Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Kisah Sejarah: Perbuatan Baik Memperoleh Rasa Hormat Dari Dewa

7 Mei 2012 |   Oleh: Zheng Chong


(Minghui.org)

Manusia Yang Melakukan Hal-Hal Baik Memperoleh Rasa Hormat Dari Dewa


Zhang Quaiya adalah seorang pejabat kerajaan di Kota Chengdu. Pada suatu malam ia bermimpi diundang oleh dewa. Sementara mereka berbincang-bincang, datang seorang hamba menyampaikan pesan: “Tuan Huang Jianji dari Gerbang Barat tiba.” Kemudian datanglah seorang berpakaian pendeta Tao dan masuk ke dalam ruangan. Dewa itu serta merta menyambutnya dengan penuh hormat.

Keesokan paginya Zhang mencari ke sana ke mari, dan akhirnya bertemu Huang Jianji dan mengundang dia ke kantornya. Setelah menatapnya, Zhang yakin kalau ia sama dengan orang yang pernah dilihat dalam mimpinya. Ia bertanya kepada Huang, “Hal-hal baik apa yang pernah anda lakukan? Mengapa dewa menghormatimu?”

Huang menjawab: “Saya tak pernah melakukan perbuatan baik yang berarti kecuali hanya membeli gandum dengan harga pasar saat panen. Kemudian saya jual dengan harga yang sama kepada semua orang pada tahun berikutnya ketika masa paceklik. Saya menjualnya dengan harga yang sama dengan harga saat saya membeli. Dengan cara itu saya tidak kehilangan apa pun, tetapi dapat mengatasi krisis.” Setelah mendengar yang dikatakan Huang, Zhang menarik napas panjang. Ia meminta stafnya mengantar Zhang duduk di kursi, kemudian dia memberi hormat di depannya dengan membungkuk dalam-dalam.

“Dewa menghormati seseorang yang melakukan hal baik kepada orang lain. Kami seharusnya memberi tahu semua orang tentang hal-hal baik yang Huang telah lakukan. Biar mereka mengetahui bahwa berbuat baik akan mendapat balasan hormat dari dewa. Semoga semakin banyak orang yang akan mengikutinya.”

Seorang Pria Egois Tersambar Petir, Seorang Pria Yang Baik Hati Memperoleh Anak

Tabib Sun Simiao, seorang pakar pengobatan kuno, adalah tabib terkenal pada masa Dinasti Tang. Sepanjang hidupnya, dia mengabdikan diri dalam ilmu pengobatan. Dia banyak menulis buku, termasuk Qian Jin Fang dan Qian Jin Yi Fang. Kedua buku itu telah diwariskan kepada banyak generasi.

Secara kebetulan tabib Sun pernah menyelamatkan jiwa seekor naga. Untuk membalas kebaikan budi Sun Simiao, naga itu menghadiahkannya resep pengobatan yang digunakan di Istana Naga. Tabib Sun menggunakan resep ini dalam praktek pengobatannya, dan hasilnya sangat baik. Kemudian ia menyunting resep itu ke dalam bukunya, Qian Jin Fang, dan mengukirnya pada sebuah batu untuk diwariskan kepada generasi penerus.

Ada seorang lainnya yang mendengar tentang hal ini. Dengan harapan dapat meraup keuntungan besar, ia menggunakan kekuasaannya untuk menyita batu itu. Ia berencana akan menggunakan cara khusus untuk menyalin resep yang terukir di batu. Ia akan mencetak resep itu dan menjualnya. Secara sengaja ia menghancurkan batu. Segera setelah kejadian itu, ia meninggal disambar petir.

Kemudian, ada seorang yang baik hati menyewa seorang seniman untuk mengukir kembali resep itu pada sebuah batu. Dengan cara inilah Qian Jin Fang yang amat berharga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Suatu malam, orang yang baik hati ini bermimpi. Dalam mimpinya, tabib Sun berkata kepadanya: “Sebenarnya anda ditakdirkan tidak punya anak. Karena perbuatan baik, anda akan memperoleh seorang anak laki-laki yang cakap.” Tak lama kemudian istrinya  mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dewasa ia menjadi seorang yang cemerlang.

Orang yang egois yang telah meremukkan batu berukir itu hanya memikirkan kepentingannya sendiri, sedangkan orang tanpa pamrih yang mengukir ulang resep itu hanya memikirkan kepentingan orang lain. Ironisnya orang yang egois tidak mendapatkan apa pun, sedangkan yang tanpa ego secara tak terduga mendapat ganjaran dari perbuatannya yang baik.

Memusnahkan Dekrit Raja yang Buruk Tanpa Jejak

Semasa tahun-tahun Xuande jaman Dinasti Ming, banyak kasim dikirim ke Lautan Hindia (sekarang Lautan Indonesia) untuk berburu harta karun. Biayanya sangat tinggi, dan banyak orang yang meninggal dalam ekspedisi itu. Pada tahun-tahun Tianshun beberapa orang menyarankan agar kaisar meninjau kembali keputusan tentang perburuan harta itu. Maka kaisar menugaskan Komandan Militer Tertinggi Xiang Zhong untuk mempelajari arsip-arsip terkait dengan perburuan harta karun, dan menyusun rencana baru.

Pada waktu itu Liu Daxia bertugas sebagai pejabat pemegang arsip kerajaan. Ketika ia mendengar berita tersebut, ia menyembunyikan arsip-arsip terkait dari para staf Xiang. Proyek ini tertunda karena tak ada arsip yang dapat ditemukan.

Kemudian, ketika Jenderal Xian Zhong menanyakannya tentang arsip perburuan harta karun yang hilang, Liu menjawab sambil tersenyum: “Perburuan harta karun ke Lautan Hindia adalah proyek yang buruk. Arsip itu seharusnya dimusnahkan, bahkan andaikan sekarang masih ada. Mengapa Anda menghendakinya?” Xiang seketika itu tersadarkan dan menaruh rasa hormat yang mendalam pada Liu. Setelah meminta maaf kepada Liu, dia berkata: “Perbuatan baik anda telah mengharukan Langit. Anda layak menempati posisi saya!” Kenyataannya, Liu di kemudian hari dipromosikan menjadi penasehat kerajaan, dan keturunannya menduduki jabatan tinggi kerajaan.

“Untuk mempromosikan tindakan Liu yang baik, semua dokumen yang sifatnya merusak harus dimusnahkan. Yang lebih penting, buku-buku yang memuat ketidaksenonohan, perampokan, penghujatan terhadap Fa Buddha adalah dokumen yang penuh dosa. Untuk mencegah kerusakan generasi penerus, semua itu harus dimusnahkan!”

(Cerita-cerita di atas disadur ulang dari “Kitab Chou Anshi” Dinasti Qing)

English: http://en.minghui.org/html/articles/2012/4/24/132872.html