<<Tujuan Terakhir dari Paham Komunis-Bagian Tiongkok>>

Bab 5. Roh Jahat Merebut Takhta -- Kebudayaan Runtuh Tenggelam (Awal)

Daftar Isi

1. Mencuri Langit Mengganti Matahari, Merebut Takhta Kekuasaan Tuhan

1) Partai Komunis Tiongkok Merebut Takhta Tuhan

2) Memusnahkan Kebudayaan Bangsa Tionghoa yang Terhubung dengan Langit

3) Jalan Hidup yang Menghormati Tuhan Menyembah Langit telah Dihancurkan

4) Membangun Medan Ajaran Iblis yang Berkebudayaan Partai

2. Bahasa dan Tulisan Hasil Warisan Dewa vs Karakter Mandarin dengan Sistem yang Rusak

1) Tulisan Hasil Warisan Dewa, Menampung Catatan Rahasia Langit

2) Bahasa Percakapan Bangsa Tionghoa, Penuh Terisi Sifat Dewa

     (1) Kebudayaan

     (2) Peradaban

3) Partai Komunis Tiongkok Merusak Tulisan Hasil Warisan Dewa

3. Perusakan Partai Komunis Tiongkok Terhadap Kebudayaan Xiulian

1) Kebudayaan Xiulian dalam Kebudayaan Tradisional

2) Bagaimana Partai Komunis Tiongkok Merusak Kebudayaan Xiulian

******

Demi menyelamatkan makhluk hidup di masa terakhir, Sang Pencipta secara pribadi telah membangun Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa yang terhubung ke Langit, secara sistematis telah mengatur unsur-unsur yang terhubung dengan Langit (Tuhan) dari berbagai bidang dalam Kebudayaan Tradisional. Dengan menghancurkan kebudayaan semacam ini, juga artinya telah memotong putus hubungan antara manusia dan Tuhan. “Kebudayaan” dari orang Tiongkok zaman sekarang dengan Tradisi Leluhur sudah sangat berbeda. Roh jahat telah mencuri Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa dan menukarnya dengan sistem ideologi Ateisme, membuat kebudayaan manusia kehilangan akarnya, nilai-nilai tradisional tidak lagi eksis, unsur-unsur yang terhubung dengan Tuhan telah dihancurkan. Dengan memusnahkan kebudayaan semacam ini, berarti dapat secara langsung memusnahkan manusia.

Buku ini telah mengungkapkan kepada pembaca bahwa iblis merah komunis “Membunuh” manusia di tingkat materi - “Menipu” manusia di tingkat ideologi. Bab ini akan mengungkap penggulingan dan pemusnahan menyeluruh terhadap Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa, yang dilakukan oleh partai komunis dalam skala yang jauh lebih luas -- melampaui apa yang bisa terlihat oleh mata manusia.

1. Mencuri Langit Mengganti Matahari [Menipu], Merebut Tahta Kekuasaan Tuhan

1) Partai Komunis Tiongkok Merebut Tahta Tuhan

Tuhan menciptakan manusia dengan meniru rupa sendiri, ini sebabnya setiap manusia memiliki sifat Dewa, konkretnya termanifestasi dalam hal -- manusia memiliki hati yang mencari kebenaran [Zhen; Sejati] - yang mengarah ke kebaikan [Shan], ada keinginan untuk menaikkan jiwa kehidupan ke tingkat lebih tinggi, ada penantian untuk pulang kembali ke tempat asal kerajaan Langit. Sejalan dengan ini, setiap kebudayaan di dalam strukturnya -- selalu ada sebuah posisi sangat tinggi tiada banding, ada bangsa yang menyebutnya dengan “Tao”, ada bangsa yang menyebutnya dengan “Dewa”. Kita menyebut posisi ini sebagai “Takhta Tuhan”.

Setelah partai komunis merebut kekuasaan politik di dunia, dengan menggunakan kekerasan – telah memusnahkan benda budaya bangsa Tionghoa. Namun, Takhta Tuhan dalam Kebudayaan bangsa Tionghoa, bukan saja merupakan struktur yang didirikan pada saat Tuhan menanamkan kebudayaan, tapi juga merupakan kandungan makna [esensi] yang diberikan kepada manusia saat Tuhan menciptakan manusia. Pengaturan yang terhubung dengan Langit semacam ini sangat tidak mudah untuk dilepas. Di tengah gerakan jangka panjang partai komunis yang “Anti Tuhan”, roh jahat yang terakumulasi dari Kebencian dan materi sampah di dalam alam semesta, atau yang disebut “roh jahat komunis”, secara diam-diam telah merasuki “Takhta Tuhan” dalam hati manusia dan dalam struktur Kebudayaan bangsa Tionghoa yang telah direbut hingga kosong, dan dengan suara lantang berpura-pura menjadi “Tuhan Sejati”.

Di atas “Takhta Tuhan” ini, partai komunis telah menjadi pencipta “Prinsip Sejati” dan “Moralitas”. Ia mendorong Ateisme, memaksa orang-orang melupakan Tuhannya sendiri, agar orang-orang beranggapan diri sendiri tidak memiliki akar, yang juga berarti hidup ini hanya saat ini saja, setelah meninggal semuanya sudah selesai. Partai komunis membuat manusia tidak mempercayai kehidupan sendiri yang mengalami reinkarnasi sebagai kehidupan yang sesungguhnya, dan tidak mengakui asal usulnya berhubungan dengan Tuhan. Ketika Tuhan belum menyerah terhadap manusia, partai komunis lalu memaksa - memikat manusia menolak Tuhan terlebih dahulu, umat manusia dikarenakan ini telah didorong hingga ke ambang pemusnahan. Konspirasi yang besar bagaikan langit ini, sungguh ekstrem jahat.

Propaganda “Ateisme” oleh partai komunis, bukan saja ingin menyangkal bahwa nyawa kehidupan manusia berasal dari Tuhan, tapi juga masih memiliki setingkat makna, yaitu ingin menutupi bahwa ia sendiri bukanlah Tuhan melainkan esensi sebenarnya adalah “roh jahat”. Secara konkret, ada dua aspek:

Pertama, jika manusia percaya keberadaan Tuhan, maka akan percaya adanya iblis. Di dalam agama apa pun -- “Tuhan ---- Satan” dan “Buddha ---- iblis” selalu ditampilkan secara kontras, karena pada saat Tuhan menyelamatkan manusia pasti akan memberitahu manusia: “Manusia di dalam iman akan menghadapi rintangan iblis, rintangan-rintangan iblis ini semuanya merupakan godaan dari iblis”. Ini sebabnya partai komunis lalu memberitahu manusia bahwa “Tidak ada Tuhan”, maka juga berarti sama saja memberitahu manusia bahwa “Tidak ada iblis”, dengan demikian telah menutupi wujud sejati ia sebagai iblis.

Kedua, ketika manusia tidak percaya keberadaan Tuhan, maka manusia telah melepas penyelamatan Tuhan. Dengan demikian, meskipun Tuhan ingin menyelamatkan manusia, manusia juga tidak menerima, Tuhan pada akhirnya terpaksa meninggalkan manusia. Pada saat ini manusia secara alami akan terjatuh dalam genggaman iblis.

Setelah Revolusi Kebudayaan, orang Tiongkok saat mengulas kembali sejarah, menyadari bahwa pemimpin partai komunis Tiongkok juga telah dimuliakan di atas altar Dewa. Ini adalah pemahaman yang sangat dangkal -------- bagaimana partai bisa memuliakan pemimpin partai di atas “altar Dewa [altar tempat sembahyang]”? Esensi dari fenomena ini adalah: roh jahat komunis telah merebut takhta dalam Kebudayaan bangsa Tionghoa - dalam hati orang Tiongkok yang aslinya adalah milik Tuhan.

Semua bangsa di dunia yang mengalami penderitaan tak terhitung, tak satu pun yang tidak dikarenakan secara gegabah telah meninggalkan Tuhannya sendiri. Tanpa adanya perlindungan dari Tuhan, penderitaan bagaikan bayangan yang senantiasa mengikuti, masa depan seluruhnya gelap.

Seorang manusia bila dirasuki oleh roh jahat, adalah sangat menderita; sebuah negara bila dirasuki oleh roh jahat, maka kekuasaan negara berada di tangan roh jahat, otak besar dari sebuah bangsa bila telah dikendalikan oleh roh jahat, maka bangsa ini pastinya mengalami ribuan bencana dan tidak bisa bangkit lagi. Bahkan para pemimpin partai jahat juga tidak dapat meloloskan diri dari akhir tragis seperti lainnya. Ini sebabnya mengenali dengan jelas roh jahat - meninggalkan roh jahat merupakan misi bersama dari umat manusia.

2) Memusnahkan Kebudayaan Bangsa Tionghoa yang Terhubung dengan Langit

Kebudayaan bangsa Tionghoa sejak awal memang berisikan mekanisme Sejati yang terhubung dengan Langit, yaitu agar manusia mendatang yang memperoleh penyelamatan dapat memahami dengan jelas pengaturan menyeluruh yang dilakukan oleh Tuhan melalui isyarat dan pertanda dari-Nya. “Fuxi menengadah -- terlihat fenomena di Langit, menunduk -- terlihat Fa di Bumi” <<Era Monarki [Buku yang berisikan sejarah tiga Kaisar di dalam legenda Tiongkok; Fuxi - Shennong - Huangdi]>> mencatat bahwa Fuxi menciptakan buku ukiran (karakter tulisan kuno) dan Bagua. Dalam setiap generasi setiap dinasti selama lima ribu tahun, Tuhan menuntun bangsa Tionghoa dengan tanpa henti memperkaya keaneka-ragaman kandungan makna dari Kebudayaan bangsa Tionghoa, yang luas dan mendalam, serta mencukupinya untuk mewujudkan perhatian dan perlindungan dari Tuhan.

Manusia adalah umat Tuhan, hasil ciptaan Tuhan. Di satu sisi, fisik eksternal - sifat internal dari manusia adalah diciptakan oleh Tuhan sesuai dengan karakter diri sendiri. Nilai-nilai dalam tatanan hidup manusia adalah berasal dari Tuhan, manusia seharusnya Mengultivasikan Kebajikan [De] Menghormati Langit, berbuat mengikuti Kehendak Langit untuk membalas karunia Langit; di sisi lain, tubuh manusia merupakan sebuah alam semesta kecil, di dalam <<Huangdi Neijing [Kitab pengobatan dari Kaisar Kuning]>> membahas lima sistem besar dari internal tubuh manusia dengan menggunakan lima organ [Wuzang; paru-paru, jantung, limpa, hati, ginjal] sebagai intinya, serta mengadopsi Lima Elemen dan berbagai sisi beragam aspek dunia eksternal sebagai padanan alam semesta, yang juga disebut “Manusia Selaras dengan Jalan Langit [Tao Langit]”. Manusia bila Xiulian dengan mengikuti Jalan Langit [Tao Langit] dapat terjaga kesehatannya, bahkan dapat memperoleh Tao -- pulang kembali ke Kerajaan Langit Tuhan. Ini adalah kebudayaan Xiulian yang menjelujur dalam peradaban bangsa Tionghoa.

Berbagai aspek dari Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa adalah terhubung dengan Langit, tubuh manusia - Yin Yang - Lima Elemen - Bagua - Taiji - Hetu - Luoshu - pengobatan tradisional Tiongkok - karakter tulisan - musik …… semuanya saling berpadanan dengan komposisi dari seluruh sisi alam semesta, manusia menyebutnya “Holografik [Holographic Principle]”. Orang yang paham akan mengerti dengan melihat hubungan terkait di dalamnya, di antaranya ada lingkup alam semesta - ada fenomena Langit - ada Yin Yang - ada Pi dan Tai [kombinasi trigram Bagua] - ada Baik dan Jahat - Iblis Akan Membuat Kekacauan - Nasib Buruk Turun Menimpa - Tuhan Akan Menolong Manusia - Manusia Harus Menentukan Pilihan -- dan lain-lain.

Di tengah proses merusak Kebudayaan Tradisional, iblis merah komunis juga melakukan bedah pada tubuh manusia, sayatan demi sayatan -- memotong jiwa - kehidupan - pengetahuan milik manusia hingga putus dengan Tuhan, agar manusia kebingungan dan tersesat, tidak bersedia memahami apa yang terlihat -- yang bahkan bila bersedia pun juga tidak dapat memahami kandungan makna dari kebudayaan yang terhubung dengan Langit. Tujuan dan taktik dari iblis merah adalah memutus hubungan antara manusia dengan Tuhan. Manusia bila tidak dapat memahami kandungan makna dari Kebudayaan Tradisional, maka kriteria moral akan hilang, perilaku umat manusia akan bermutasi dan jatuh terdegradasi, bahkan akan dimusnahkan, ini tepatnya adalah cara iblis merah mewujudkan tujuan terakhirnya.

3) Jalan Hidup yang Menghormati Tuhan Menyembah Langit telah Dihancurkan

Setelah merebut Takhta Tuhan, roh jahat komunis secara menyeluruh telah mengatur kembali isi dan cara hidup manusia.

Dalam tradisi bangsa Tionghoa, melakukan persembahan untuk menghormati Tuhan adalah acara besar negara yang menjadi prioritas utama, kepentingannya berada di depan urusan militer. Menghormati Tuhan merupakan fenomena kebudayaan dan realitas kehidupan yang paling signifikan - yang paling penting dalam tradisi bangsa Tionghoa selama ribuan tahun.

Bagi orang Tiongkok, Tuhan berada di mana-mana, dari lahir tua sakit mati - melakukan pernikahan mengikat jodoh - melahirkan dan membesarkan anak - mengecap pendidikan mengejar karier - keberuntungan kekayaan dan nasib, segala hal dari keberuntungan dan kemalangan -- kesuksesan dan kegagalan, juga ada pengaturan dari Dewa-dewa di berbagai tingkat berbeda. Pepatah lama mengatakan “Tiga kaki di atas kepala ada Dewata”. Di atas para Dewa, adalah “Tuhan di atas Langit” atau “Kaisar Langit” - “Maha Kaisar”. “Kaisar Langit” di zaman Tiongkok kuno -- secara khusus merujuk pada “Dewa Tertinggi” alam semesta, disebut “Sang Pencipta”, namun bukan pengertian umum dari para Dewa.

Oleh karena itu, Kebudayaan Tradisional selalu menekankan Menghormati Tuhan Menjunjung Buddha, manusia harus Menghormati Tuhan Menyembah Langit -- agar terhubung dengan Tuhan, mengultivasikan Kebajikan [De] dengan mengikuti Kehendak Langit, memohon perlindungan-Nya dan peruntungan baik, ini adalah jalan hidup dari bangsa Tionghoa.

Dalam masyarakat tradisional, orang-orang percaya bahwa fundamen dari etika masyarakat - nilai-nilai moral adalah ditetapkan oleh Tuhan di atas Langit untuk manusia, dan menyebutnya “Hati Nurani Prinsip Langit”. Setelah melakukan hal buruk walaupun tidak ada orang yang melihatnya, namun “Tuan Langit Memiliki Mata” dapat melihatnya. Kebaikan dan Kejahatan ada balasannya masing-masing -- ini merupakan pengetahuan umum yang dasar, orang-orang yang terus melakukan kejahatan besar, seperti yang terjadi sekarang ini -- susu bubuk beracun [Skandal susu Tiongkok 2008 yang mengandung melamin] - minyak selokan [proses daur ulang minyak goreng dari tempat pembuangan] - melihat orang sekarat namun tidak menolong [fenomena yang terjadi di masyarakat Tiongkok] dan lain-lain, yang dikutuk sebagai “Biadab [lit: dibasmi Langit]”, tidak saja diri sendiri akan mendapat hukuman dari Tuhan di atas Langit, tapi juga akan membawa bencana bagi leluhur dan anak cucu.

Orang Tiongkok percaya, bahwa Tuhan menggunakan prinsip Langit yang abadi untuk mengukur segala sesuatu di dunia manusia. Prinsip Langit yang tidak berubah semacam ini, telah membangun nilai-nilai moral dasar yang membuat masyarakat stabil dalam perjalanannya.

Dalam Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa, raja monarki yang dijunjung oleh generasi selanjutnya seperti Shennong - Huangdi - Kaisar Yao - Kaisar Shun, hingga Xia Yu [Da Yu] -- semuanya pernah mengadakan upacara Menyembah Langit - Menyembah Bumi di gunung Tai [Taishan], yang disebut “Fengshan [lit: mempersembahkan]”. “Tian Tan [lit: Altar Langit; terletak di Beijing]” yang didirikan oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming selama delapan belas tahun, menjadi tempat Menyembah Langit dari dua dinasti -- Ming dan Qing, luas areanya empat kali lebih besar dari Kota Terlarang (Istana Terlarang), dan merupakan bangunan untuk memberi persembahan paling besar dalam sejarah Tiongkok.

Sebelum berdirinya partai komunis Tiongkok, kuil - biara Tao - Aula sembahyang - Aula Buddha memenuhi seluruh Tiongkok. Begitu memasuki kuil, selain patung Dewa dan Buddha yang welas asih, juga ada Vajra [Jingang] - Panguan [Hakim Neraka dalam mitologi Tiongkok] yang mengesankan dan lain-lain, atmosfer yang sakral dan tenteram serta dunia kata-kata yang menyambar mata, secara alami membuat orang merasakan kesakralan dan hormat yang mendalam.

Roh jahat komunis telah menghancurkan hingga berkeping-keping semua patung Dewa dan kuil yang membuat manusia di dalam hidupnya terus terhubung dengan Tuhan setiap saat, dan juga melalui tipuan -- mencuci-otak orang Tiongkok agar secara menyeluruh terpisah dengan jalan hidup tradisional. Kebudayaan Partai menggunakan dua kata “Kepercayaan Sesat [Takhayul]” untuk memotong habis segala detail yang mempunyai hubungan dengan Tuhan dalam kehidupan manusia. Sekarang ini kandungan makna pemikiran tentang “Tuhan” telah diberantas dari kehidupan sehari-hari orang Tiongkok. Ketulusan dan kerendahan hati dalam menyembah Tuhan telah diganti menjadi sumpah darah “Bertarung hingga Akhir Hayat” saat bergabung dengan partai - liga pemuda - pionir muda dari roh jahat yang merebut Takhta Tuhan, bahkan yang sudah meninggal pun diganti menjadi bertemu dengan Karl Marx -- pengikut ajaran sesat satan dari Barat. Orang-orang tidak pernah terpikir, bahwa berjuang sepanjang hidup demi ajaran sesat komunis adalah pengkhianatan terhadap Tuhan, adalah “Menumpahkan Darah Mengorbankan Nyawa [Paotoulu Sarexue; merupakan lagu untuk membakar semangat selama perang anti Jepang]” demi roh jahat yang merebut Takhta Tuhan.

Kenyataannya partai membuat orang benar-benar terpisah dengan Tuhan. Partai komunis Tiongkok telah mengubah “Tuhan” menjadi sebuah konsep kosong di dalam hati orang-orang. Ketika “Tuhan” telah menjadi sebuah konsep abstrak yang sederhana, maka telah kehilangan hubungan dengan kehidupan sehari-hari manusia. Manusia zaman sekarang secara kasar hanya mengetahui, bahwa memohon pada Tuhan adalah demi mempunyai anak - memperoleh kekayaan - naik jabatan - lulus sekolah, sedikit sekali yang tahu bahwa acap kali yang datang karena permohonan itu sebenarnya adalah Rubah Cerperlai-kuning Hantu Ular. Tuhan ingin menolong manusia, namun manusia sudah tidak mengenali Tuhan, sebaliknya malah memohon dan menyembah setan iblis, bukankah itu sangat berbahaya!

4) Membangun Medan Ajaran Iblis yang Berkebudayaan Partai

Hanya merampok habis segala yang diciptakan oleh Tuhan dari manusia, roh jahat komunis sama sekali tidak puas. Demi merealisasikan tujuan terakhirnya, pada saat yang sama di dunia -- ia telah membangun sebuah Medan Ajaran Iblis yang Berkebudayaan Partai, agar manusia “secara alami” hidup di dalamnya dan sama sekali tidak menyadarinya. Sejak pembantaian dengan kekerasan dimulai -- partai telah memaksa orang-orang hidup di dalamnya, setibanya “Menipu” besar-besaran -- manusia telah dibuat terbiasa hidup di dalamnya, sampai manusia beranggapan dunia memang demikian terbentuknya, secara sadar tunduk pada peraturan dan batasan dari medan materi ini, berpikir dengan pikiran partai komunis - berkata dengan perkataan partai komunis. Partai berkata “Tanpa partai komunis maka tidak akan ada masa depan untuk Tiongkok”, orang-orang lalu berpikir, “Dengan meninggalkan partai komunis, siapa yang dapat memimpin negara kita”; partai berkata “Anti-partai berarti Anti-Tionghoa”, orang-orang lalu campur aduk kebingungan antara siapa yang partai -- siapa yang orang Tionghoa.

Dalam negara partai, warga negara tidak percaya dengan kemerdekaan, tidak dapat secara independen memilih kepercayaan. Manusia tidak percaya adanya Tuhan, tidak tahu bahwa diri sendiri memiliki hak untuk percaya pada Tuhan, trik jahat partai komunis telah berhasil.

Orang yang memiliki kepercayaan -- semuanya tahu bahwa Tuhan menyelamatkan manusia, juga ada dunia Kerajaan Langit yang berpadanan. Partai juga menirunya dengan menciptakan sebuah lingkup hidup yang berkebudayaan partai untuk orang Tiongkok, sebuah lingkungan materi dunia manusia yang tidak memiliki Tuhan dan tersegel rapat.

Kebudayaan Partai memiliki seperangkat kriteria hidup, juga memiliki seperangkat sistem bahasa, yang secara komprehensif mencakup seluruh detail kehidupan negara partai. Di antaranya terdapat redefinisi dari “Surga”, ada teori yang memfitnah - menyangkal Tuhan, ada konstitusi partai ajaran iblis milik partai, ada aktivitas dan regulasi organisasi dari ajaran iblis partai, ada rencana tindakan [action plan] untuk merealisasikan tujuan roh jahat, ada ideologi panduan “Revolusi”, ada langkah perjalanan organisasi dan langkah perjalanan kader dari ajaran iblis partai, ada gelar untuk staf pengajar ajaran iblis partai, ada peluncuran dan pelaksanaan “gerakan”, ada prosedur kerja untuk mengubah manusia, ada kriteria audit untuk promosi anti moral, ada sistem penghargaan dan hukuman yang bertentangan dengan Hati Nurani Prinsip Langit, ada pelatihan untuk mengubah manusia dan melukai orang, ada mekanisme cuci otak, ada institusi yang menyebarkan ajaran sesat dan keliru, ada media yang selain tanggal -- tidak ada satu pun perkataan yang benar, ada seni yang ketika memerankan orang baik tidak mirip - menampilkan orang jahat tanpa perlu berpura-pura …… semuanya seperti ini, tak satu pun yang benar.

Partai mengulang ratusan kebohongan, yang akhirnya telah menjadi prinsip sejati [kebenaran] dan tujuan ke depan. Kesombongan partai yang bernafsu untuk menaklukkan dunia, telah menjadi kebanggaan warga negara. Partai memberi manusia sebuah “kecukupan dan kemakmuran [xiaokang; diambil dari istilah Konfusianisme -- xiaokangshehui; digunakan di masa Hu Jintao-- tentang kebijakan ekonomi untuk mewujudkan persamaan distribusi kekayaan; di masa Xi Jinping menjadi salah satu isi dari 4 Komprehensif]” yang datangnya perlahan namun sama sekali tidak memenuhi kualifikasi, orang-orang menjadi sangat puas, dari orang miskin akhirnya berubah menjadi orang kaya yang penuh gembar gembor. Jika partai memberi sedikit kenaikan gaji ke semua orang, mencetak uang kertas dengan nominal seribu Yuan, namun esok harinya membuat kualitas hidup manusia berjatuhan, janganlah terkejut. Taktik partai selalu berubah-ubah - boleh berubah berulang kali, namun esensi dari partai tidak berubah - juga tidak akan berubah.

Dalam Kebudayaan Partai masih ada jurus “Ketakutan”. Partai juga tahu bahwa diri sendiri terlalu jahat, sekarang apa boleh buat -- orang-orang mencaci partai. Baiklah, kalau begitu biarkanlah orang-orang menggerutu. Jika berani mengkritik secara kritis, Gao Zisheng dan pengacara lainnya yang mendukung keadilan adalah “contohnya”. Di dalam situasi partai komunis Tiongkok dihambat untuk merenggangkan tubuh, begitu menyentuh garis batas yang tidak diizinkan partai, maka akan menjalani hukuman penjara yang kejam. Orang tidak berani menyentuh saraf sensitif partai, tidak berani menantang garis bawah partai yang rapuh, ini karena Ketakutan sebenarnya ada di mana-mana. Walaupun hidup di luar Tiongkok, Ketakutan juga terbawa mengikuti tubuh -- tidak mau lepas, walau tutup pintu, lalu bersembunyi di dalam toilet juga belum tentu berani mencaci partai. Ini sungguh merupakan sebuah medan materi Kebudayaan Partai yang sangat sulit dihindari, bahkan dapat “Melampaui batasan ruang waktu”, pergi kemana pun selalu terbawa.

2. Bahasa dan Tulisan Hasil Warisan Dewa vs Karakter Mandarin dengan Sistem yang Rusak

1) Tulisan Hasil Warisan Dewa, Menampung Catatan Rahasia Langit

Bahasa dan tulisan merupakan komponen utama dari Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa. Berbeda dengan tulisan lain di dunia, karakter Mandarin sangat mirip dengan karakter di atas langit, hanya saja goresannya tidak sama, pengucapan karakter Mandarin juga memiliki hubungan yang terkait dengan alam semesta.

Raja suci kuno -- Fuxi menengadah melihat fenomena Langit [astronomi], menunduk mengamati prinsip Bumi [geografi], mempelajari bahasa burung dan binatang, secara dekat melihat tubuh sendiri, secara jauh mengamati semua makhluk, lalu telah menciptakan buku ukiran dan Bagua, yang digunakan untuk terhubung dengan Tuhan sekaligus menampilkan situasi dari semua makhluk di antara Langit dan Bumi. <<bagian Xi Ci dari Yi Jing [Zhouyi]>> mencatat, “Setelah Bagua tercipta, setiap pasang [trigram] saling bertumpuk, menjadi enam puluh empat bentuk dan juga menjadi perubahan [Yi], segala hal di kolong Langit telah tercakup di dalamnya, tidak ada yang ketinggalan”. Ini agar generasi selanjutnya dapat melalui enam puluh empat bentuk dari Yi Jing memahami Kehendak Langit. Sejak awal berdiri, Kebudayaan bangsa Tionghoa memang memiliki makna mendalam - langsung terhubung dengan Langit, secara menyeluruh merefleksikan wujud sejati dari Langit dan Bumi di alam semesta, yang disebut dengan “Holografik [Holographic Principle]”. Perubahan [Yi] aslinya tidak memiliki tulisan, dan disebut sebagai kitab Langit tanpa tulisan.

Dengan cara yang sama, kepada manusia -- Tuhan telah mewariskan tulisan yang memudahkan untuk mencatat dan digunakan, dikarenakan Bagua dan karakter Mandarin -- keduanya merupakan refleksi Holografik dari esensi semua makhluk di antara Langit dan Bumi, maka orang-orang juga dapat memahami Kehendak Langit dengan memeriksa karakter. Di era Huangdi [Kaisar Kuning], Dewa Changjie [sejarawan pada masa pemerintahan Huang Di, menurut legenda memiliki empat mata] dengan merujuk pada Bagua milik Fuxi, telah menciptakan karakter Mandarin. Dari karya Changjie “Menyusuri Perubahan Langit dan Bumi, Menengadah Terlihat Pola Belokan Melingkar dari Rasi Kuixing [Great Bear, salah satu dari 28 rasi bintang Tiongkok], Menunduk Mengamati Guratan-Penyu [di atas tempurung] Bulu-Burung Gunung-Sungai Jari-Telapak lalu Menciptakan Tulisan” (<<Tunas Kehidupan Pertama Musim Semi-Gugur >>) dapat ditemukan, bahwa karakter Mandarin dan Bagua mempunyai sumber yang sama, prinsip mekanismenya juga terhubung dengan Langit. Dengan ini orang Tiongkok mengamati fenomena Langit, untuk memahami Kehendak Langit, dan menuruti perubahan Jalan Langit [Tao Langit] - pertanda Langit dan fenomena Langit; menjalankan dan mempelajari Ilmu Manusia [Humaniora], belajar menjadi makhluk hidup di kolong Langit yang beradab, membangun fondasi kebudayaan dari setiap dinasti setiap generasi yang berkelanjutan tanpa henti, sehingga membentuk Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa yang berumur lima ribu tahun.

Peradaban bangsa Tionghoa terlahir dari ciptaan Tuhan, adalah saling terkait dan terhubung dengan Tuhan, kandungan maknanya luas mendalam. Karakter Mandarin adalah alat untuk meneruskan dan mencatat Kebudayaan Hasil Warisan Dewa bangsa Tionghoa, kandungan maknanya harus luas sampai mencukupi untuk meneruskan sistem Kebudayaan Hasil Warisan Dewa yang begitu tinggi mendalam dan megah serta tidak ada yang ketinggalan. Di Timur dan Barat juga ada orang yang berkata, tulisan kuno Tiongkok seperti “Buku Langit”. Ini dikarenakan tulisan kuno Tiongkok sungguh berisikan rahasia Langit, memuat Tao untuk semua makhluk di antara Langit dan Bumi.

2) Bahasa Percakapan Bangsa Tionghoa, Penuh Terisi Sifat Dewa

Bahasa dari Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa di saat itu, sepenuhnya berbeda dengan bahasa hari ini yang telah bermutasi karena percakapan partai komunis dan berbagai macam ideologi modern, hanya dengan membandingkan interpretasi huruf “Tuhan” yang berbeda dalam <<Kamus Kangxi [kamus kompilasi yang dibuat pada era Kaisar Kangxi]>> dan <Kamus Xinhua [kantor berita Tiongkok]>> -- sudah dapat terlihat jelas hal ini.

<<Kamus Kangxi>>: “Tuhan, {Shuowen [Shuowen Jiezi; ditulis oleh Xu Shen dari dinasti Han]} Dewa Langit, yang memberi sari ke semua makhluk. {Xuyue [salah satu kamus kuno]} karakter Shen [luas] tertarik dengan karakter Yin [pemandu], Penguasa Langit Menurunkan Qi [Napas], Memberi Perasaan Semua Makhluk, Dengan Sabda Memberi Sari Semua Makhluk. Juga {Huangji Jingshi [karya Shao Yong dari dinasti Song Utara]} Dewa dari Langit -- Tinggal di Matahari, Dewa dari Manusia -- Tinggal di Mata. Yang juga disebut dengan Shenming …… [lit: Dewa Terang; Ming/Terang berasal dari gabungan dua kata yaitu Matahari dan Mata]”

<<Kamus Xinhua>>: “Tuhan, oleh orang takhayul disebut sebagai Pencipta semua makhluk di antara Langit dan Bumi dan jiwa yang disembah setelah manusia meninggal dunia; contoh penggunaan: Dewata [Shenxian]. Dewa dan Siluman [Shenguai]. Dewa Penguasa [Shenzhu]. Kuil Shinto [Shenshe]. Shennong. Pastor [Pelayan Tuhan; Shenfu]. Teokrasi [Kekuasaan Tuhan; Shenquan]. Hasil Perbuatan Dewa dan Iblis [Guishi Shenchai].

Dalam Kebudayaan Tradisional -- dua istilah “Kebudayaan” dan “Peradaban”, serta pemahaman dari tulisan yang membentuk dua istilah ini, juga berbeda jauh dengan penjelasan di dalam kamus partai komunis Tiongkok.

(1) Kebudayaan [Wen Hua]

“Ilmu [Wen]” dari kebudayaan Tiongkok, berasal dari raja suci yang mengevolusikan “Ilmu Langit [Tian Wen]” (fenomena Langit) sehingga menjadi “Ilmu Manusia [Ren Wen]”. “Mengajar [Hua]” dari Kebudayaan bangsa Tionghoa, merujuk pada pemimpin suci yang mengajarkan peradaban ke seluruh rakyatnya.

Kamus Xinhua: Hua

Kamus Kangxi: Hua

Perubahan karakteristik atau bentuk: Berubah [Bian Hua]. Digunakan setelah kata benda atau kata sifat, menyatakan transformasi menjadi suatu karakteristik atau kondisi; contoh penggunaan: memfitnah [Chou Hua]. Menghijaukan [Lu Hua]. Tradisi, kebiasaan umum; contoh penggunaan: Ada kebiasaan yang buruk [You Shangfeng Hua]

{Shuowen} Hua, mengajarkan jalannya.

{Daodejing.Laozi} Saya bersikap Wuwei namun rakyat belajar sendiri. Dengan menggunakan De [Kebajikan] mengajari rakyat menjaga ucapannya.

{Yunhui [Kamus di era dinasti Yuan Mongol]} Langit Bumi -- Yin Yang -- Bergerak Teratur, Diri Memiliki Namun Nihil, Diri Nihil Namun Memiliki, Semua makhluk hidup sesuai norma -- itulah Hua.

Dengan perbandingan dua belah pihak maka dapat terlihat “Hua” yang Tradisional dan “Hua” yang sekarang -- bukan saja relatif tidak sama, bahkan sepenuhnya berbeda bagaikan langit dan bumi. Dalam Kebudayaan bangsa Tionghoa, makna asli “Hua” adalah, semua makhluk -- hidup untuk belajar, dan dengan belajar mendidik semua makhluk. Ini merupakan rahasia sejati dan mukjizat Tuhan yang terkandung dalam Kebudayaan bangsa Tionghoa. Sedangkan iblis merah komunis menekan ruang pemikiran manusia, sehingga membuatnya menjadi sempit, juga menyebabkan manusia terpisah dari Rahasia Langit Warisan Dewa dalam Kebudayaan.

“Hua” yang Tradisional secara permukaan juga memiliki makna “Mengajar”, orang suci dengan De mengajari rakyat menjaga ucapannya. Di dalam sejarah panjang selama lima ribu tahun, setiap kali menciptakan suatu fenomena kebudayaan, Tuhan harus mengatur fenomena Langit, diri sendiri harus turun bereinkarnasi menata panggung, memimpin satu generasi atau beberapa generasi manusia untuk dididik secara praktek, mengajari manusia agar memahami maknanya, mengerti untuk menghargai - mematuhi, mengajari bagaimana menghormati dan menjaganya, sehingga menjadi karakteristik dan kualitas dari bangsa Tionghoa. Ini seperti kisah “Rasa Patuh pada Langit dan Bumi [Kisah hidup Kaisar Shun yang menjadi Legenda]” dari Kaisar Shun yang sangat digemari oleh orang-orang, “Yi [kebenaran]” yang ditampilkan oleh kumpulan pahlawan selama era Samkok [Kisah Tiga Negara], dan juga “Zhong [loyalitas]” yang diwariskan oleh bangsa Tionghoa dalam kisah Yang Liu Lang dan Yuefei di zaman dinasti Song Utara-Selatan dan lain-lain.

(2) Peradaban [Wen Ming]

“Ming [Terang]” dari peradaban bangsa Tionghoa: Bersinar Menerangi Empat Penjuru

Kamus Xinhua: Ming

Kamus Kangxi: Ming

“Benderang [Liang]”, berlawanan dengan “Gelap”; contoh penggunaan: Terang Benderang [Ming Liang]

{Shuowen} Menyinarinya

{Shu} Bersinar Menerangi Empat Penjuru -- disebut dengan Ming.

Dalam makna asli “Ming” ada berisikan “Bersinar Menerangi Empat Penjuru” -- sepenuhnya ditutupi - dihapus oleh partai komunis Tiongkok. Peradaban adalah Kebudayaan Hasil Warisan Dewa yang memberi manusia daya kemampuan untuk simbiosis [hidup bersama] dengan alam semesta, membuat daya hidup terus membubung, tumbuh berkembang tanpa henti. Juga berarti, yang sesuai dengan Jalan Langit [Tao Langit] akan makmur - masa depan cerah, akan tumbuh berkembang tanpa henti. Ini adalah esensi dan mekanisme dari Kebudayaan Hasil Warisan Dewa.

Karena itu kami memahami, bukan artinya “Pernah eksis dalam sejarah atau di masa jauh lampau” lalu disebut dengan “Tradisional”, bukan artinya “Upacara Megah” lalu disebut “Kebudayaan”. Kebudayaan yang sesuai dengan Jalan Langit [Tao Langit] - yang dapat membuat alam semesta terus tumbuh tanpa henti, termasuk moralitas - etika - jalan hidup, itu barulah Kebudayaan Tradisional Tiongkok dalam arti yang sebenar-benarnya.

3) Partai Komunis Tiongkok Merusak Tulisan Hasil Warisan Dewa

Dikarenakan karakter Mandarin memiliki kandungan makna yang terhubung dengan Langit, dan karakter Mandarin merupakan sistem tradisional untuk meneruskan Kebudayaan Tradisional lima ribu tahun, maka bila ingin memutus hubungan antara orang Tiongkok dengan Tuhan - dengan tradisi, partai komunis Tiongkok harus berpikir keras untuk memusnahkan karakter Mandarin. Sejak periode Yan’an [pusat komunis di era perang] dimulai, partai komunis Tiongkok telah mendirikan agen khusus untuk mereformasi karakter Mandarin, setelah merebut kekuasaan kembali mendirikan “Komite Reformasi Tulisan Tiongkok”. Sejumlah orang yang disebut ilmuwan menuruti kendali roh jahat, ingin terus menyederhanakan karakter Mandarin, yang pada akhirnya menggunakan simbol Pinyin romawi untuk menggantikan, dan disebut dengan “Romanisasi Karakter Mandarin [menggunakan huruf Latin untuk menulis karakter Mandarin]”.

Karakter Mandarin warisan Dewa merupakan benda Dewa, dengan menyederhanakan karakter Mandarin, berarti telah melanggar Kehendak Langit, juga telah merusak daya magis dari karakter Mandarin asli. Hasilnya adalah karakter Mandarin sederhana yang labil -- tidak mempunyai ciri khas apa pun, tak terelakkan akan timbul kekacauan dan pengaruh yang tidak baik.

Selama ribuan tahun ini, berjuta-juta orang telah menaruh banyak perasaan terhadap karakter Mandarin; penggunaan dalam berbagai dinasti, karakter Mandarin telah menuang - mengumpulkan - mengonsentrasikan berbagai informasi yang kaya, berisikan energi yang besar, membuatnya menjadi bentuk eksistensi dari sebuah medan. Setiap karakter Mandarin meresap berbagai macam perasaan - pemikiran - suasana hati -daya persepsi dan daya imajinasi, juga ada sifat manusia - sifat Dewa dan sifat sajak yang menjadi karakteristik bangsa Tionghoa. Energi dan medan semacam ini menciptakan pengaruh tak terlihat terhadap mental - pemikiran manusia.

Misalnya: ketika melihat huruf “Tuhan”, maka akan membuat orang-orang tumbuh semacam perasaan hormat dan disirami belas kasih, juga mengekang diri secara tanpa sadar, dan mengurangi timbulnya pikiran jahat. Begitu menyinggung kata “iblis”, maka akan terasa teror dan jahat, akan terpikir: Raja iblis - cakar iblis - iblis siluman - iblis hantu - genggaman iblis - sarang iblis - daya iblis - iblis jahat - setan iblis dan lain-lain; begitu mengucapkan huruf “Sejati [Zhen]”, maka akan merasakan kebenaran murni - Qi [energi] positif dan kebaikan hati. Begitu bertemu huruf “Palsu”, maka akan merasakan tipuan - hina.

Bentuk sembarangan yang tercerai-berai dari karakter Mandarin sistem sederhana, berbeda jauh dengan Tulisan Hasil Warisan Dewa, dan telah merusak energi yang dihasilkan oleh tulisan sistem tradisional yang asli, juga memancarkan energi mutasi yang dihasilkan sebagai efek penyederhanaan. Misalkan menyederhanakan huruf “Masuk [進]”: “Masuk”: huruf bantu Berjalan [辵], ditambah dengan “Indah [佳]”, yang artinya makin melangkah makin “Indah”. Namun ketika disederhanakan menjadi “Masuk [进]”, “Indah [佳]” telah diganti menjadi “Sumur [井]”, maka makin melangkah makin terjatuh dalam “Sumur”. Energi positif telah berubah menjadi energi negatif. Namun sejumlah tulisan sistem tradisional yang membawa energi negatif malah kebanyakan tidak diubah: iblis [魔] masih tetap iblis [魔], setan [鬼] masih tetap setan [鬼], curi [偷] masih tetap curi [偷], tipu [骗] masih tetap tipu [骗], palsu [假] masih tetap palsu [假], kekerasan [暴] masih tetap kekerasan [暴], melukai [害] masih tetap melukai [害], racun [毒] masih tetap racun [毒], busuk [腐] masih tetap busuk [腐], porno [黄] masih tetap porno [黄], cabul [淫] masih tetap cabul [淫].

Dengan dalih menyederhanakan karakter Mandarin, partai komunis Tiongkok telah menyingkirkan jiwa yang terekspresi dalam tulisan Kebudayaan Hasil Warisan Dewa dan energi positif di belakangnya yang mengekang - mengatur manusia, agar orang-orang tanpa sadar semakin lama semakin jauh dari Tuhan; sama seperti taktik lain partai komunis Tiongkok yang secara sengaja menghancurkan Kebudayaan Tradisional, agar selangkah lagi lebih maju dalam memutus hubungan manusia dengan Tuhan.

3. Perusakan Partai Komunis Tiongkok Terhadap Kebudayaan Xiulian

1) Kebudayaan Xiulian dalam Kebudayaan Tradisional

Konsep tradisional Tiongkok “Langit dan Manusia Menjadi Satu” menggunakan “Hubungan antara Langit ---- Manusia” sebagai inti pemikiran terhadap persoalan alam semesta dan hidup manusia, ia adalah semacam Pandangan Dunia [World Outlook] dan Pandangan Semesta [Universe Outlook]. Manusia percaya terhadap eksistensi dari bentuk kehidupan yang lebih tinggi dari manusia, yang disebut dengan Buddha - Tao - Dewa adalah tempat berlabuh kehidupan yang diimpi-impikan oleh manusia.

“Langit dan Manusia Menjadi Satu” telah mengakui eksistensi dari “Langit”, karena “Langit disebut Tuhan”, maka juga telah mengakui eksistensi dari “Tuhan”. “Sang Tuhan, Asal dari Langit Bumi, Juga Menjadi Awal dari Semua Makhluk [oleh Liu Xiang di era Dinasti Han].” Bila hati nurani dan moralitas dalam hati manusia -- sesuai dengan prinsip Langit, maka manusia ini tepat merupakan seorang manusia yang mampu menjadi satu dengan Langit.

Manusia Berasal dari Langit, Kembali ke Langit ---- Kebudayaan Xiulian bangsa Tionghoa mempunyai sejarah yang sangat panjang.

Di mata orang-orang Tiongkok kuno, “Tao” adalah sumber dari semua makhluk - sumber dari kehidupan. Laozi berkata “Manusia mengikuti Hukum Bumi, Bumi mengikuti Hukum Langit, Langit mengikuti Hukum Tao, Tao mengikuti Hukum Alam”, Dia telah merinci hubungan manusia dengan Alam, dan mengungkap bahwa segala hal dan makhluk dalam alam semesta harus mengikuti karakteristik Alam Semesta dan juga pola gerakan yang tumbuh berkembang tanpa henti. “Mengamati Tao dari Langit, Melaksanakan Jalan dari Langit [isi dari Huangdi Yifujing atau Kitab Pusaka Tersembunyi Kaisar Kuning]”, telah memberitahukan prinsip berperilaku dan menangani urusan, yaitu tindak tanduk orang-orang seharusnya sesuai dengan Jalan Langit [Tao Langit], sehingga seluruh tubuh dan pikiran dari diri sendiri secara alami menyatu dengan Jalan Langit [Tao Langit], dengan demikian barulah dapat mengharmoniskan segalanya, dikarenakan kolong Langit akan menjadi tempat untuk pulang kembali, dengan demikian -- juga barulah dapat bertahan lama. Dengan menggunakan teori dua aliran Buddha dan Tao, kepercayaan kepada Tuhan adalah jelas, Mereka sendiri tepatnya adalah membimbing manusia untuk menjadi Buddha dan menjadi Tao melalui Xiulian [kultivasi diri]. Dalam sejarah banyak sekali pelajar dengan De besar yang berkultivasi Buddha dan mengikuti Tao -- proses kultivasinya dan bagian akhir mencapai kesempurnaannya sendiri telah memperkaya kebudayaan dari dua aliran Buddha dan Tao.

Manusia bila ingin menyelidiki prinsip sejati alam semesta, manusia bila ingin mencari Tuhan - mencari tempat berlabuh diri sendiri, pertama-tama harus tuluskan niat, menata sikap dengan benar. Tuhan sama sekali tidak memandang penting kaya miskin dan terhormat rendahan di dunia manusia, hanya melihat hati manusia.

Zhang Sanfeng [tokoh Tao legendaris Tiongkok; pencipta Taijiquan] dalam karyanya <<Pandangan Maha Tao [Dadaolun]>> menjelaskan prinsip Xiulian, berkultivasi Tao harus terlebih dulu berkultivasi tubuh, berkultivasi tubuh harus terlebih dulu meluruskan hati dan tuluskan niat, rahasia Langit akhirnya akan menitis. “Saya berharap manusia generasi selanjutnya berkultivasi Tao Ortodoks ini, itu sebabnya bicara terus terang. Berkultivasi Tao menganggap kultivasi tubuh paling utama, dengan demikian kultivasi tubuh harus terlebih dulu meluruskan hati dan tuluskan niat. Niat tulus dan hati lurus, kemudian semua nafsu materi disingkirkan, setelahnya menekankan membangun akar dari fondasi.” Mementingkan De Melaksanakan Kebaikan [Shan], Berkultivasi Tubuh Meluruskan Hati, itu tepatnya adalah fundamen dari Xiulian.

Bagi orang Tiongkok dalam sejarah, berkultivasi Buddha dan berkultivasi Tao, tidak saja bukan takhayul, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan mereka. Xiulian sama sekali bukan cara untuk mencari bantuan bagi orang yang tidak memiliki tekad, bahkan dalam berbagai dinasti dan generasi -- ketika kaisar dinasti saat itu menikmati semua kekayaan dan kekuasaan dunia, juga masih harus Xiulian mengikuti Tao. Huangdi [Kaisar Kuning] mempelajari Tao dengan Guang Chengzi [tokoh Tao dalam kisah klasik Fengshen Yanyi; salah satu murid Yuanshi Tianzun], Hening Berkultivasi Melatih Tubuh, ketika berumur seratus dua puluh tahun -- mengendarai naga dan membubung ke langit di siang hari; Tang Taizong [Kaisar dinasti Tang; Li Shimin] secara pribadi menyambut Xuanzang [Biksu Tang dalam kisah perjalanan ke Barat] sekembalinya mengambil kitab dari Langit Barat [Xi Tian; juga biasa dianggap India], sehingga membuat Fa Buddha di Daratan Timur wilayah Tang Agung tersebar luas; Jenghis Khan tiga kali memanggil pendeta Tao -- Qiu Chuji [murid Wang Chongyang dari aliran Quanzhen], menanyakan cara memimpin negara dan menjaga kesehatan; banyak kaisar juga menghormati Buddha - menyembah Tao - memberi persembahan ke Langit.

2) Bagaimana Partai Komunis Tiongkok Merusak Kebudayaan Xiulian

Sejak era Xuan Yuan Huangdi [Kaisar Kuning] dimulai, Sejarah Tiongkok selalu mencatat kebudayaan Xiulian manusia menjadi Dewa, yaitu praktik kehidupan yang diketahui oleh orang-orang -- Balik ke Asal Kembali ke Sejati - Berkultivasi Hati Mengarah Kebaikan [Shan]. Inti sari dari Kebudayaan Tradisional inilah, yang justru berusaha dihancurkan oleh roh jahat komunis.

Roh jahat komunis membuat orang-orang menyangkal kepercayaan kepada Tuhan, menyangkal bahwa manusia dapat meningkat melalui Xiulian, dengan membuat manusia tidak percaya pada Tuhan dan membersihkan ruang yang diisi kepercayaan, barulah dapat membuat orang-orang percaya pada hal yang bersifat iblis. Xiulian harus meluruskan hati dan berniat tulus, sedangkan sifat arogansi merupakan karakter dasar dari setan iblis, sepenuhnya berbeda dengan tuntutan Xiulian. Di mata roh jahat komunis -- tiada Tuhan, di tengah proses merusak kebudayaan Xiulian, secara khusus menanamkan sifat keiblisan dan sifat angkuh yang dominan kepada manusia, tidak membiarkan manusia bersikap rendah hati sebaliknya mendorong manusia untuk puas diri - bangga diri, seperti slogan menyerang Langit melawan Bumi - tiada Fa tiada Langit, agar manusia melangkah menuju arah yang berlawanan - yang tidak sesuai dengan Tuhan.

Di zaman kuno, manusia harus meluruskan hati dan berniat tulus barulah dapat Xiulian, ketika satu sisi sifat Dewa dalam hati telah berperan, barulah dapat memahami dan menyadari karakteristik alam semesta dan Fa yang diajarkan oleh Dewa. Dengan merusak kebudayaan Xiulian, roh jahat komunis memperbesar sifat arogan manusia, membuat manusia memasuki semacam kondisi jiwa yang sepenuhnya bertentangan dengan Tuhan. Menyebabkan manusia modern seperti layaknya radio yang tidak akurat frekuensinya, mudah menerima informasi dari paham komunis, namun sangat sulit memahami kebijaksanaan dan tuntunan dari Tuhan.

Perusakan semacam ini membuat banyak sekali orang Tiongkok zaman sekarang mungkin sudah tidak mengetahui, manusia dapat menggunakan metode Xiulian yang diwariskan oleh Dewa, sungguh-sungguh berkultivasi nyata menjadi Buddha - Tao - Dewa. Dalam sejarah Tiongkok -- banyak sekali kisah kultivasi Buddha - kultivasi Tao, partai membuat orang Tiongkok zaman sekarang mendengarnya bagaikan sebuah “Mitos [Perkataan Tuhan]”, dikarenakan Tuhan sudah tidak eksis, maka sejumlah Mitos [Perkataan Tuhan] ini tentu saja menjadi omong kosong belaka; jika berbicara tentang kultivasi Buddha dan kultivasi Tao, orang kalau tidak merasa ini adalah takhayul feodalisme dan idealisme, maka menyebutnya “Candu Psikologis [Agama adalah Candu; tulisan Karl Marx]”.

Ini adalah konspirasi dari roh jahat komunis yang secara langsung memutus jalan bagi manusia untuk menjadi Dewa, agar banyak sekali pelajar yang berjodoh kehilangan kesempatan Xiulian yang sangat berharga. <<Kisah Perjalanan ke Barat [Kera Sakti; karya Wu Cheng’en]>> telah menuliskan sebuah kisah Xiulian yang lengkap, ada sebuah perkataan di dalamnya yang sangat bermakna: “Tubuh Manusia Ini Sulit Diperoleh, Daratan Pusat Sulit Terlahir, Fa Ortodoks Sulit Ditemukan: Semua Ini Berjumlah Tiga, Adakah yang Lebih Beruntung dari Ini.” Artinya memperoleh sebuah tubuh manusia tidaklah mudah, yang memiliki jodoh pertemuan besar -- lahir di Daratan Pusat, namun karena gangguan dari roh jahat komunis, sehingga tidak mempercayai Xiulian, tidak mengerti kandungan makna dari Fa Ortodoks, dan melewatkan kesempatan memperoleh Fa Ortodoks, jika kehidupan kali ini melewatkannya, menyesal pun sudah terlambat!

(Sumber Dajiyuan)