Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Anjing Mengeong: Zhou Yongkang Berjanji Melindungi Hak Asasi Manusia Dalam Penegakan Hukum

4 Juli 2012 |   Oleh: Yi Tianjian


(Minghui.org) Zhou Yongkang, salah satu anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis China (PKC) -  terutama dikenal sebagai salah satu dalang di balik penganiayaan yang dilakukan  oleh PKC terhadap Falun Gong - telah melakukan kejahatan kemanusiaan besar terhadap praktisi Falun Gong. Karena peran strategis yang dia mainkan, dia telah menjadi sangat terkenal (karena kejahatannya). Baru-baru ini dia mengundang sindiran publik ketika dia berbicara tentang penghormatan hak asasi manusia dalam kerangka penegakan hukum di bawah pengawasannya. Dalam seminar yang mengangkat topik penegakan hukum pidana China yang telah diamandemen baru-baru ini, Zhou hadir dan membahas masalah hak asasi manusia, menekankan bahwa semua tingkat Komite Politik dan Hukum di China harus menghormati hak asasi manusia ketika berhadapan dengan para kriminal. Terkenal dengan aksi premanisme dan pelanggaran HAM berat, ucapan-ucapan Zhou tentang penghormatan hak-hak  asasi manusia serentak menuai cercaan publik.

Sebagai komandan Komite Politik dan Hukum PKC, yang mengendalikan seluruh jajaran kepolisian, pengadilan dan kejaksaan di China, Zhou menempati peringkat atas sebagai pelanggar HAM terburuk pada posisi puncak yang didudukinya saat ini. Tak diragukan lagi, dia adalah pejabat nomor satu yang akan bertanggung jawab atas semakin merajalelanya korupsi dalam jajaran peradilan China. Memburuknya kondisi masyarakat China dapat ditelusuri melalui merosotnya sistem peradilan China, yang berada di bawah kendali Zhou. Dia benar-benar biang para bandit yang ia klaim akan melakukan penyerangan.

Dalam jabatannya, Zhou Yongkang telah menghalalkan segala cara untuk menghancurkan HAM rakyat China. Menurut laporan berita di Minghui.org pada 29 Mei 2012, pada awal April 2011 ia berkunjung ke Kota Wuhan, Provinsi Hebei. Lima belas hari kemudian, puluhan praktisi Falun Gong di Kota Wuhan ditangkap, tujuh orang di antaranya dituduh mengorganisir kegiatan Falun Gong. Kasus-kasus seperti ini sengaja direkayasa, mereka bahkan gagal meyakinkan para jaksa PKC di Kota Wuhan, dan kasus ditolak berkali-kali karena “tidak memiliki bukti yang cukup.” Pada 19 Desember 2011, Kantor 610 Kota Wuhan, mempunyai niat jahat untuk memberatkan hukuman para praktisi, memaksa para jaksa Distrik Wuchang untuk menggabungkan kasus 7 praktisi Falun Gong ini menjadi satu dan menuntut mereka bersama sebagai kasus utama. Namun, karena kasus ini dibuat-buat dan tidak ada bukti-bukti yang  sah, maka sidang ditunda tanpa pemberitahuan lanjutan. Pada bulan April 2012, Zhou lagi-lagi datang ke Provinsi Hubei. Pada 19 Mei kasus ini digelar sebagai salah satu kasus utama, pengadilan mendakwa para praktisi dalam persidangan tanpa dasar hukum yang sah. Pada saat persidangan berlangsung semua orang yang melewati gedung pengadilan itu dicekal dan ditanyai apakah mereka praktisi Falun Gong. Bahkan mereka yang menjawab "bukan" diminta untuk membuka tas dan para petugas memeriksa isinya serta memaksa mereka untuk melontarkan kata-kata cacian pada Falun Dafa dan pendirinya guna membuktikan bahwa mereka benar-benar bukan praktisi Falun Gong. Menurut informasi terbaru, delapan praktisi telah ditangkap.

Kunjungan Zhou di setiap kota di China selalu diikuti dengan intensifikasi penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong. Dalam Kongres Rakyat yang diadakan di Beijing pada Maret 2012, dia secara terbuka menunjukkan dukungannya bagi Bo Xilai, seorang pejabat tinggi PKC lainnya yang tangannya berlumuran darah praktisi Falun Gong. Ketika menjabat sebagai walikota Kota Dalian, Provinsi Liaoning, Bo Xilai memberi perintah khusus kepada polisi setempat: "Jangan menunjukkan rasa kasihan ketika anda menyerang Falun Gong dan buatlah mereka sengsara." Secara luas diyakini bahwa justru kekejaman Bo Xilai dalam menganiaya Falun Gong yang telah meyakinkan Zhou dari rencananya untuk memilih Bo sebagai penggantinya sebagai Sekretaris Jenderal Komite Sentral Hukum dan Politik (CPLC) tahun depan.

Dalam posisinya sebagai sekretaris jendral CPLC, Zhou menjadi pejabat tertinggi PKC yang  melanggar hukum di dalam ‘penegakan hukum’-nya. Gao Zhisheng, seorang pengacara HAM terkenal, telah ditahan selama bertahun-tahun tanpa alasan yang sah hanya karena dia telah menulis tiga kali kepada otoritas tertinggi PKC tentang isu Falun Gong. CPLC bahkan menyelenggarakan panel para pakar khusus untuk menganiaya Gao. Lu Jiaping, seorang peneliti sejarah Perang Dunia II, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara tanpa melalui proses pengadilan karena karyanya yang mengungkapkan sejarah pribadi Jiang Zemin yang dikenal sebagai mata-mata untuk Jepang dan Rusia selama pendudukan Jepang di China pada Perang Dunia Kedua. Kasus lain yang terkenal adalah kasus Chen Guangcheng, seorang pengacara tunanetra yang  membela korban kebijakan satu anak di China, dan akibatnya Chen mendapat masalah dari CPLC. CPLC telah menghabiskan lebih dari 60 juta yuan per tahunnya untuk mengatur tahanan rumah bagi Chen.

Karena kekejaman Zhou Yongkang dalam penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong, banyak keluhan telah ditujukan kepada dirinya pada berbagai kesempatan oleh para praktisi Falun Gong di luar negeri ketika dia berkunjung. Pengungkapan pengambilan organ tubuh para praktisi Falun Gong hidup-hidup oleh PKC telah membuatnya menjadi sorotan di panggung dunia sebagai dalang kezaliman yang belum pernah ada sebelumnya.

Sungguh ironis bahwa seorang pria yang berspesialisasi menginjak-injak hak asasi manusia mengikrarkan janji bahwa dia tengah menegakkan hak asasi manusia. Satu penjelasan bagi anomali yang demikian mungkin dia telah menemukan bahwa sangatlah mendesak untuk berbuat demikian, karena dia tahu bahwa pelanggaran hak asazi manusianya pada akhirnya telah  diketahui secara luas.

Alasan lain mengapa dia melakukan hal itu karena kemungkinan dia menyadari bahwa persidangan terakhir harus dilakukan baginya. Karena kejatuhan Bo Xilai, yang menandai runtuhnya perjuangan faksi Jiang meraih kekuasaan tertinggi, Zhou mungkin telah berpikir bahwa dengan mendukung hak asasi manusia kemungkinan dia bisa menyelamatkan dirinya dari akhir yang tragis.

Penekanan mengenai isu HAM dalam pidato Zhou Yongkang, sesuai dengan cara-cara yang lazim dilakukan PKC, yang perbuatannya selalu bertentangan dengan pernyataan-pernyataan muluknya. Di balik topeng untuk menghormati HAM, PKC menyembunyikan maksud jahatnya untuk bahkan melanggar HAM lebih parah. Seperti yang dilakukan Jiang Zemin terhadap Falun Gong: Ketika memberikan isyarat bagi perintahnya "untuk memukuli praktisi Falun Gong sampai meninggal" dan "mereka yang dipukuli sampai meninggal akan dianggap sebagai kasus bunuh diri," dia mengklaim kepada dunia "China berada pada saat ketika HAM dihormati dengan ketulusan hati yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah China."

Janji Zhou untuk melindungi hak asasi manusia benar-benar berlawanan dengan prilakunya – terutama terkait penghormatan terhadap hak-hak dasar para praktisi Falun Gong.

Chinese version click here
English version click here