Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Perjalanan Xiulian di Lingkungan Kerja

28 Nov. 2011 |   Oleh: Praktisi Dafa di Gao Xiong

Dibacakan pada Konferensi Berbagi Pengalaman Kultivasi Falun Dafa Asia 2011


(Minghui.org)

Salam kepada Shifu terhormat!
Salam kepada semua rekan praktisi!
Saya adalah praktisi dari Gao Xiong.


Sebelum mendapatkan Fa, saya adalah tipe pemuda yang sukses. Sekarang saya sudah hampir berusia 40 tahun. Pada umur 15 tahun saya mulai bergelut di bisnis restoran,  usia 26 tahun saya sudah menjabat sebagai manajer hotel berbintang lima, belum sampai usia 25 tahun, sudah ada restoran yang mempekerjakan saya sebagai konsultan, saya juga merangkap sebagai dosen di sekolah. Saat usia 26 saya sudah memiliki sebuah toko sendiri, usia 27 tahun buka lagi toko yang kedua. Karena mendambakan nama dan kepentingan, maka sebelum memperoleh Fa, saya merangkap beberapa jabatan, hanya sibuk mencari uang, telah kehilangan tujuan hidup yang sesungguhnya.

Sejak kecil sifat saya yang tidak mau kalah sangatlah kuat, ditambah prestasi-prestasi kecil saat masih menjadi manusia biasa, membuat kepribadian saya jadi lebih arogan dan sombong. Dalam berurusan dengan segala sesuatu, saya selalu merasa orang lain sangat bodoh, memandang rendah orang lain, tidak bisa bertoleransi terhadap kesalahan kecil orang lain, oleh karenanya saya mudah sekali emosi. Dahulu, sering kali begitu berangkat kerja sudah mulai emosi, sampai pulang kerja masih emosi, bahkan saat bermimpi dalam tidur, saya masih sedang marah-marah. Hal ini mengakibatkan  bawahan saya di perusahaan sangat takut untuk berangkat kerja bersama saya.

Dilihat secara permukaan, teman saya makin lama makin banyak, namun sesungguhnya kesenjangan dengan teman yang sejati makin lama makin jauh. Dan juga karena begitu kuatnya sifat bersaing serta keterikatan pada nama dan kepentingan, sehingga lambat laun jati diri yang sejati mulai tertutup. Hubungan dengan orang-orang berangsur-angsur menjadi dingin dan semu.

Saat usia 27 tahun, badan saya timbul rasa sakit ulu hati, perasaan itu bagaikan ada sepasang tangan sedang meremas hati saya, hati ini seolah ingin pecah, sungguh menderita. Sudah pergi ke beberapa rumah sakit besar untuk diperiksa, namun tidak ditemukan sebabnya. Frekwensi sakit ulu hati malah makin lama semakin meningkat, pada awalnya 2 bulan sekali, kini hampir setiap hari. Selama masa tersebut, walau saya di permukaan tampak tidak begitu hirau, tetapi sesungguhnya hati diliputi bermacam perasaan, sering kali di tengah malam terbangun kaget. Di saat menyendiri sayapun mulai berpikir, apa yang dimaksud dengan kehidupan ini, apa tujuan manusia hidup, mengapa orang pasti meninggal, setelah meninggal bagaimana jadinya.

Atas dorongan tersebut, saya mulai membaca buku-buku spiritual versi timur maupun barat dalam jumlah banyak, namun tetap tidak menemukan jawabannya. Pada saat saya berusia 31 tahun, isteri saya karena banyak penyakit maka ia memperoleh Fa lebih dulu, sedangkan saya karena bayang-bayang kelabu di masa kecil, membuat saya bersikap ragu terhadap Dewa dan Buddha, hingga suatu kali terjadi pertengkaran dengan isteri, kejadian ini telah menimbulkan niat saya untuk Xiulian.

Sebelum Xiulian kesehatan isteri saya sangat buruk, sepanjang tahun selalu minum obat, menyebabkan dirinya juga berperangai keras seperti saya. Bila saya kurang hati-hati telah menginjak kakinya, dia akan balas dengan 10 kali injakan, hingga marahnya reda baru berhenti. Di saat terjadi pertengkaran, dia selalu lebih galak daripada saya, saya mencaci sepatah kata, dia akan balas mencaci beberapa patah kata.

Saya ingat pada suatu pertengkaran dengan isteri di usia 31 tahun, dalam pertengkaran tersebut, saya melampiaskan kemarahan dengan beringas padanya, dalam hati berpikir bagaimana dia akan membalasnya lebih beringas lagi. Tapi diluar dugaan, dia tidak membalas, malah minta maaf pada saya, dan bertanya bagaimana dia harus berbuat agar saya tidak marah. Saya seketika terbengong, tidak berani percaya ini adalah kejadian nyata, namun saya masih mencaci dan mengumpat dengan panjang lebar, sedangkan isteri saya hanya berdiri diam tanpa sepatah kata pun yang diucapkan.

Kejadian ini membuat saya merasa Falun Gong benar-benar ajaib, bagaimana mungkin perangai isteri saya bisa berubah begitu besar? Seandainya saya juga bisa tidak marah dalam menghadapi berbagai persoalan, bukankah hidup saya akan jauh lebih indah! Mungkin dari Falun Gong saya akan dapat mengetahui apa yang dimaksud kehidupan ini, atau Falun Gong dapat memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya temukan dalam buku lainnya. Dengan demikian saya mulailah membaca buku “Zhuan Falun” dengan seksama.

Tiga tahun di masa awal Xiulian, saya tidak gigih dalam berkultivasi, di antara tiga hal tak satupun yang saya lakukan dengan sempurna. Walau demikian keajaiban tetap terjadi di sekeliling saya. Karena Xinxing saya perlahan-lahan meningkat setelah Xiulian, maka hubungan dengan teman dan kerabat semakin harmonis, bisnis restoran saya juga semakin laris, bahkan belakangan hampir setiap hari penuh dengan pelanggan, kecuali di hari hujan. Sering kali para pelanggan harus menunggu hidangan siap selama 45 menit sampai 1 jam, namun kebanyakan dari mereka tetap rela menunggu.

Ketika itu jam kerja saya sangat panjang, dari pagi jam 8 lewat hingga malam kira-kira jam 12 baru pulang ke rumah. Belajar Fa di rumah tidak sampai 10 halaman sudah ngantuk dan letih. Walau ketika itu ada keinginan untuk gigih maju, namun tekad dan Xinxing saya belum mencapai taraf tersebut, sehingga kenyataan bertolak belakang dengan keinginan.

Di masa-masa tersebut hati selalu terasa hampa, antusias ingin Xiulian seperti saat awal saya memperoleh Fa, seakan telah hilang, sebagai penggantinya adalah keraguan terhadap makna eksistensi jiwa, serta keyakinan yang goyah terhadap Shifu dan Dafa. Sampai akhirnya bahkan saya timbul keraguan terhadap perkataan Shifu, dengan demikian saya semakin jauh dari Dafa, makin mendekati manusia biasa, Xinxingpun tak terkendali, frekwensi kemarahan juga kian meningkat.

Pernah sekali setelah bertengkar dengan isteri, saya seketika terkejut dan merasa diri sendiri tiada bedanya dengan manusia biasa. Di tengah perasaan takut saya mendekap buku Dafa dan menangis, ketika saya membuka buku, kalimat pertama yang terlihat adalah: “di dalam seluruh proses Xiulian anda, terdapat sebuah masalah yang menyangkut apakah anda secara dasar memahami Fa, apakah anda bersikap teguh, terus hingga tahap terakhir Xiulian anda, anda masih saja diuji apakah teguh terhadap Fa. (kutipan dari “Uraian makna Falun Dafa”)

Memang begitu, karena kurangnya taraf keyakinan saya terhadap Shifu dan Fa, maka saya tidak merasa cemas walau tidak memancarkan Zheng Nian; dalam satu minggu 5 perangkat latihan tidak dilatih secara utuh, saya juga tidak cemas; sehari belajar Fa tidak sampai 10 halaman juga tidak apa-apa bagi saya; kegiatan klarifikasi apa pun tidak saya ikuti juga merasa tidak apa-apa. Semua ini dikarenakan keyakinan saya terhadap Shifu kurang, sehingga saya merasa tidak apa-apa walau belum melakukan tiga hal dengan baik.

Saya mulai berpikir bagaimana supaya dalam jam kerja yang sehari 14 hingga 16 jam, saya masih bisa sambilan melakukan tiga hal dengan baik. Apakah perlu mempekerjakan seorang koki? Namun seorang koki yang mahir gajinya umumnya tinggi, restoran kami juga sulit untuk menggaji dua orang koki. Jika melatih seorang pelayan restoran menggantikan saya sebagai koki, rasanya belum ada yang cocok, lagi pula ketrampilan memasak tidak dapat dikuasai dalam waktu singkat. Jika mengerahkan lebih banyak orang untuk meringankan pekerjaan saya di dapur, ruang dapur tidak memadai, malah akan berefek menghalang-halangi. Lalu apakah restoran ini dijual saja? Agar saya dapat berkonsentrasi dalam Xiulian untuk satu periode waktu, meningkatkan Xinxing saya dan melakukan tiga hal dengan baik, kemudian dengan uang penjualan restoran dan uang tabungan saya, cari lagi sebuah tempat yang lebih baik, kami buka lagi usaha restoran yang baru.

Setelah berulang kali berunding dengan isteri, kami memutuskan untuk menjual restoran ini. Sebelum mengambil keputusan ini kamipun pernah berpikir, apakah perbuatan ini bersifat ekstrim? Tetapi akhirnya kami merasa tidak demikian. Karena pertama: kami bukan tidak bekerja lagi hanya memedulikan Xiulian, melainkan istirahat satu periode waktu, agar dapat berkonsentrasi dalam Xiulian dan meningkatkan Xinxing, kemudian buka lagi sebuah restoran baru. Lagi pula keputusan ini tidak berdampak pada ekonomi dan kehidupan kami. Kedua: dengan taraf Xinxing dan tingkat Xiulian saya ketika itu, ditambah kesibukan yang satu hari menyita waktu 14 hingga 16 jam, saya benar-benar tidak dapat melakukan dengan baik satu hal apapun di antara tiga hal; tetapi jika Xinxing dan Xiulian saya telah meningkat, saya yakin walau sehari bekerja selama 14 hingga 16 jam, saya masih dapat melakukan tiga hal dengan baik. Ketiga: ketika itu keadaan saya hampir tiada bedanya dengan manusia biasa, bukan lagi seperti orang Xiulian, jika terus berlanjut demikian, sangat mungkin saya akan sama sekali terpisah dari Dafa, menjadi manusia biasa yang sungguhan.

Setelah mengambil keputusan ini, masalah berikutnya ialah setelah restoran ini terjual, bagaimana agar kami dapat berkonsentrasi dalam Xiulian dan melakukan tiga hal dengan baik. Selama periode itu ada sejumlah rekan praktisi bertukar pendapat dengan kami, mereka mengusulkan bila ada waktu, pergilah ke New York Amerika. Saya pikir ini mungkin adalah sebuah pilihan yang bagus, jika pergi ke Amerika maka saya dapat berkonsentrasi dalam Xiulian, dan juga dapat sambilan melakukan tiga hal. Walau berpikir demikian, dalam hati masih penuh keraguan. Lagi pula menjual restoran walau sudah diputuskan, tapi belum ditetapkan harinya, karena dalam hati masih tersimpan sejumlah rasa takut.

Setelah pada suatu kesempatan bertukar pendapat dengan rekan praktisi, kami akhirnya putuskan untuk menjual restoran secepatnya. Sungguh ajaib, tepat setelah kami mengambil keputusan terakhir ini, dalam tempo tidak sampai 5 menit, teman saya yang dulu sejawatan kerja di restoran tanpa pemberitahuan, tiba-tiba datang mencari saya dan bermaksud membeli restoran saya. Begitu mendadaknya hal ini terjadi membuat saya tidak berani percaya ini adalah sungguhan. Dengan timbulnya niat pikiran tadi, satu hal yang bagi orang lain mungkin akan memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan baru dapat selesai, sedangkan bagi kami hanya memerlukan waktu beberapa menit saja, segalanya sudah disepakati.   

Kejadian ini perlahan-lahan tersebar di antara praktisi setempat, ada yang setuju, ada juga yang menganggap kami melangkah ke sisi ekstrim. Mereka yang menganggap ekstrim tiada hentinya menemui ibu saya dan saya sendiri, juga isteri saya untuk bertukar pendapat, ada yang saya kenal, ada yang saya tidak kenal, ada yang langsung datang ke restoran menemui kami, ada yang melalui telpon. Sikap ibu saya juga dari semula yang sangat setuju, kemudian mulai berubah jadi ragu-ragu, bahkan ada sedikit menentang.

Pada mulanya saya tetap bertahan ingin menjual restoran, tetapi beberapa hari sebelum penyerahan restoran kepada teman saya, perasaan saya yang berkaitan dengan nama, keuntungan dan kemahiran dalam usaha restoran, seketika muncul bersamaan, dalam benak saya tak hentinya muncul perkataan rekan-rekan praktisi, misalnya: betapa sayangnya restoran yang begitu laris dijual; sekiranya buka lagi sebuah restoran baru belum tentu bisa maju, dengan susah payah sudah berusaha  4 tahun lebih, kini tinggal memetik hasilnya, anda malah mau menjualnya pada orang lain. Dalam hati saya juga mulai timbul ketidak-relaan melepas restoran, keterikatan terhadap kemasyuran, keuntungan dan kemahiran dalam usaha restoran telah melemahkan tekad saya, membuat saya mulai goyah. Saat demikian teman saya dengan inisiatif berkata, jika saya keberatan menjual restoran, dia tidak jadi masalah dan tidak mengeluh.

Tetapi melalui belajar Fa bersama dan diskusi antara kami berdua dan rekan praktisi, kami beranggapan telah menelantarkan perjalanan Xiulian selama 3 tahun, dari itu kami tidak ingin menelantarkannya lebih lanjut. Disamping itu, kegoyahan hati saya di saat ini, ditambah dengan pernyataan sikap teman saya yang begitu mendadak, bukankan semua ini sedang menguji taraf keteguhan saya terhadap Fa? Kami yakin asalkan kami tidak melangkah ke sisi ekstrim, dan melakukan tiga hal dengan baik, maka akan dapat menempuh perjalanan Xiulian berikutnya dengan lebih mantap.

Sebelum berangkat ke Amerika untuk yang pertama kali, saya senantiasa memberi semangat pada diri sendiri, setibanya di sana, dimana saya dibutuhkan saya akan pergi ke sana, tidak harus terikat untuk bekerja di dapur. Walau berkata demikian, dalam lubuk hati masih ada keterikatan untuk masuk dapur. Maka setibanya di Amerika, saya diatur bekerja di kelompok tukang kayu. Ketika itu hati saya penuh dengan kekesalan dan ketidak-relaan, rasanya ingin segera menumpang pesawat kembali ke Taiwan; isteri saya diatur bekerja di bagian pengecatan kayu. Sebulan kemudian, saya dan isteri baru dialihkan ke dapur menangani hidangan ala barat.

Sekembalinya dari Amerika ke Taiwan, di saat mempersiapkan pembukaan restoran kedua, saya baru menyadari ketika di Amerika mengapa saya diatur bekerja di kelompok tukang kayu, sedangkan isteri saya di bagian pengecatan kayu.

Dengan sedikit bekal kebolehan tukang kayu yang dipelajari di Amerika, saya pergunakan untuk membuat kursi dan meja di ruang restoran, juga dekorasi dan lantai, sedangkan isteri saya menangani bagian pengecatan kayu. Memang ajaib, walaupun ketrampilan kami tidak memadai, namun suasana sekeliling ruang restoran memberi kesan damai bagi para tamu. Kami berterima kasih atas pengaturan Shifu yang jerih payah.

Karena faktor pekerjaan, maka saya jarang ada waktu untuk belajar bersama dan berdiskusi dengan rekan praktisi setempat, saya hanya dapat memanfaatkan waktu belajar Fa bersama isteri saya di malam hari sepulang kerja, dan pagi hari sehabis latihan sebelum berangkat kerja. Di samping itu, saya juga memanfaatkan waktu libur restoran, ikut serta dalam kelompok klarifikasi, misalnya menulis artikel yang berkaitan dengan kuliner untuk dimuat dalam koran Dajiyuan dan media lainnya, juga bergabung dalam grup ketik cepat bahasa asing, kadang juga menyebarkan SMS.

Walaupun masih ada banyak kekurangan dalam Xiulian, namun saya mempunyai lebih cukup waktu untuk melakukan tiga hal dengan baik. Bagi saya restoran tidak hanya sebagai tempat kerja kami, juga adalah sebuah tempat untuk klarifikasi fakta bagi kami. Ada beberapa orang yang semula adalah tamu biasa restoran, kini berkat hubungan restoran telah menjadi pengikut Dafa. Di dalam ruang restoran kami tidak menaruh koran atau majalah biasa, hanya menaruh koran dan majalah yang diterbitkan oleh pengikut Dafa. Dengan demikian para tamu tidak ada pilihan lain, mereka hanya membaca koran dan majalah kita. Sekarang ada banyak tamu setiba di restoran dengan sendirinya ambil koran kita untuk dibaca, juga ada yang bertanya bagaimana untuk berlangganan koran dan majalah kita, ada pula yang membawanya pulang ke rumah untuk dibaca. Tetapi kadang juga ada yang bertanya mengapa hanya menyiapkan koran Dajiyuan, dan sejenisnya? Saat begitu kami akan manfaatkan keadaan memperkenalkan visi media tersebut dan manfaatnya bagi masyarakat, dengan demikian para tamu akan sangat mudah menerima penjelasan kami, juga akan coba melihat-lihat media tersebut yang dikelola oleh pengikut Dafa.

Sewaktu mempromosikan Shen Yun di Taiwan, saya putarkan film perkenalan Shen Yun di ruang restoran, juga gunakan kesempatan tersebut menawarkan karcis kepada para tamu. Meskipun setiap tahun karcis yang terjual tidak banyak, tetapi telah memerankan efek yang baik. Saya ingat ada seorang tamu restoran pernah memberi tahu, dia pertama kali masuk ke restoran hanya untuk keperluan buang air kecil, tetapi kebetulan dia telah melihat film perkenalan Shen Yun, dia merasa Shen Yun sangat bagus. Tak disangka beberapa hari kemudian ada yang mempromosikan Shen Yun, tanpa banyak bicara dia lalu membeli karcis dan menyaksikan pertunjukan Shen Yun.

Bagi karyawan restoran, kami tidak mengharuskan mereka belajar Dafa, tetapi setelah bekerja tidak terlalu lama, kami pasti melakukan klarifikasi fakta pada mereka, dan mencari waktu yang cocok memperkenalkan Dafa pada mereka. Sekarang selain seorang karyawan tidak ikut berlatih karena ayahnya sering keluar masuk daratan Tiongkok dan bersikap menentang, yang lainnya sudah mulai ikut latihan dan belajar Fa. Di antaranya ada satu orang yang baru memperoleh Fa dua bulan lebih, sebelum dia masuk jadi tentara, setiap hari masih datang menemani kami belajar Fa dan berlatih Gong, pada hari Senin dan Selasa juga bersama kami pergi ke tempat latihan mengikuti latihan di pagi hari.

Selama restoran kami berfungsi sebagai tempat Xiulian, hal-hal yang bersifat ajaib terjadi berturut-turut. Di sini saya hanya mengangkat sebuah contoh, untuk di-sharingkan kepada teman-teman.

Teringat di saat banjir besar 8 Agustus beberapa tahun lalu, banyak tempat di kota Gao  Xiong terputus suplai airnya, termasuk tetangga di sekeliling restoran kami juga terputus suplai airnya selama 3 hingga 7 hari, sedangkan restoran kami tidak pernah terputus. Pada awalnya kami tidak merasakan hal yang ajaib terus terjadi di restoran, sampai tetangga dan tamu restoran menanyakan pada kami mengapa suplai air tidak terputus, kami baru merasakan hal ajaib tersebut.

Terima kasih kepada Shifu yang selalu memperhatikan saya --- pengikut Dafa yang tidak begitu gigih maju, juga terima kasih kepada rekan-rekan praktisi yang menemani saya sepanjang jalan Xiulian.

Terima kasih Shifu, terima kasih rekan semuanya.