Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Seorang Praktisi Kembali Berkultivasi pada Saat di Ambang Kematian

2 Juli 2015 |   Oleh seorang Praktisi Falun Dafa dari Tiongkok


(Minghui.org) Beberapa tahun lalu, ada tetangga dari seorang praktisi wanita yang mengatakan kepadanya bahwa seorang praktisi bernama Jiao dirawat di rumah sakit karena menderita kanker usus besar. Tetangga itu mengatakan agar kami para praktisi menjenguknya.

Saya rasa Guru menggunakan praktisi wanita itu agar dia mengatakan kepada kami untuk membantu Jiao

Meskipun rumah sakit itu berjarak 200 mil (320 km) dari kediaman kami, ada seorang praktisi dan saya memutuskan untuk menjenguknya pada esok hari.

Jiao pernah menjabat sebagai asisten manager di sebuah perusahaan farmasi. Setelah pensiun dia tinggal di rumah merawat cucu laki-lakinya sambil berkultivasi. Namun dia memelihara banyak keterikatan dan menemui banyak masalah. Dia hampir kehilangan nyawanya akibat gangguan kekuatan lama.

Jiao pernah tinggal di wilayah kami. Ketika penganiayaan dimulai dia merasa ketakutan dan berhenti menjadi praktisi Falun Dafa. Penyakit yang telah sembuh karena berlatih Dafa kambuh lagi. Dia tampak tua dan lemah.

Setiap kali saya bertemu, dia selalu mengatakan bahwa Guru dan Dafa itu bagus namun dia merasa takut. Saya selalu menyemangatinya, “Jangan takut. Polisi tidak akan tinggal di rumah anda selamanya untuk mengawasi anda. Di samping itu Guru dan Fa selalu di sini. Siapa yang berani menganiaya anda!”

Pada tahun 2004 Jiao berkultivasi lagi. Pada waktu itu kami selalu bersama setiap hari, karena rumah saya adalah tempat belajar bersama. Kami belajar Fa, berbagai pengalaman, dan pergi bersama untuk memacarkan pikiran lurus dan membantu orang lain agar mengerti Falun Dafa. Semangatnya pulih dengan cepat dan kesehatannya membaik. Dia sangat energik dan setiap hari merasa gembira.

Kami belajar Fa bersama selama delapan tahun. Kami memancarkan pikiran lurus di dekat tempat penganiayaan selama hampir sembilan tahun. Kami sungguh tak dapat dihentikan! Kami membentuk satu tubuh di lingkungan ini, dan setiap hari kami melakukan tiga hal.

Namun Jiao terikat pada rasa sentimental dan reputasi. Anak perempuannya memaksa dia agar menjauhi kami. Hal ini mengakibatkan dia kehilangan lingkungan berkultivasi. Dia tertinggal dan pada akhirnya berhenti berkultivasi. Seluruh tenaganya dicurahkan untuk membesarkan cucunya. Dia menjadi tidak sehat lagi.

Kekuatan lama sering menggunakan keterikatan para praktisi Dafa untuk memisahkan diri dari tubuh utama para praktisi. Para praktisi itu mulai mencari kenyamanan, dan sedikit demi sedikit menjauh dari kultivasi, dan akhirnya jatuh kembali ke tingkatan manusia biasa. Mereka kehilangan pikiran lurusnya dan melupakan kultivasi.

Jiao mengerti bahwa dia sudah di ambang kematian, maka dia ingin tinggal di Hainan, suatu  pulau yang indah di pantai selatan Tiongkok. Setelah tiba di Hainan, sebelum sempat menikmati suatu apapun, dia terpaksa harus dibawa ke rumah sakit, dan di diagnosis menderita kanker usus besar. Dan para dokter menemukan bahwa kanker itu sudah sangat parah, sulit diobati.

Lalu mereka mengirimnya ke sebuah rumah sakit di kota tempat tinggalnya. Para dokter di tempat itu mengatakan bahwa kanker itu sudah stadium akhir dan tak bisa disembuhkan, maka rumah sakit tidak dapat menerimanya.

Anak perempuannya berusaha dengan segala cara agar bisa diterima di rumah sakit provinsi khusus menangani tumor. Dokter memberi tahu mereka, “Kami akan merawatnya seolah-olah kami dapat menyelamatkannya.”

Dalam waktu yang hampir bersamaan rumah sakit menerima tiga orang pasien yang penyakitnya mirip, namun penyakit Jiao yang paling serius. Seluruh anusnya ditutupi tumor. Ketika dilakukan pembedahan, dokter memeriksa usus besarnya dan mereka mendapati bahwa jaringannya sangat menipis sehingga cairan dapat merembes keluar. Mereka hanya bisa menangani seperempat usus besarnya dengan susah payah, dan akhirnya mereka menyerah dan luka pembedahan ditutup lagi.

Ketika kami sampai di rumah sakit, kami melihat berbagai macam botol dikaitkan pada tubuh Jiao. Pertama kali saya berbicara dengan suami Jiao. Dia mengatakan: “Dia belum bisa mengeluarkan angin. Kata dokter dia tidak akan hidup bila tidak bisa mengeluarkan angin. Namun bila bisa, hidupnya pun tidak akan lebih dari seminggu. Dia tak dapat diselamatkan!”

Saya tanya padanya apakah Jiao mengerti ramalan dokter itu, dan jawabnya dia tahu. Saya menanyakannya lagi apakah mungkin masih ada harapan. Jawab dia, “Tidak ada. Kami hanya tinggal menunggu. Kami telah berusaha ke mana-mana. Kami telah menghabiskan ratusan ribu yuan.” Dia tampak sedih dan putus asa.

Lalu saya mengatakan kepadanya, “Jangan khawatir. Kami punya jalan lain. Kami akan menggunakan jalan dewa karena jalan manusia tidak berhasil. Izinkan Jiao berlatih. Hanya Guru kami yang bisa menyelamatkannya. Tinggal inilah satu-satunya cara yang kita punya.”

Suami Jiao berkata, “Dia sudah tidak belajar Fa atau berlatih lebih dari setahun. Kami tidak menentang dia melakukan latihan. Sekali dia bisa buang angin kami langsung pulang. Kami tidak ingin tinggal di rumah sakit.”

Anak perempuannya mengatakan kepada kami, “Sudah tiga tahun ibu tidak berkultivasi dengan sungguh-sungguh. Waktu berkumpul dengan kalian, dia baik-baik saja. Setelah meninggalkan kalian dia tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh.”

Jiao sangat kurus dan tak punya tenaga untuk berbicara. Ketika dia melihat kami, langsung dia meraih tangan kami dan menangis. Tampaknya dia merasa sangat pedih.

Saya mengatakan kepadanya, “Jangan menangis. Bukankah kita punya Guru? Mohonlah kepada Guru agar anda diberi kesempatan lagi. Waktu lalu anda tidak berkultivasi dengan baik, tetapi sekarang anda pasti akan melakukan dengan baik. Hati anda harus tulus dan yakin. Dengan pasti Guru akan menolong anda. Anda harus benar-benar menghargai kesempatan berkultivasi ini! Tidak ada pilihan lain kecuali anda harus berkultivasi dengan baik!”

Jiao mengangguk-anggukkan kepala ketika saya berbicara. Saya berikan kepadanya MP3 player dan sebuah buku Zhuan Falun.

Jiao tersadarkan ketika maut mendekat. Dia benar-benar ingin berkultivasi, maka dia memohon pertolongan kepada Guru. Dia lalu melantunkan “Pikiran Lurus dan Perbuatan Lurus” dari Hong Yin II. Guru langsung memerhatikan dia begitu diri sejatinya muncul

Setelah bisa buang angin dia pulang. Guru memberikan kesempatan lagi. Beliau sungguh maha belas kasih dan murah hati. Jiao telah dikaruniai harapan untuk hidup oleh Guru dengan menanggung pengorbanan besar. Kita harus berkultivasi dengan gigih agar Guru tidak merasa khawatir.

Jiao pindah tempat tinggal dekat dengan kami. Teman-teman praktisi selalu berbagi dengannya. Mereka membantu mencarikan buku-buku Dafa dan juga mencarikan tempat belajar bersama. Sekarang Jiao mengerti bahwa dulu dia tidak belajar Fa dengan baik, dan dia tidak berkultivasi dengan benar. Dia tidak mencari ke dalam dan tidak mengultivasikan dirinya sesuai dengan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Dia tidak tahu bagaimana seharusnya berkultivasi yang benar. Hanya permukaan tubuhnya yang berubah, tetapi bukan pribadinya.

Bila menghadapi kesulitan, dia tidak melihat situasi itu dengan pikiran lurus. Akibatnya dia tidak dapat melewati percobaan. Ini sangatlah berbahaya, menyimpang dari Fa! Bila tidak ada Guru, dia mungkin sudah kehilangan hidupnya. Di samping itu, dengan adanya lingkungan kultivasi yang baik juga sangat penting

Dia menceritakan kepada kami, ketika mulai membaca Zhuan Falun setelah sampai di rumah, dia merasa khawatir, takut kalau tidak dapat berlanjut. Dia menyadari bahwa makhluk jahat menginginkan dia mati. Hanya Guru yang bisa menyelamatkan. Lalu dia memutuskan akan tetap belajar Fa, meski dia masih merasa khawatir. Dia tetap melakukan latihan sepanjang masih bisa bergerak.

Setelah berlangsung dua bulan Jiao dapat memasak dan melakukan pekerjaan harian di rumah. Dan akhirnya dia bisa naik sepeda. Dan sekarang dia sudah kuat membawa tas besar di kedua tangannya ketika berbelanja. Dia kuat membawa barang lebih berat dibandingkan orang lain.

Dia telah sembuh sempurna! Kedua orang pasien yang dulu bersama tinggal di rumah sakit dan menderita sakit yang hampir sama, keduanya telah meninggal. Salah seorang kerabatnya mengatakan, “Ini pasti Guru yang memberinya hidup yang kedua.”

Dia mengunjungi tetangganya menyatakan terima kasihnya atas semua bantuannya. Mereka semua sangat kagum. Salah seorang mengatakan, “Falun Gong sangat luar biasa. Lihatlah Jiao! Kami tidak akan percaya bila ada orang yang mengatakan sesuatu yang buruk terhadap Falun Gong.”

Chinese version click here
English version click here