Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Tiga Tahun Penderitaan di Kamp Kerja Paksa, Menjadi Saksi atas Kematian Praktisi Chen Baoliang akibat Pemukulan

5 Sep. 2012 |   Oleh: Wang Zhe


Nama: Wang Zhe (王喆)
Jenis Kelamin: Pria
Usia: 33 tahun
Alamat: Sekarang berada di Perancis
Tanggal Penangkapan Terakhir: 20 Juli 2001
Tempat Penahanan Terakhir: Kamp Kerja Paksa Qingbowa (青泊洼劳教所)
Kota: kotamadya Tianjin
Penganiayaan yang Diderita: Disetrum listrik, tidak boleh tidur, kerja paksa, cuci otak, vonis ilegal, dipukuli, dipenjara, disiksa, dipecat dari pekerjaan, pengekangan fisik, interogasi, penahanan

(Minghui.org) Nama saya adalah Wang Zhe dan berusia 33 tahun. Saya pernah menderita sakit kulit yang sangat membandel, namun sembuh setelah berlatih Falun Gong pada akhir 1997.

Setelah penganiayaan terhadap Falun Gong dimulai, saya ditangkap secara ilegal pada November 1999 karena pergi ke Beijing untuk memohon keadilan bagi Falun Gong dan dipenjarakan di Kantor Polisi Cabang Beichen Kota Tianjin selama sebulan. Saya dipecat dari pekerjaan setelah dibebaskan. Pada 20 Juli 2001, agen-agen dari Departemen Kepolisian Tucheng, Distrik Hexi, Tianjin membawa saya dengan paksa dari tempat kerja baru saya. Selama tiga tahun kerja paksa, saya menyaksikan kematian praktisi Chen Baoling (pria) akibat pemukulan.

Foto terbaru Wang Zhe

Saya Ikut dalam “Peristiwa Tianjin” sebelum “Permohonan Damai 25 April” di Beijing

Pada 11 April 1999, He Zuoxiu menerbitkan sebuah artikel yang menyerang Falun Gong di majalah “Pameran Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Pemuda.” Banyak praktisi Tianjin, termasuk saya, pergi mengklarifikasi fakta kepada kepala editor dari majalah ini pada 21 April. Dua hari kemudian, polisi setempat secara ilegal menangkap 45 praktisi setempat, beberapa diantaranya terluka dalam penyerbuan polisi. Pada hari berikutnya, kami pergi ke Pemerintah Kota Tianjin untuk memohon dan diberitahu untuk mengajukan kasus kami ke Kantor Pengaduan Negara di Beijing. Apa yang terjadi sesudahnya dikenal sebagai “Permohonan Damai 25 April” oleh sepuluh ribu praktisi dari seluruh penjuru negeri.

Segera setelah Permohonan Damai 25 April, Partai Komunis China (PKC) meminta setiap tempat latihan Falun Gong disurvei tentang manfaat kesehatan praktisi yang diperoleh dari latihan Falun Gong. Saya juga ikut serta dalam survei, namun tidak pernah terbayangkan bahwa PKC sedang mengumpulkan alamat rumah dan informasi pekerjaan dari para praktisi dalam persiapan bagi penganiayaan dikemudian hari.

Dimulai pada Juni 1999, polisi mulai mengusir kami dari tempat latihan di dekat rumah saya. Pada 20 Juli 1999, PKC melancarkan penangkapan massal terhadap praktisi di seluruh negeri. Ketika saya bersama dengan rekan-rekan praktisi pergi memohon keadilan bagi Falun Gong di Beijing pada November 1999, kami melihat polisi dari berbagai bagian negeri sudah menunggu di luar Kantor Pengaduan Negara. Saya dibawa kembali ke Tianjin dan ditahan di Kantor Polisi Cabang Beichen selama sebulan. Saya dipecat dari pekerjaan setelah dibebaskan. Mulai saat itu, otoritas setempat mengganggu saya setiap hari libur atau yang dinamakan tanggal sensitif.

Dihukum Tiga Tahun Kerja Paksa

Pada 23 Januari 2001, PKC merekayasa peristiwa bakar diri di Lapangan Tiananmen. Sejak bulan Mei, rekan-rekan praktisi dan saya mulai membuat DVD klarifikasi fakta untuk mengungkap kebenaran dari peristiwa tersebut. Saya diciduk dari tempat kerja baru saya pada 20 Juli 2001, oleh beberapa polisi dari Departemen Kepolisian Tucheng. Karena saya menolak untuk bekerja sama, mereka menyiksa saya dengan metode penyiksaan “Menerbangkan Kapal Terbang” di mana saya dipaksa membungkuk dengan punggung menyentuh tembok dan kedua tangan diluruskan menyentuh tembok. Mereka menahan saya dalam posisi ini selama beberapa jam dan sangat menyakitkan.

Peragaan Penyiksaan: Menerbangkan Kapal Terbang

Malam itu Kepala Wang memborgol dan membelenggu saya. Setelah tengah malam, petugas mengikat saya diantara dua ranjang dan membuat saya berjongkok sampai jam 6 atau 7 pagi. Pada pukul 9, wakil kepala datang untuk menginterogasi saya. Saya menolak menjawab pertanyaannya, jadi ia menampar wajah saya dengan keras. Saya tetap diam, dan ia terus memukuli saya hingga hidung saya berdarah. Sangat mungkin ia juga memecahkan gendang telinga kiri saya karena pendengaran di telinga kiri tidak sebagus telinga kanan. Sepanjang hari mereka berusaha berbagai cara untuk menyiksa saya. Kadang mereka memborgol saya ke ranjang sehingga saya tidak dapat duduk ataupun berdiri. Mereka juga menyetel tinggi hembusan AC langsung ke arah saya selama beberapa jam. Akhirnya, Kantor Polisi Cabang Hexi memvonis saya tiga tahun kerja paksa.

Menyaksikan Kematian Chen Baoliang akibat Pemukulan

Pada September 2001, polisi mengirim saya ke Kamp Kerja Paksa Qingbowa sebelum memindahkan saya ke Tim Tiga Kamp Kerja Paksa Shuangkou satu bulan kemudian. Saya dipaksa bekerja paling sedikit 15 jam sehari, kadang dari jam 6 pagi hingga jam 11 malam. Karena saya menolak melepaskan keyakinan saya pada Falun Gong, penjaga memaksa saya menulis “refleksi tertulis” setiap hari setelah melakukan kerja paksa. Akibatnya, saya hanya mendapatkan tidur 2-3 jam setiap malam. Pada Juli 2002, mereka memindahkan saya ke Tim Dua di kamp kerja paksa yang sama.

Pada 15 Agustus 2002, semua praktisi yang ditahan melakukan pemogokan. Penjaga memerintahkan para tahanan kriminal untuk memukul kami dengan tongkat. Mereka kemudian mengumpulkan kami di tempat kerja dan meneruskan pemukulan. Akibatnya dua praktisi terluka parah. Seorang praktisi manula, Chen Baoliang, berusaha untuk menghentikan kebrutalan ini dan Ketua Tim Zheng Junhong memerintahkan tahanan Wu Guoliang dan Li Wenhong memukul Chen dengan balok kayu, sementara tangannya diikat ke belakang dan mulutnya diplester.

Chen pingsan dan Wu Guoliang menginjak-injak dadanya dengan keras. Ia menjadi sangat pucat dan dengan susah payah bangun sendiri. Bagaimanapun, para penjahat itu menghentikan siapapun yang ingin membantunya, berteriak, ”Kami melihat siapa yang berani menolongnya?” Chen berusaha berjalan beberapa langkah tetapi segera pingsan. Penjaga menjadi gelisah dan memanggil ambulan. Sementara itu mereka memisahkan kami dari Chen dan memerintahkan kami kembali ke sel.

Ketika saya tanyakan tentang kondisi Chen malam itu, seorang penjaga bernama Meng menjawab, ”Chen Baoliang baru saja meninggal dunia akibat serangan jantung.” Saya geram atas jawabannya dan membalas, ”Kamu berbohong! Ia dipukuli hingga meninggal dunia!” Saya ingat jelas jawaban Meng seenaknya, ”Urus urusanmu sendiri.”

Pagi berikutnya, para penjaga memenuhi gang dan memanggil saya dan tiga praktisi lainnya. Setelah saya dibawa ke kantor mereka bertanya, ”Apakah tanganmu sudah sembuh? Coba kita lihat.” Karena kebersihan yang buruk, tangan saya berkudis dan banyak kulit yang rusak. Segera setelah saya mengeluarkan tangan, mereka memborgol tangan saya ke belakang dan membawa saya keluar ke sebuah mobil yang telah menunggu di mana terdapat praktisi lainnya. Kami didudukan saling membelakangi dan memperingatkan, ”Jaga sikap kalian, atau kami akan memplester mulut kalian.”

Disiksa di Kamp Kerja Paksa Qingbowa


Para penjaga membawa saya kembali ke Tim Tujuh Kamp Kerja Paksa Qingbowa di mana kebanyakan tahanannya adalah pecandu narkoba. Hanya ada beberapa praktisi. Saya tidak tahu betapa jahatnya sampai saya tiba di sana. Tidak pernah ada kekurangan narkoba, bahkan penjaga ikut menyelundupkan narkoba dan menghasilkan uang dari situ. Karena saya menolak untuk bekerja sama, penjaga mencabut hak kunjungan bulanan keluarga saya.

Pada November 2002, kamp kerja paksa mengambil contoh darah saya tanpa menjelaskan alasan apapun. Sekarang saya baru menyadari, pada waktu itu adalah puncak dari praktek mengerikan dari pengambilan organ praktisi yang masih hidup.

Menurut kepala tahanan, penjaga mencoba tongkat listrik pada babi dan menemukan empat tongkat listrik akan menyebabkan kematian pada babi. Tapi mereka menggunakan 6-8 tongkat pada praktisi.

Wang Zhe setelah dioperasi pada lehernya


Luka nanah di dada dan punggung


Luka di tulang iga; nanah keluar dari bagian iganya


Lumpuh menyebabkan saya tidak dapat menggerakkan kedua tangan. Saya hanya dapat tetap di satu posisi


Sejak menjadi lumpuh, saya buang air di ranjang

Setelah saya melakukan mogok makan selama sebulan, penjaga mengirim saya ke pusat cuci otak pada Januari 2003. Mereka merancang seluruh lantai untuk melakukan cuci otak secara paksa bagi praktisi yang gigih. Setiap sesi berisi empat praktisi. Ketika saya dibawa ke sana, saya yang pertama dipukuli dengan brutal dan diinjak oleh enam orang, berdiri di lengan dan tubuh saya, dan menyetrum saya dengan 6-7 tongkat listrik sekaligus. Mereka sengaja mencari tempat sensitif, termasuk telapak tangan, kaki, kepala, leher dan mulut. Saya sudah sangat lemah karena melakukan mogok makan, tetapi mereka tidak berhenti sampai saya tidak bias bergerak sama sekali. Setelah beberapa hari disetrum listrik, luka penuh nanah tampak di punggung saya. Saya perlu bantuan orang untuk berjalan.

Pada Juni 2003, saya didiagnosa menderita TBC dan kemudian dibebaskan dengan jaminan medis. Setelah pulang ke rumah, saya menjadi makin lemah. Luka di punggung saya membesar dan akhirnya, nanah keluar dari satu sisi bagian iga. Luka melebar ke leher dan menyebabkan lumpuh dari leher ke bawah. Beberapa tahun penganiayaan menyebabkan keluarga saya menjadi miskin. Kami harus menjual rumah untuk membayar operasi saya.

Banyak rumah sakit di Tianjin menolak untuk menerima saya, karena khawatir saya dapat meninggal setiap saat. Akhirnya satu rumah sakit mau menerima saya atas desakan orangtua saya tetapi mereka meminta tanda tangan untuk menjamin rumah sakit bebas dari tanggung jawab sekiranya saya meninggal dunia selama atau setelah operasi. Saya menjalani dua operasi. Pertama adalah di leher yang berlangsung selama empat jam. Mereka tidak membius saya pada awalnya, khawatir pembiusan total akan menghilangkan peluang keselamatan saya. Akibatnya, saya sadar dan merasa sangat kesakitan dalam operasi itu. Akhirnya mereka memberikan bius di beberapa tempat ketika menempatkan capit otot.

Operasi kedua termasuk mencangkok tulang dari pinggul ke tulang belakang. Saya sembuh setelah dua operasi itu dengan ajaib. Pada saat saya keluar dari rumah sakit, saya sudah bisa turun ranjang dan berjalan-jalan. Setelah pulang ke rumah, saya belajar Fa dan berlatih latihan Falun Gong. Dalam satu bulan, saya bisa menuruni tangga dan menyekop salju di luar gedung apartemen. Tetangga berbisik-bisik di belakang saya, ”Sungguh ajaib ia sembuh dengan sangat baik! Ia sudah sekarat sebelumnya!”

Melarikan Diri ke Perancis

Ketika tiba di Perancis pada Februari 2012, saya menghadiri pertemuan Liga Internasional untuk HAM (International League for Human Rights, ILHR) untuk mengungkap penganiayaan PKC terhadap Falun Gong. Saya menceritakan kembali pengalaman saya dan semua orang terkejut. Mereka menunjukkan dukungan bagi Falun Gong dan mengundang saya ke Bordeaux, sebuah kota di Perancis Selatan.

Mengenang kembali, saya menjadi sangat emosi. Saya akan terus mengungkapkan kebrutalan PKC terhadap Falun Gong sampai hari penganiayaan berakhir.

Mengungkap kebrutalan penganiayaan oleh PKC di Bordeaux ILHR


Wang Zhe bersama dengan anggota parlemen Véronique FAYET


Wang Zhe bersama dengan Guichenet dari Bordeaux ILHR

Chinese version click here
English version click here