Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Wang Caixia, Mengalami Penganiayaan Bertahun-tahun, Kembali Ditahan di Pusat Pencucian Otak

26 Juli 2012 |   Oleh: koresponden Minghui dari Provinsi Gansu, China


Nama: Wang Caixia (汪彩霞)
Jenis Kelamin: Wanita
Umur: Tidak diketahui
Alamat: Kota Lanzhou, Provinsi Gansu
Pekerjaan: Tidak diketahui
Tanggal Penangkapan Terakhir: 31 Mei 2012
Tempat Penahanan Terakhir: Pusat Pencucian Otak Gongjiawan (龚家湾洗脑班)
Kota: Lanzhou
Provinsi: Gansu
Penindasan yang Diderita: Penahanan, pengeledahan rumah, pemukulan brutal, pencucian otak, digantung dengan borgol, tangan diborgol di belakang punggung, belenggu sambil jongkok, dicekok paksa, sel isolasi, pemerasan

(Minghui.net) Sekitar jam 10:00 tanggal 31 Mei 2012, Wang Caixia, praktisi Falun Gong di Kota Lanzhou, Provinsi Gansu, ditangkap saat pergi bekerja. Penangkapan terakhir ini adalah babak baru dari penganiayaan terhadap Wang, yang telah mengalami penganiayaan, pemenjaraan, dan penyiksaan selama bertahun-tahun oleh Partai Komunis China. Polisi menyita komputer dari rumahnya, dan pada siang hari, empat orang dari kantor polisi dan kantor sekretariat Partai Komunis China di Jalan Weiyuan (dua pria dan dua wanita) datang ke rumah orang tua Wang Caixia dan memberitahu mereka bahwa Wang Caixia sedang ditahan di Pusat Pencucian Otak Gongjiawan. Mereka memberitahu kepada orangtuanya bahwa penangkapan itu tidak dilakukan oleh mereka, tetapi oleh Kantor 610. Keluarga Wang pergi ke Pusat Pencucian Otak Gongjiawan menjenguknya, namun petugas yang bertugas menjawab, "Atasan tidak mengijinkan siapapun untuk menjenguk Wang Caixia."

Praktisi Dafa Wang Caixia

Lima Praktisi Falun Gong sedang ditahan di Pusat Pencucian Otak Gongjiawan, termasuk Wang Caixia, Yue Puling, Zhang Luchan, Jing Jilin, dan Chen Jianru. Ada berita bahwa beberapa praktisi memulai mogok makan pada tanggal 31 Mei untuk memprotes penahanan ilegal.

Wang Caixia mulai berlatih Falun Dafa pada Januari 1996. Saat itu, dia baru saja dipecat dari pekerjaan dan pernikahannya mengalami krisis. Dia menjadi depresi, mengakibatkan kesehatannya memburuk. Segera setelah berkultivasi Falun Dafa, dia banyak berubah baik secara fisik maupun mental. Penyakit fisiknya, termasuk asma telah sembuh, dan ia menemukan pekerjaan yang memuaskan. Ia melahirkan seorang anak perempuan yang sehat pada tahun 1998.

Pada Juli 1999, penganiayaan terhadap Falun Dafa dimulai. Latihan ini difitnah dan dianiaya oleh Partai Komunis China (PKC). Untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Dafa dan pencipta Falun Gong, pada Oktober 2000, Wang Caixia pergi ke Beijing untuk mengajukan permohonan. Dia dipukuli oleh polisi di Lapangan Tiananmen. Dia kemudian ditahan di Pusat Penahanan Taoshuping di Lanzhou selama dua minggu.

Pada April 2001, Wang Caixia ditangkap oleh petugas dari Kantor Polisi Chengguan. Dia mengalami penyiksaan yang mengerikan di Tim 14 dari Pusat Penahanan Tingkat Satu Lanzhou dan melakukan mogok makan sebagai protes. Zhang Linlin dan kepala tim Tian memerintahkan tahanan lain untuk memukulinya. Wang dipukul sampai berubah hitam dan biru. Kemudian, beberapa tahanan menahannya ke lantai, menjepit pipi, membuka mulutnya dengan sumpit dan sendok, dan melakukan cekok dengan brutal. Cekok paksa ini menyebabkan Wang hampir mati lemas. Dokter penjara kemudian dengan kasar memasukkan sebuah tabung ke dalam perut Wang dan dengan paksa memasukkan air garam, nyaris menyebabkan kematiannya.

Setelah hampir empat bulan penahanan dan penyiksaan, Wang Caixia menderita kudis yang serius di lingkungan pusat penahanan yang basah dan kotor. Setelah ayahnya menyuap 2.000 yuan kepada Wei Dong, petugas polisi di Kantor 26 dari Kantor Kepolisian Cabang Chengguan, Wang Caixia dibebaskan dan diperbolehkan pulang. Selama masa penahanan, anak perempuannya sering bersembunyi di bawah selimut dan menangis. Setelah Wang Caixia kembali ke rumah, putrinya juga terinfeksi kudis. Dia merasa sangat gatal setiap malam sampai hampir tidak bisa tidur. Dia juga kehilangan nafsu makan dan menderita baik secara fisik maupun mental.

Pada Agustus 2001, suami Wang Caixia tidak bisa lagi menanggung tekanan besar dari penganiayaan dan meminta cerai. Pengadilan Jalan Weiyuan memberikan hak asuh tiga tahun kepada suaminya dan memberi rumah kepadanya juga, karena Wang Caixia berlatih Falun Gong.

Polisi PKC masih mengganggu Wang secara teratur. Dalam rangka untuk mencari dan menangkap Wang Caixia setelah dia menjadi tunawisma, mereka pergi ke sekolah di mana putrinya duduk di taman kanak-kanak dan meminta agar guru mengumumkan bahwa anak itu sakit. Guru yang masih memiliki hati nurani ini menolak untuk berbohong. Pada September 2002, polisi mengintai kakek gadis itu, yang menjemputnya di taman kanak-kanak, dan menerobos masuk ke rumah orang tua itu. Mereka memaksa keluarga untuk memberitahukan keberadaan Wang. Selama cobaan berat itu, gadis kecil tersebut lapar, lelah, dan ketakutan. Dia menangis sampai dirinya tertidur.

Pada tanggal 1 Oktober 2004, sejumlah besar petugas dikirim lagi dari Bagian 26 dari Departemen Kepolisian Chenguan di Lanzhou, untuk menangkap Wang Caixia. Mereka mengepung rumahnya selama dua hari dan menggunakan berbagai metode untuk mengancam Wang dan orangtuanya. Berkat kegigihan keluarga Wang, yang menolak untuk menyerahkannya, upaya penangkapan tersebut gagal.

Ketika suami Wang Caixia mendaftarkan anaknya di sekolah pada Agustus 2005, dia diberitahu bahwa Biro Keamanan Publik sedang melacak Wang Caixia. Jika dia (Wang) mengunjungi sekolah, suaminya harus melapor hal ini kepada polisi segera. Polisi mengirim petugas ke sekolah dan mengancam sang ayah lagi, mengatakan kepadanya bahwa ia akan ditangkap jika tidak melaporkan Wang.

Pada pertengahan Mei 2007, Liu Tongchang, Liu Bailin, dan lainnya dari Kantor 610 yang terkait dengan Kantor Kepolisian Universitas Lanzhou, menangkap secara ilegal Wang Caixia dengan cara menguntit, melacak, dan cara tercela lainnya. Mereka membawanya ke Pusat Pencucian Otak Gongjiawan, dengan tujuan untuk memaksanya melepaskan Falun Dafa. Segera setelah tiba di pusat pencucian otak, Wang Caixia diborgol ke tempat tidur selama tiga hari tiga malam. Dia mulai mogok makan sebagai protes. Pada hari kelima mogok makan, ia diborgol lagi ke tempat tidur di lantai pertama selama empat hari tiga malam, dan dianiaya oleh Sun Qiang, Yang Wentai, dan polisi lainnya. Selang makanan dimasukkan ke dalam perutnya.

Pada November 2007, petugas Qi Ruijun mengklaim bahwa Wang Caixia tidak melakukan pekerjaan kebersihan, dan menggunakan alasan itu untuk memasukkannya ke dalam sel isolasi. Area kurungan adalah sekitar 150 meter persegi, dengan sebuah pintu menghadap ke barat dan ruang 20-30 meter panjangnya membentang sepanjang area kurungan. Sekitar dua lusin kamar kurungan terletak di sana, masing-masing sekitar delapan meter persegi. Tidak ada sinar matahari, panas, atau ventilasi di kamar-kamar ini sepanjang tahun, sehingga sangat redup, dingin, dan lembab. Toilet dan wastafel berada di dalam kamar. Semua kamar kurungan dilengkapi dengan pintu besi, dan batangan besi diikat di pintu. Batangan tersebut digunakan untuk menggantung para praktisi dengan tangan terborgol. Wang Caixia dan tiga praktisi Dafa lainnya yang sedang dianiaya di kamar kurungan digantung dengan borgol mereka pada batangan besi siang dan malam, dengan punggung mereka menghadap ke pintu. Hanya waktu tiga kali makan, dan pada pukul 11:00 malam, ketika mereka pergi ke kamar mandi, barulah borgol dilepas. Lengan dan tangan mereka mengalami bengkak parah akibat penyiksaan ini.

Selama periode ini, Wang Caixia tidak pernah melepaskan keyakinannya pada Sejati-Baik-Sabar. Karena aksi penyelamatan terus menerus dilakukan oleh keluarganya, polisi membebaskan Wang Caixia setelah memborgolnya selama dua minggu. Kaki, tungkai, dan tangan mengalami bengkak besar dan ia tidak bisa menggerakkan lengannya dengan normal. Wang Caixia menderita penganiayaan brutal sekitar tujuh bulan, termasuk cekok paksa, diborgol dengan tangan di belakang punggung, dipaksa jongkok, serta penganiayaan mental.

Selama Wang Caixia ditahan di Pusat Pencucian Otak Gongjiawan, ibunya mengalami tekanan yang luar biasa dan hidupnya sering dalam bahaya. Putrinya, di bawah sepuluh tahun, tampak kurus dan sakit-sakitan karena kurang perawatan dari ibunya. Dia takut pada orang, dan nilai akademisnya menurun secara dramatis. Gadis kecil itu sering merindukan ibunya tetapi tidak berani mengungkapkan perasaan ini di depan orang lain. Dia hanya diam-diam menulis di bagian belakang foto ibunya. "Saya merindukan ibu saya. Ibu akan selalu menjadi ibu terbaik di dunia."

Karena permintaan yang kuat dari keluarga Wang, pada akhir 2007, Liu Tongchang, Liu Bailing, Wu Jianqiang, dan lain-lain dari kantor polisi di Universitas Lanzhou membebaskan Wang Caixia dari Pusat Pencucian Otak Gongjiawan dengan ketentuan bahwa ayahanda Wang (seorang pensiunan tua) dan adik laki (yang bekerja di Universitas Lanzhou) dapat terlibat di tempat Wang. Lengan Wang mengalami lumpuh karena terlalu lama digantung dengan borgol. Bahkan dalam situasi ini, Liu Tongchang, Liu Bailing dari kantor polisi, dan petugas Kantor 610 di Universitas Lanzhou masih menindas Wang. Mereka mencoba memaksa Wang Caixia melepaskan Falun Gong dengan mengancam adiknya akan kehilangan pekerjaan karena latihannya. Mereka pergi ke rumah orangtua Wang untuk mengganggu dan mengancam mereka. Orangtua Wang sangat tua, dan harus hidup dalam suasana teror. Akhirnya, Wang dipaksa untuk meninggalkan rumah lagi dan karenanya tidak bisa mengurus ibunya yang terbaring di tempat tidur dan putrinya yang masih duduk di sekolah dasar.

Staf di Pusat Pencucian Otak Gongjiawan, Lanzhou:
Shan Yongsheng, Qi Ruijun, Yang Dongchen, Mou Xiangyang, Wen Jing, Du Mei, and Xu Zhihong
Telepon: +86-931-2868792
Dong Jianmin, direktur Kantor 610 di Lanzhou

Silahkan merujuk pada artikel bahasa Mandarin untuk nama-nama dan nomor telepon lainnya.

Chinese version click here
English version click here