Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Keterikatan Terhadap Kenyamanan Menghalangi Jalan Seseorang ke Rumah yang Sebenarnya

25 April 2015 |   Oleh praktisi Falun Dafa di Tiongkok


(Minghui.org) Setiap hari orang mengejar kenyamanan. Praktisi berkultivasi untuk mencapai kesempurnaan, memutuskan hubungan dengan penderitaan fisik dan mental yang tak terelakkan dari dunia manusia. Seseorang harus menyeberang melewati kesulitan seumur hidup dan berkultivasi dengan rajin. Seseorang juga harus baik kepada orang lain, mendahulukan orang lain dan mencapai tingkatan tidak mementingkan diri sendiri.

Manusia mengembangkan egoisme, jurang berkembang di antara kita dan diri sejati kita. Kita tidak memiliki konsep jelas terhadap rumah yang sebenarnya dan jalan kembali kabur. Sehingga kita menerima dunia manusia ini sebagai rumah kita. Jika kita mengembangkan keterikatan akan kenyamanan di dunia ini, apakah itu berarti kita melupakan keinginan kita untuk kembali ke rumah kita yang sebenarnya?

Dari aspek ini, keterikatan akan kenyamanan adalah tipu daya iblis, yang menghalangi kita melampaui alam manusia ini. "Kenyamanan" yang manusia kejar adalah kemakmuran material dan kemudahan psikologis untuk menghindari kesulitan.

Umumnya orang menganggap kenyamanan merupakan keberuntungan. Praktisi Dafa harus melampaui pemikiran seperti ini dan memiliki pandangan yang berbeda. Jika kita ingin kembali ke rumah kita yang sebenarnya mengikuti Guru Li, kita harus memperlakukan kenyamanan sebagai keterikatan yang mengikat kita ke alam ini.

Guru Li mengajarkan kita dalam puisinya Derita Pikiran dan Hatinya:

"Mencapai kesempurnaan memperoleh buah status Buddha,
mengalami penderitaan dianggap bahagia,
lelah tubuh belum dianggap derita,
berkultivasi hati paling sulit dilewati,
tiap rintangan harus diterobos,
di mana-mana semua ada iblis,
ratusan derita sekaligus menimpa,
lihat dia bagaimana hidup,
bisa menelan derita dunia,
keluar duniawi adalah Buddha."

Jika seorang praktisi mengejar kenyamanan, itu berarti bahwa ia tidak mengikuti "mengalami penderitaan dianggap bahagia." Bagaimana dia bisa melampaui dunia untuk mencapai kesempurnaan?

Kita berkultivasi untuk memutus siklus reinkarnasi dan kembali ke rumah kita yang sebenarnya. Jika tidak mampu menanggung derita, bagaimana seseorang bisa melenyapkan karma?

Guru Li mengajarkan kita di Zhuan Falun,

"Tapi biksu Yunior yang menyalakan api dan memasak, belum tentu adalah orang dengan bawaan dasar yang kecil. Biksu junior makin menderita makin mudah terbuka Gong, biksu senior makin hidup nikmat makin sulit terbuka Gong karena disini ada masalah transformasi karma. Biksu yunior yang selalu berjerih-payah dan lelah bekerja akan lebih cepat membayar karma, akan lebih cepat terbuka kesadaran, boleh jadi pada suatu hari tiba-tiba dia telah terbuka Gong."

Kita sebagai praktisi tidak harus meniru biksu senior mengejar kenyamanan, tetapi berusaha untuk menjadi biksu junior yang bekerja keras. Setelah keterikatan untuk kenyamanan lenyap, keterikatan lainnya, seperti kemalasan, nama, puas diri, mentalitas pamer, iri hati, pujian dan kekaguman akan muncul ke permukaan.

Setiap keterikatan adalah tali yang mengikat kita agar turun ke alam manusia ini. Keterikatan untuk kenyamanan ini sangat serius. Seseorang tidak harus dikontrol olehnya baik terhadap tindakan atau kata-kata. Dengan keterikatan seperti itu, seseorang tidak bisa kembali ke rumah mereka yang sebenarnya.

Saya berharap rekan-rekan praktisi secepat mungkin menyingkirkan keterikatan kenyamanan dan melakukan tiga hal dengan hati yang murni.

Chinese version click here
English version click here