Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Hidup Baru Dengan Falun Dafa di Usia Senja

16 Maret 2013 |   Oleh Praktisi Baru dari Yogyakarta

(Minghui.org)

Saudara-saudariku para praktisi  yang kukasihi.

Saya bisa hadir di sini saat ini dalam keadaan sehat semata-mata karena adanya takdir pertemuan antara anda dan saya berkat Falun Dafa, itulah yang saya yakini.

Nama lengkap saya Prayitno Adinugroho Ignasius Maria, biasa disapa dengan pak Prayit, atau pak Sabar di kalangan tertentu. Saya lahir di Yogyakarta 21-6-1936, sekarang berdomisili di Yogyakarta. Saya adalah pensiunan PNS dengan tugas terakhir sebagai dosen bahasa Inggris di Universitas Negeri Yogyakarta hingga akhir Juni 2001 pada usia 65 tahun.

Setelah itu saya aktif mengajar sebagai dosen kontrak di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sampai dengan 31 Juli 2012. Istri saya meninggal pada 7 – 1 – 2007 tanpa meninggalkan keturunan seorang pun. Namun, kami dianugerahi sejumlah anak asuh dan anak angkat yang kini tersebar di berbagai tempat. Hingga kini saya ditemani oleh ‘mbak Tri’, pembantu perempuan yang sudah 36 tahun menjadi bagian hidup keluarga saya. Dia juga menjadi Praktisi Falun Dafa.

Gangguan Kesehatan Sejak Balita

Semenjak Balita saya amat rentan terhadap aneka gangguan kesehatan raga maupun jiwa. Oleh sebab itu, berulang kali saya mengalami rawat jalan hingga tak terhitung jumlahnya. Rawat inap 14 kali, yang berat tiga kali. Pertama, di Rumah Sakit Jiwa Pusat Kramat Magelang, tahun 1962 selama 35 hari. Kedua, di Sydney Australia dengan diagnosa kanker usus tahun 1980. Ketiga, di JIH Yogyakarta tahun 2009, kritis di ICU selama 6 hari, dan setelah kondisi memungkinkan operasi prostat, dan dilanjutkan dirawat di ruang perawatan biasa hingga akhir November 2009. Di saat kritis itu, saya mengalami kesembuhan dengan cara yang sungguh sangat mengagumkan. Namun, 2,5 tahun kemudian tepatnya Maret 2011, saya mengalami rawat inap lagi selama delapan hari di RS Panti Rapih Yogyakarta. Sejak saat itu, secara drastis merosotlah kesehatan saya.

Namun demikian, sebagai seorang beriman, saya tetap memilih berusaha untuk bertahan hidup dengan pelbagai cara yang bisa saya lakukan. Saya tetap setia melakukan kewajiban saya sebagai dosen Universitas Sanata Dharma dengan sebaik-baiknya.

Pada bulan Agustus 2011, seorang teman baru membantu saya mengatasi gangguan ‘Astma Bronchial’ yang sudah menjadi ‘sahabat setia’ saya sejak balita dan pada saat itu mengunjungi diri saya. Teman tersebut dan seorang teman baru yang lain, mengajak saya melakukan terapi di kolam renang. Dia mengundang saya bergabung dengan komunitas Happy Embung, komunitas tersebut terdiri atas penyandang akibat struk, lansia dan pemerhati kesehatan di Yogyakarta.

Setiap kamis pagi mereka jalan-jalan santai dan gembira di tepian embung Tambakboyo, danau kecil genangan bendung sungai tak jauh dari tempat tinggal saya, seraya menikmati segarnya udara pagi di alam nan indah. Dengan gembira undangan itu saya terima. Seiring berjalannya waktu, kesehatan saya membaik secara berangsur-angsur.

Inilah Yang Sungguh Saya Perlukan Saat Ini, Jiwa dan Raga Sehat Seluruhnya.

Selanjutnya, tanggal 8 Oktober 2011 datanglah seorang teman menawarkan undangan workshop beserta brosur Falun Dafa. Begitu membaca brosur tersebut, pada halaman pertama, hati saya langsung tertarik. Saya katakan dengan tegas, “Inilah yang sungguh saya perlukan saat ini, jiwa dan raga sehat seluruhnya”. Minggu tanggal 9 Oktober saya bersama tiga orang teman menghadiri pengenalan Falun Dafa. Dengan antusias, saya ikuti acara demi acara sampai selesai. Kesan mendalam dalam hati saya adalah bahwa Falun Dafa sungguh baik untuk diri saya. Kemudian pada hari Selasa 11 Oktober 2011, mulailah saya berlatih lima perangkat gerakan dan meditasi, di rumah saya bersama mbak Tri serta dua pasang suami istri yang adalah teman-teman saya, di dampingi oleh seorang praktisi Falun Dafa di Yogyakarta yang adalah adik dari salah seorang teman tersebut. Sudah lebih dari 1 tahun  saya ber-enam menjadi praktisi Xiulian Falun Dafa.

Perubahan Fisik dan Mental

Tidak sedikit pengalaman sehari-hari yang menarik untuk saya bagikan selama saya menjalani kultivasi jiwa dan raga sebagai praktisi Xiulian Falun Dafa selama ini. Namun, secara singkat bisa saya katakan bahwa saya telah mengalami perubahan signifikan dalam segi fisik, mental, emosional, spiritual maupun sosial. Dengan tegas saya nyatakan bahwa saya hari ini bukanlah saya setahun yang lalu.

Secara jelas bisa saya sampaikan, bahwa saya lebih percaya diri, lebih gembira, lebih bersikap positif. Tahun yang lalu, saya mudah murung, sedih, kurang percaya diri. Saya takut akan ini, khawatir tentang itu, mudah cemas serta gelisah... ujung-ujungnya stres. Pada kadar tertentu, saya memerlukan bantuan profesional seperti psikiater atau psikolog. Namun dalam kurun waktu sejak Agustus 2011, hingga saat ini, secara berangsur-angsur telah berubahlah saya.

Beberapa bulan yang lalu, saya ikut kegiatan Falun Dafa di Sidoarjo, Jatim, kemudian Jakarta, disusul kegiatan di Semarang dan Pemalang, Jawa Tengah. Dalam mengikuti kegiatan Falun Dafa di luar Yogya itu, ternyata apa yang semula saya takutkan tidak ada satu pun yang terjadi. Gangguan-gangguan buang air besar, diare, buang air kecil, sakit pinggang, pusing, sesak nafas, loyo karena kelelahan, perut mual dan sebagainya, tidak ada yang terjadi. Obat-obatan yang saya bawa dari rumah, tetap utuh tak tersentuh sampai kembali di rumah lagi, kecuali obat semprot yang perlu saya gunakan. Akhirnya, saya berani memutuskan untuk ikut kegiatan Falun Dafa di Bali. Kini, saya sungguh bahagia bahwa dengan kondisi kesehatan seperti ini, sebagai saudara-saudari seperguruan dengan Master Li Hongzhi selaku guru Tunggal.

Pengalaman Paling mengesankan


Yang paling mengesankan adalah, pengalaman saya di Jakarta, di depan gedung Kedubes RRC. Semula saya ragu-ragu, apakah orang lemah di usia senja seperti saya ini mampu ikut kegiatan Falun Dafa itu. Sungguh di luar dugaan saya, ternyata saya kuat berdiri selama empat jam dari pukul 08.00 sampai pukul 12.00. Saya memegang foto seorang praktisi Pria bernama Li Hongyin, dalam suasana khidmat, meditatif diiringi musik yang begitu menyentuh hati dimainkan oleh Marching Band berseragam biru dan Genderang Pinggang berbaju kuning bergantian. Dalam batin saya berbicara dengan saudara Li Hongyin, yang meninggal karena dianiaya oleh Partai Komunis China. Tanpa saya sadari basahlah kedua mata saya karena cucuran air mata. Mulai dari tengkuk ke seluruh tubuh terasa merinding. Pada pukul 15.00 sampai 17.00 acara yang sama saya ikuti di bundaran HI Jakarta.

Hari Minggu pagi pawai dari Monas, saya membawa spanduk bersama teman praktisi dari Temanggung. Saya berusaha membatinkan kata-kata, Sejati – Baik – Sabar yang tertera pada spanduk yang saya bawa. Setiap kali menatap mata penonton di pinggiran jalan, saya tersenyum kepadanya, saya merasa bahagia bisa tersenyum kepada orang yang tidak saya kenal. Dia pun membalas senyuman saya dengan wajah ceria. Ketika meninggalkan Jakarta menuju rumah anak saya di Bekasi, tubuh saya tidak loyo, melainkan masih segar. Sungguh, pengalaman yang luar biasa. Saya percaya bahwa dalam kebersamaan saya dengan para praktisi, saya berada dalam medan energi yang meskipun tidak kasat mata  dalam dimensi fisik, sungguh eksis dalam dimensi lain yang dampaknya bisa dirasakan karena satunya cipta, rasa, karsa semua yang hadir.

Memahami dan Menerapkan Zhuan Falun

Dalam hal pengolahan jiwa, saya berusaha memahami prinsip-prinsip yang terkandung dalam buku Falun Gong dan Zhuan Falun. Saya coba terapkan dalam hidup saya sehari-hari. Ternyata memang mudah untuk diomongkan, namun betapa sulit untuk dijalani. Meskipun demikian dengan kesungguhan hati dalam berlatih, tidak sia-sia lah usaha saya. Mesti sedikit, toh ada peningkatan kesadaran, kesabaran dan sebagainya.

Dalam interaksi saya dengan orang lain, betapa sering hati saya bergejolak dengan aneka perasaan seperti jengkel, merasa tidak dihargai, disepelekan, tidak diorangkan, kecewa karena orang tidak berterima kasih ketika saya berbuat sesuatu kebaikan kepadanya, iri hati dan sebagainya. Kadang-kadang, mulut pun bereaksi bahkan lepas kontrol. Namun, berangsur-angsur, saya mampu mengendalikan diri, setelah mundur selangkah, saya mencari ke dalam, terbukalah kesadaran saya. Saya secara berangsur-angsur makin mengenal diri saya dan aneka kepentingan serta perasaan yang sudah sejak lama tersimpan dan melekat dalam batin saya, seperti kesombongan, kedengkian, kemarahan, kemalasan, kemesuman, dan sebagainya. Secara berangsur-angsur perasaan itu semakin hambar, ringan tak mencekam lagi, meskipun masih ada dalam memori. Misalnya, ingatan akan almarhum istri tercinta saya masih ada, namun rasa kehilangan yang mencekam semakin hambar, saya merasa bebas dari keterikatan pada memori.

Pernah di suatu malam, pukul 01.00 saya terbangun mau kencing. Tiba-tiba muncul dalam benak saya, sosok seorang perempuan yang sudah saya kenal yang menarik untuk diperhatikan. Sejenak saya menikmati pemandangan itu. Namun, sekonyong-konyong timbulah kesadaran, “Saya adalah seorang praktisi Falun Dafa. Ini adalah godaan...Karena tujuanku yang utama adalah kesempurnaan, kembali ke jati diri”. Kesadaran itu membuat perasaan erotis mereda, hambar dan lenyap begitu saja.  Pengalaman itu tidak cuma satu kali, melainkan beberapa kali terjadi. Kadang-kadang lenyapnya perasaan menyenangkan disusul oleh dorongan untuk membaca buku Zhuan Falun atau tidur lagi.

Demikianlah sekelumit pengalaman saya yang bisa saya bagikan saat ini, sekilas tentang pengalaman menjadi hidup baru dengan Falun Dafa di usia senja saya.

Saya ucapkan terima kasih kepada Shifu Li Hongzhi, semua praktisi, khususnya praktisi Yogya yang begitu gigih tekun, sabar dan setia pada komitmen pribadinya mendampingi saya dalam mengolah jiwa dan raga saya. Shifu Li berkata:

“Hati merupakan jalan untuk sukses berkultivasi, Jadikan penderitaan sebagai perahu untuk mengarungi Dafa nan tak bertepi.”

Sebagai penutup, ijinkanlah saya menyampaikan sebuah syair lagu sederhana sebagai berikut,

‘Falun Dafa....Falun Dafa...Bermacam-macam kita hadir di sini, tetapi kita satu. Di Falun Dafa tidak ada yang putih tidak ada yang hitam. Kita bersaudara di Falun Dafa satu tujuan...Untuk kembali ke jati diri kita semua.

Falun Dafa...Falun Dafa...*’

Akhir kata marilah dengan tegas kita ucapkan, Falun Dafa Sungguh Baik