Dafa, yang tidak akan sanggup ditebus sekalipun masuk kedalam neraka delapan belas tingkat. Ada sebagian praktisi keterikatan hatinya tidak disingkirkan dalam jangka panjang, menyebabkan dirinya diganggu oleh kejahatan. Anda sekalian merasa orang tersebut sudah habis, sudah tidak benar. Untuk sekarang ini masih tidak dapat dipandang secara demikian. Sesungguhnya ada praktisi yang dalam aspek lainnya sudah menyingkirkan banyak sifat-sifat hati, banyak keterikatan hatinya sudah lenyap, juga tidak lagi tampak, namun sifat hati yang belum disingkirkan itu masih akan tampil keluar, Shifu juga pasti akan membuatnya tampil keluar, juga pasti akan membuatnya mengalami terpaan, juga pasti akan diperlihatkan kepada anda sekalian, tujuannya ialah agar dia menyingkirkannya. Setelah melihat anda sekalian harus menunjukkan kepada dia. Jika anda tidak menunjukkan berarti anda juga mempunyai sifat hati yang takut menyinggung perasaan orang lain, maka akan terjadi dia dan anda mengalami konflik atau perselisihan, agar anda dan dia sama-sama dapat mengenali, tujuannya masih tetap demi menyingkirkan sifat-sifat hati manusia ini melalui kultivasi. Akan tetapi terhadap praktisi yang keterikatan hatinya tampil keluar, tidak boleh dianggap dia sudah tidak benar. Oleh sebab itu diantara sesama pengikut Dafa tak terelakkan ada timbul masalah, ada kesalahan, kuncinya ialah diantara sesama tidak boleh benar-benar terjadi perselisihan, konflik atau tidak mempercayai diantara sesama.”

Takut menyinggung perasaan orang lain, dalam pemahaman saya, adalah keterikatan takut tidak disukai atau takut tidak diterima. Tetapi apa yang benar-benar terluka bukanlah diri sendiri, melainkan konsep-konsep yang terbentuk pasca-kelahiran. Apa yang membantu adalah pemahaman bahwa apa yang benar-benar saya inginkan dapat ditemukan dalam diri saya sendiri, sehingga saya terlepas dari "yang lain" dalam mencari pengakuan diri, persetujuan, cinta. Ketika saya bukan lagi seorang politikus, menginginkan hal-hal tertentu dari orang lain, saya benar-benar dapat membantu orang lain. Tetapi dalam banyak kasus, jika sesuatu tidak dapat ditunjukkan dengan belas kasih, itu dikarenakan masalah orang lain juga mencerminkan masalah saya sendiri.

Ini adalah pemahaman saya pada tingkat sekarang ini, silakan tunjukkan bila ada sesuatu yang tidak benar.

English: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2009/9/21/111001.html