Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Catatan dari Seorang Praktisi Barat: Apa yang Saya Lihat pada Kultivasiku

8 Mei 2011 |   Oleh: praktisi Falun Dafa dari Brazil


(Minghui.org)

1. Satu Tubuh, Satu Pikiran

Saya mulai berkultivasi Dafa pada awal tahun 2003, terima kasih kepada seorang teman yang telah memberi saya buku Falun Gong setelah menghadiri workshop untuk menyebarkan Fa dan mengklarifikasi fakta kebenaran di Brasil.

Dengan buku di tangan, saya pun pulang ke rumah dan mulai membacanya. Saya masih ingat ketika membaca sampai pada pertengahan Lunyu (kata ulasan), saya mempunyai pikiran semacam ini, “Saya telah menemukannya lagi, saya telah menemukan Guru saya.”

Setelah membaca buku Falun Gong, saya menjelajahi internet dan mendapatkan semuanya tersedia di online, dan saya tetap berlatih setiap hari, sambil melihat video yang saya unduh. Dalam sebulan, saya telah selesai membaca semuanya dan satu pertanyaan muncul: “Saya harus memancarkan pikiran lurus atau tidak? Bisakah saya melakukannya?”

Saya melihat lagi bagaimana cara melakukannya di artikel. Guru menjawab beberapa pertanyaan praktisi selama konferensi Fa dan memberi dorongan kepada mereka untuk melakukannya. Dengan segera saya membuat sebuah keputusan, “Saya tidak tahu apa yang orang lain lakukan, namun saya akan berkultivasi hingga akhir, bahkan jika harus melakoninya sendiri.”

Maafkan kebodohan saya karena berpikir melakukan sendiri; membutuhkan empat bulan bagi saya untuk bertemu dengan praktisi lain, tetapi paling tidak hal ini telah membulatkan tekad saya. Setelah dua minggu memancarkan pikiran lurus setiap hari, saya pun melihat pemandangan berikut ini:

Saya berada di sebuah lingkaran yang terdiri dari para praktisi, duduk dan mencari ke dalam, semua berpakaian kasaya. Saya menatap ke atas dan melihat lingkaran demi lingkaran, salah satu lingkaran berada di atas kepala seorang praktisi, terus menjulur ke atas tanpa akhir seperti sebuah pilar atau tiang dengan sebuah sinar yang terang sekali pada ujungnya. Melihat ke bawah, saya melihat tiang tersebut juga sama terus menjulur ke bawah, lingkaran demi lingkaran, namun di bagian paling ujung bawah adalah China.

Tiang tersebut memiliki banyak celah, beberapa celah disebabkan para praktisi tidak memancarkan pikiran lurus; beberapa karena mereka belum mendapatkan Fa. Setelah beberapa waktu melihat kembali pemandangan ini, saya memahami mengapa beberapa upaya kita menghadapi begitu banyak masalah, karena bahkan memancarkan Gong dengan lurus, banyak Gong yang keluar melalui celah-celah tersebut. Kita harus bersatu, sebagai satu tubuh, dengan satu pikiran, untuk menyelamatkan makhluk hidup.

2. Guru Selalu Menunggu Kita

Banyak kali saat belajar Fa, sebagian kehidupan saya akan muncul di pikiran, dan saya akan memahaminya dari sudut pandang lain. Seakan Guru sedang berbicara melalui Fa memberitahu saya, “Saya ada di sana, sedang mencari kamu.”

Kadang-kadang kehidupanku yang muncul berulang-ulang pada kondisi berbeda sangat jelas. Berikut ini sangat nyata bagi saya.

Pada tahun 1996, ketika berusia 16-17 tahun, 7 tahun sebelum mendapatkan Fa. Saya duduk di SMA, di sebuah kelas fisika. Guru fisika saya adalah seorang yang sangat bersemangat dan lucu, suka mengajarkan prinsip-prinsip fisika melalui cerita-cerita. Hari itu dia mengajarkan tentang berbagai dimensi. Begini ceritanya:

“Dimensi pertama seperti sebuah pipa yang memiliki sesuatu di dalamnya, ketika Anda melihat ke dalam dengan satu mata. Kamu hanya dapat melihat ada sesuatu di depan Anda, Anda dapat bergerak maju dan mundur dalam sebuah garis. Tetapi pada suatu hari, seseorang di dalam garis ini sangat kelelahan bergerak maju dan mundur, dan lalu dia terinspirasi untuk melihat sisinya. Segera setelah itu, orang-orang bertanya, ‘Kemana dia pergi?’ Nah, dia pindah ke dimensi kedua, di mana dia dapat bergerak maju dan mundur, serta bergerak dari satu sisi ke sisi lain. Dia benar-benar merasa sangat bebas, sampai dia dikelilingi dan terkurung di dalam ruang persegi. Perasaan yang tak tertahankan saat kebebasannya terenggut, dia mulai bertanya lagi, bagaimana keluar dari sana. Tiba-tiba dia mendapatkan inspirasi lain, dan dia melihat ke atas. Tidak lama, orang-orang yang tertinggal di belakang bertanya lagi, ‘Kemana dia pergi? Dia menghilang.’ Kali ini, dia pergi ke dimensi ketiga; dia dapat bergerak maju dan mundur, dari satu sisi ke sisi lain, serta naik dan turun. Ya, di sinilah kita berada.”

Pada saat ini, guru saya berhenti sejenak, tersenyum dan berkata, “Jika seseorang tahu bagaimana keluar dari sini, tolong beritahu saya.”

Segera setelah itu, saya mendengar di dalam hati saya, sejelas seseorang berbicara kepada saya, “Sekarang, kamu harus mencari ke dalam.”

Saya tersenyum. Saya tahu jawabannya, namun beberapa tahun kemudian, ketika mulai berlatih Falun Dafa, saya benar-benar memahami bahwa tidak perlu mencari ke luar; kita harus mengkultivasi Xinxing (watak, moral) kita untuk kembali ke asal.

Dan betapa benarnya apa yang Guru katakan, “Sebenarnya saya lebih menyayangi Anda dari pada Anda menyayangi diri sendiri.” (“Menyingkirkan Keterikatan Terakhir – Petunjuk Penting Gigih Maju 2”)

Guru selalu menunggu kita.

3. Saat Kita Benar-benar Sangat Terbebani, Mari Ulurkan Tangan Kita karena Dia Mengulurkan Tangannya untuk Kita

Setelah enam bulan berkultivasi, saya dan seorang praktisi lain belajar cara mencetak buku dan brosur dengan biaya murah di rumah. Beberapa bulan kemudian, saya pun mencoba untuk menjalankannya.

Jadi, sebelum buku Zhuan Falun versi bahasa Portugal diterbitkan secara resmi di Brasil, saya bertanggung jawab atas percetakan buku-buku Falun Gong dan Zhuan Falun, begitu juga hampir semua brosur dan Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis. Saya memproduksi lebih dari 2.600 buku keseluruhannya, begitu juga dengan 200.000 brosur klarifikasi fakta dan lusinan Sembilan Komentar.

Pekerjaan itu sangatlah sulit. Saya memiliki dua tugas, satu adalah menjaga agar mesin tetap berkerja (saya telah menggunakan 14 printer selama 4 tahun), yang lainnya adalah melanjutkan kehidupan saya (ini membantu saya mengumpulkan cukup uang untuk kemudian saya gunakan sebagai staf tetap selama setahun di Epoch Times New York), menggabungkan kultivasi pribadi, universitas, mengurus dua tempat latihan dua hari seminggu, memproduksi dan mengirimkan materi kepada para praktisi di seluruh negeri. Saya sendiri tidak tahu bagaimana semua ini bisa dilakukan, selain hanya tahu bahwa Guru sedang mencari saya.

Saya ingat pada suatu hari saya berangkat kerja di pagi hari setelah semalaman tidak tidur karena menjilid buku. Seekor burung merpati yang sedang terbang mengotori baju saya, tepat pada hari dimana saya memiliki agenda pertemuan kerja yang sangat penting. Pulang ke rumah dengan letih, saya memutuskan untuk mengunjugi pacar saya dan ibunya sebelum pulang ke rumah. Dia sangat marah pada saya, dan dia bahkan tidak tahu mengapa ketika saya bertanya apa alasannya marah, jadi saya memutuskan untuk tidak memberitahu dia bahwa saya belum makan hari itu. Saya hanya menarik nafas dalam-dalam dan pulang ke rumah. Sudah agak malam, namun saya memutuskan untuk menelepon praktisi lain untuk berbagi pemahaman mengenai apa yang terjadi pada hari itu. Ketika saya menyimpulkan, kami berdua tertawa, dan saya berkata padanya, “Temanku, jika saya tidak berkultivasi... saya tidak akan tahu.”

Tetapi saya tidak selalu bisa memandangnya hambar. Kadang-kadang saya merasa hampir tidak bisa berjalan atau menarik nafas, saya merasa sangat terbebani. Pada tiga kesempatan saya merasa sangat kritis.

Pertama, saya menerima sepucuk surat dari seseorang yang telah saya kirimin buku Zhuan Falun dan Falun Gong, setelah dia mendaftar ke web Falun Dafa kita dan meminta materi. Setengah dari kartu pos memuat kalimat ini: “Terima kasih; saya telah menunggu ini seumur hidupku.” Saya menahan nafas, menegakkan kepala, dan berpikir, “Saya tidak boleh berhenti, masih sangat banyak yang sedang menunggu.” Tentu saja, saya hanya seorang penyalur materi. Dia memperoleh Fa karena hatinya sedang menunggunya, dan Guru tidak pernah lalai untuk menjawab panggilan semacam itu.

Pada kejadian kedua, saya sedang berjalan ke tempat kerja, dengan kepala tertunduk, lengan menggantung, pikiran menerawang. Saya berhenti saat akan menyeberangi jalan, di samping sebuah pohon, menunggu kendaraan yang melintas. Cuaca sangat panas, tanpa angin sedikit pun, namun saya merasakan ranting pohon menepuk kepalaku tiga kali dengan sangat ringan, seperti seorang teman yang sedang memperdulikan sahabatnya, dengan menepuk  pundaknya. Saya mengucapkan terima kasih kepada pohon tersebut, dan berjalan.

Ketiga kalinya, terjadi di dalam “mimpi.” Saya memahami bahwa itu adalah sebuah jawaban atas pertanyaan krusial saya saat itu. Melalui kultivasi, setiap kali saya  memiliki pertanyaan mendasar, Guru akan menunjukkan jawabannya kepada saya, seperti beliau lakukan kepada kita semua. Pertanyaannya adalah, “Mengapa saya begitu sibuk? Mengapa saya selalu begitu sibuk?” Ini yang saya lihat:

Saya berada di atas haluan kapal besar yang bersinar, membantu satu per satu naik ke kapal. Kadang-kadang, orang-orang sangat lelah hingga mereka hampir tidak bisa mengulurkan tangan mereka, jadi saya hanya  meraih ujung sampan mereka dan membawanya ke atas kapal bersama orang dan segalanya. Setelah lama kemudian, merasa kelelahan, saya berhenti untuk menghela nafas dan menegakkan kepala. Saya memandang kaki langit dan melihat lautan hitam menutupi sampan-sampan perorangan, dalam jumlah yang tak terhintung banyaknya, beberapa dari mereka sangat jauh, dan orang-orang mendayung ke arah kapal yang bersinar dengan kecepatan dan tingkat antusias yang berbeda. Saya menundukkan kepala lagi dan kembali mengulurkan tangan saya, lagi dan lagi...

Saya memiliki banyak pemahaman mengenai “mimpi” ini, bahwa kapal yang bersinar itu adalah Perahu Fa, dan juga mewakili masa depan, satu kapal untuk semua. Kaki langit yang hitam adalah matahari dari alam semesta lama, terdiri dari sifat mementingkan diri sendiri, tertinggal di belakang. Saya juga menyadari bahwa orang-orang tidak dapat naik ke atas kapal kecuali kita yang berada di atas kapal mengulurkan tangan kita untuk menarik mereka ke atas.

Sekarang, apapun yang terjadi, tidak peduli betapa sulitnya, saya mengingat untuk melihat kaki langit itu, dan mengulurkan tangan saya.

Jadi, mari kita mengulurkan tangan untuk orang lain seperti Guru mengulurkan tangannya untuk kita.

English: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2011/4/12/124366.html