Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Lepaskan Konsep Manusia dan Berbelas Kasih

30 Jan. 2010 |   Oleh: seorang praktisi Falun Dafa di Provinsi Heilongjiang


(Minghui.org) Sudah 17 tahun sejak Falun Dafa pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat. Banyak praktisi lama telah berlatih lebih dari sepuluh tahun. Untuk menyelesaikan misi kita, sangat penting menjadi lebih dewasa dan membentuk satu kesatuan tubuh yang tak terusakkan. Saya ingin berbagi pengalaman saya dengan rekan-rekan praktisi mengenai cara menghilangkan konsep manusia biasa agar memiliki hati yang belas kasih.

1.Lenyapkan sifat  hati manusia biasa

Ketika saya pertama kali mulai berlatih, saya sering menilai orang lain dengan prinsip-prinsip egois ketika saya punya konflik dengan mereka. Saya sering merasa sangat marah dan kasihan pada diri sendiri. Saya tidak mengungkapkan kemarahan tersebut tetapi masih tetap merasa getir. Saya tidak menilai situasi berdasarkan prinsip-prinsip Dafa dan sering mencari keluar dan menyalahkan orang lain. Saya kemudian mengerti melalui belajar Fa,  untuk menuju tingkat tinggi, hati seseorang tidak boleh tergerak tak peduli apa yang orang lain lakukan. Setelah menoleh ke belakang ketika saya sedang emosional, itu karena saya masih banyak memiliki konsep manusia, merasa terganggu ketika orang lain tidak sesuai dengan ideologi saya. Juga, saya sekarang menyadari bahwa untuk menghilangkan karma - dalam proses kultivasi seorang praktisi akan mengalami konflik, rasa sakit dan kesulitan. Guru telah menanggung banyak bagi para praktisi dan apa yang kita harus tanggung sangatlah kecil dibanding dengan belas kasih besar yang Guru telah tunjukkan kepada kita, hal mana kita tidak layak memperolehnya.

Ketika saya secara bertahap memahami prinsip-prinsip Fa dan mengenali kesenjangan saya dalam kultivasi, secara bertahap saya mampu melakukan dengan baik ketika saya diperlakukan tidak adil. Saya merasa kasihan bagi orang yang berbuat tidak baik karena ia tidak tahu bahwa ia tengah memupuk karma dan akan membayarnya di masa depan. Sebagai seorang praktisi, saya tahu sekarang harus toleran dengan apa pun yang menimpa diri ini.

2. Belas kasih kepada praktisi lain dan membentuk satu tubuh

Saya sudah mengenal praktisi A cukup lama. Saya kemudian menemukan bahwa A melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan Fa. Saya marah dan mengatakan kepadanya tentang hal itu tapi dia tidak berubah. Saya jengkel dan menjadi semakin jengkel dan marah padanya. Saya bahkan memandang rendah kepadanya. Saya segera menyadari keadaan yang salah ini. Saya terlalu terikat pada keterikatan hati A.

Saya menyadari bahwa tentu saja A  masih memiliki konsep manusia. Ketika dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai Fa, ia tersandung. Saya percaya bahwa A ingin berbuat baik tapi saat itu ia masih belum bisa melepasnya. Saya seharusnya berbelas kasih kepadanya, tapi sebaliknya, saya malah terikat dengan kekurangan dan perilakunya yang tidak sesuai dengan cara berpikir saya. Saya cenderung menilai A berdasarkan pada prinsip-prinsip egois. Saya mencari ke luar dan seharusnya melenyapkan substansi buruk ini. Saya seharusnya mencari ke dalam dan melihat apakah saya memiliki keterikatan yang sama seperti A. Ini hal biasa yang praktisi alami dalam kultivasi, beberapa tidak segera memperbaiki kesalahan mereka. Saya melepaskan keterikatan hati terhadap kesalahan A dan berbicara dengannya secara tenang, tanpa menunjuk atau berkhotbah pada kesalahannya.

Saya menyadari banyak praktisi memiliki keterikatan pada keterikatan hati orang lain. Mereka berbicara di belakang praktisi ketika mereka tidak menyetujui apa yang dilakukan seorang praktisi dan bukannya berbicara langsung. Saya memahami praktisi ini masih memiliki konsep manusia biasa tetapi ini telah berlangsung terlalu lama dan sudah waktunya untuk memperbaiki diri. Suatu kali saya melihat keterikatan hati B. Praktisi lain melihatnya juga tapi terlalu malu untuk memberi tahunya. Suatu hari saya bertemu B dan dengan tenang berbicara dengannya tentang hal itu. Pada saat itu, saya merasa bahwa energi Guru mengalir dari atas kepala.

Praktisi C sering tidak bisa melewati ujiannya, mendapat sokongan dan tinggal dengan praktisi lain. Ketika persoalannya membesar, setiap cobaan kultivasi menjadi semakin sulit dilewati. Setelah gagal melewati ujian terakhir, ia meninggal dunia. Keluarganya menyalahkan Falun Dafa dan menentangnya. Para praktisi yang mengenal C, mengeluhkan dirinya dan rintangan yang ditimbulkannya. Menurut pendapat saya, itu seharusnya menjadi kesedihan terbesar dalam hati kita bahwa C meninggalkan kami. Dia sudah membayar kesalahannya; kenapa kita tidak bisa merasa kasihan padanya? Mengapa kita selalu peduli tentang perasaan kita? Mengapa kita harus menghakimi orang lain? Kita perlu menghilangkan keterikatan mengeluh dan tidak ingin menderita serta berhenti menaruh perhatian kepada keterikatan orang lain.

3. Membantu praktisi dalam penderitaan

Satu kali kami berdiskusi bagaimana cara membantu praktisi D yang mengalami ujian karma penyakit. Semua orang mengkritik D dan mengeluhkannya. Pertemuan menjadi perdebatan. Praktisi D telah dipenjara selama lima tahun dan masih tidak melepaskan Falun Dafa. Ia telah melakukan banyak hal untuk membantu pelurusan Fa dan menyelamatkan makhluk hidup. Saya percaya D ingin melewati kondisinya saat ini tetapi ia tidak mampu. Tidak mudah bagi D untuk melewati lintasan ini. Kami perlu untuk mengenali kekuatannya. Keterbatasannya adalah keterikatan hatinya dan tidak mewakilinya. Kami perlu memahami betapa beraninya ia datang ke dunia ini dan membantu Guru menyelamatkan makhluk hidup. Kami seharusnya memahami bahwa proses membantu D juga adalah proses kultivasi bagi kami. Hasilnya dapat positif atau negatif, tetapi kami tidak dapat membiarkan kekuatan lama melakukan apa yang ingin mereka lakukan.

Praktisi E sangat rajin dan memiliki pikiran lurus yang kuat. Dia telah membantu banyak praktisi  melakukan banyak pekerjaan Dafa, banyak tetangga dan teman-temannya menjadi praktisi. Suatu kali, polisi masuk ke lokasi kerja E, tempat membuat materi klarifikasi fakta. Dia menghindari penangkapan dan melarikan diri. Ketika saya melihatnya, karena iri hati dan keterikatan pamer, saya menyalahkan dan memarahi dirinya. Dia marah besar dan berteriak kembali. Saya kemudian menyadari bahwa saya bersalah dan memiliki begitu banyak konsep manusia biasa. E jauh lebih baik daripada saya dalam kultivasi. Sekali itu dia membutuhkan bantuan dan saya malah menikamnya dari belakang.

Guru berbicara tentang seorang biksu senior yang cemburu terhadap seorang biksu muda yang telah terbuka kesadarannya. Jika biksu senior mampu melepaskan diri dan membantu para biksu lain untuk benar-benar berkultivasi, ia telah melakukan perbuatan besar. Sayangnya, keterikatan iri hatinya terhadap biksu muda telah menjadi penghalangnya. Cerita ini membuat saya berpikir bahwa banyak kali para koordinator harus melepaskan diri. Sesungguhnya, Guru yang telah mengatur semua ini. Saya berharap para koordinator dapat melepaskan ego mereka dan tidak menjadi biksu senior. Mereka perlu melepaskan konsep-konsep egois mereka dan mengharmoniskan dengan setiap orang.

Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2010/1/6/215777.html
English: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2010/1/19/114002.html