Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Menemukan Iri Hati Dibalik Tertawa

17 Juni 2016 |   Oleh praktisi Barat


(Minghui.org) Dalam perjalanan kultivasi, Guru sering mengatur situasi untuk menunjukkan kekurangan kita. Saya ingin berbagi tentang satu keterikatan yang rada sulit ditemukan, dan sangat bermanfaat bagi saya telah mengalaminya.

Seiring berlalunya waktu, saya sadar telah memandang rendah orang lain. Hal yang paling sering dimanifestasikan dalam memandang orang lain lebih rendah, dalam cara mereka mengklarifikasi fakta, apa yang mereka produksi untuk proyek klarifikasi fakta, dan cara-cara yang mereka melakukan di berbagai pekerjaan. Sudah cukup terlihat akhir-akhir ini, dan saya berupaya untuk menekan pemikiran negatif ini.

Saya tahu bahwa Guru mengajarkan Fa bahwa semua praktisi tidaklah sama:

"Tentu saja, anda ingin melakukan sesuatu di dalam proyek Dafa, sedapat mungkin harus dapat melepaskan hal-hal diri sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan yang ingin dilakukan, ini adalah nomor satu, dari itu haruslah bekerja sama. Tetapi dalam menyelesaikan pekerjaan akan terbawa ciri khas pribadi berkaitan cara-cara menangani masalah, di tengah Xiulian tampaknya telah menempuh jalan sendiri, hal ini Shifu seyogianya membenarkan, juga tidak ada yang dipermasalahkan, setiap orang juga pasti melakukannya demikian. Sekiranya kalian semua sama persis seperti hasil dari sebuah cetakan, itu tidak mungkin." ("Ceramah Fa pada Konferensi Fa Great New York 2013")

Meskipun mengetahui ini, pola pikir saya melihat rendah orang lain tetap ada, dan saya tidak dapat melepaskannya. Saya pikir itu adalah manifestasi dari keterikatan mentalitas pamer, tapi saya tidak sepenuhnya jelas dalam pikiran bagaimana pikiran dan pola pikir ini terkait dengan mentalitas pamer. Biasanya ketika melihat sesuatu yang terjadi berulang-ulang, saya memeriksanya dan akhirnya melenyapkannya, tapi ini tetap ada. Saya pikir kurangnya pemahaman yang jelas terhadap masalah ini yang mengakibatkan saya terjebak dalam kondisi ini.

Suatu hari saat berbicara dengan istri saya, bukan praktisi, ia menyebutkan sebuah berita yang agak sensitif dalam masyarakat kami, dan informasi yang cukup segar. Apa yang ia katakan tampaknya benar, tetapi sepenuhnya tak terduga berdasarkan apa yang saya tahu terhadap masalah ini. Meskipun itu menjadi topik yang sensitif, saya tertawa sedikit dan mengatakan padanya bahwa saya merasa itu menarik. Dia segera bertanya kenapa saya tertawa. Mengingat topik masalah itu, rasanya aneh tertawa mengenai berita yang dia sampaikan kepada saya.

Saya menjelaskan bahwa berita itu sangat jauh dari apa yang saya ketahui dan kenal, itu menggelikan dimana saya mengabaikannya dari pada yang saya duga. Pada saat itu, saya menyadari bahwa akar dari reaksi saya pada ceritanya karena berpikir terlalu tinggi pada diri sendiri, dan perasaan inilah membuat saya memandang rendah orang lain. Saya menyadari juga bahwa iri hati juga ikut di dalamnya.

Saya mempertimbangkan iri hati menjadi bergantung pada keterikatan lain untuk mengendalikan seseorang. Jika seseorang mempunyai nama, keserakahan, nafsu, keterikatan pada diri sendiri, dan lain-lain, orang tersebut bisa menjadi cemburu karena keinginan-keinginan itu dipenuhi oleh orang lain, atau menjadi khawatir karena tidak bisa memenuhi keinginan-keinginan itu. Dengan tidak adanya keterikatan lain, pemahaman saya bahwa iri hati tidak melekat dan memanfaatkan.

Saya menyadari karena ego yang kuat, saya mencari cara di mana saya lebih unggul dari orang lain sehingga saya bisa merasa baik pada diri sendiri dan menahan iri hati terekspos. Akibat dari  menemukan kekurangan orang lain, saya tidak khawatir terhadap kekurangan di sisi lain, karena, menurut penilaian saya, apapun kekurangan yang saya temukan di pihak lain adalah cukup untuk menganggap diri sendiri lebih unggul. Hal ini menciptakan lingkaran setan dimana keterikatan iri hati dengan cerdik menyembunyikan dirinya sendiri dan keterikatan-keterikatan lainnya begitu lama, yang menyebabkan masalah ketika saya bekerja di berbagai proyek. Ini terwujud dengan saya menyebarkan hal-hal buruk tentang orang lain yang saya pikir melampaui, untuk membuat diri saya terlihat baik.

Kelakuan menertawakan informasi menarik atau peristiwa adalah manifestasi perilaku dari proses berpikir ini. Berpikir kembali, saya telah menampilkan kelakuan ini dan oleh karena itu memiliki keterikatan ini sepanjang hidup saya. Di masa lalu, sebagai non-praktisi, ketika orang bertanya kenapa saya sering tertawa terhadap hal-hal yang serius, saya tidak mampu untuk menjelaskannya, atau saya mengatakan pada mereka bahwa saya tertawa segala hal. Saya sangat terkejut dan merasa senang akhirnya memahami akar dari kebiasaan ini, yang mana saya tergantung begitu lama.

Ceramah Tujuh dari Zhuan Falun, Guru Berkata,

“Diantara praktisi yang benar-benar berkultivasi Tao, juga ada refleksi semacam ini, saling tidak menghargai, nafsu bersaing tidak tersingkirkan, juga mudah timbul sifat iri hati.“ (Zhuan Falun)

Dalam kasus saya, saya berpikir telah melepaskan iri hati di awal kultivasi, tetapi kenyataannya ego saya begitu kuat dan merasa lebih unggul yang menyebabkan tidak menghormati orang lain, dimanfaatkan oleh kecemburuan saya, dan memungkinkannya untuk bersembunyi, bahkan memperkuat dirinya sendiri.

Sekarang saya memahami alasan yang mendasari dan keterikatan, sehingga saya lebih mudah mengekang dan mengendalikan diri sendiri. Saya sangat berterima kasih kepada Guru atas kesempatan ini untuk meningkatkan diri sendiri.

English version click here