<<Tujuan Terakhir dari Paham Komunis-Bagian Tiongkok>>

Bab 6. Menggunakan “Kebencian” Mendirikan Negara -- Negara yang Bukan Negara (Awal)

Daftar isi

Kata Pembuka: Partai Komunis yang Menggunakan “Kebencian” Mendirikan Negara

1. Penguat Kejahatan yang Super

2. Partai Komunis Tiongkok Mengubah Manusia Menjadi Bukan Manusia

1) Ideologi

    (1) Sama Sekali Tidak Mengenal Kebudayaan Tradisional, Moralitas Hanya Lembaran Kosong

    (2) Manusia menghadapi manusia seperti layaknya serigala, perbuatan jahat apa pun juga dapat dilakukan

    (3) Manusia dengan manusia bahkan saling Menipu

    (4) Jauh melampaui apa yang disebut Berusaha Demi Keuntungan Semata

    (5) Era Keburukan

2) Bahasa

    (1) Perkataan Partai yang Seperti Vampir   

    (2) Buka Mulut Semua Isinya Perkataan Palsu

    (3) Perkataan Vulgar yang Populer

    (4) Umpatan Kotor yang Merambah Langit Menyelimuti Bumi

3) Perilaku Rendahan

4) Manusia Seperti Makhluk Aneh, Tidak Mirip Penampilan Manusia

******

Kata Pembuka: Partai Komunis yang Menggunakan “Kebencian” Mendirikan Negara

Bagian utama dari roh jahat komunis adalah terbentuk dari “Kebencian”. “Kebencian” adalah sejenis materi, ia memiliki kehidupan, atau boleh juga dikatakan “Kebencian” adalah sejenis kehidupan, juga merupakan unsur dasar yang membentuk roh jahat komunis.

“Kebencian” dan “benci dendam” adalah tidak sama. Benci dendam adalah benci yang timbul dikarenakan adanya dendam, ini ada alasannya dan ada penyebabnya, sedangkan Kebencian adalah tanpa sebab tanpa alasan. Sama seperti Kebencian Satan terhadap Tuhan dan Kebencian Karl Marx terhadap Tuhan, adalah sejenis Kebencian yang sangat jahat. Itu merupakan perasaan ganas dan materi sampah yang mempunyai rasa iri hati - rasa dendam - ambisi untuk menumbangkan Sang Pencipta - yang menjadi andalan bagi roh jahat dalam mempertahankan eksistensi kehidupannya.

“Kebencian” telah menyebabkan sifat Anti Tuhan dan menentang Tuhan. Dengan mengakui adanya hierarki kehidupan dalam alam semesta - mengakui bahwa Tuhan adalah kehidupan tingkat tinggi barulah dapat menghormati Tuhan, sedangkan Satan dikarenakan Kebencian dan iri hati, tidak bersedia mengakui bahwa Tuhan lebih tinggi dari dirinya, ini sebabnya menantang Tuhan, sehingga dijatuhkan ke bawah oleh Tuhan.

Roh jahat komunis terbentuk dari Kebencian, ia juga dengan saksama menuangkan Kebencian ke dalam hati manusia, menuang masuk unsur materi Kebencian ke dalam lapisan mikroskopis tubuh manusia, sehingga membuatnya menjadi bagian dari kehidupan manusia, dan agar ia membangkitkan hal jahat dari dalam sifat manusia, seperti iri hati - bersaing - kejam - ketagihan membunuh dan lain-lain. Ini sebabnya, di dalam medan materi komunis Tiongkok, hampir semua manusia terendam dalam Kebencian, hampir setiap orang memiliki sejenis Kebencian yang licik tak terbayangkan. Asalkan roh jahat komunis menghasut dan memprovokasi, materi semacam ini yang dimuntahkan, segera akan berubah menjadi energi negatif yang sangat besar, dengan cepat menutupi lingkup eksistensi manusia.

Sebagai kekuatan motif -- “Kebencian” telah mendorong lahirnya kekerasan - pembantaian. Pada tahun 1870-an, Komune Paris yang dimulai oleh para berandal untuk pertama kalinya -- telah mempraktikkan teori paham komunis dalam merebut kekuasaan politik dengan kekerasan, dan berulang kali dipuji oleh Karl Marx - Friedrich Engels sampai ketua partai komunis setelahnya seperti Vladimir Lenin - Joseph Stalin hingga Mao Zedong dan lainnya. Karl Marx menyimpulkan “pengalaman” Komune Paris, dengan pernyataan bahwa gagalnya Komune Paris terletak pada tidak digunakannya kekerasan kaum proletariat untuk menghancurkan mesin negara, “Kaum proletariat tidak bisa begitu saja mengendalikan kekuasaan politik, namun dapat menghancurkan seluruh sistem yang ada melalui kekerasan.” Ini di kemudian hari dihormati sebagai teori kekerasan kediktatoran proletariat yang menjadi prinsip dasar paham komunis. Karena dorongan dari “Kebencian”, partai komunis Tiongkok masih ingin “terus melancarkan revolusi di bawah kondisi kediktatoran proletariat [teori Mao Zedong saat melancarkan Revolusi Kebudayaan]”.

“Kebencian” semacam ini merupakan sumber utama dari paham komunis. “Kebencian dan sifat iri hati sangat erat berkaitan, namun sifat iri hati berasal dari paham sama rata absolut, yaitu tidak memperkenankan siapa pun lebih baik - lebih kaya dibanding diri sendiri, membenci semua orang yang lebih hebat dan barang-barang yang lebih unggul. “Setiap Orang Adalah Sama” - “Bawah Langit Semuanya Sama [Datong; paham utopia dari Tiongkok; dari Neo-Confusius]” yang dipromosikan dengan antusias oleh paham komunis -- tepatnya adalah manifestasi dari “Kebencian” ini. Banyak sekali orang Tiongkok mengajari anaknya - mendorong orang untuk “ambisius [shangjin; ‘tekad revolusi dan ambisi merupakan hasil tempaan di tengah penderitaan dan tekanan’ -- Xu Teli guru Mao Zedong]”, semuanya menggunakan cara-cara yang memprovokasi sifat iri hati, menggunakan cara “membandingkan orang lain” sebagai daya kekuatan ambisi.

Partai komunis menggunakan “Kebencian” mendirikan negara, menggunakan kejahatan memimpin negara, “patriotisme” yang digaungkan dengan penuh semangat olehnya, sebenarnya adalah “Paham Kebencian”. Dalam kamus “partai”, “patriot [lit: mencintai negara]” berarti benci Amerika - benci Barat - benci Jepang - benci Taiwan - benci Tibet - benci masyarakat bebas - benci nilai universal - benci orang baik yang Xiulian “Sejati - Baik - Sabar” - benci semua orang yang dianggap sebagai “musuh” oleh partai komunis Tiongkok; prinsip “mencintai partai” adalah membenci semua orang ataupun hal yang diyakini partai dapat menyebabkan tantangan bagi dirinya.

Orang-orang tidak tahu bahwa “Kebencian” adalah unsur materi yang membentuk roh jahat, adalah hal yang dituang dengan paksa ke dalam tubuh manusia oleh roh jahat, dan masih keliru menganggap “Kebencian” yang tanpa sebab tanpa alasan ini sebagai perasaan diri sendiri. Materi “Kebencian” semacam ini membuat banyak sekali orang Tiongkok zaman sekarang dipenuhi oleh Qi kejam, yang mungkin meletus kapan saja - di mana saja.

Partai komunis Tiongkok memanfaatkan pendidikan - media - kesenian dan trik lainnya, dalam skala luas menyebarkan materi “Kebencian” ini, sehingga membuat pelajar dan populasi berubah menjadi serakah dengki - “anak serigala” yang tidak memiliki batas minimum.

Jiang Zemin yang menaiki takhta setelah peristiwa pembantaian Tiananmen di tahun 1989 -- lebih-lebih merupakan penjelmaan dari “Kebencian”. Sebuah buku <<Jiang Zemin dan Orang-orangnya>> telah mengungkapkan asal usul Jiang Zemin. Li Yuanji -- adik laki-laki dari Li Shimin Raja Qin saat itu (disebut Tang Taizong setelahnya) yang berkolusi dengan Li Jiangcheng sang abang, ingin membunuh Li Shimin di Gerbang Xuanwu namun gagal. Setelah Li Yuanji meninggal, roh jahat turun ke neraka untuk membayar dosa karma, telah dihantam ke dalam Wusheng Zhimen [lit: gerbang tanpa harapan lahir kembali], jatuh ke neraka tanpa ujung, menjalani siksaan ribuan tahun, hingga sudah tidak memiliki tubuh kehidupan bawahan dari Langit, tidak memiliki pikiran yang utuh, hanya tersisa seberkas Qi kebencian dari iri hati. Tepat seberkas Qi kebencian dari iri hati inilah yang telah menanti selama ribuan tahun, yang pada akhirnya mendapat perhatian dari roh jahat, lalu dibuatlah ia bereinkarnasi menjadi Jiang Zemin yang menjadi ketua partai komunis Tiongkok, sekaligus menjadi penjahat utama yang menganiaya “Sejati - Baik - Sabar” Falun Dafa.

“Kebencian” adalah sejenis materi. Perilaku yang diciptakan oleh “Kebencian” adalah kacau balau - tidak rasional - tak terkendali - gila-gilaan - tidak peduli dengan segala konsekuensi. Partai komunis ingin menggunakan “Kebencian” untuk menaklukkan dunia - untuk memusnahkan semuanya termasuk umat manusia di dalamnya, di tengah proses ini -- ia sendiri tak terhindarkan juga akan dimusnahkan. Ini tepatnya adalah tujuan terakhir dari paham komunis beserta cara-cara untuk merealisasikannya.

1. Penguat [Amplifier] Kejahatan yang Super

Gerakan politik selama beberapa dekade yang menggunakan “Kebencian” sebagai inti -------- propaganda “Ateisme” - “menyerang Langit melawan Bumi” - “menggunakan Pertarungan Kelas [class struggle] sebagai kunci penting” - “mengutuk dengan penuh kemarahan [propaganda yang ditujukan kepada Falun Gong]” - “Mengungkap dan Mengkritik Secara Tuntas [propaganda yang ditujukan kepada Falun Gong]”, hari ini menumbangkan yang ini, besok menumbangkan yang itu, melawan nilai universal “Sejati - Baik - Sabar” …… telah meninggalkan trauma yang seperti apa kepada Tiongkok? Yang dapat terlihat oleh orang-orang adalah tidak adanya integritas lagi - hati manusia tidak semurni zaman dulu - polusi lingkungan - degradasi moral. Namun, yang sering kali tidak dapat terlihat oleh orang-orang adalah, partai komunis Tiongkok telah menciptakan untuk Tiongkok sebuah mekanisme teror agar terjadi degradasi moral, atau yang disebut dengan “Penguat Kejahatan”, yaitu mesin yang dapat memperkuat kejahatan. Fondasi dari mesin ini adalah “Ateisme” - tidak percaya terhadap “pembalasan atas perbuatan baik ataupun buruk” - menolak sistem nilai tradisional - secara antusias mempromosikan “Nafsu Keinginan”. Mari kita secara sederhana menggambarkan mekanisme kerja dari penguat ini.

Yang pertama adalah, fungsi input dari penguat ini. Partai komunis Tiongkok telah membuat Tiongkok berubah menjadi sebuah cekungan moral di dunia, atau yang disebut dengan corong moral, tepatnya adalah sebuah dataran rendah secara moral. Tidak hanya varietas lokal saja yang menghasilkan degradasi moral, hal tidak baik dari seluruh dunia juga melarikan diri ke Tiongkok, persis seperti sebuah pembuangan sampah besar internasional. Para pembaca mungkin merasa bahwa berbicara seperti ini ada sedikit tidak lazim, namun, ini adalah fakta yang sudah menjadi kenyataan [fait accompli] yang diciptakan oleh partai komunis Tiongkok. Setelah pintu negara dibuka, konsumsi narkoba - seks bebas - homoseksual, berbagai macam arus pemikiran dan perilaku mutan, satu per satu membanjiri Tiongkok. Berbagai macam dan jenis degradasi moral yang diciptakan oleh partai komunis Tiongkok di negara ini, ditambah dengan sampah-sampah ini yang datangnya dari luar, telah membentuk kekacauan moralitas yang bergejolak di dalam masyarakat Tiongkok.

Yang kedua adalah, efek memperkuat daya dari penguat ini. “Penguat Kejahatan” yang dihasilkan oleh partai komunis Tiongkok ini -- akan membuat berbagai macam kekacauan moralitas menjadi diperkuat - diperkuat dan diperkuat lagi. Dikarenakan tidak ada kekangan “Tuhan” yang berasal dari Kebudayaan Tradisional, juga tidak ada spirit aturan hukum dari masyarakat modern, semuanya dikendalikan oleh “nafsu keinginan”, maka tentu saja terdegradasi semakin dalam. Misalnya -- kebebasan seks pada awalnya merupakan semacam arus pemikiran bermutasi di masyarakat Barat pada tahun 1960-an, namun mendapat kekangan dari agama konservatif, dan sama sekali belum berkembang pesat. Setelah partai komunis Tiongkok membuka pintu negara, kebebasan seks telah memasuki Tiongkok, itu sungguh telah diperkuat berkali-kali lipat, sehingga menjadi Tema Utama masyarakat, boleh dibilang pelacuran di mana-mana, masyarakat terbiasa menertawakan orang miskin namun tidak menertawakan pelacur, menikahi istri kedua - istri ketiga - istri ke-N telah menjadi ajang pamer kekayaan dari para pejabat, masyarakat kelas atas sampai bawah berlomba menirunya, bumi pertiwi bangsa Tionghoa telah dibuat hitam kelam. Keterbukaan paling menyeluruh apa yang dilakukan oleh partai komunis Tiongkok? Bukan ekonomi, pasti juga bukan politik, satu huruf Mandarin, yaitu “seks”, tiga dekade telah tuntas menyelesaikan transformasi dari “Geming Xing [Sifat Revolusioner]” hingga menjadi “Xing Geming [Revolusi Seks]”.

Berbicara tentang “Penguat Kejahatan” ini, “korupsi” juga merupakan sebuah contoh umum. Negara mana pun juga ada korupsi, ini bukan dibuat-buat, dapat dikatakan tempat yang ada manusianya maka ada korupsi. Namun, korupsi yang terjadi di bawah pemerintahan partai komunis Tiongkok, adalah tidak ada duanya saat ini di dunia, juga tidak ada duanya dalam sejarah umat manusia. Korupsi partai komunis Tiongkok adalah korupsi seluruh partai, dan merupakan korupsi sistematis. Ada orang bilang negara India juga korup, namun India dari perdana menteri ke bawah, yang dikendarai oleh pejabat semuanya adalah mobil nasional yang bermerek sama - model sama - warna sama. Rumah terbaik di India acap kali adalah sekolah, dan bukan bangunan kantor pemerintahan. India juga tidak menggunakan uang publik untuk menggemukkan diri sendiri dan jalan-jalan ke luar negeri. Ini bukan karena India terlalu miskin, melainkan parlemen tidak menyetujui pengeluaran di aspek ini. India lebih-lebih tidak memiliki “Kasus Korupsi yang Meruntuhkan”.

Jika dibandingkan dengan “Korupsi Namun Tidak Meruntuhkan” dari negara lain, korupsi partai komunis Tiongkok adalah korup hingga bernanah dan terlihat mengerikan. Korupsi telah menjadi bagian dari aturan bertahan hidup masyarakat Tiongkok, dan secara diam-diam orang-orang telah menerimanya dalam hati.

Mekanisme “memperkuat” ini bagaimana cara kerjanya? Coba teliti saja gerakan Menyapu Pornografi dan Anti Korupsi dari partai komunis Tiongkok, Menyapu Pornografi adalah makin menyapu makin porno, Anti Korupsi adalah makin anti makin korup. Karena selama hal itu tidak mengancam pemerintahan partai komunis Tiongkok, maka partai komunis Tiongkok sama sekali tidak ingin memberantasnya. Justru karena berhasil menghasut para pejabat partai komunis Tiongkok dari atas hingga bawah beserta rakyat jelata -- agar terbenam dalam lautan nafsu “Revolusi Seks” dan “korupsi” serta degradasi moral lainnya, roh jahat komunis barulah dapat sukses mengalihkan perhatian rakyat terhadap partai jahat komunis Tiongkok itu sendiri, lalu partai jahat komunis Tiongkok barulah dapat berbuat jahat sesuka hati, barulah dapat menindas kumpulan manusia yang ini, menganiaya kelompok yang itu, sehingga moralitas orang Tiongkok selangkah demi selangkah terdorong ke arah neraka kehancuran.

Yang ketiga adalah, kemampuan fermentasi dan sintesis [synthesize] dari penguat ini. Ia mampu menyintesis berbagai macam unsur yang tidak baik, agar materi sampah berfermentasi dan menghasilkan materi dan fenomena yang lebih jahat. Ambillah kebebasan seks dan korupsi di atas, banyak sekali korupsi memiliki hubungan dengan prostitusi. Karena menyimpan wanita simpanan, maka akan merangsang pejabat untuk melakukan korupsi; karena korupsi dan memiliki uang, maka juga akan sering mengunjungi pelacuran meniduri wanita lain. Jika dua hal ini diletakkan bersama, akan menampilkan peran yang kuat, dan memainkan pertunjukan konyol dalam adegan demi adegan “kekuasaan - uang - seks” yang kotor menjijikkan - yang kehilangan tatanan hidup manusia.

Yang keempat adalah, penguat ini masih memiliki kemampuan pemutih yang bisa merasionalisasi - menormalisasi kejahatan. Pertama-tama adalah untuk menghilangkan fakta kebenaran, oleh karena itu partai komunis Tiongkok yang mengklaim dirinya kuat -- harus memblokade internet, agar menjadi tameng fakta kebenaran, dan juga tidak akan memberi kebebasan berbicara kepada orang-orang dalam menyelenggarakan media sendiri. Setelah itu, “pemerintahan satu suara” partai komunis Tiongkok akan menggunakan alasan yang tidak masuk akal dan teori sesat untuk mempercantik kekacauan moralitas partai komunis Tiongkok. “Burung Gagak di Kolong Langit Sama Hitamnya” adalah istilah yang sering digunakan partai komunis Tiongkok untuk mencuci-otak rakyatnya. “Korupsi, negara mana yang tidak korupsi?” “Melanggar hak cipta - plagiat, negara mana yang ekonominya saat pertama kali lepas landas tidak melakukan plagiat?” “Kebebasan seks, negara mana yang pejabatnya tidak melakukan hubungan luar nikah?” “Pelacuran, ada negara yang bahkan melegalkannya!” “Kebebasan berbicara, negara mana yang akan membiarkan kamu berbicara apa yang kamu inginkan? Bukankah masih ada hukum pencemaran nama baik?”

Dikarenakan rakyat tidak dapat melihat fakta kebenaran, di bawah “pemerintahan satu suara”, lama kelamaan lalu menerima dalih yang diputar-balikkan dan dipaksakan milik partai komunis Tiongkok ini, dan beranggapan bahwa kekacauan moralitas itu adalah hal yang tidak ada jalan keluarnya - negara mana pun juga tidak bisa lolos darinya. Begitu persoalan kejahatan dan degradasi moral telah dirasionalisasi - dinormalisasi, maka selamanya telah kehilangan kesempatan untuk berubah lebih baik. Masyarakat Tiongkok setiap tahunnya meneriakkan “krisis integritas”, namun mengapa semakin lama semakin krisis? Justru inilah sebabnya.

Dalih lain yang sering digunakan oleh partai komunis Tiongkok adalah penyelesaian terhadap hal buruk apa pun “membutuhkan sebuah proses”, Menipu dengan mengatakan bawah persoalan apa pun selalu akan secara perlahan berubah menjadi baik. Kala itu banyak sekali kalangan tingkat tinggi partai komunis Tiongkok yang menentang Jiang Zemin menganiaya Falun Gong, alasannya Falun Gong meningkatkan moralitas manusia - menstabilkan masyarakat, Jiang Zemin membantahnya dengan mengatakan, “Setelah ekonomi meningkat ke atas, moralitas secara alami akan menjadi baik.” Kita coba menolehkan kepala melihat-lihat, moralitas di dalam “lautan nafsu” perkembangan ekonomi telah terdegradasi makin cepat. “Proses ini” yang dibicarakan oleh partai komunis Tiongkok, tepatnya merupakan proses menggunakan alasan yang tidak masuk akal dan teori sesat untuk merasionalisasi - menormalisasi kejahatan, yang hanya dapat mendorong kejahatan berubah makin lama makin jahat.

Hanya menormalisasi hal-hal tidak normal ini -- masih tidak cukup, cuci otak opini publik partai komunis Tiongkok masih harus mengubah hal yang normal menjadi tidak normal. Yang bagus dikatakan buruk, yang Baik dikatakan Jahat, dengan demikian barulah dapat tercapai tuntas tujuan memutarbalikkan kriteria antara Baik dan Jahat.

Ini tepatnya adalah empat mekanisme utama dari prinsip kerja dasar “Penguat Kejahatan” partai komunis Tiongkok. Pertama-tama adalah menciptakan palung moralitas, agar sebidang tanah Tiongkok ini menjadi tanah tempat berkumpul - tong sampah dari kebejatan moral umat manusia; Kemudian partai komunis Tiongkok akan memperkuat efek kerusakan moral, selama itu tidak mengancam perilaku mutan dan rusak dari kepemimpinan partai, partai komunis Tiongkok akan selalu mengocehkan slogan, ikut mendorong arus dan menambah ombak; ditambah lagi dengan materi sampah yang saling berfermentasi, menyebabkan orang jahat semakin jahat, orang busuk semakin busuk, yang tanpa henti menerobos batas minimum moralitas, dan memperkuat arus degradasi moral, ini juga merupakan perwujudan konkret dari roh jahat komunis dalam memusnahkan moralitas umat manusia; terakhir adalah memanfaatkan alasan yang tidak masuk akal dan teori sesat untuk merasionalisasi - menormalisasi hal jahat, pada saat yang sama mengubah hal yang aslinya normal menjadi tidak normal, bahkan diubah hingga menjadi iblis siluman.

2. Partai Komunis Tiongkok Mengubah Manusia Menjadi Bukan Manusia

Cuci otak dan penipuan - perusakan dan mutasi yang dilakukan partai komunis Tiongkok secara terus-menerus, telah menyebabkan anak muda zaman sekarang tidak memiliki kebudayaan, tidak peduli dengan moralitas, ada sejumlah orang seperti layaknya anak serigala, namun memiliki wujud manusia.

Sejak tahun 2004, di daratan sangat populer dengan “Kebudayaan Serigala”. Dari novel - film sampai buku panduan pelatihan perusahaan, semuanya menyanjung “Kebudayaan Serigala”. Orang yang menyanjungnya dengan antusias mempromosikan, agar sifat rendahan hewan serigala yang liar - brutal - serakah - tirani, digunakan bahkan dalam pekerjaan, dan menyebutnya sebagai “semangat juang”. Banyak orang beranggapan ini adalah kebudayaan “maju” yang keluar sebagai pemenang di tengah kompetisi bertahan hidup. Dengan kata lain, manusia tidak memerlukan konsep moralitas, di tengah kompetisi menghalalkan segala cara untuk keluar sebagai pemenang -- itu barulah kriteria pengukur dalam pekerjaan dan sebagai seorang manusia.

Seperti kata pepatah: “Beracun Bagaikan Ular Kalajengking -- Ganas Bagaikan Serigala”, ular - kalajengking - serigala tidak memiliki perasaan sedikit pun, bahkan orang tua sendiri juga boleh dikoyak-koyak - ditelan. Sekarang ini banyak sekali anak muda yang tidak memiliki konsep kebudayaan sedikit pun, melakukan pekerjaan tidak memiliki batas minimum, di rumah menganggap diri yang paling hebat, di tempat umum mencaci orang tua, yang lebih parah lagi memperlakukan orang tua layaknya musuh, begitu ada yang tidak sesuai dengan kehendak pribadi langsung turun tangan melawan dengan ganas, orang seperti ini tidak aneh bila disebut “anak serigala”, sangat tepat sekali.

1) Ideologi

    (1) Sama Sekali Tidak Mengenal Kebudayaan Tradisional, Moralitas Hanya Lembaran Kosong

Setelah mengambil alih kekuasaan -- partai komunis Tiongkok menanamkan sejarah yang terdistorsi kepada beberapa generasi orang Tiongkok, dan cuci otak dengan menggunakan Ateisme - Filosofi Pertarungan, sehingga telah menyebabkan sekarang ini banyak sekali orang Tiongkok yang tidak peduli dengan Kebudayaan Tradisional, ini juga membuat nilai-nilai tradisional dalam lubuk hati manusia bertumbangan, moralitas tinggal lembaran kosong belaka.

Banyak sekali orang begitu menyinggung tentang Tiongkok kuno - sejarah kuno, dalam hati segera terpikir ini adalah “takhayul”. Ada yang sedikit lebih enak didengar, yaitu “pemahaman nenek moyang purba tentang fenomena alam dan keinginan baik untuk menaklukkan alam” telah menciptakan “mitos”. Dengan demikian, sejarah Tiongkok sejak dulu kala seperti Da Yu [Yu Agung] menguras air dan lainnya, telah berubah menjadi “imajinasi yang ajaib”. Ketika menyinggung tentang Kaisar Monarki zaman kuno, dalam hati segera terpikir “kediktatoran feodal”, yang memiliki kekuasaan mutlak “Tiada Fa Tiada Langit” sama seperti partai komunis Tiongkok. Seperti yang diketahui, dalam Kebudayaan Hasil Warisan Dewa -- “Anak Langit [Kaisar]” sebagai anak dari Tuhan di atas Langit, perlu menjaga moralitas, menyesuaikan diri dengan Langit dan Bumi. Jika tidak, Tuhan di atas Langit akan mencampakkan dia, dan mengutus orang yang lebih berbudi luhur untuk menggantikan. Dengan dasar ini, rakyat dapat menggunakan “Prinsip Langit” untuk mengkritik Kaisar Monarki. Panggilan “Anak Langit” sama sekali bukan menyanjung Kaisar Monarki setinggi langit, namun justru menekankan bahwa kekuasaannya adalah pemberian sekaligus dibatasi oleh Tuhan.

Tradisi bangsa Tionghoa menganggap rasa hormat - kebaikan - lemah lembut - sederhana - mengalah sebagai nilai-nilai mulia [virtue], orang zaman sekarang menganggap pertarungan - menganggap Kebencian sebagai “kemuliaan”, bahkan sampai beranggapan bahwa orang Tiongkok sejak dulu telah “Bertarung dengan Langit - Bertarung dengan Bumi”, biasanya demi secuil hal kecil -- bertarung hingga kepala pecah darah berceceran, dan dianggap hal yang “sesuai dengan prinsip Langit dan Bumi”; kenyataannya justru upacara untuk menghormati Tuhan - memperlakukan orang lain dengan hormat -- itu barulah hal yang sungguh-sungguh “sesuai dengan prinsip Langit dan Bumi”. Ketika bepergian ke Jepang, banyak sekali orang Tiongkok takjub dengan sikap mengalah dan sopan antara orang-orang di sana, sebenarnya ini justru adalah tradisi bangsa Tionghoa yang telah dihancurkan oleh partai komunis Tiongkok di negara itu namun telah dilestarikan oleh Jepang hingga kini.

    (2) Manusia menghadapi manusia seperti layaknya serigala, perbuatan jahat apa pun juga dapat dilakukan

Orang Tiongkok yang sejak kecil telah ditanamkan Ateisme dan Filosofi Pertarungan yang bersifat kuat memakan lemah, telah menyaksikan dengan mata sendiri kebrutalan tirani dan kebiadaban dari rezim partai komunis Tiongkok, setelah dewasa tidak terhindarkan percaya secara buta terhadap kekuatan militer, ideologi dan perilaku dipenuhi oleh sifat kejam dan provokasi. Situs berita di Tiongkok, sering dapat ditemukan berita mengejutkan seperti ini: Membantai seluruh keluarga - membunuh ayah (ibu) sendiri - membunuh istri - meracuni - mengebom - memancung orang - guru TK menganiaya anak-anak secara tidak manusiawi - bandit membunuh secara terbuka di TK - memperkosa gadis - pembongkaran paksa - pemerintah kota memukuli orang dan lain-lain, tak satu pun hal yang baik.

Pada tahun 2004, partai komunis Tiongkok menugaskan Sina.com untuk melakukan survei online berskala besar, terhadap pertanyaan “dalam perang apakah boleh menembak ke arah wanita dan anak-anak?”, lebih dari 82,6% orang dari tiga puluh ribu anak muda telah memberikan jawaban yang pasti! Setelah berkali-kali serangan teroris termasuk peristiwa “9.11 [Serangan 11 September 2001 gedung WTC]” di dalamnya, banyak sekali netizen Tiongkok bersorak-sorai merayakannya. Peristiwa yang begitu kejam dan berdarah dingin ini, membuat orang-orang menggigil ketakutan.

Pada tahun 2011, Yao Jiaxin mahasiswa akademi musik Xi’an membawa kendaraan dan menabrak seorang wanita yang sedang mengendarai sepeda listrik, Yao Jiaxin turun dari kendaraan untuk memeriksa keadaan, namun menemukan bahwa wanita yang tertabrak ke tanah sedang mencatat plat nomor kendaraannya. Yao segera kembali ke dalam kendaraannya dan menarik sebilah pisau lipat, dan dengan ganas menikam wanita itu sebanyak enam kali, hingga membuatnya mati terbunuh. Adik kelas perempuan Yao Jiaxin yaitu Li Mou -- berkomentar di internet: “Jika saya adalah dia, saya juga akan menikam …… korban yang demikian tidak punya otak (almarhum dalam peristiwa Yao Jiaxin) tidak tahu malu, masih berani catat plat?” Kekejaman dan darah dinginnya membuat bulu kuduk orang berdiri.

Pada tahun 2013, Lin Senhao -- seorang mahasiswa pascasarjana bergelar master angkatan 2010 dari sekolah medis Universitas Fudan di Shanghai -- dikarenakan hal sepele telah terjadi konflik dengan Huang Yang teman satu kamarnya di asrama, Lin Senhao mengambil bahan kimia yang sangat beracun dari laboratorium dan menaruhnya ke dalam dispenser minuman asramanya, setelah meminum air tersebut Huang Yang meninggal.

Bulan Juli tahun 2013, di dekat sebuah stasiun kereta angkutan publik dari Distrik Daxing Beijing hanya dikarenakan perselisihan parkir, seorang pria menarik seorang bayi perempuan berusia dua tahun dari dalam kereta bayi dan mengangkatnya ke atas kepala kemudian dibanting ke lantai, bayi perempuan itu tidak berhasil diselamatkan dan meninggal. “Peristiwa bayi perempuan dibanting hingga mati di tengah jalan Beijing” telah mengejutkan masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, langsung turun tangan melawan dengan ganas demi sedikit hal sepele -- sudah menjadi hal yang umum terjadi. Orang berusia lanjut tidak paham: “Sebenarnya apa yang terjadi dengan orang Tiongkok?” Jika dilacak sumbernya, ini adalah dikarenakan partai komunis yang menjunjung tinggi kekerasan -- telah menuang masuk “Kebencian” ke dalam darah orang Tiongkok.

    (3) Manusia dengan manusia bahkan saling Menipu

“Krisis integritas” secara garis besar telah menjadi topik moralitas yang sangat menarik bagi orang Tiongkok. Karena “krisis integritas” secara langsung merugikan kepentingan pribadi setiap orang dalam masyarakat. Dari rokok palsu - arak palsu - faktur palsu - “spekulasi pejabat” di era 1980-an, orang Tiongkok sudah mulai meneriakkan perihal integritas, dengan nyaring meneriakkan melawan barang palsu, hingga awal milenium, penipuan sudah lama memenuhi semua aspek kehidupan masyarakat, “krisis integritas” membuat kehidupan langkah demi langkah penuh dengan perangkap, agar orang Tiongkok hidup dalam kelelahan mental dan fisik.

Hasilnya sekarang ini, fenomena barang palsu dan bermutu rendah banyak bertebaran: dari makanan hingga perumahan, dari barang dagangan hingga jasa pemeliharaan, pengobatan penyakit, menyewa tunangan untuk mengunjungi orang tua, di mana-mana terjadi krisis integritas. Orang Tiongkok zaman sekarang sungguh tidak mudah, jika membeli sayur dan daging -- harus memiliki kemampuan untuk meneliti apakah beracun atau tidak, jika membeli rumah -- harus menjadi ahli dalam mengidentifikasi kualitas perumahan, jika anak disuntik vaksin -- harus mampu mengidentifikasi apakah vaksin tersebut asli atau palsu, bahkan menyumbangkan uang kepada asosiasi Palang Merah [Red Cross Society of China] dan organisasi amal lainnya, juga harus mampu menilai kredibilitasnya.

Rumor kepiting diberi obat kontrasepsi [agar cepat dewasa] - telur palsu - obat penghancur lemak - Sudan Merah [skandal pewarna industri digunakan dalam makanan] - kapsul beracun - susu bubuk beracun - tesis palsu - Bangunan Sekolah Ampas Tahu [skandal korupsi bahan bangunan sekolah di Sichuan; kasus mencuat setelah terjadi gempa besar 12 Mei 2008 di Sichuan] …… plagiat dan pemalsuan di berbagai bidang sekarang ini dijuluki dengan “Benteng Gunung [tempat bandit]”, orang-orang sudah tidak merasa aneh lagi melihatnya. Dikarenakan penggunaan secara besar-besaran obat pertanian - hormon - racun rumput liar - racun serangga - obat cepat masak [buah] - obat pelindung kesegaran dan sejumlah makanan palsu beracun dan bermutu rendah lainnya -- telah menyebabkan pria berubah menjadi feminin - disfungsi seksual, gangguan fisiologi wanita - tingkat kesuburan rendah - pubertas dini - malformasi bayi dan fenomena lainnya, sehingga menjadi masalah sosial yang makin lama makin serius. Ahli medis di daratan yang sangat terkenal menegaskan bahwa, beberapa dekade ke depan pria Tiongkok tidak akan memiliki kesuburan lagi.

Mengenai “krisis integritas”, ada orang mengemukakan bahwa, yang menjadi kunci utamanya masih tetaplah integritas dari pemerintah. Ini juga tidak salah, bukankah ada prinsip “jika yang di atas tidak benar maka yang di bawah akan ikut tidak benar”. Akan tetapi akankah partai komunis menekankan integritas? Bisakah meminta para pejabat korup berhenti memperdagangkan jabatan? Membuka blokir internet agar orang-orang membaca buku ini dan memahami fakta kebenaran? Dan mengakui pemalsuan sejarah yang dilakukan partai? Ini sama saja dengan berdiskusi dengan harimau bagaimana menguliti dirinya.

Ada orang mengemukakan bahwa, harus memperkuat sistem hukum, agar pemalsu mendapat hukuman berat dan tidak berani melakukan pemalsuan lagi. Namun persoalannya adalah siapakah yang akan mengawasi - mengimplementasikan hukum? Siapakah yang akan mengawasi personel yang melakukan penegakan hukum? Siapakah yang akan menjamin integritas para pejabat kantor pengawas kualitas?

Pada akhirnya, ada orang menyerukan agar pulang kembali ke Kebudayaan Tradisional. Partai komunis Tiongkok juga sedang menekankan pendidikan Kebudayaan Tradisional. Namun membicarakan Kebudayaan Tradisional dengan dasar Ateisme dan ajaran partai komunis Tiongkok yang moralnya telah hancur -- apa bedanya? Apakah dengan memberitahu orang-orang tentang “Ziyue [perkataan Konfusius]” - “Shiyun [puisi dalam kitab Shijing; classic of poetry]”, maka orang-orang akan bertekad untuk menjaga integritas?

Sebagai contoh, ketika seluruh industri yang menambahkan melamin CH6N6 ke dalam produk susu tidak mengalami segala konsekuensi apa pun, maka perusahaan yang ingin menjalankan peran bisnis mereka dengan jujur akan tersapu habis dalam menghadapi persaingan biaya. Pada saat ini -- tantangan yang dihadapi oleh orang-orang adalah, harus memilih -- walau mengalami kerugian juga bertekad untuk menjaga integritas, ataukah mengikuti arus untuk memperoleh uang dengan mudah?

Dalam menghadapi masyarakat yang secara jelas dan mengerti bahwa menjadi orang baik itu tidak menguntungkan, apa yang disebut dengan “Kebudayaan Tradisional” partai namun kandungan makna bersifat Dewanya telah dicongkel keluar oleh partai komunis Tiongkok, sama sekali tidak bisa memberikan dasar pembenaran [justification] bagi orang-orang untuk bertekad menjaga integritasnya.

Sebenarnya, jika saja kita mencari kembali kandungan makna dalam Kebudayaan Hasil Warisan Dewa yang telah dicongkel keluar oleh partai komunis Tiongkok, persoalan ini sangatlah sederhana. Bagi orang yang dalam hatinya percaya bahwa “Tiga kaki di atas kepala ada Dewata”, akan tegar menjadi orang baik, karena sifat tulus dan memegang janji adalah fondasi perilaku manusia yang diberikan oleh Tuhan di atas Langit, sama seperti tulisan yang ditemukan di dalam kuil-kuil di masa lalu: “Anda Menipu Anda -- Saya Tidak Menipu Anda; Manusia Merugikan Manusia -- Langit Mana Mungkin Merugikan Manusia. [Kuil Cheng Huang di daerah Qishan provinsi Shaanxi].” Walaupun tidak mungkin semua orang demikian murah hati, dalam masyarakat tradisional juga ada orang berbudi luhur dan juga ada orang rendahan, namun dalam masyarakat hari ini yang “setiap orang mencelakakan saya, saya mencelakakan setiap orang” semacam ini, asalkan ada sebagian orang yang bersedia menelan kerugian - bertekad menjunjung prinsip-prinsip moral, maka akan ada lebih banyak orang lagi yang terbangkitkan sifat baiknya.

“Krisis integritas” Tiongkok, dari demonstrasi rakyat di era tahun 1980-an, hingga proposal Kongres Rakyat Nasional - laporan pemerintah di era milenium, yang secara khusus menyatakan ingin membangun masyarakat yang memiliki integritas, hingga sosiologi - psikologi - ilmu hukum di zaman sekarang -- semuanya juga sedang menelitinya. Beberapa dekade terakhir, masalah integritas sebaliknya malah semakin lama semakin mengalami krisis, ini jelas bukanlah sebuah persoalan sederhana saja dalam “pembangunan”.

Dikarenakan ajaran pertarungan dan kebohongan yang ditanamkan oleh partai komunis kepada orang Tiongkok, telah menyebabkan hati sekelompok besar manusia menjadi tertutup - melindungi diri sendiri. Sangat sulit bagi orang untuk benar-benar mempercayai orang lain, ini telah menghasilkan semacam kondisi mental abnormal yang was-was terhadap orang lain, merasa dunia adalah tempat yang berbahaya, hubungan antarmanusia adalah palsu. “Menyandar Gunung -- Gunung Tumbang” oleh orang-orang dijunjung sebagai prinsip sejati. “Bertemu Manusia -- Menggunakan Bahasa Manusia, Bertemu Setan -- Menggunakan Bahasa Setan” telah menjadi norma masyarakat, dalam menangani hubungan interpersonal yang abnormal semacam ini -- orang-orang telah merasa sangat menderita dan sangat melelahkan, juga tidak mampu melepaskan diri, setiap orang juga ikut berkontribusi mendorong arus menambah ombak, sehingga menyebabkan kebiasaan masyarakat menjadi bertambah buruk.

Selama beberapa dekade tiada hentinya menyerukan, tentang persoalan integritas yang mengalami krisis tanpa henti, ini semua asalnya dari diruntuhkannya nilai-nilai tradisi oleh partai komunis Tiongkok, asalnya dari sistem nilai “Redam Suara Meraup Keuntungan Besar [Diam-diam melakukan kejahatan, untuk meraup keuntungan besar]” yang gencar dipromosikan oleh partai komunis Tiongkok, asalnya dari orang-orang yang dipaksa untuk saling tidak percaya - saling Mengungkap dan Mengkritik dalam pertarungan massal hasil provokasi partai komunis. Ketika ingin menangani masalah ini, orang-orang menemukan bahwa segala upaya kerasnya telah menjadi persoalan sulit tak terselesaikan saat berhadapan dengan partai komunis Tiongkok, ini karena persoalannya adalah diciptakan oleh partai komunis Tiongkok itu sendiri.

    (4) Jauh melampaui apa yang disebut Berusaha Demi Keuntungan Semata

Beberapa tahun terakhir, berita terkait “wanita pamer kekayaan” - “wanita mata duitan” bermunculan, tanpa henti membangkitkan debat panas masyarakat. Beberapa wanita muda itu, dengan menggunakan media internet, melebih-lebihkan dan memamerkan kelebihan diri sendiri - kekayaan - harta benda, membagikan [share] ke internet rumah mewah sendiri - mobil bermerek - tas bermerek - jam tangan - perhiasan dan lain-lain. Di dalam suatu acara kencan buta di TV, ketika seorang tamu pria yang suka mengendarai sepeda dan pengangguran -- bertanya kepada beberapa tamu wanita: “Di kemudian hari apakah bersedia atau tidak -- setiap hari menemani saya bersama-sama mengendarai sepeda?” Seorang model wanita keceplosan: “Saya mending duduk di dalam BMW dan menangis.” Ada beberapa orang bahkan secara terus terang meneriakkan slogan “Biarkan materialistik datang lebih ganas lagi”.

Penyembahan uang yang terus terang ini telah menimbulkan kegaduhan opini publik, pada saat yang sama juga telah memancing banyak sekali orang timbul rasa iri hati. Ini adalah kondisi abnormal masyarakat, adalah indikasi penting jatuhnya sistem nilai, adalah wujud mutasi di bawah kondisi sejarah yang telah diperbarui oleh Kebudayaan Partai komunis Tiongkok. Dari materialisme yang menjadi leluhur partai komunis hingga penyembahan uang secara terus terang zaman sekarang, sebenarnya hanya terpisah jarak satu langkah kaki.

    (5) Era Keburukan

Cita rasa estetika orang dan mistar moralitas saling berkaitan. Umat manusia yang normal menghargai kesenian yang indah - yang murni - yang baik hati - yang cerah. Ketika moralitas manusia telah jatuh tergelincir dengan serius, maka orang akan mulai menyukai hal-hal yang buruk, bahkan memperlakukan hal-hal yang buruk ini sebagai kesenian yang dipuja-puja. Apa yang disebut dengan kesenian semacam ini -- juga akan berputar balik mengerakkan moralitas manusia selangkah lebih maju jatuh tergelincir, pada akhirnya membuat manusia menjadi Bukan Manusia.

Dalam dua hingga tiga dekade terakhir, masyarakat Tiongkok telah menyanjung hal vulgar sebagai mode, menganggap hal buruk sebagai kesenian. Di Tiongkok ada apa yang disebut dengan seniman memakan daging anak kecil yang telah mati, tubuh telanjang ditutupi dengan madu dan duduk di dalam toilet untuk menarik lalat menempeli tubuh, disanjung dengan nama mulia “aksi kesenian”. Banyak sekali orang berseru, Tiongkok telah memasuki era keburukan!

Mainan anak-anak zaman dulu, orang-orang selalu menyukai yang indah - yang indah dilihat, mainan zaman sekarang, semakin buruk - semakin aneh maka terjual makin cepat.

Sejumlah selebriti online demi memenangkan posisi, menggunakan keburukan sebagai keindahan. Karena menggantungkan diri pada komentar dan aksi yang menghebohkan, maka mereka [wanita] menantang orang-orang menahan batas minimum keburukan dan keanehan, tidak menganggapnya sebagai hal memalukan, namun malah menganggapnya sebagai hal mulia. Banyak sekali anak muda yang bahkan mengagumi “aksi dalam memperoleh ketenaran” mereka.

Bahkan yang lebih tidak masuk akal lagi adalah, banyak kota di Tiongkok, telah muncul restoran dengan tema toilet. Restoran didekorasi dengan gaya toilet, dan menggunakan mangkuk makan berbentuk urinal untuk menampung nasi dan sayur, bahkan es krim berbentuk tinja. Menurut laporan -- tamu yang datang kebanyakan adalah anak muda.

2) Bahasa

    (1) Perkataan Partai yang Seperti Vampir

Sebuah buku <<Mencerai-beraikan Kebudayaan Partai>> pernah secara sistematis menganalisis situasi membanjirnya perkataan partai di bawah pemerintahan partai komunis Tiongkok, seperti saling memanggil “Kamerad”, juga ada kosakata delapan kaki [Bagu] khas partai, dan istilah-istilah yang menopang operasi jangka panjang dari medan iblis materi Kebudayaan Partai, seperti:

1) Kongres spiritual - kongres Langkah Perjalanan - laporan pemahaman - laporan ideologi [bentuk inspeksi terhadap anggota PKT] -------- merupakan istilah dari cara pengendalian spiritual milik ajaran sesat partai komunis Tiongkok;

2) Pemimpin - unit kerja - organisasi - arsip - tinjauan politik - Hukou [Household Register; Pendataan Rumah Tangga] -------- merupakan istilah dari bentuk organisasi yang memantau secara ketat;

3) Propaganda - implementasi - eksekusi - himbauan - pekerja teladan - pejabat tingkat tinggi - delegasi - komite -------- merupakan istilah dari struktur organisasi yang diatur ketat secara hierarki;

4) Perjuangan - inspeksi diri - pertarungan - mengkritik vs kritik diri -------- istilah untuk mendorong Pertarungan demi mengisi ulang daya “partai”.

Dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar - sekolah menengah - sekolah tinggi, orang Tiongkok sejak kecil sudah terbenam di dalam perkataan partai. Siswa sekolah dasar ketika menulis karangan harus menulis “Selendang Merah [Red Scarf; anggota Pionir Muda] selamanya melangkah bersama partai” “Saya mencintai partai XX” “patuh dengan perkataan partai, melangkah bersama partai”, terus berlanjut hingga dewasa masih harus menuliskan laporan hasil pemahaman studi “Maha XX”. Cobalah jalan-jalan di jalan besar dan gang kecil Tiongkok, dari era Yan’an [pemerintahan awal PKT], hingga “Memasuki Era Baru [lagu Tema Utama yang digaungkan di era Jiang Zemin]”, lagu merah dari berbagai era masih tetap bertebaran di udara dan memenuhi langit.

Ada orang mungkin saja tidak setuju, merasa bahwa era telah berubah, manusia zaman sekarang walaupun masih menggunakan istilah bahasa ini, juga sudah tidak dengan sungguh hati mempercayainya lagi. Namun masalahnya terletak pada: walaupun tidak sungguh hati mempercayai, namun mutlak kebanyakan orang masih menggunakan istilah bahasa ini! Ini menjelaskan bahwa: perkataan partai telah merasuk ke dalam bahasa kalangan rakyat, sama seperti sebuah tumor ganas, makin tumbuh makin besar, makhluk hidup yang dilekati olehnya bahkan bertukar posisi menjadi tergantung pada tumor ganas ini, bahkan sudah tidak mungkin memotong dan menyingkirkannya.

    (2) Buka Mulut Semua Isinya Perkataan Palsu

Jadi orang haruslah berprinsip pada kejujuran. Partai komunis mengandalkan kekerasan dan tipu muslihat untuk mempertahankan kekuasaannya, berkata bohong adalah bakat alami yang esensial dan peran yang sangat dikuasai oleh para pejabat partai komunis Tiongkok. Setelah pembantaian 4 Juni [pembantaian Tiananmen 4 Juni 1989], sang juru bicara ketika menghadapi pertanyaan dari para wartawan Tiongkok dan luar negeri, berkata dengan tanpa mengubah raut mukanya dan jantung sedikitpun tidak berdebar: “Lapangan Tiananmen tidak mati satu orang pun.” Satu dekade kemudian, ketika partai komunis Tiongkok mencurahkan seluruh kekuatan negara untuk menganiaya Falun Gong, juru bicaranya kembali berkata dengan penuh sesumbar: “Situasi hak asasi manusia Tiongkok sedang berada dalam periode terbaik sejarah.”

Anak kecil sejak kecil sudah diajari berbohong, pelajaran politik - pelajaran sejarah - pelajaran literatur dan bahasa penuh dengan kata-kata bohong, dan ketika menjawab pertanyaan -- mutlak tidak diperbolehkan melampaui batasan yang telah ditentukan. Anak kecil yang seperti ini setelah tumbuh dewasa, ketika membuka mulut langsung berbohong, sama sekali tidak ada rasa bersalah. Dari juru bicara pemerintahan hingga <<Fokus Berita [Focus Report; program berita dari CCTV]>> - <<Xinwen Lianbo [News Simulcast; program berita dari CCTV yang disiarkan serentak di semua stasiun TV]>> yang menjadi corong media, dari laporan pejabat partai di berbagai tingkat hingga penelitian akademis di bidang literatur dan sejarah, dari domain publik hingga kehidupan keluarga, masyarakat Tiongkok dipenuhi kata-kata bohong yang tak terhitung. “<<Harian Rakyat [People’s Daily]>> hanya tanggalnya saja yang benar, sisanya semuanya adalah palsu”. Ini semuanya adalah pemahaman selama beberapa dekade terakhir. Tiongkok telah menjadi sebuah negara yang isinya penuh dengan kebohongan. Orang yang berani berbicara kebenaran - mengatakan fakta kebenaran -- itu langka bukan main bagaikan bulu phoenix dan tanduk unicorn, malah dipandang sebagai makhluk aneh, bahkan akan digantung bersama-sama. Ini adalah salah satu konsekuensi langsung dari perusakan moral masyarakat di segala aspek oleh partai komunis Tiongkok.

    (3) Perkataan Vulgar yang Populer

Tiongkok kuno mungkin adalah negara dengan tingkat pendidikan kebudayaan pejabat paling tinggi dalam sejarah dunia. Mulai dari dinasti Han, Tiongkok mulai memiliki sistem seleksi pejabat yang relatif lengkap. Dari dinasti Sui hingga terus berlanjut ke sistem ujian negara dinasti Qing, sejumlah besar talenta luar biasa telah dipilih untuk memasuki pemerintahan, dan membantu Kaisar dalam memerintah negara. Dilihat dari Sejarah Pejabat [Dua Puluh Empat Sejarah; sejarah pejabat dari 24 dinasti] dan berbagai data sejarah yang diwariskan turun-temurun, tingkat peradaban dari politik dan masyarakat Tiongkok kuno telah membuat orang modern terkejut tiada habisnya. Bait puisi yang lembut dan tulus, ajaran kuno yang hangat dan mengundang rasa hormat, semuanya ini membuat orang kuno berbicara dengan damai - toleran - rendah hati - sopan santun; bahasa vulgar sama sekali belum pernah memperoleh puncak kepopuleran.

Semua ini sudah sepenuhnya berbeda setibanya partai komunis. Ketika partai komunis Tiongkok didirikan -- berisikan kaum lumpenproletariat [lit: kaum berandalan rendahan; sampah masyarakat dalam Marxisme], kata-kata vulgar pemimpin partai komunis Tiongkok terang-terangan dimasukkan ke dalam dokumentasi - koran - koleksi karya tulis bahkan dalam puisi, dan menjadi objek yang ditiru oleh rakyat. “Prinsip dari Marxisme, memiliki banyak ujung yang tidak pasti, namun pada akhirnya hanya satu kata: Memberontak Adalah Masuk Akal [perkataan Mao Zedong].” “Demi keberhasilan revolusi dunia, kami telah bersiap mengorbankan nyawa tiga ratus juta orang Tiongkok [kata Mao kepada Stalin].” “Kentut yang dilepas di atas tidak semuanya adalah harum, di sini juga ada lawannya, ada yang harum juga ada yang bau, harus diendus-endus terlebih dulu [perkataan Mao]”. Setelahnya, pemimpin setiap generasi dari partai komunis juga mengikuti pola ini, semuanya melepaskan ucapan ganas, mengatakan prinsip yang tidak masuk akal, “Boneka siswa tidak turut dengan perintah, satu rentetan senapan mesin dapat langsung menyelesaikan” yang diucapkan Deng Xiaoping [pemimpin PKT 1978-1990], “Redam Suara Meraup Keuntungan Besar [Diam-diam melakukan kejahatan, untuk meraup keuntungan besar]” yang menjadi slogan Jiang Zemin, “Cemarkan reputasinya - bangkrutkan ekonominya - hancurkan tubuh fisiknya” yang ditujukan kepada Falun Gong, tidak peduli itu adalah substansial atau pun cara berekspresi -- semuanya jahat luar biasa. Layaknya bawahan mengikuti atasan, Qi kekejaman menyelubungi seluruh masyarakat.

    (4) Umpatan Kotor yang Merambah Langit Menyelimuti Bumi

Degradasi partai komunis Tiongkok adalah tanpa batas minimum, dan degradasi orang Tiongkok yang disebabkan oleh partai komunis Tiongkok juga adalah tanpa batas minimum. Sekarang ini banyak sekali orang Tiongkok yang kosong dan putus asa, terpaksa mengandalkan marah-marah kepada orang lain untuk mempertahankan keseimbangan psikologi, menggunakan kata-kata kotor untuk melepaskan beban kekesalan dalam hati, merendahkan diri untuk menampilkan perasaan keberadaan yang rendah dan tidak dianggap. Puluhan ribu orang secara serentak dengan suara keras meneriakkan kata kotor telah menjadi pemandangan biasa di arena kompetisi sepakbola Tiongkok; berbagai macam kata yang merendahkan diri telah menjadi jargon yang popular, dan digunakan jutaan kali oleh netizen setiap harinya.

Internet bahasa Mandarin dibanjiri oleh berbagai macam umpatan yang sulit digunakan. Dalam kehidupan nyata, bahkan gadis remaja di keramaian umum juga dapat mengucapkan kata kotor dengan bebas tanpa kekangan. Manusia yang menggunakan bahasa vulgar seperti ini, dunia spiritnya betapa kotor dan liar!

3) Perilaku Rendahan

Tiongkok terkenal luas karena menjunjung tinggi kebenaran dan etika. Dalam catatan kuno pra Qin [sebelum berdirinya dinasti Qin] yaitu “Tiga Li” (<<Zhouli [Rites of Zhou]>> <<Yili [Rites and Ceremonies]>> <<Liji [Classic of Rites]>> secara detail mencatat sopan santun dan ritual orang Tiongkok kuno yang sangat kaya dengan keindahan, juga telah menggali asal usul jalan [Tao] Langit dari Li [etika] dan filosofi di balik Li [etika] tersebut. Spirit dari Li [etika] semacam ini senantiasa diteruskan hingga sebelum terbentuknya partai komunis Tiongkok. Ada orang mungkin masih ingat betapa santun dan sopannya orang tua yang berpendidikan sebelum tahun 1949. Sayangnya, setelah beberapa dekade pemerintahan partai komunis Tiongkok, semua ini telah dirusak hingga lenyap.

Li [etika] harus memiliki Jie [batasan], Jie [batasan] tepatnya adalah “Jie Wen [batasan kebudayaan]”, juga disebut “tata aturan”. Zaman dulu ketika mengajari anak kecil, pertama-tama yang diajarkan adalah tata aturan dasar dalam kehidupan sehari-hari yaitu “menuang dan menyapu sesuaikan dengan yang datang dan pergi [walau sedang menyapu atau melakukan pekerjaan rumah lainnya, juga tahu kapan menyambut dan mengantar tamu]”. Orang generasi sebelumnya sering berkata: “Jadi manusia harus ada sikap selayaknya manusia.” Perkataan sederhana ini di dalamnya berisikan prinsip yang sangat mendalam. Tuhan telah menetapkan norma perilaku kepada manusia, bahkan diwariskan turun-temurun setiap generasi melalui catatan kuno - ritual - tradisi lokal dan lain-lain.

Aturan keluarga dan didikan keluarga adalah bagian penting dari Kebudayaan Tradisional Tiongkok. Aturan keluarga dan didikan keluarga Tiongkok telah berlangsung selama ribuan tahun, ini membuktikan eksistensinya memang sangat penting bagi keluarga dan masyarakat. <<Buku Pantangan Anak [surat untuk Zhugen Zhan yang berumur 7 tahun]>> yang ditulis Zhuge Liang di periode Samkok [Tiga Kerajaan] - <<Konstitusi Pantangan Kaisar [didikan keluarga bagi keluarga kaisar dinasti Tang]>> yang ditulis Tang Taizong [Li Shimin] - <<Pepatah Didikan Keluarga>> yang ditulis Kaisar Kangxi - <<Didikan Keluarga Klan Yan>> yang ditulis oleh Yan Zhitui di era dinasti Selatan dan Utara dan lain-lain -- semuanya merupakan norma-norma sebagai seorang manusia dan untuk mempertahankan otonomi keluarga, serta telah memainkan peran aktif dalam pendidikan generasi selanjutnya - etika keluarga - persoalan dalam keluarga - pengembangan diri - perilaku dalam masyarakat - membangun keluarga dan mendirikan usaha - berbakti pada negara dan aspek-aspek lainnya. Setibanya partai komunis Tiongkok merebut kekuasaan, rakyat Tiongkok masih mewariskan banyak sekali aturan keluarga dan didikan keluarga, yang menjadi fondasi bagi orang-orang dalam menjaga perilaku hidup bermasyarakat. Ada orang pernah menyimpulkan didikan keluarga yang tersebar sangat luas itu dalam tiga puluh hal, di antaranya termasuk:

Tidak boleh menyapa orang yang lebih tua tanpa menggunakan kata Nin [anda; versi yang lebih sopan dari kamu]; tidak boleh menggoyangkan kaki; tidak boleh langsung berbicara tanpa memanggil gelar ataupun nama; tidak boleh berteriak di keramaian umum; tidak boleh mengucapkan kata-kata tanpa dasar; jika tuan rumah sudah menggerakkan sumpit barulah tamu boleh menggerakkannya; pulang ke rumah harus menyapa orang yang lebih tua dan lain-lain.

Meskipun kelihatannya hal sepele, namun untuk mengatur perilaku pribadi - mengharmoniskan hubungan interpersonal, ini merupakan hal yang sangat penting.

Sikap perilaku manusia adalah perwujudan eksternal dari pendidikan - karakter moral dan kecerdasan manusia. Partai komunis Tiongkok merusak moralitas - agar manusia berbicara dan bertindak sesuka hati - tanpa tata aturan - berperilaku rendahan, sehingga membuat sekelompok besar manusia berubah menjadi manusia tingkat rendah.

Orang Tiongkok kuno memandang penting penampilan sikap manusia, meminta orang untuk “berdiri bagaikan cemara - duduk bagaikan cangkir - berjalan bagaikan angin - jongkok bagaikan busur”, orang Tiongkok zaman sekarang banyak sekali yang berbadan bungkuk pinggang miring, berjalan dengan gaya aneh, postur tidak senonoh, temperamen tidak baik.

Di dunia internasional, tindak tanduk dari wisatawan Tiongkok sering kali membuat orang terkejut hingga menaikkan alis mata. Mereka dengan suara keras membuat gaduh, merokok di tempat terkenal dan bersejarah, membuang dahak sembarangan, menyerobot antrian sesuka hati, dan memanjat situs bersejarah sesuka hati. Peningkatan pesat jumlah wisatawan Tiongkok namun tanpa diiringi peradaban, membuat orang Swiss merasa “mendapat tekanan”, ada wisatawan yang komplain kepada orang Tiongkok karena membuang dahak sembarangan di atas kereta, bahkan dioleskan pada sepatu para wisatawan lainnya. Demi menangani masalah ini, orang Swiss menambahkan “kereta khusus” untuk wisatawan Tiongkok.

Terlebih lagi, pada tahun 2015, seorang wanita Tiongkok sedang memegangi anaknya buang air besar di depan toko eksklusif merk terkenal Burberry Inggris. Pada tanggal 2 Agustus 2016, sebuah grup tur Tiongkok saat mengunjungi Saint Petersburg [Rusia], seorang ibu demi anaknya yang kebelet, langsung membiarkan anak kecil tersebut buang air kecil di atas lantai kayu mewah dari aula istana Yekaterina Rusia yang memiliki nilai sejarah panjang. Insiden tersebut mengejutkan semua staf kerja istana Yekaterina, dari kepala kedutaan besar hingga staf pelayanan biasa -- semuanya bergegas datang ke tempat insiden tersebut untuk mengusut dan menangani masalah ini. Staf kerja mengatakan, bahwa hal semacam ini terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Apakah kualitas orang Tiongkok sungguh demikian payah? Sebenarnya sama sekali tidak selalu demikian. Rendahnya kualitas orang-orang di hari ini adalah hasil dari penghancuran Kebudayaan Tradisional selama beberapa dekade oleh partai komunis.

4) Manusia Seperti Makhluk Aneh, Tidak Mirip Penampilan Manusia

Rupa Terbentuk dari Hati, perubahan hati manusia akan memengaruhi bentuk luar dan ekspresi manusia. Di bawah kerusakan dan mutasi yang dilakukan oleh partai komunis Tiongkok, orang Tiongkok tidak hanya jiwanya berubah menjadi liar - kasar, bahkan bentuk luar dan ekspresi pun sudah berubah hingga menjadi tidak sama lagi.

Beberapa tahun terakhir -- foto-foto lama kembali populer di masyarakat, orang Tiongkok zaman sekarang mulai bernostalgia tentang kesederhanaan dan keluguan dari orang dahulu. Sosok dan sikap orang di dalam foto dari akhir Qing [akhir era dinasti Qing] - era pemerintahan Nasionalis [pemerintahan sebelumnya] terlihat berpenampilan seperti manusia, pria seperti pria, wanita seperti wanita, dapat mewujudkan sikap elegan dari seorang manusia dan akumulasi nilai dari Kebudayaan Tradisional. Banyak sekali orang setelah melihat foto dari leluhur sendiri pada beberapa dekade yang lalu, satu per satu menghembuskan napas rindu ketika melihat kemurnian dan kebaikan dalam ekspresi manusia saat itu.

Dalam karya film dan TV -- terlepas itu tradisi Barat ataupun Timur, penampilan karakter baik umumnya adalah indah dan enak dilihat - membuat orang merindukannya, penampilan karakter jahat adalah bersifat tolak belakang dan negatif - buruk dan rendahan. Sebelum partai komunis Tiongkok mengambil alih kekuasaan, orang-orang tumbuh dewasa di tengah sebuah kebudayaan yang normal, yang banyak berisikan unsur-unsur positif, ini sebabnya bentuk luar dan ekspresinya penuh berisikan Qi positif. Aktor yang memerankan orang jahat, acap kali harus berulang kali mencoba untuk “berubah” jahat, namun masih saja sangat sulit untuk belajar hingga mirip. Aktor daratan Tiongkok zaman sekarang adalah tumbuh dewasa di atas tanah beracun Kebudayaan Partai komunis Tiongkok, bentuk luar dan ekspresinya sama sekali tidak memiliki unsur positif, sifat jahat dan Qi tumor merajalela, bersikap rusuh dan tidak benar, bila ingin memerankan orang baik -- harus belajar dulu, namun bagaimana belajar pun tidak mirip; bila memerankan orang jahat -- tidak perlu belajar, secara otomatis akan diperankan dengan sangat mirip.

Orang dulu menggunakan kata “Qi siluman” “sifat keiblisan” sebagai sebagai istilah yang merendahkan, namun seiring dengan meningkatnya unsur negatif di masyarakat, sekarang ini tidak disangka-sangka ada orang menggunakan istilah “Memiliki Qi siluman” untuk memuji aktor yang berkelas - yang bertalenta - yang kreatif. Istilah “sifat keiblisan” telah menjadi sebuah kata sifat yang positif, yang digunakan untuk menggambarkan sifat manusia - hal - objek yang aneh-aneh juga penuh cita rasa. Anak muda sering kali menggunakan istilah “Orang ini memiliki sifat keiblisan yang sungguh besar” “Suara tawa bersifat iblis” dan lain-lain untuk mengekspresikan suatu perasaan kagum. “Memiliki Qi Siluman [www.u17.com; u17 memiliki lafal yang hampir sama]” telah berubah menjadi nama dari situsweb manga [komik], “Kantor administrasi Siluman” telah menjadi judul tayangan TV, para pemain dan kru berfokus pada tema “Dalam hati setiap manusia -- hidup sesosok siluman”, dan merekrut seluruh aktor di dunia yang “Memiliki Qi Siluman”. Ini dari aspek lateral mengindikasikan, bahwa melalui perusakan kebudayaan, sudut pandang estetika orang-orang telah terjadi perubahan yang begitu besar.

Dalam masyarakat sekarang ini -- banyak orang Tiongkok memiliki temperamen dan penampilan yang vulgar dan buruk, cara berpakaian dan sikap yang tidak baik, gemuk kotor serta bertampang buruk, mengenakan pakaian yang mencolok dan menyilaukan, berpakaian piyama turun ke jalan telah menjadi hal lumrah dalam masyarakat. Sekarang ini banyak sekali anak laki-laki yang tidak memiliki Qi maskulin, ketika berbicara terdengar kekanak-kanakan, kewanita-wanitaan, menganggap badan kurus sebagai keindahan, mewarnai rambut, ekpresi mata jelalatan, sikap dibuat-buat, bukan laki juga bukan wanita. Pakaian super sempit, celana setengah tiang, rambut dicukur hingga seperti penutup teko, atau seperti sarang burung, atau ditinggalkan seonggok besar rambut seperti wig menutupi kepala. Anak perempuan berpakaian netral [unisex], gaya rambut aneh, wajah tanpa ekspresi, pandangan mata suram dan dingin, dikarenakan mendapat pengaruh dari Filosofi Pertarungan, kelembutan dan kebersihan dari tradisi telah digantikan dengan kekerasan dan kelicinan, makin lama makin tidak ada “rasa wanita”. “Lagak imut” “Gaya muda” “Gaya keren” menjadi populer dalam masyarakat, tindak-tanduk orang dewasa seperti baru puber, tanpa membeda-bedakan situasi -- bertingkah seperti anak manja dan pura-pura merajuk.

Tidak perlu dibandingkan dengan orang kuno, bandingkan saja dengan beberapa dekade yang lalu, orang seperti ini sudah sangat jauh di bawah standar penampilan dan perilaku yang ditetapkan oleh Tuhan kepada manusia, penampilan secara permukaan seperti makhluk aneh, apakah ini masih termasuk manusia yang diciptakan oleh Tuhan? Apakah Tuhan masih menganggap manusia semacam ini sebagai manusia? Apakah manusia semacam ini tidak dalam bahaya?

(Sumber Dajiyuan)