Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Bau Mulut

31 Juli 2014 |   Oleh Praktisi Daratan Tiongkok

(Minghui.org) Dulu tidak begitu memerhatikan diri sendiri, bila sangat sibuk lebih-lebih tidak memerhatian penampilan, sibuk sampai lupa diri. Sekarang setelah berkultivasi Dafa, bagaimana sibuk pun harus memerhatikan sedikit penampilan, dalam mengklarifikasi fakta juga harus bisa diterima orang lain.

Bagi seorang kultivator tidak ada sesuatu yang kebetulan, keterikatan apa pun tidak bisa di bawa ke langit. Mana yang lebih penting keterikatan hati, harga diri manusia atau menghargai Guru dan Fa lebih penting? Saya sering mencium bau mulut rekan praktisi, dikarenakan harga diri, tidak mau orang lain merasa tidak enak hati di depan saya, jadi tidak menyinggungnya. Bila dipertimbangkan, ini adalah sebuah hal yang menghalangi penyelamatan makhluk hidup, harus dibicarakan juga.

Ada seorang rekan praktisi dengan belas kasihnya, telah membuat hati suaminya tergerak. Sehingga suaminya memutuskan untuk berkultivasi Dafa suami isteri mulai belajar Fa bersama. Suaminya mengatakan: “Tunggu sebentar?!” Sambil berbicara sambil berjalan keluar ruangan, mencuci muka, menyikat gigi, menyisir rambut. Sebentar kemudian, kembali dengan rapi dan berkata: “Sudah selesai, mari kita mulai.” Isterinya mengatakan: “Perhatian sekali dengan hal-hal seperti ini.” Suaminya mengatakan sebuah kata: “Ini adalah Fa Buddha, mana boleh sembarangan?” Lalu naik ranjang duduk bersila tetapi belum baik karena adalah hari pertama belajar Fa, masih belum masuk ke jalur kultivasi. Isteri memujinya dengan berkata: “Sepertinya sangat serius!”

Rekan-rekan praktisi: mari lihat kami rekan parktisi lama yang telah berkultivasi sepuluh tahun lebih, lihatlah bagaimana kami berbuat. Kondisi yang lebih baik sebelum membaca dan belajar Fa mencuci tangan dulu, tetapi yang setelah selesai belajar Fa meletakan buku Fa sembarangan juga ada.

Kita bicarakan lagi masalah bau mulut, juga ada sebuah kisah kecil. Sebuah kejadian beberapa tahun yang lalu, ada seorang rekan praktisi, anaknya jika berbicara selalu menatap wajah ibunya, melihat wajah ibunya baru bicara. Tetapi tidak tahu mulai kapan mulut anak itu sangat bau. Bau mulutnya membuat ibunya sangat tidak nyaman, akhirnya mencari berbagai cara untuk mengobatinya. Awalnya masih berefek, tetapi kemudian bau mulut anak itu bertambah hebat, menggunakan obat juga tidak berefek lagi, baru menyadari: Bagaimana seorang anak kecil bisa ada bau mulut? Apakah diri sendiri ada berbuat yang tidak baik? Apakah diri sendiri selalu berbicara dengan nada terlalu keras? Apakah dalam hal kultivasi mulut kurang baik? Mulail mencari ke dalam tetapi tidak menemukannya, jadi memutuskan untuk lebih memerhatikan perilaku diri sendiri.

Suatu kali sehabis makan, terasa mulut tidak enak, lalu berkurmur, tetapi masih juga merasa tidak enak, sehingga memutuskan untuk menyikat gigi. Kali ini merasa lebih nyaman, lalu belajar Fa. Anak-anak bermain disamping juga tidak merasa terganggu. Tidak setiap kali seperti demikian, begitu menarik anak mendekati tubuhnya, sebelum anaknya berbicara, bau mulut yang membuat sakit kepala langsung menyengat hidung, apalagi ketika sedang belajar Fa. Hari ini, anaknya memalingkan kepala menghadap wajah ibunya berbicara, juga tidak merasa apa-apa, biasanya, ia sudah mendorong pergi anaknya.

“Wow, mulut kamu mengapa tidak bau lagi!” Kenapa tiba-tiba tidak bau lagi? Secara tidak sadar seluruh tubuh tergetar: “Betul! Ini gara-gara saya tidak menghormati Fa, masih saja mencari-cari.” Suasana hati sudah tidak perlu dibicarakan lagi. Waktu itu praktisi tersebut baru menyadari bahwa Buddha, Dao, Dewa, Fashen Guru di dalam buku selalu menghadapi mulut yang sedemikian bau! Selalu bicara menghormati Guru dan Fa, ternyata itu hanya bicara di mulut saja. Jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, janganlah meremehkan hal-hal kecil yang sepele itu.

Guru di dalam buku Zhuan Falun mengatakan kepada kita semua: “Dalam buku saya huruf demi huruf sudah merupakan citra dan Falun saya, setiap perkataan adalah saya yang mengucapkan.” “Buku ini sudah tidak dapat diukur dengan suatu nilai.” Bisa dibayangkan tangan kita setiap hari sedang memegang apa? Yang kita pelajari itu apa? Apa yang dibaca keluar oleh mulut kita? Sebuah Fa yang demikian sakral? Habis makan tidak mengkumur mulut, lalu dengan asal-asalan membuka buku dan membacanya?

Di pandang dari sudut lain, ketika kita sedang mengklarifikasi Fakta kepada orang, jika mulut kita bau, ini juga adalah sebuah gangguan terhadap penyelamtan makluk hidup?

Di sini berharap seluruh rekan praktisi lama dan baru: sebelum belajar Fa, kita semua seharusnya meluruskan tubuh diri sendiri. Mencuci tangan dulu, mengkumur dan menyikat gigi, duduk dengan tegak, bersila. Memancarkan pikiran membersihkan diri selama lima menit, gangguan dari luar akan sangat sedikit, hati juga sudah bisa tenang, belajar Fa juga masuk ke dalam hati. Jika sudah tidak bisa tahan, turunkan kaki lalu pelan-pelan naikan lagi, dan lihatlah, setelah melewati bayangan gelap pohon willow, akan ditemukan kecerahan bunga dan sebuah kota lain, juga bisa berhasil mencari sumber bau mulut diri sendiri, dan juga bisa menatanya dengan baik.


Chinese version click here