Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Mengkultivasikan Sejati-Baik-Sabar Bersamaan

28 Nov. 2011 |   Oleh: Jiu Xiao


(Minghui.org) Sudah lama saya mempunyai sebuah masalah. Kadang-kadang, saya dapat mengenali masalah yang dimiliki oleh rekan-rekan praktisi ataupun sekelompok tertentu, dan saya pikir bahwa pemahaman saya terhadap Fa adalah benar dan saya harus menunjukkan masalahnya. Namun setelah saya melakukannya, hasilnya tidak begitu bagus, khususnya ketika orang lain merasa bahwa mereka dikritik. Oleh karena itu, saya tidak banyak bicara lagi. Tetapi saya tahu bahwa tutup mulut mungkin bukan solusi yang terbaik.

Ketika belajar Fa baru-baru ini, saya menyadari bahwa mungkin telah melihat inti masalahnya, namun masih kurang sesuatu dalam cara penyampaiannya.

Shifu berkata:

“Dafa adalah sempurna dan harmonis, tiga huruf Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar) dipisahkan, masing-masing sama juga memiliki karakter Zhen-Shan-Ren sepenuhnya, karena materi terbentuk dari materi mikroskopis, dan materi mikroskopis terbentuk dari materi yang lebih mikroskopis, terus hingga paling akhir. Dengan begitu Zhen juga terkomposisi dari Zhen-Shan-Ren, Shan juga terkomposisi dari Zhen-Shan-Ren, Ren juga sama terkomposisi dari Zhen-Shan-Ren.” (“Perbincangan Sederhana Tentang Shan” di Petunjuk Penting Untuk Gigih Maju)

Saya menyadari masalah saya. Meskipun apa yang saya katakan adalah benar dan jujur, ke-Sejati-an saya masih kekurangan belas kasih dan kesabaran. Sejati juga terdiri dari Sejati-Baik-Sabar. Jika Sejati saya tidak memiliki belas kasih dan kesabaran yang cukup, maka itu bukanlah sungguh-sungguh murni dan ketidak-egoisan yang sejati.

Saya bercermin pada motivasi saya dalam mengucapkan “Sejati.” Apakah itu agar orang lain membenarkan saya atau tulus membantu orang lain? Mungkin dua-duanya, tetapi itu tidak murni. Ucapan “Sejati” saya bercampur dengan banyak konsep egois, seperti mengeluh, mengkritik, membuktikan kebenaran diri sendiri dan memaksakan pandangan saya kepada orang lain, khususnya pada saat berpikir bahwa saya sangat benar, atau saya terlalu ingin menyelesaikan suatu pekerjaan atau hanya ingin terlepas.

Kadang-kadang saya akan berpikir: “Apa salahnya berbicara sebenarnya? Bahkan jika dia tidak senang mendengarnya, saya masih akan mengatakannya, karena itu adalah yang sebenarnya!” Sejauh kebenaran berada di pihak saya, maka saya dapat membombardir orang dengan meriam. “Kebenaran” seperti itu tidak akan membantu dan bahkan mungkin menyakiti.

Guru berkata dalam ”Sadar Jernih,” Petunjuk Penting untuk Gigih Maju:

“Saya tidak hanya mengajarkan kalian Dafa, perilaku saya juga telah ditinggalkan untuk kalian. Nada pembicaraan dan kebaikan hati dalam melakukan pekerjaan, ditambah dengan prinsip rasional dapat mengubah hati orang, namun dengan cara perintah selamanya tidak akan berhasil!”

Bahkan jika sebuah prinsip tertentu adalah benar, itu hanyalah salah satu aspek saja. Ketika “Sejati” kekurangan belas kasih dan kesabaran yang cukup, dan saya tidak mempertimbangkan orang lain dan murah hati, maka saya hanyalah seorang yang jujur dalam masyarakat manusia biasa. Itu jauh dari “Sejati” dalam prinsip Fa. Oleh karena itu, saya mengingatkan diri, apakah saya mempertimbangkan orang lain sebelum mengucapkan sesuatu? Apakah saya mempertimbangkan apakah seseorang dapat menerimanya atau tidak? Ketika hal itu sulit diterima oleh orang lain, lebih baik saya tidak mengucapkannya. Tidak peduli betapa baik maksud dari ucapan tersebut, jika penyampaiannya tidak tepat, maka mungkin membawa hasil yang buruk meski berasal dari niat yang baik. Ketika ucapan saya membawa belas kasih dan kata-kata saya ramah, maka orang lain dapat mendengarkan “prinsip-prinsip” yang saya utarakan.

Belas kasih juga mencakup Sejati dan Sabar. Kadang-kadang kita kelihatan saling akrab, tetapi tidak dalam lubuk hati kita. Kadang-kadang ucapan-ucapan kita terdengar penuh perhatian. Namun, setelah beberapa persimpangan, perhitungan pribadi mencuat ke permukaan. Guru menyebutkan ini dalam “Tanya Jawab pada Konferensi Praktisi Daerah Asia Pasifik di New York (12 April 2004)” :

“Sebaliknya, praktisi tertentu juga ada yang demikian, secara permukaan dia sangat baik terhadap orang lain, tetapi kata-kata yang diucapkan banyak mengandung unsur diri sendiri, bahkan unsur yang menyinggung perasaan orang lain. Tetapi di permukaan ucapannya sangat ramah, itu adalah gaya orang licik yang berakal bulus, itu mutlak bukan kondisi yang seharusnya dimiliki oleh pengikut Dafa.”

Singkatnya, ketika kita tidak dapat sungguh-sungguh baik, itu adalah karena kita masih mementingkan diri sendiri. Kebaikan dari pengikut Dafa seharusnya adalah manifestasi dari kembalinya kita ke jati diri dan berdasarkan pemahaman kita akan kebenaran dari alam semesta. Kebaikan seharusnya muncul dari lubuk hati. Kalau tidak, kebaikan itu bukanlah kebaikan yang sejati karena ia mengandung motif-motif mementingkan diri sendiri.

Untuk menjadi benar-benar baik, seseorang harus bersikap toleran dan memperlakukan semua orang sama. Sangat mudah untuk berperilaku baik kepada orang baik. Tetapi tidaklah mudah untuk berperilaku baik terhadap orang yang tidak baik. Ketika Buddha Milerepa membabarkan Fa kepada bibinya yang pernah mencelakainya, bibinya terus saja mengejeknya. Namun, dia melanjutkan usahanya itu dan mengatasi rasa ketidaksukaan dia terhadap bibinya. Pada akhirnya, bibinya berubah.

Guru berkata pada “Ceramah Fa di Konferensi Fa Internasional Washington DC 2009:”

“Dia bukan penampilan yang disengaja, bukan penampilan baik atau buruk manusia atas kesukaan hatinya. Bukan karena anda baik terhadap saya maka saya menampilkan Shan kepada anda. Ia tanpa nilai bayaran, tanpa pamrih, seutuhnya adalah demi makhluk hidup.”

Kebaikan yang sesungguhnya adalah tanpa mementingkan diri sendiri dan sepenuhnya bagi orang lain.

Sabar juga mencakup Sejati dan Baik. Guru berkata dalam: “Apa yang dimaksud dengan Kesabaran (Ren):”

“Bersabar dengan marah dan benci, merasa dipersalahkan, menahan air mata, itu adalah bentuk kesabaran dari seorang manusia biasa yang terikat oleh rasa khawatir. Sama sekali tidak timbul marah dan benci, tidak merasa dipersalahkan barulah merupakan kesabaran dari orang Xiulian.” (Petunjuk Penting untuk Gigih Maju)

Untuk bertahan tanpa marah ataupun mengeluh, membutuhkan belas kasih yang sangat besar dan tidak terikat pada kehilangan dan memperoleh diri sendiri. Ketika kesengsaraan tiba, pengikut Dafa melangkah untuk menghadapi dan dapat menahan kesulitan yang sangat besar. Ini adalah karena pikiran lurus berdasarkan Fa, yang tidak dapat dihancurkan.

Pada waktu yang bersamaan, kesabaran kita tidaklah pasif. Ia mengandung berbagai elemen yang bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan Dafa. Kadang-kadang, ketika beberapa individu sedang berada di luar jalur  Fa namun cukup dominan, beberapa praktisi menjadi pasif. Beberapa mengatakan: “Bukankah kultivasi itu mengkultivasikan diri sendiri? Mari mencari ke dalam. Tidak perlu berjuang untuk apapun. Kita harus belas kasih terhadap sesama rekan praktisi.” Kedengarannya benar, tetapi saya pikir itu bukanlah kesabaran yang sesungguhnya. Ini adalah menangani konflik dengan pasif, dan menghindari tanggung jawab. Kita perlu sadar akan konsekuensi “Sabar” semacam ini. Ia mungkin akan menyebabkan kehilangan kesempatan dalam penyelamatan makhluk hidup.

“Sabar (ren) bukan sifat pengecut, lebih-lebih bukan bersikap pasrah terhadap perlakuan buruk.” (“Bersabar hingga batas akhir Kesabaran” dalam Petunjuk Penting untuk Gigih Maju II)

Kesabaran kita harus berdasarkan pada kultivasi Pelurusan Fa, bukan bagi diri sendiri. Kita tidak dapat menempatkan kultivasi pribadi di atas tanggung jawab terhadap Fa. Pengikut Dafa harus bertanggung jawab pada faktor-faktor lurus dan memperbaiki segala yang tidak lurus.

Sebagai tambahan, Guru telah menjelaskannya dalam banyak caramah bahwa pengikut Dafa mempunyai sebuah masalah yaitu tidak dapat menerima kritikan. Ketika seseorang mempunyai kesalahan, dan orang itu tidak mau mengakuinya meski telah ditunjukkan, ini adalah benar-benar tidak tepat. Tidak berterima kasih kepada orang lain karena telah mengingatkannya, dan malahan menentang adalah tidak baik. Hilang kesabaran segera setelah mendapatkan peringatan dari yang lain adalah tidak Sabar. Tidak dapat menerima kritikan adalah suatu keadaan yang bertentangan dengan karakter alam semesta. Jika kita tidak dapat memperbaiki masalah ini, bagaimana kita bisa menyatakan bahwa kita berlatih Sejati-Baik-Sabar?

Di atas adalah pemahaman saya yang dangkal terhadap Fa. Sejati-Baik-Sabar adalah Fa alam semesta dan tidak bertepi serta yang paling mendalam. Tolong tunjukkan jika ada yang tidak tepat.

Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2011/11/3/交流--浅悟真、善、忍同修-248642.html
English: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2011/11/8/129288.html