Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Melihat ke Dalam Tanpa Syarat

16 Jan. 2018 |   Oleh seorang praktisi dari Yantai, Provinsi Shandong

(Minghui.org) Putra saya suatu kali memberitahukan saya, “Kakek mengatakan bahwa segala sesuatu yang ibu lakukan adalah omong kosong.” Saya segera melihat ke dalam dan menyadari bahwa saya memandang rendah bapak mertua saya, karena ia menolak Dafa. Saya memberitahukan diri sendiri, “Ia dulu adalah seorang dewa besar dalam sejarah, dan ia juga merupakan orang yang Guru ingin selamatkan.”

Sejak itu, saya memperlakukan anggota keluarga dan semua orang dengan pikiran lurus. Saya memprioritaskan mereka dan selalu memikirkan kebutuhan mereka.

Apabila saya melihat sebuah konflik terjadi, tidak peduli apakah saya terlibat atau tidak, saya pertama-tama melihat ke dalam apakah ada masalah dalam diri saya dalam hal tertentu.

Saya dulu pernah melihat dua orang naik motor berebut posisi terbaik di jalan. Saya segera melihat ke dalam dan berkata pada Guru dalam hati, “Guru, saya juga mempunyai keterikatan pada dalam nafsu bersaing, tetapi saya tidak mau keterikatan ini. Saya ingin ia musnah.”

Suami saya tidak berlatih Falun Gong, tetapi putra saya berlatih. Mereka sering berdebat, dan putra saya tidak pernah melakukan dengan baik sebagaimana seorang praktisi. Putra saya suatu kali tidak mau makan makanan yang saya buat. Suami saya berkata padanya, “Apakah kamu tidak tahu ibu kamu sudah susah payah membuatnya? Kamu harus memakan apa saja yang ia buat.” Putra saya menangis dan berkata, “Apabila ayah di rumah, saya tidak mau makan!” Suami saya kemudian memberitahukannya, “Kamu harus melihat ke dalam, dan kamu harus belajar bagaimana menghargai orang lain.”

Saya mendengar semuanya. Saya menyadari bahwa Guru sedang menggunakan mulut suami untuk membimbing putra saya dalam berkultivasi. Sikap suami juga mengingatkan saya bahwa saya mempunyai konsep pikiran dan keterikatan, dan saya sering tidak memperlakukan suami saya dengan baik; maka itu ia berteriak pada saya.

Saya sering mengingatkan diri sendiri bahwa dalam sebuah konflik, tidak peduli siapa salah siapa benar, saya harus mengetahui bahwa saya bersalah dan saya yang menyebabkan terjadinya konflik. Tidak peduli apa penyebabnya. Itu adalah untuk menguji Xingxing saya.

Ketika orang lain marah, saya selalu meminta maaf dengan sungguh-sungguh: “Ini adalah salah saya, saya tidak memikirkan perasaan anda. Saya minta maaf.” Saya juga berkata pada Guru dalam hati, “Guru, saya lain kali akan berbuat lebih baik. Meskipun seseorang memukul saya, saya akan melihat ke dalam tanpa syarat dan bertanya pada diri sendiri kenapa ia mau memukul saya? Apakah ada sesuatu yang saya tidak lakukan dengan baik? Meskipun saya tidak melakukan sesuatu yang salah, saya harus ingat bahwa saya berutang kepadanya di kehidupan sebelumnya. Maka saya harus memikirkan orang lain dan meminta maaf kepada mereka, karena ini adalah tuntutan dari Fa.”

Sekarang, saya bisa meyakinkan banyak orang untuk mundur dari Partai Komunis Tiongkok ketika saya mengklarifikasi fakta di pasar petani lokal. Saya tersenyum kepada setiap orang. Saya mengultivasi hati saya dengan kokoh. Saya memikirkan orang lain pada setiap masalah sepele. Saya berkata kepada Guru dalam hati, “Saya akan berusaha sebisa mungkin mendekati taraf kondisi dewa. Guru, anda telah mengatakan akan menyelamatkan kami. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk mencapai kesempurnaan.”

Saya menolak semua pengaturan kekuatan lama. Saya juga menolak apa yang diatur oleh kekuatan lama untuk rekan praktisi dan anggota keluarga kami, demikian juga kepada semua makhluk hidup. Tidak peduli kesulitan apa yang rekan praktisi alami, saya tidak mengeluh atau menyalahkan mereka. Saya memperlakukan mereka dengan pikiran lurus. Saya berkata pada kekuatan lama: “Semua rekan praktisi saya luar biasa. Saya tidak mengakui penganiayaan yang anda lakukan terhadap mereka, karena Guru saya tidak mengakuinya.”

Saya membuat banyak kesalahan sebelumnya dan gagal melewati banyak percobaan. Guru bersama saya setiap hari, tetapi saya tidak menyadarinya. Ketika saya melakukan sesuatu yang salah, saya tidak pernah berpikir apakah ini akan membuat Guru tidak senang. Sangatlah tidak menghormati Guru dan Fa. Saya tidak sungguh-sungguh menerima belas kasih Guru dan berkultivasi dengan serius. Saya mengkhianati bimbingan Guru.

Guru berkata dalam, “Ceramah Fa pada Konferensi Fa Amerika Serikat Barat” pada tahun 1999:

“Anda semua tahu, Buddha dan Dewa, mereka dapat mengesampingkan jiwanya demi kepentingan makhluk hidup, demi kepentingan alam semesta, apapun dapat dilepasnya, lagi pula tenang dan lega. Seandainya anda diangkat sampai posisi itu, apakah anda dapat mencapai standar tersebut? Tentu tidak dapat. Tentu saja, maksud saya Buddha dan Tao tidak akan benar-benar mengalami peristiwa seperti ini, tetapi mereka mempunyai taraf kondisi semacam ini. Haruslah benar-benar mengubah diri sendiri, baru dapat mencapai taraf kondisi tersebut.”

Saya ingin berkata: “Guru, saya ingin mengesampingkan segala sesuatu untuk makhluk hidup. Saya akan memprioritaskan penyelamatan mereka dari pada pencapaian kesempurnaan saya. Kehidupan saya diberikan oleh Guru, maka tujuan kehidupan saya adalah untuk menyelamatkan makhluk hidup.”

Kita tidak boleh mengakui kekuatan lama, demikian juga kita tidak boleh mengakui dan harus segera menolak semua pikiran buruk atau konsep pikiran yang mengganggu kita. Kita harus menolak pikiran ini begitu muncul. Sangatlah penting bahwa kita menyadari pikiran kita. Kita harus bertanya pada diri kita sendiri kenapa pikiran ini bisa mengganggu kita, dan kemudian kita harus melihat ke dalam untuk mencari masalah diri kita sendiri. Kita harus berkultivasi Xinxing dengan kokoh dan tidak mengikuti pikiran yang berasal dari kekuatan lama. Janganlah kita memberikan celah kekosongan pada kekuatan lama untuk menganiaya kita. Celah kekosongan ini bisa menjadi hambatan dalam perjalanan kita menuju kesempurnaan.

Mohon koreksi dengan belas kasih apabila saya telah mengatakan sesuatu yang tidak benar.