Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Keluarga Mendukung Saya Berlatih Falun Dafa, Setelah Menyaksikan Perubahan Diri Saya

4 Sep. 2017 |   Oleh Zheng Yi, Praktisi Dafa di Heilongjiang, Tiongkok

(Minghui.org) Sebelum berkultivasi Falun Dafa, saya menderita penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan penyakit lainnya. Saya selalu mengonsumsi obat-obatan dan pergi ke rumah sakit sebanyak tiga sampai lima kali dalam setahun. Saya sangat menderita.

Suasana di rumah juga selalu tegang. Saya serumah dengan mertua, suami dan anak saya. Mertua saya tidak peduli hal lain selain diri mereka sendiri, sementara anak saya bandel, dan suami saya selalu berjudi seta tidak punya rasa tanggung jawab. Hanya saya sendiri yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah.

Sebagai pelampiasan, saya selalu memaki keluarga saya, belajar bermain mahyong dari suami dan berpesta, untuk mencari keseimbangan serta kesenangan hidup. Terlepas dari itu semua, hidup saya tidak ada artinya.

Segalanya berubah pada tahun 1998 saat saya diperkenalkan buku Zhuan Falun.

Zhuan Falun Menyingkirkan Keinginan Bunuh Diri

Saya punya niat melakukan bunuh diri pada tahun 1998. Tidak terlalu sulit: “saya hanya tinggal loncat dari gedung dari hunian kami di lantai lima”.

Pada suatu hari, saya memutuskan untuk melakukannya. Setelah berpikir, saya langsung menuju balkon pada malam hari untuk mencari cara saya melompat.

Saat ingin melompat, saya teringat saudara perempuan saya yang ketiga. Ia sangat baik pada saya, bahkan lebih baik dari ibu saya sendiri. Namun, kami tidak tinggal di kota yang sama. Jika saya mati, apa yang terjadi padanya? Saya sudah berhutang banyak padanya .

Saya mengurungkan niat itu dan dipenuhi rasa bimbang selama seminggu.

Saat itu masih belum ada telepon seluler, juga tidak ada telepon di rumah. Namun ada pepatah Tiongkok mengatakan, antar hati saling terkait, dan mungkin itulah yang terjadi.

Pada minggu itu, saudara perempuan saya menelpon ketika saya berada di tempat kerja saya. Dia merasakan suara saya sangat berbeda dari biasanya, dan memang saat itu saya sangat depresi. Ia memaksa akan mengunjungi saya secepatnya sambil membawa buku berjudul Zhuan Falun.

Dia berkata “Bacalah buku ini. Setelah selesai membaca, kamu akan mengerti takdir pertemuan di antara manusia. Buku ini dapat menyelesaikan semua masalah kamu.”

“Saya tidak mau. Saya sudah banyak mempelajari latihan qigong, bahkan masih belum selesai membaca satu buku kecil yang tipis, apalagi buku setebal ini.” kata saya

Namun kakak saya terus membujuk saya. Karena dia bersikap sangat baik pada saya, akhirnya saya menerimanya. Dan syukurlah! Ketika mulai membaca, dalam waktu singkat saya tidak bisa melepaskannya. Setiap kata dalam Zhuan Falun menggerakkan jiwa saya. Inilah yang saya cari! Buku ini sangat baik. Seandainya saja saya membaca buku ini sebelumnya, saya tidak akan berjudi atau berpesta-pora.

Sejak itu saya berhenti bermain mahyong dan berpesta. Saya juga berhenti mencaci-maki orang.

Setelah mulai berkultivasi, saya merasa penuh energi. Tubuh saya tidak lagi merasa sakit dan berhenti mengkonsumsi obat-obatan. Dengan perubahan ini, suasana di rumah menjadi sangat harmonis.

Dulu jika saya harus menunggu mertua dan keluarga, saya pasti akan marah. Saat marah, ibu mertua saya tidak berani menjawab, namun kini saya memperlakukan mereka dengan rasa hormat.

Pada saat itu, pekerjaan saya adalah menjual tiket setiap hari di kolam renang, dari pukul 6 pagi sampai pukul 8 malam. Saya membuat sarapan di pagi hari dan membawanya ke tempat kerja, sepulang bekerja saya masih harus membuat makan malam. Sungguh melelahkan.

Suatu malam, mertua saya ingin dibuatkan dimsum.

Saya menjawab, “Baiklah, tapi kita tidak memiliki daging hari ini. Saya akan membelinya besok dan membuatkannya untukmu.”

Keesokan harinya, saya membeli beberapa daging dan membuat dimsum di malam hari. Ketika dimsumnya siap pada pagi berikutnya, ibu mertua saya mengubah pikirannya. Dia bilang ingin makan mantao sekarang .

Suami dan anak saya marah dan berkata:

“Sudah melelahkan baginya untuk bangun di pagi hari. Kau bilang ingin makan dimsum, dia sudah membuatkannya untukmu. Sekarang kau bilang ingin makan mantao. Bukannya ini menyiksa orang?” Kata mereka.

Dengan sabar, saya berkata, “Ibu, saya tidak punya waktu membuat mantao hari ini. Saya akan membuatkannya besok pagi untukmu. Apa tidak masalah?”

Saya beralih ke suami dan anak saya sambil berkata, “Ini hal yang biasa bagi orang tua berlaku seperti ini. Jangan salahkan mereka. Terlebih lagi, saya sekarang menjadi praktisi Dafa. Guru meminta kami mengikuti Sejati, Baik, Sabar dan menjadi orang baik yang memikirkan kepentingan orang lain.”

Suami saya sangat tersentuh. Melihat perubahan besar dalam diri saya, ia sangat mendukung saya berlatih Dafa.

Suami Saya Membaca Zhuan Falun

Suami saya juga menderita berbagai penyakit, termasuk migrain. Karena kesehatannya buruk (dan juga agak pemalas), ia membolos selama jam kerja untuk bermain mahyong. Atasannya sulit mengendalikan dirinya.

Setelah saya mulai berlatih Dafa, ia menjadi pekerja keras dan menawarkan diri untuk membantu pekerjaan saya. Ketika orang lain bertanya apa yang membuatnya berubah, ia berkata, “Istri saya berlatih Falun Dafa dan saya sendiri juga telah membaca Zhuan Falun, buku yang mengajarkan orang untuk menjadi orang baik. Atas dasar pengaruh buku itu, saya juga ingin menjadi orang baik.”

Ketika Jiang Zemin mulai menganiaya Dafa pada tahun 1999, tempat kerja suami saya membuat semua kerabat praktisi menandatangani surat pernyataaan untuk tidak berlatih lagi.

Ketika atasannya meminta ia menandatangani, suami saya berkata, “Pernyataan? Sejak istri saya berlatih, dia sudah tidak lagi bermain mahyong atau berpesta. Dia juga tidak bertengkar lagi dengan saya, bahkan menghormati orang tua saya. Mengapa saya harus menandatanganinya?”

Ketika atasannya mendengar ini, mereka berkata, “Falun Gong sangat bagus. Biarkan istri dia latihan di rumah. Jika seseorang datang mencari anda, anda bilang saja saya telah berbicara pada anda.”

Pada waktu itu, banyak perusahaan akan menempelkan poster yang memfitnah Dafa. Setelah suami saya berbicara dengan para atasannya, poster-poster itu tidak pernah dipasang di tempat kerjanya.

Suatu ketika seseorang memfitnah Dafa saat ia sedang bermain mahyong. Suami saya menggebrak meja, berdiri kemudian berkata pada orang itu, “Kamu jangan mengatakan kebohongan yang tidak masuk akal, jika kamu tidak mengerti situasinya! Istri saya berlatih Falun Gong. Saya memahami bahwa Falun Gong mengajarkan orang untuk menjadi orang baik!”

Seluruh ruangan langsung menjadi sunyi.

Pada suatu pagi pada tahun 2001, kami berdua memesan taksi. Saya memberikan sekeping DVD klarifikasi fakta kepada supir taksi. Namun ia melaporkan kami ke polisi, dan kami ditahan.

Kami diinterogasi secara terpisah di kantor polisi. Polisi bertanya apakah dia berlatih Falun Gong. Suami saya berkata tidak. Lalu polisi menunjuk pada nama Guru Li Hongzhi (pendiri Falun Dafa) dan menyuruh ia mencaci-maki Guru Li.

Suami saya menjawab, “Saya tidak mau melakukannya. Kenapa saya harus mencaci dia? Saya tidak kenal dia, dan dia juga tidak merugikan saya. Malahan, ia menyuruh istri saya menjadi orang baik. Kenapa saya harus mencaci dia?”

Di ruangan itu ada tiga orang polisi, suami saya berkata pada mereka, “Coba ambil contoh kalian bertiga. Jika seseorang menyuruh saya mencaci anda, apa saya harus melakukannya? Saya tidak kenal anda siapa, anda juga tidak merugikan saya. Kenapa saya harus mencaci anda? Saya tidak mau mencaci anda.”

Polisi itu tidak bisa berkata apa-apa. Lalu dia mulai memberitahu mereka betapa baiknya latihan ini.

Polisi itu berkata, “Saya merasa anda seperti orang yang berlatih Falun Gong!”

“Tidak, anda tidak mengerti. Saya tidak seberharga itu. Falun Gong mengajarkan untuk tidak membalas saat ia dipukul atau dicaci. Mereka praktisi tidak mabuk-mabukan, berjudi atau menipu orang. Saya bahkan tidak bisa melepaskan keinginan bermain mahyong. Bagaimana saya bisa berlatih Falun Gong? Saat istri saya membeli sesuatu dan orang lain memberikan kembalian lebih, ia menolaknya. Dapatkah polisi bertindak seperti itu? Dia bahkan bangun lebih awal untuk berlatih perangkat gerakan. Saya tidak mampu melakukannya. Jangan memberikan posisi layak itu pada saya.”

Hari itu, saya tidak merasakan perasaan takut dan memberitahu polisi kebaikan Dafa dan manfaat yang saya dapat dari latihan ini. Malamnya, kami pun dilepaskan.

Karena suami saya selalu menceritakan kehebatan Dafa dimana pun ia berada, ia juga mendapat banyak berkah.

Saat ia mengendarai motor menuju tempat kerjanya setiap hari, ia harus melalui sejumlah jalan bawah tanah yang curam. Suatu hari saat ia sedang menuruni jalan, motornya tiba-tiba mengerem sendiri. Ia bingung, lalu turun untuk menyelidiki, saat itu ia melihat ban depannya sudah akan terlepas. Jika motor itu tidak berhenti dan rodanya lepas, ia pasti sudah mati. Setelah itu dia merasa ketakutan.

Seketika ia teringat kata-kata dari Zhuan Falun, dan ia tahu bahwa Guru Li-lah yang telah melindunginya.

Saat suami saya mendapat tugas malam, begitu ia ingin keluar ruangan, kepalanya membentur pintu hingga membentuk lubang besar di sana. Ia juga hampir membentur dua pemanas yang terletak di kedua sisi pintu. Ajaibnya, setelah itu ia sudah tidak mengalami migrain lagi. Ia tahu Guru Li yang telah melindunginya.

Penyakit yang ia derita juga sudah tidak ada lagi, dimasa lalu ia tidak bisa bekerja terlalu keras sebagai petugas satpam. Dengan kesembuhannya, ia kini mampu menangani pekerjaan fisik. Tindakannya berdasarkan prinsip Sejati, Baik, Sabar dan berkali-kali dijadikan sebagai panutan.

Saat kerabat atau teman kami berkunjung, ia selalu memberi tahu mereka, “Bacalah Zhuan Falun. Bahkan jika anda tidak mampu berkultivasi, setidaknya anda tahu bagaimana menjadi orang baik.”

Saya Disini untuk Melindungi Anda!”

Di tahun-tahun pertama saat penganiayaan dimulai, polisi sering datang ke rumah untuk mengganggu saya. Karena hal itu, suami saya memasang gerendel pintu besi dan berpesan, “Ketika saya tidak berada di rumah, jangan buka pintu ini untuk siapa pun!”

Beberapa kali peristiwa terjadi ketika suami saya tidak berada di rumah, saya mendengar seseorang berusaha membuka kunci pintu depan. Tetapi karena digerendel, mereka tidak dapat masuk.

Pada tanggal 22 September 2002, saya ditangkap karena membagikan materi klarifikasi. Saat ditahan, polisi datang ke rumah saya, bermaksud untuk menggeledah rumah. Suami saat itu bertugas jam malam itu. Polisi datang ke tempat kerjanya, menunjukkan identitas mereka dan berkata, “Kami polisi. Antarkan kami ke rumah anda untuk penyelidikan.”

Suami saya membalas,” Tidak perlu menakuti saya dengan benda itu. Itu hanyalah kartu pengenal. Saya juga punya, dan kartu itu hanya berguna untuk mengidentifikasi saya seorang pekerja.”

“Tolong bekerja samalah, biarkan kami menyelidiki rumah anda,”ujar polisi

“ Satu orang baik di rumah saya telah ditangkap oleh kalian. Saya tidak kenal satu penjahat di rumah saya. Saya tidak mau berkerja sama!”

“Anda sengaja menghalangi tugas kami.”polisi bilang.

Suami saya membalas, “Tidak, anda yang menghalangi. Tidak bisakah anda melihat saya sedang bekerja? Saya harus mengurusi perusahaan besar ini.”

Kepala staf jam malam datang setelah mendengar ada keributan. Ia mengizinkan suami saya untuk pergi.

“Saya tidak akan pergi! Istri saya tidak melanggar hukum. Ia ditahan karena menjadi orang baik. Bagaimana saya mau bekerja sama dengan mereka?”

Setelah berdebat selama satu jam, polisi memutuskan untuk melunakkan sikap mereka dan mengatakan kepadanya bahwa mereka hanya akan melihat-lihat.

Ketika masuk, suami saya memperingatkan mereka, “Jangan menakuti ibu saya dan jangan sentuh apa pun!”

Polisi menemukan sebuah rak terkunci dan bertanya, “Anda memiliki kunci ini?”

Ia menjawab ya.

“Kalau begitu buka! Kami ingin melihat isinya!”

“Saya menolak. Bagaimana saya bisa membiarkan orang lain melihat isi rumah saya? Hancurkan saja supaya terbuka. Tapi jika anda merusaknya, saya akan menuntut ganti rugi.”

Kali ini, sejumlah polisi berkumpul di sekitar kabinet, namun suami saya bersikeras tidak mau membukanya. Semakin ia menolak membuka, polisi semakin curiga bahwa ada sesuatu di dalamnya.

Setelah satu jam, suami saya akhirnya berkata, “Apa yang anda lakukan setelah saya membuka kabinet ini?”

“Kami tidak melakukan apa pun,”jawab polisi.

“Baik. Setelah melihat, cepat pergi!”

Polisi berjanji dan ia membuka kabinet itu. Ketika melihat tidak ada apa pun di dalamnya, mereka pergi.

Setelah beberapa hari kemudian, polisi pergi ke tempat kerja suami dan meminta uang darinya. Dia bilang tidak punya.

“Bagaimana mungkin tidak ada 500 yuan untuk biaya makanan istri anda?” tanya polisi

“Saya tidak mau memberikan uang sepeser pun. Kami baik-baik saja di rumah, sampai anda menahan orang baik dan sekarang menanyakan biaya makanan. Saya tidak akan memberikan pada anda!”

“Kami akan membuat ia kelaparan!” ancam polisi

“Silahkan, jika terjadi sesuatu padanya, saya akan menuntut anda. Anda akan menanggung akibatnya!”

Tidak ada pilihan lain, polisi pergi.

Saat saya dijatuhi hukuman kerja paksa selama tiga tahun pada November 2002, kamp kerja paksa mengharuskan semua kerabat yang berkunjung harus memaki Guru Li. Mereka yang menolak tidak mendapat izin berkunjung.

Suami saya berdebat dengan mereka, “Di sekolah, kita tidak pernah diajarkan memaki orang lain. Hukum mana yang mengatur bahwa kita harus memaki orang sebelum berkunjung? Saya tidak mau. Bukankah kamp kerja mendidik orang menjadi baik? Mengapa harus memaki orang? Siapa yang merancang aturan ini? Saya ingin cari atasan anda.”

Penjaga mengatakan, “Setiap kerabat yang datang kemari harus mendengarkan dan tunduk pada kami. Anda satu-satunya orang yang berani mengatakan hal semacam ini.”

“Istri saya orang baik. Dia dianiaya. Bahkan jika seandainya ia melanggar hukum, saya tidak. Kenapa saya harus mendengarkan dan tunduk pada anda?”

Mereka tahu bahwa mereka berada di posisi yang salah, dan membiarkan suami saya berkunjung. Dalam tiga tahun itu, ia tidak pernah memarahi saya. Kapan pun ia ingin melihat saya, ia tinggal datang. Meski peraturan menyebutkan kerabat keluarga hanya diizinkan berkunjung sebulan sekali.

Ketika saya kembali ke rumah, polisi menyuruh saya pergi ke kantor untuk menandatangani dokumen. Suami saya bilang, “Jangan pergi! Saya di sini, kamu tidak perlu takut pada mereka!”

Setiap kali polisi mengganggu saya, kami tidak membuka pintu. Suatu malam, seorang wanita mengetuk pintu, dan dia membukanya. Wanita ini memperkenalkan dirinya sebagai kepala komunitas dan ingin melangkah masuk ke rumah kami, suami saya langsung mendorong ia keluar dan mengunci pintu.

Saat itu juga, seseorang berlari dari atas tangga dan mulai menggedor pintu, “Polisi. Cepat buka pintu!”

“Ada apa?” Tanya suami saya.

“Tidak ada. kami hanya ingin melihat-lihat saja,” jawab polisi

“Apa ada yang perlu dilihat? Polisi seharusnya menangkap orang jahat. Di rumah saya tidak ada orang jahat. Pergi!”

Polisi mengetuk pintu lagi, kali ini lebih keras.

“Apa saya punya tunggakan sewa?” tanya suami.

“Tidak, tidak ada.” jawab polisinya

“atau mungkin saya lupa bayar tagihan air?”

“Tidak, anda tidak lupa.”

“Bagaimana dengan listrik? Ini pasti soal listrik kan?”

“Bukan, bukan itu.”

“Karena saya tidak berhutang apa pun, kenapa anda datang kemari? Saya tidak akan membuka pintu untuk anda. Saya hanya ingin beristirahat sekarang karena ini rumah saya, jadi cepat pergi dari sini,” ujar suami saya.

Ketukan terus berlanjut sampai hampir satu jam, dan saya tidak bisa menerimanya. Saat suami saya berdebat dengan polisi, ia menghibur saya.

“Saya di sini. Jangan takut!”

Polisi bertanya, “Apakah anda akan membuka pintu jika kami datang besok?”

“Ini rumah saya. Terserah saya ingin membuka pintu atau tidak. Ini hak saya.”

Polisi pun pergi.

Pada pagi berikutnya, suami saya menyuruh saya pergi pada pukul 4 dini hari. Pada jam 7 pagi, tiga orang polisi mengetuk pintu. Ia membukanya.

Polisi bertanya, “Kenapa anda tidak membuka pintu semalam?”

Dia menjawab, “Saya tidak suka aja. Saya akan buka jika menginginkannya. Jika tidak, saya tidak akan membukanya. Memangnya kenapa?”

Polisi berkata, “Tidak ada, kami hanya ingin mencari istri anda.”

“Tentu, silahkan masuk. Bukankah anda mencari istri saya? Kalau anda selesai, saya akan pulang bersama kalian, pergi ke rumah kalian, dan mencari istri kalian juga,” katanya.

Polisi melihat satu sama lain dan tidak berani masuk ke rumah. Salah satunya bertanya, “Apa anda punya foto istri anda?”

“Ya.”

“Berikan fotonya pada kami,”

“Saya tidak mau memberikannya pada anda! Foto istri saya diambil menggunakan uang saya. Ini milik saya, kenapa saya harus memberikan pada anda?

Polisi terdiam dan akhirnya pergi.

Setelah beberapa lama, putra saya ingin pergi ke Hong Kong, dan butuh membuat paspor. Ketika suami saya pergi ke kantor polisi untuk izin paspor, polisi mengenalinya dan ingin menyulitkannya. Ia berkata, “Anda menolak bekerja sama saat kami datang ke rumah anda. Kami tidak akan memprosesnya!”

Suami saya menjawab, “Bekerja sama dengan anda supaya istri saya ditahan? Kalau begitu, maukah anda pergi ke rumah saya dan memasak untuk saya?”

Polisi tertawa dan memproses paspornya.

Ketika berbicara dengan suami, saya bertanya padanya, “Apa kamu tidak takut pada polisi?”

Dia menjawab, “Dari lubuk hati saya tahu bahwa Zhuan Falun adalah buku berharga saat saya membacanya. Buku ini membimbing orang-orang untuk mengkultivasi diri mereka sendiri. Kamu tidak pernah melanggar hukum. Sedangkan mereka menganiaya kamu, jadi pasti merekalah yang salah. Saya tidak takut pada mereka.”

“Kenapa kamu tidak berlatih?” saya bertanya.

“Untuk melindungi kamu!”, seakan itu adalah hal yang sudah jelas.

Bertahan Dari Kesengsaraan

Pada April 2013, rem sepeda motor saya mengalami kerusakan. Saat saya memacu pedal gas, motor itu melaju ke depan. Saya berteriak memohon pada Guru untuk menyelamatkan saya. Sekejap, saya terangkat sangat tinggi dan mendarat di atas tanah yang keras. Sepeda saya menghantam belakang taksi yang diparkir berlawanan dengan jalan dan terpental balik menghantam kendaraan roda tiga.

Meski masih bisa berpikir, namun pinggang saya terasa sakit dan tak dapat bergerak. Motor saya telah menabrak taksi, saya berpikir harus mengganti rugi pada sopirnya. Namun, dia mengira saya pasti mati setelah melihat saya mendarat keras di atas tanah. Dia takut dimintai pertanggungjawaban dan pergi.

Orang-orang telah berkerumun di sekitar saya, dan salah satunya bermaksud memanggil ambulan karena telepon saya hancur. Tapi saya bilang pada mereka untuk menelpon rumah saya dan praktisi lain.

Anak saya berada di tempat lain, dan menantu saya akan melahirkan. Setelah 30 menit, suami dan menantu saya datang, bersama dua praktisi. Menantu saya ingin membawa saya ke rumah sakit, tapi saya menolaknya.

Suami saya sudah mengerti dan membawa saya pulang, sementara menantu saya berkata, “Saya tidak akan ambil pusing jika sesuatu terjadi pada anda akibat tidak pergi ke rumah sakit.”

Saya berkata padanya bahwa tidak akan ada masalah, Guru yang akan menjaga saya.

Saya tidak dapat bergerak setelah berbaring di ranjang. Akibat punggung yang sakit, saya tidak bisa tidur atau bahkan ke kamar kecil. Saya berpikir, “Ini tidak benar. Saya adalah pengikut Dafa. Bagaimana saya membiarkan orang lain menunggu saya? Guru berkata dalam Zhuan Falun,”…baik atau buruk yang akan terjadi berasal dari pikiran sekilas seseorang.” saya harus mendengar Guru dan tidak mengakui hal ini. Saya bisa melakukannya!

Saya melafal, “Ketika sulit bersabar anda mampu bersabar. Ketika sulit dilakukan anda harus mampu melakukan.” (Zhuan Falun) dan “Mencapai kesempurnaan, memperoleh buah status Buddha, Mengalami penderitaan dianggap bahagia” (“Derita Pikiran dan Hatinya”-Hongyin)

Pagi berikutnya, keluarga membantu saya bangun dari ranjang. Saya dibantu ke toilet dengan rasa sakit yang luar biasa. Keringat dan air mata muncul bersamaan.

Melihat hal ini, menantu saya berkata, “mari rubah nama anda menjadi ‘kuat’.”

Dengan belas kasih Guru, dalam setengah bulan saya dapat berjalan meski harus dibantu, dan pulih sepenuhnya dalam satu setengah bulan. Keluarga saya sekali lagi menyaksikan keajaiban Dafa dan Guru sekali lagi menyelamatkan saya.

Benjolan Ganas Anak Saya Menjadi Jinak

Pada Febuari tahun ini, anak saya (tidak berlatih Dafa) memiliki dua benjolan di langit-langit mulut, sehingga terbuka seperti kelopak bunga.

Dokter di rumah sakit berkata pada kami berdua, “Menurut pengalaman kami, benjolan ini tidak jinak. Maka ini pasti benjolan ganas, karena dinding yang jinak itu licin sedangkan yang dua ini tidak.”

Beberapa dokter juga turut menyumbang diagnosis mereka, dan semua berpikir demikian.

Anak saya dirawat ke rumah sakit untuk mengangkat benjolan itu. Saat menunggu hasil, saya berkata pada anak saya, “Jika benar seperti yang dikatakan dokter, hanya Guru yang dapat menyelamatkan kamu. Cepatlah melafal “Falun Dafa baik” dan “Sejati-Baik-Sabar, baik!” ia melafal berulang-ulang dari dalam hatinya.

Melihat anak saya menderita, saya tidak bisa tidur di malam hari. Saya berpikir, "Dafa mengalami penganiayaan selama 18 tahun. Berapa banyak anak muda seperti anak saya yang telah termakan tipuan pembakaran diri di lapangan Tiananmen dan memperkuat kebencian terhadap Fa Buddha? Ini akan membawa bencana bagi mereka. Saya adalah pengikut Dafa. Apakah saya rajin mengklarifikasi fakta untuk menyelamatkan mereka? Mengapa hati saya tergerak saat anak saya mengalami kesusahan? Bukankah ini keegoisan? Saya seharusnya mendengarkan Guru dan memiliki belas kasih. Saya harus memperlakukan semua orang dengan setara! "

Ketika praktisi lain mendengar situasi anak saya, mereka datang menemui saya dan menangis. Saya berkata, "Jangan khawatir. Kita punya Guru. Serahkan semuanya pada Guru! Guru akan memberikan yang terbaik! "

Dengan keyakinan saya pada Guru, keajaiban pun terjadi: hasilnya menunjukkan kedua benjolan itu jinak. Kejadian ini mengejutkan para dokter yang memeriksanya.

Cucu Saya Berusia Empat Tahun adalah Anak Ajaib

Tahun ini cucu saya berusia empat tahun, dan saya telah merawatnya sejak kelahirannya.

Ketika lahir kakinya terlihat bengkok. Anak saya khawatir dan bertanya pada saya apa yang terjadi ketika ia dewasa. Saya mengatakan padanya bahwa saya adalah pengikut Dafa dan saya percaya pada Guru. Seperti yang saya harapkan, kakinya menjadi lurus.

Suami saya berkata, “Saya sangat ingin kamu menjadikan anak ini menjadi pengikut Dafa.”

Ketika cucu saya mulai berbicara, saya mengajarkan ia melafal, “Falun Dafa baik”, “Sejati, Baik, Sabar baik.” dia akan mengatakan itu pada semua orang yang ia temui.

Ketika ia berusia dua tahun, praktisi Dafa di seluruh dunia secara bersamaan mengajukan tuntutan hukum pada mantan pemimpin komunis Tiongkok Jiang Zemin. Saya memberitahu padanya bahwa Jiang Zemin-lah orang yang telah menganiaya Dafa dan tidak mengizinkan saya berlatih. Saya akan pergi mengajukan tuntutan padanya.

Tidak disangka ia merespon.

“Saya juga ingin mengajukan tuntutan padanya juga. Ia telah menganiaya nenek, tapi nenek, saya tidak tahu cara menulis.”

Ketika saudara perempuan ketiga saya datang berkunjung, ia menceritakan soal kakinya yang sakit, lalu cucu saya menyuruhnya untuk melafalkan, "Falun Dafa baik" dan "Sejati, Baik, Sabar baik," mengatakan bahwa Guru akan menyelamatkannya. Kemudian, cucu saya meminta Guru menyelamatkan saudara neneknya.

Suami saya pernah merasa tidak nyaman, cucu saya lalu menyuruhnya meminta bantuan pada Guru dengan melafalkan dua kalimat itu.

Dia mendengarkan dan mengulanginya sekali. Ketika cucu saya tahu tentang itu, dia berkata bahwa hal itu tidak berhasil dan memintanya melafalkan dengan tulus dan lantang. Suami saya mengikutinya.

Ketika melihat suami saya minum alkohol, dia melafalkan sajak Hongyin.

“Arak adalah obat penembus usus. Setelah ketagihan sulit untuk dihentikan. Secangkir menghilangkan resah di hati. Sepuluh cangkir membuat hantu tertawa. (“Menembus usus” dari Hong Yin III)

Suami saya berjanji dia tidak akan minum lagi.

Dia juga melafal banyak sajak dari Hong Yin dan mengingat semua dari Dizi Gui, termasuk penulis dan dari dinasti mana mereka berasal. Kalau ia nakal, saya akan menyuruhnya melafal Dizi Gui, dan dia dapat melanjutkan dan segera mengikuti prinsip Dizi Gui untuk memperbaiki perilakunya, dia bahkan bisa melafal Tiga karakter Klasik dan Ribuan Karakter Klasik.

Pernah ketika saya bermain dengannya, saya menyuruh ia bermain sendiri karena saya sedang merasa tidak enak. Dia berkata pada saya dengan sungguh-sungguh, “anda kurang lebih telah belajar Fa dan tidak mengajarkan pada kakek dan saya untuk melafal Fa. Ketika anda melafal Fa pada kakek dan saya, bukankah semua baik-baik saja?”

Kemudian ia meminta saya membacakan Zhuan Falun padanya. Saat saya capek membaca 20 sampai 30 halaman, saya tidak mau melanjutkan lagi. Lalu dia berkata, “Fa begitu baik! Saya suka mendengarnya. Bacakan lagi untuk saya. Saya sangat menyukainya.”

Suatu hari ketika menghafal Lunyu, dia sedang bermain di sekitar saya. Saya merasa kesulitan menghafalnya setelah dua kali. Beberapa hari kemudian, ketika sedang menghafal lagi, dia mengulangi paragraf pertama Lunyu pada saya.

Saya terkejut dan berkata pada suami, “Lihat dia, saya menghafal Lunyu saat ia bermain di samping saya. Setelah mendengar dua kali, ia langsung dapat melafal paragraf pertama. Anak ini sangat cerdas.”

Suami saya dengan gembira berkata, “Anak ini adalah praktisi cilik. Guru membuka kebijakannya setelah ia mendengar kamu membaca Zhuan Falun padanya.”

Kini, saya membacakan Fa padanya setiap hari. Keluarga kami merasakan curahan berkah di bawah kemuliaan Dafa!