Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Mentalitas ingin Mengubah Orang Lain dan Membuktikan Diri Sendiri Berujung Masalah

27 Nov. 2013 |   Oleh praktisi Dafa di Propinsi Heilongjiang, China


(Minghui.org) Dulu saya mempunyai mentalitas yang kuat, ingin merubah orang lain dan membuktikan diri sendiri. Sifat seperti ini akhirnya membuat saya menjadi banyak masalah. Mengingat tentang pengalaman saya melepas keterikatan ini, banyak emosi melanda hati saya, suka dan duka. Setelah banyak sekali kegagalan, saya akhirnya bisa menghadapi orang lain dengan sabar. Saya akan menceritakan sedikit tentang pengalaman kultivasi saya.

Ingin Mengubah Orang Lain karena Keterikatan Saya terhadap Persaingan

Saya lahir di keluarga miskin, di kelas sosial paling rendah, dan sering diganggu dan diolok-olok pada saat kecil. Agar bisa bertahan hidup, saya memberontak. Nafsu bersaing saya menjadi lebih kuat. Sifat ini sangat terlihat jelas ketika berhubungan dengan hal yang saya suka ataupun benci. Walaupun saya seorang wanita, saya bahkan tidak takut berhadapan dengan preman, dan tidak pernah berkompromi dengan mereka.

Bahkan ketika saya mulai berkultivasi, nafsu saya untuk mengubah orang lain masih sangat kuat. Karena sifat buruk saya yang sangat kuat, saya sering berdebat dengan praktisi lain dan bahkan menjadi emosi ketika berbeda pendapat dengan mereka atau karena saya pikir mereka salah. Saya memaksa orang lain untuk menerima pendapat saya dan mengikuti saya.

Suatu kali seorang praktisi mengeluh kepada saya tentang seorang praktisi yang sombong yang selalu memaksa orang lain untuk mendengarkannya. Tidak peduli apakah orang sedang ada kerjaan atau tidak, dia selalu memaksa mereka untuk melakukan pekerjaan untuknya kapanpun dia mau. Saya sangatlah tidak suka kepada orang seperti itu. Kemudian saya berkata kepadanya, "Katakan saja kamu tidak mau pergi. Lihat apa yang bisa dia lakukan kepadamu!"

Praktisi tersebut mengatakan bahwa tidak boleh melakukan hal tersebut. Saya berkata, "Kamu adalah seorang pengecut. Kamu tidak boleh mengalah kepada orang seperti itu." Saya berkata dengan penuh emosi, "Kamu terlalu memanjakan dia dan kamu tidak melakukan suatu hal baik kepadanya. Kamu seharusnya menolak. Jika kamu selalu melakukan apa yang dia mau, dia akan makin merasa berkuasa. Sebenarnya, kamu malah berbuat hal buruk kepadanya." Saya membuat praktisi tersebut terdiam.

Saya mau merubah praktisi ini, agar dia bisa menjadi lebih kuat. Saya selalu menekannya. Pada kenyataannya, apa perbedaan saya dengan praktisi yang dia ceritakan? Saya tidak berbagi dengan sabar, dan saya tidak mencari ke dalam kenapa praktisi tersebut mengeluh kepada saya. Sebaliknya, saya malah memperlihatkan keterikatan terhadap persaingan dan ingin merubah dia. Saya sedang mengkultivasikan orang lain, bukan diri saya sendiri!

Ingin Mengubah Orang Lain karena Iri Hati

Seorang praktisi memiliki banyak keterikatan manusia, tetapi dia tidak mengkoreksi diri. Kekuatan lama mengambil kesempatan dari kebocoran ini dan menyerang tubuhnya. Pada akhirnya dia terkena peyakit trombosis serebral. Saya memberitahunya agar mencari ke dalam dan menolak pengaturan kekuatan lama, tetapi dia berkata dia tidak mempunyai keterikatan.

Saya sangat marah atas perkataanya dan berkata, "Kamu tidak punya keterikatan? Lalu kenapa kamu menderita penyakit trombosis serebral? Jika kamu tidak mempunyai keterikatan, maka kamu seharusnya sudah mencapai kesempurnaan? Kenapa kamu masih di sini?" Kemudian dia berbicara banyak, tapi tidak ada yang sesuai dengan prinsip Fa. Dia pikir dia sangat baik. Saya merasa cukup kesal mendengarkannya. Saya sangat terganggu dan memandang rendah dia. Saya menyalahkan dia dan sangat marah.

Saya sangat jengkel. Hati saya bergejolak. Saya mencari ke dalam untuk mencari keterikatan saya. Kelihatannya saya melakukan hal baik kepada orang lain, tetapi sebenarnya saya terpaku oleh keterikatan untuk merubah orang lain. Di balik keterikatan itu adalah iri hati. Praktisi ini memiliki trombosis serebral tetapi masih yakin kepada dirinya. Saya memandang rendah kepada dia karena itu. Saya pikir dia lebih rendah dari saya.

Memandang rendah orang lain merupakan perwujudan dari iri hati. "Kamu tidak mampu, jadi kamu harus mendengarkan saya dan mengikuti apa yang saya katakan." Walaupun saya meminta dia untuk mencari ke dalam, sikap saya sangatlah tidak baik. Keterikatan hati saya sangatlah kuat dan saya tidak mempunyai belas kasih sama sekali. Sebenarnya, saya mencoba untuk merubah orang lain. Hasilnya, praktisi ini tidak hanya tidak mencari ke dalam, tetapi merasa dia sangat baik. Reaksinya sangat berlawanan dengan apa yang saya harapkan.

Sejak itu saya berubah. Tidak peduli praktisi seperti apa yang saya temui, terlepas dari kultivasi mereka, asalkan saya sadar bahwa konsep pikiran mereka berbeda dengan saya, atau saya menemui kejadian dimana saya merendahkan orang, saya akan segera merubah sifat saya sendiri dan melepas iri hati saya ketimbang merubah mereka.

Mentalitas Ingin Merubah Orang lain karena Keterikatan Ingin Membimbing Orang Lain


Setelah mencari ke dalam beberapa waktu, saya menemukan bahwa keinginan untuk merubah orang lain sudah tidak sekuat dulu lagi. Saya lebih sopan dan mengira saya lebih rajin dari orang lain. Namun, Guru membantu saya menyadari bahwa keinginan merubah orang lain masih ada di dalam diri saya, tersembunyi.

Seiring nafsu bersaing dan iri hati saya semakin menghilang, saya berbicara lebih tenang dari sebelumnya. Saya juga menjadi lebih sabar. Tetapi saya masih merasa ada yang salah setiap kali saya kembali dari kelompok belajar Fa dan berbagi pengalaman. Saya mencari ke dalam tetapi tidak menemukan keterikatan apapun. Saya duduk tenang dan belajar Fa dengan sepenuh hati. Saya meminta bantuan Guru.

Sewaktu belajar Fa, sesuatu muncul di pikiran: ketika berbagi pengalaman dengan praktisi lain, saya selalu berusaha untuk mengubah mereka dan menunjukkan sikap yang kuat untuk membimbing mereka: "Kamu harus melakukan ini seperti ini dan itu. Kamu salah jika melakukan seperti ini. Dia harus melakukan ini dengan cara ini. Dia ini dan itu." Apapun yang dikatakan orang, saya selalu bersikap kritis. Sepertinya saya selalu menganggap diri saya lebih pintar dari orang lain dan berkultivasi lebih baik dari mereka, bukannya dengan rendah hati menganggap diri sendiri sebagai seorang kultivator. Saya selalu berusaha untuk membimbing mereka untuk merubah mereka.

Saya memancarkan pikiran lurus untuk memusnahkan keterikatan manusia yang buruk ini. Kemudian saya menceritakan hal ini dengan praktisi lain, saya berusaha menyingkirkan sifat selalu ingin mengajari orang lain. Tidak merubah sifat seperti ini bisa memudahkan "Timbul Gangguan Iblis oleh Pikiran Sendiri." Seiring dengan berjalannya waktu, sifat seperti ini akan bertambah kuat dan membuat saya tidak bisa lagi mencari ke dalam. Ini sangatlah berbahaya.

Sifat Ingin Merubah Orang Lain Karena Budaya PKC

Orang yang hidup di China teracuni oleh budaya PKC (Partai Komunis China). Partai selalu benar. Banyak praktisi  ingin merubah orang lain ketimbang merubah diri sendiri. Mereka tidak melihat ke diri sendiri, selalu melihat ke orang lain. Mereka mengira kelakuan seperti itu benar dengan alasan memikirkan orang lain. Sebenarnya, ini adalah budaya dari Partai Komunis. Semua menjadi jelas ketika kita menggunakan Fa untuk mengukurnya. Ketika bertemu dengan masalah, sebagian praktisi hanya mengkritik orang lain dan tidak mencari ke dalam, mereka tidak berkultivasi dengan benar, dan tidak bisa mencari ke dalam.

Semua praktisi seperti cermin bagi kita. Kita harus selalu mencari ke dalam, mengubah cara berpikir kita, dan benar-benar berkultivasi diri sendiri. Sejak saya melepaskan sifat ingin merubah orang lain, saya sekarang memperlakukan orang dengan sabar. Saya tidak lagi memaksakan keinginan saya kepada orang lain. Saya bisa mengerti mereka dan toleransi terhadap kesalahan dan opini mereka.

Seiring dengan naiknya tingkatan kultivasi saya, kehidupan saya telah berubah dan saya mengalami kultivasi yang sangat ajaib. Saya menjadi orang yang lebih dapat berpikir jernih dan bisa mencari akar permasalahan. Saya juga bisa membuat orang lebih dapat menerima ketika saya mengklarifikasi fakta. Hasilnya, mereka menerima fakta dengan lebih mudah.

Di atas adalah pemahaman pribadi saya. Jika menemukan sesuatu yang tidak pantas, tolong tunjukan!

Chinese version click here
English version click here