Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Saya Seharusnya Merasa Senang Jika Orang Lain Lebih Baik

4 Agu 2016 |   Oleh Praktisi di Tiongkok


(Minghui.org) Sebuah keluarga petani yang baik hati kedatangan seorang malaikat, berkata kepadanya: "Tuhan melihat kalian begitu baik hati, akan mengabulkan tiga permintaan kalian. Tetapi ada sebuah syarat: Tidak peduli permintaan apa yang kalian minta, tetangga kalian akan mendapatkan balasan keberuntungan seperti yang kalian dapatkan sebanyak dua kali lipat.


Petani itu merasa sangat gembira, berkata: “Mohon berikan saya setumpuk beras, supaya saya sepanjang tahun tidak kekurangan pangan." Hari kedua pagi, ternyata di depan pintu ada setumpuk beras seperti gunung kecil. Petani tua itu merasa sangat senang, siap-siap menyiapkan gudang menyimpan beras ke dalam. Tetapi, tiba-tiba dia melihat, di depan rumah tetangganya ada dua tumpuk besar beras seperti gunung, tetangga yang biasanya sangat miskin, dengan sangat gembira sedang memindahkan ke dalam rumahnya, sehingga membuat petani tua ini dalam hati merasa sangat tidak nyaman.

Setelah lewat beberapa hari, malaikat itu datang lagi, petani lalu mengutarakan lagi permintaan yang kedua: “Memohon Tuhan menganugerahkannya seorang anak. Rupanya, setelah 10 bulan kemudian, istri petani itu melahirkan seorang bayi yang sangat lucu. Petani itu merasa kaget dan senang, diri sendiri sudah mempunyai seorang anak. Ini bukankah adalah sebuah hal besar yang menyenangkan? Tetangga setelah mendengar berita, segera membawa telur merah datang bersukacita, sekalian dengan senang memberitahukannya bahwa kemarin malam, istrinya juga melahirkan bayi, malah melahirkan bayi kembar. Petani tua itu dalam hati merasa lebih tidak nyaman lagi, tetangganya itu sudah miskin dan tidak mempunyai keahlian, wajah istrinya juga banyak guratan, sudah jelek dan pendek lagi, bagaimana bisa melahirkan sepasang bayi kembar.

Hari itu menjelang malam, malaikat sekali lagi berkunjung, minta petani tua itu mengatakan permintaan yang ketiga. Waktu itu, petani itu berlutut di tanah, dengan sangat menderita berkata, "Malaikat, mohon kamu potong sebelah tangan saya?" Malaikat itu seketika menjadi tercengang dan bertanya, “Mengapa?" Petani tua itu berkata, "saya benar-benar tidak bisa menerimanya, dengan dasar apa tetangga saya bisa mendapatkan dua kali lipat balasan keberuntungan, berdasarkan apa? Saya rela kehilangan satu tangan, juga ingin membuatnya kehilangan kedua tangannya, dengan demikian dalam hati saya baru bisa merasa nyaman.”

Petani tua merasa malaikat lama tidak bersuara, mengangkat kepala melihatnya, melihat wajah malaikat penuh air mata. Malaikat itu berkata “Mengapa kamu harus mencelakai diri sendiri, dan melukai orang lain? Apakah kamu tahu? Kamu sudah pernah berkultivasi Tao, hanya dikarenakan iri hati kamu tidak disingkirkan, tidak berhasil berkultivasi, kehidupan kali ini terjatuh ke duniawi dan menderita. Sedangkan tetangga kamu itu, pernah menjadi Guru kamu, keberuntungannya jauh lebih besar dibandingkan kamu, Tuhan membalasnya itu baru yang utama, Mengapa kamu tidak bisa menerimanya? Sedangkan semua juga adalah sebuah pengaturan, jika kamu mampu tidak iri, melihat tetangga lebih baik dari kamu, kamu seharusnya ikut senang." Petani tua itu tersadar, sayang sudah terlambat, kesempatan sudah tidak ada lagi, dan melihat malaikat itu menghilang, dengan sangat menyesal memukuli kepalanya sendiri.

Orang lain menjadi lebih baik, seharusnya ikut senang, harus berhasil berkultivasi mencapai taraf ini. Dalam beberapa tahun ini, saya sering bertemu kasus yang demikian, orang lain lebih baik, hati diri sendiri sedikit banyak merasa tidak nyaman, meskipun tidak seberat petani tua itu, namun saya tahu, iri hati ini adalah pantangan besar bagi seorang kultivator, harus diberantas sampai ke akarnya.

Contohnya: Mendengar bisnis teman kurang bagus, dalam hati ada semacam perasaan senang. Ada teman membeli sebuah mobil bagus, lalu berpikir: "Dia telah beli mobil bagus? Dia dengan apa membeli mobil yang demikian bagus? Dari mana uangnya?" Ada seorang teman, anaknya tertangkap berkelahi, saya satu sisi menjenguknya, menghiburnya, di lain sisi dalam hati ada sedikit perasaan senang. Ada seorang kerabat bisnisnya sangat besar, mempunyai harta puluhan miliar. Saya merasa sangat minder, namun kadang-kadang saat makan bersama, memberi nasihat kepadanya, "Uang hanyalah di tukar dari kebajikan, saat meninggal tidak bisa dibawa pergi, hidup kita hanya beberapa puluh tahun, semua itu tidak bisa diperhitungkan? Kamu harus mengutamakan akhlak.” Sepertinya diri sendiri sangat mengerti, namun sesungguhnya sangat iri kepada orang lain.

Berada rekan praktisi juga ada penampilan semacam ini, ada orang berkata siapa-siapa berkultivasi dengan sangat baik, saya lalu berpikir: "Apanya yang bagus? Dia masih ada kekurangan-kekurangan." Tidak melihat sisi baik yang telah dikultivasikan, dan selalu melihat sisi negatif. Beberapa hari yang lalu, di daerah setempat ada seorang rekan praktisi menurut mereka kultivasinya sangat bagus, masuk rumah sakit. Ketika mendengar berita itu, waktu itu di dalam hati kecil ada semacam perasaan senang: "Bukankah kultivasinya sangat bagus? Bagaimana bisa masuk rumah sakit? Ketika pergi menjenguknya, masih menyindirnya.

Biasanya selalu merasa diri sendiri kultivasinya lumayan bagus, ketika ada masalah, baru ketahuan masih jauh dari bagus. Saya menulis keluar kisah di atas dengan maksud, ingin menghilangkan iri hati secara tuntas.


Chinese version click here