Pada sore hari tanggal 25 April 2013, para praktisi Falun Gong Jakarta mengadakan kegiatan nyala lilin di depan kedutaan besar China untuk memperingati peristiwa bersejarah Permohonan Damai 25 April di Beijing, yang di kemudian hari diputarbalikkan oleh penguasa komunis China sebagai ‘pengepungan’ pusat pemerintahan (Zhongnanhai) dan dijadikan alasan pembenaran bagi genosida terhadap praktisi Falun Dafa yang masih berlangsung hingga hari ini.

(Minghui.org)

Pada tanggal 25 April empat belas tahun yang silam, lebih dari 10.000 orang praktisi pergi ke Kantor Negara Urusan Permohonan yang berdekatan dengan komplek pemerintahan pusat di Beijing, menggunakan hak konstitusional mereka untuk memohon keadilan bagi Falun Gong. Dua hari sebelumnya, polisi di Tianjin telah melakukan penangkapan dan pemukulan terhadap 45 praktisi yang tengah mengklarifikasi fakta kepada redaksi sebuah majalah sains yang berafiliasi dengan penguasa komunis dan telah memublikasikan artikel yang memfitnah Falun Gong. Protes diam tersebut sepenuhnya berlangsung tenang, tertib dan damai. Sebaliknya reaksi dari penguasa komunis otoriter, Jiang Zemin dan kliknya, sepenuhnya garang dan paranoid dengan pembentukan Kantor 610 yang diberi wewenang dan kekebalan hukum untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk membasmi Falun Gong dalam tiga bulan, termasuk menculik, menyiksa dan menghilangkan nyawa praktisi yang tak terhitung.



Spanduk-spanduk yang digelar para praktisi sejak pagi hari, memberi tahu khalayak akan kekejaman penganiayaan yang masih berlangsung terhadap rekan-rekan praktisi di China dan menyerukan penghentian penganiayaan irasional tersebut. Melalui kegiatan damai ini para praktisi berusaha membangkitkan kesadaran publik serta mengetuk nurani masyarakat agar lebih menaruh perhatian pada penganiayaan PKC terhadap Falun Gong.

Seorang ibu yang berkunjung ke Beijing beberapa bulan lalu, terkejut melihat kegiatan tersebut dan mengatakan dirinya tidak melihat Falun Dafa saat berkunjung di China. Praktisi menjelaskan bahwa semenjak ditindas pada 1999, praktisi Falun Dafa kehilangan lingkungan berlatih secara terbuka. Ketika praktisi lebih lanjut menjelaskan skala penganiayaan termasuk kejahatan pengambilan organ dari para praktisi yang masih hidup, ibu tersebut menyatakan rasa simpatinya bagi para praktisi di China.

Sekitar pukul 17.30 praktisi yang hadir mulai menyalakan lilin, sambil mengusung foto rekan-rekan praktisi yang meninggal karena dianiaya di China. Seorang pria asal Tangerang mengambil banyak foto kegiatan, ketika seorang praktisi menanyakan mengapa dia mengambil banyak foto, dia berkata, ‘Terlihat sangat khusyuk.’

Banyak pengendara mobil di seberang jalan yang tengah mengalami kemacetan rutin saat jam pulang kerja, meminta materi klarifikasi; banyak lainnya mengabadikan kegiatan dengan ponsel mereka. Beberapa wartawan datang meliput kegiatan, sementara beberapa petugas polisi yang mengamankan lokasi mengajukan banyak pertanyaan seputar latihan Falun Gong dan manfaatnya.

Kegiatan berakhir dengan tertib pada pukul 6 sore.

Kategori: Kegiatan 25 April