Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Lepaskan Ego, Menjadi Bagian dari Kesatuan

19 Juli 2010 |   Oleh: praktisi di China


(Minghui.org) Chuan (nama panggilan) adalah seorang praktisi lanjut usia. Suatu hari saya bertemu dia secara kebetulan dan bertanya kepadanya apa yang ia sedang lakukan. Dia menjawab, "Saya bertanggung jawab atas sekelompok praktisi pada pekerjaan teknik." "Betapa bagusnya! Sekelompok praktisi Dafa bekerja bersama-sama! Mereka akan bekerja sama dengan baik satu sama lain dan melakukan pekerjaan yang luar biasa," ujar saya. Dia berkata, "Kenyataannya berbalikan dari yang anda katakan. Para praktisi cenderung melihat kelemahan orang lain, sehingga menciptakan banyak konflik."

Dia kemudian memberikan rincian lebih lanjut bagaimana situasi dalam kelompoknya. Kelompok ini telah dibentuk berdasarkan bakat masing-masing praktisi. Sebagai praktisi, mereka antusias terhadap pekerjaan, bersedia untuk ditempatkan di mana saja, tidak mempedulikan bayaran, dan bekerja sama dengan baik dalam meneruskan fakta-fakta Dafa kepada orang-orang. Namun, ketika menyangkut kerjasama, berbagai masalah timbul dan konflik menjadi sangat parah.

Banyak pekerjaan tergantung pada setiap praktisi melakukan porsinya. Ternyata ada beberapa yang melakukan porsi mereka, sementara yang lain tidak. Mereka yang menyelesaikan pekerjaan mereka menjadi tidak senang dan berkata, "Kenapa orang-orang yang tidak melakukan pekerjaan mereka dibayar sama dengan mereka yang melakukannya?" Ada juga konflik antarstaf junior dan senior. Seorang staf junior dibayar 60 yuan sehari, sedangkan staf senior 100 yuan. Beberapa staf junior mengeluh bahwa staf senior meneruskan beberapa pekerjaannya kepada mereka. Ketika ada pekerjaan yang menguntungkan, ada masalah siapa yang mendapatkannya. Mereka yang tidak memperolehnya akan mengungkapkan ketidakpuasan mereka. Mengikuti pedoman yang ada untuk membagi pekerjaan kadang-kadang menyebabkan ketidakseimbangan dalam bayaran, yang melakukan pekerjaan sederhana dibayar lebih besar. Ketika itu terjadi, keluhan terlontar, dan beberapa berkata, "Chuan berat sebelah dan karakternya tercela."

Chuan sangat lelah dengan semua ini. Dia berkata, "Ada saat ketika saya merasa tidak tahan lagi. Ketika berhadapan dengan manusia biasa, para praktisi ini tampak luar biasa. Namun, ketika mereka mencoba untuk bekerjasama, mereka sama sekali tidak dapat bekerjasama. Bahkan, manusia biasa berbuat lebih baik dalam hal ini. "

Melalui sharing, kami tiba pada sebuah pemahaman bersama: para praktisi mengharapkan para praktisi lainnya sempurna atau mereka memenuhi kriteria yang sangat tinggi. Banyak yang menggenggam gagasan: "Kita semua adalah praktisi. Bagaimana bisa kamu memperlakukan saya seperti itu? Dengan hak apa, kamu memerintah saya? Kamu mungkin berperan sebagai pemimpin, tetapi sebagai praktisi, kita adalah sama." Tidak ada yang mau mendengarkan orang lain. Ada kasus di mana Chuan mengijinkan seorang praktisi lanjut usia dengan keterampilan yang lebih sedikit untuk bekerja dengan dua praktisi lainnya sebagai seniornya, agar ia bisa mendapatkan bantuan. Dua staf senior mengajukan pertanyaan, "Kita semua dibayar sama. Mengapa kita harus menolong orang ini setiap hari?" Chuan menyadari bahwa ketidakcocokan antara keahlian orang tersebut dan gajinya tengah mempengaruhi lingkungan kerja secara negatif. Oleh karena itu, ia meminta praktisi iniĀ  bekerja sebagai staf junior. Ketika sharing, orang ini berkata, "Saya tidak keberatan menjadi staf junior. Jelas saya hanya akan mengambil pekerjaan yang cocok untuk pekerja junior, karena demikian pula saya dibayar." Praktisi lain berkata kepadanya, "Apa yang baru kamu katakan, menjadikanmu seperti manusia biasa." Dia menyahut, "Kenapa kau menunjuk pada saya? Bukankah apa yang kamu baru katakan juga membuatmu seperti manusia biasa?"

Dalam lingkungan demikian, karakter setiap orang sedang terus diuji. Bagi manusia biasa ini adalah lazim. Bagi praktisi tidak, karena praktisi seharusnya memahami prinsip-prinsip Dafa. Mereka harus mencari ke dalam diri untuk meningkatkan karakter mereka serta tidak menyalahkan orang lain ketika ada konflik.

Sepertinya, setelah bertahun-tahun berkultivasi, para praktisi seharusnya memahami pentingnya melepaskan ego mereka dan bekerja demi kebaikan seluruh kelompok. Namun, ini tidak selalu terjadi. Banyak yang masih berpegang pada ego mereka.

Pernyataan di atas tampaknya kritis terhadap rekan-rekan praktisi. Sebenarnya, saya punya masalah yang sama. Belum lama ini, seorang praktisi lokal meminta saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan Dafa. Saya berkata, "Mengapa meminta saya untuk melakukannya? Mengapa saya harus bekerja sama denganmu?" Dia berkata, "Baiklah, apa yang kamu lebih suka lakukan?" Saya menjawab, "Saya tidak ingin melakukan apa-apa. Tidak ada yang bisa saya lakukan." Dia berkata, "Kalau begitu, kamu bisa memancarkan pikiran lurus." Saya menjawab, "Saya harus melakukannya hanya karena kau bilang begitu? Bahkan Shifu tidak memaksa saya untuk melakukan sesuatu." Kemudian, saya menyesal telah mengikuti sifat ke-iblis-an saya. Salah satu alasan di balik ini adalah saya telah membentuk opini buruk terhadap rekan itu, berpikir bahwa ia tidak memenuhi syarat untuk menjadi praktisi, maka ia seharusnya bukan orang yang mengatakan apa yang harus saya lakukan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa saya memiliki ego yang kuat dan berpegang pada konsep-konsep manusia biasa.

Sebagai sesama praktisi, ketika kita menghadapi masalah, terlepas dari apakah kita tengah membuktikan prinsip-prinsip Dafa atau melakukan pekerjaan sehari-hari, kita perlu melepaskan ego dan bukannya berdebat dengan orang lain atau mencari kesalahan orang lain, tetapi hanya mengerjakan berbagai hal sebaik mungkin.

Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2010/6/21/225744.html
English: http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2010/7/9/118452.html