Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Ibu Meninggal dan Ayah Dipenjara, Seorang Putri Mencari Keadilan

25 Des. 2014 |   Oleh koresponden Minghui dari Provinsi Liaoning, Tiongkok


(Minghui.org) Praktisi Falun Gong Ma Jiang (pria) dari Distrik Dadong Kota Shenyang, Provinsi Liaoning diadili dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Dadong pada tanggal 4 Desember 2014. Ma berencana banding atas putusan dan hukumannya.

Istrinya, Wu Shuyan, juga seorang praktisi Falun Gong, dianiaya sampai meninggal setahun yang lalu. Putri Ma baru saja lulus dari universitas dan tinggal bersama kakeknya, yang berumur 80an. Setelah kehilangan putrinya dan dengan putra di penjara, kakek merasa frustrasi dan tidak berdaya.

Selama persidangan, jaksa menyajikan transkrip interogasi dan "pengakuan" oleh Ma yang telah dipalsukan oleh polisi. Dakwaan itu "menggunakan organisasi aliran sesat untuk menyabot penegakan hukum."

Sebelum persidangan pihak berwenang menuduh Ma "menghasut subversi kekuasaan negara." Dakwaan ini digunakan untuk menolak semua permintaan dari pengacara Ma untuk bertemu dengan kliennya.

Ma Jiang, umur 40an, pernah bekerja di Perusahaan Pengapuran di Kota Shenyang. Istrinya, Wu Shuyan, dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pada tahun 2006 karena memberi tahu orang-orang tentang Falun Gong. Setelah tujuh tahun penganiayaan di penjara dan pelecehan yang terus berlanjut setelah pembebasannya, ia menderita ascites parah dan meninggal pada tanggal 2 Juni 2013.

Tujuh bulan kemudian, pada sore hari tanggal 7 Januari 2014, polisi dari Kantor Polisi Chang'an di Kota Shenyang menangkap Ma dan putrinya dari rumah mereka dan menyita komputer, printer, dan barang-barang pribadi lainnya.

Putrinya dibebaskan setelah tengah malam. Pada tanggal 5 Agustus 2014, Wu Shuming, kakak ipar Ma yang telah membantu mengurus keluarganya, ditangkap dari tempat kerja dan telah ditahan sejak itu.

Wu sebelum penganiayaan


Wu sesudah penganiayaan, menderita penyakit liver ascites parah

Putri Ma terus bekerja untuk pembebasan ayahnya. Di bawah adalah surat bandingnya

Penganiayaan PKT Membawa Kematian, Pemenjaraan, dan Kehancuran Keluarga Saya

Orang tua saya berlatih Falun Gong dan mendapatkan banyak manfaat dari itu. Sebelum berlatih, ibu bertengkar dengan nenek sepanjang waktu. Konflik dengan sendirinya berhenti total setelah ibu mulai berlatih Falun Gong dan memperlakukan dirinya menurut ajaran Falun Gong. Nenek saya terus mengatakan kepada orang lain, "menantu saya bahkan lebih baik daripada anak saya sendiri."

Ayah saya pernah menjadi orang yang disegani dalam perusahaannya. Dia sukarela bekerja pada akhir pekan tanpa bayaran setiap kali ada kebutuhan di tempat kerja dan yang lainnya  tidak bersedia. Seluruh keluarga kami bermandikan harmoni dan kebahagiaan karena orang tua saya berlatih Falun Gong.

Setelah penganiayaan dimulai pada tahun 1999, ibu saya ditangkap saat ia memberi tahu orang-orang di jalan tentang Falun Gong. Sejak saat itu, kehidupan keluarga kami hancur. Mereka mengambil komputer, printer, dan buku Falun Gong kami.

Ayah saya juga dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi, yang berlangsung selama dua bulan. Pada saat itu saya masih berumur 14 tahun dan pada tahun kedua sekolah menengah. Saya sangat takut untuk pergi ke tempat tidur dengan lampu mati. Sering kali saya berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit dan membiarkan air mata mengalir di pipi.

Tapi saya tahu orang tua saya tidak melakukan kesalahan dengan berlatih Falun Gong dan percaya kepada prinsip Sejati-Baik-Sabar.

Ibu saya kemudian dihukum tujuh tahun penjara. Ayah saya harus memikul semua tanggung jawab keluarga, mencari nafkah, membesarkan anak, dan merawat ayah mertuanya. Setiap bulan, kami bertiga mengunjungi ibu dan mengirim uang untuk penggunaan sehari-hari. Saya kehilangan hitungan berapa kali kami melakukan perjalanan bolak-balik di sepanjang jalan yang rusak dan bergelombang menuju penjara.

Setelah enam setengah tahun pemenjaraan ibu, dia menderita ascites dari penganiayaan di penjara. Perutnya bengkak seperti wanita hamil delapan bulan. Otoritas penjara takut dia akan meninggal di penjara dan membebaskannya.

Meskipun kekurangan gizi dan dengan perut besar, Ibu tidak beristirahat sehari pun sebelum mulai memasak dan mencuci pakaian untuk keluarga; ia membaca buku-buku Falun Gong dan memberi tahu orang lain tentang Falun Gong.

Saya tidak mendengar kata keluhan darinya. Saya tahu latihan Falun Gong memberinya kekuatan dan dukungan yang ia butuhkan. Kesehatannya terus meningkatkan dan pembengkakan perutnya mereda dari hari ke hari. Saya merasa ada harapan keluarga kami bisa hidup bersama dalam damai dan kebahagiaan lagi.

Namun, polisi tidak mau melepaskan kami. Mereka terus datang mengganggu keluarga saya. Mereka mengancam ibu bahwa mereka akan membawanya kembali jika mereka menemukannya berhubungan dengan praktisi lain. Ibu berada di bawah tekanan luar biasa dan ascitesnya semakin memburuk.

Kakinya mulai memborok dan harus dibungkus dengan kain kasa. Kain kasa harus sering diganti karena nanah yang merembes. Kemudian, dia bahkan tidak bisa membalikkan tubuhnya sendiri sewaktu berbaring di tempat tidur sepanjang malam. Ayah harus tetap terjaga di samping tempat tidurnya di malam hari dan kemudian pergi bekerja pada siang hari.

Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan saya setelah melihat ibu menderita dan semakin lemah dan lemah setiap hari. Dia meninggalkan kami selamanya pada tanggal 2 Juni 2013. Ayah saya tidak mengatakan apa-apa dan terus menjalani rutinitas sehari-hari seperti biasa, tapi saya bisa merasakan rasa sakit dan kesedihannya yang dalam.

Tragedi keluarga kami tidak berakhir di sana. Polisi datang ke rumah kami pada tanggal 7 Januari 2014 dan menangkap ayah saya, mengambil komputer kami, printer, buku-buku Falun Gong, dan semua uang yang kami miliki di rumah.

Saya kembali ke rumah malam itu dan saya sendiri ditangkap oleh polisi, yang sedang menunggu saya. Saya diinterogasi sampai setelah jam 2:00 pagi hari sebelum saya dibebaskan. Ketika saya sampai di rumah, saya melihat sekelompok polisi yang berdiri menunggu untuk menangkap praktisi lainnya. Kakek saya, yang menderita demensia, tampak takut dan bingung. Rumah saya berantakan: kertas berserakan di seluruh ruangan, lantai vinyl ditutupi dengan abu rokok, dan jejak sepatu berlumpur yang ditinggalkan oleh polisi.

Dengan ibu saya meninggal dan ayah saya ditangkap, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan kecuali menghubungi paman saya, yang berada di luar kota pada saat itu. Dia segera kembali sehingga ia bisa merawat saya dan kakek. Tapi ini tidak berakhir.

Pada tanggal 5 Agustus 2014, paman saya ditangkap dari tempat kerja karena berlatih Falun Gong. Polisi menggeledah rumahnya, juga dan mengambil komputer dan buku Falun Gong. Saya merasa seolah-olah langit runtuh pada saya. Saya menyewa pengacara untuk membela ayah saya. Pengacara pergi ke pusat penahanan untuk bertemu ayah saya, tetapi selalu ditolak oleh pihak berwenang.

Tanpa persiapan yang tepat dan pertemuan dengan pengacaranya, ayah saya diadili pada tanggal 4 Desember 2014. Saya melihat dia di pengadilan untuk pertama kalinya dalam 11 bulan. Dia sangat kurus hingga saya tidak mengenali pada awalnya.

Jaksa membaca banyak transkrip interogasi dan pengakuan yang dipalsukan. Saya mendengar ayah berkata, "Istri saya baru saja meninggal. Anak saya dan ayah mertua ditinggalkan. Tapi saya tidak membenci anda karena saya percaya pada Sejati-Baik-Sabar." Pada jam 14:30 sore setelah satu jam sidang, mereka menghukum ayah saya tiga tahun penjara.

Sebagai seorang pekerja keras dan taat hukum, bagaimana ayah saya bisa menyabotase penegakan hukum? Hanya untuk berlatih Sejati-Baik-Sabar, ayah saya dijatuhi hukuman tiga tahun!

Saya akan naik banding untuk ayah, saya tidak peduli biaya atau kesulitan. Sejak Ibu meninggal, ayah telah menjadi orang yang paling penting dalam hidup saya. Saya tidak pernah berhenti berharap ayah saya akan kembali ke rumah.

Saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya lakukan untuk melindungi keluarga saya. Tapi saya tahu berlatih Falun Gong dan percaya pada Sejati-Baik-Sabar adalah tidak salah!

Mereka yang masih menganiaya orang-orang baik seperti orang tua dan paman saya harus mendengarkan kata hati nurani mereka. Berbuat baik akan diberkati dan berbuat jahat akan mendapat balasan karma. Tidak ada perbuatan jahat bisa lepas dari hukuman.

Chinese version click here
English version click here