(Minghui.org) Pegunungan Himalaya sepanjang sejarah selalu menjadi tempat tinggal bagi banyak orang Xiulian, orang-orang menjalani hidup dengan sederhana, setiap orang pandai menyanyi dan menari, selain ini semua -- adalah menganut Fa Buddha. Pada saat itu ada seorang praktisi Xiulian bernama Milarepa. Semua status Buddha dan Bodhisattva adalah buah hasil kultivasi dari banyak kehidupan dan kalpa, tetapi Milarepa sebaliknya telah berhasil mencapai GongDe yang sepadan seperti Buddha dan Bodhisattva ini dalam satu generasi dan kehidupan, dan kemudian hari menjadi leluhur pendiri Tantra Tibet aliran Putih.

-------------------------------------------------------------------------

(Menyambung artikel sebelumnya)

“Kembali berlalu satu tahun, semua pakaian yang dikenakan sudah sangat ekstrem lapuk, pakaian kulit yang bibi berikan kepada saya untuk membeli ladang juga persis seperti selembar kulit mayat. Saya terpikir untuk menjahit beberapa kain ini untuk dijadikan sebagai alas duduk. Namun kembali terpikir bahwa, hidup manusia tidak abadi, mungkin malam ini saya akan mati, lebih baik lebih banyak berkultivasi memasuki Ding saja. Lalu menggunakan pakaian kulit yang lapuk itu sebagai alas di bawah tubuh saya, bagian bawah tubuh ditutupi seadanya dengan kain-kain yang ada; kulit dari kantong Zanba yang lapuk itu sudah koyak di bagian atasnya, sepotong kain lapuk pun digunakan untuk menutupi tempat penting di badan. Namun karena kain itu sudah terlalu lapuk dan berumur lama, tidak bisa digunakan lagi. Saya terpikir untuk menjahitnya, namun juga tidak memiliki benang dan jarum. Pada akhirnya saya hanya menggunakan rumput sebagai tali, dan menjahit bersamaan tiga macam kain, mengikatnya di badan dan pinggang, bagian bawah tubuh juga sedikit tertutupi. Demikianlah berlanjut seperti ini. Pada malam hari pakaian kulit dan alas lapuk kembali digunakan untuk melewati malam, dan seperti biasa setiap hari duduk bermeditasi. Dalam kondisi ini kembali berlalu satu tahun.”

“Suatu hari, tiba-tiba terdengar ribut-ribut suara manusia, ada banyak orang berlarian ke depan gua. Mereka memasuki dalam gua, terlihat seonggok wujud manusia berbulu yang berwarna hijau, ketakutan hingga berteriak keras: {Ada hantu! Ada hantu!} Selesai berkata demikian -- bagaikan terbang membalikkan kepala langsung kabur. Orang yang datang belakangan tidak percaya dan berkata: {Siang bolong terang benderang seperti ini bagaimana mungkin ada hantu? Kalian sudah lihat dengan jelas belum? Biarkan kami coba lihat kembali.} Mereka begitu masuk melihat, juga takut bukan main. Saya pun berkata kepada mereka: {Saya bukan hantu, saya adalah biksu yang berkultivasi memasuki Ding di dalam gua ini!} Lalu secara mendetail menceritakan kepada mereka.”

“Pada awalnya mereka tidak percaya, sampai meneliti dalam gua sekali lagi dengan teliti, menemukan bahwa apa pun tidak ada, hanya ada sejumlah jelatang, mereka barulah percaya. Demikianlah saya pun diberi banyak sekali Zanba dan daging, bahkan berkata kepada saya: {Kultivator seperti kamu ini, kami sungguh kagum, mohon kamu Chaodu [menyeberangkan jiwa] hewan-hewan yang telah kami bunuh, bersihkanlah dosa karma kami!} Lalu memberi hormat secara tulus dan pergi.”

“Saya selama beberapa tahun ini, ini adalah pertama kalinya memperoleh makanan buatan manusia, dalam hati sangat gembira, lalu memasak daging untuk dimakan. Segera tubuh merasa sangat nyaman, kesehatan juga meningkat, kebijaksanaan pun menjadi tajam, dalam hal kemampuan spiritual timbullah pembuktian yang mendalam juga luas, juga timbullah kebahagiaan akan Kekosongan yang tidak sama dengan sebelumnya. Dalam hati saya berpikir: ‘Memberi persembahan uang dan harta dalam jumlah besar kepada Fashi [guru Fa] yang hidup bagaikan pangeran di dunia, tidak akan memperoleh GongDe sebesar jika memberi persembahan semangkuk nasi kepada orang yang sungguh-sungguh menjalankan kultivasi! Orang-orang di dunia -- banyak yang memasang bunga di atas sulaman, sedikit yang mengantar arang di tengah salju, sungguh menyedihkan!”

“Saya dengan sangat irit memakan Zanba dan daging, setelah lewat beberapa waktu, di atas daging yang belum selesai dimakan telah dipenuhi oleh ulat; saya terpikir ingin membersihkan semua ulat lalu dimakan lagi. Namun begitu dipikirkan secara teliti, ini juga bertentangan dengan jalan Bodhisattva, merebut benda yang sedang dimakan oleh ulat adalah tidak patut, oleh karena itu terpaksa tetap makan jelatang.”

“Pada suatu malam, seorang pencuri ingin mengambil makanan dan barang-barang saya, secara diam-diam masuk ke dalam gua sambil meraba-raba. Saya tidak tahan sampai tertawa terbahak-bahak, saya berkata: {Oi! Teman! Siang hari saja saya tidak dapat menemukan apa-apa, kamu di malam hari ingin mengambil apa?} Setelah dia berpikir-pikir juga ikut tertawa terbahak-bahak. Lewat beberapa saat, karena malu tidak enak hati -- dengan diam-diam pun berlalu.”

“Kembali lewat satu tahun, para pemburu dari kampung halaman saya Kya Ngatsa, karena tidak berhasil memperoleh hewan buruan, tibalah di depan gua. Bertemu dengan saya yang penuh bulu berwarna hijau dan menciut jadi satu onggokan, mengenakan tiga helai kain, wujud bagaikan tengkorak sedang duduk di sana, langsung takut gemetaran sambil menarik busur mengarah ke arah saya, dengan suara gemetaran bertanya: {Apakah kamu manusia? Ataukah hantu? Apakah binatang? Ataukah bayangan? Dilihat dari aspek mana pun juga mirip sebuah hantu!}”

“Saya terbatuk sekali dan berkata: {Saya adalah manusia! Bukan hantu!}”

“Sekelompok orang ini karena mendengar suara saya, ada seorang yang mengenali saya pun berkata: {Bukankah kamu adalah Thopaga?}”

“{Benar, saya adalah Thopaga!}”

“{Ah! Kalau begitu hari ini mohon kamu memberi kami sedikit makanan, kami telah berburu sepanjang hari, tidak berhasil mendapatkan apa pun. Mohon kamu pinjamkan sedikit makanan kepada kami, di kemudian hari kami akan mengembalikan lebih banyak kepada kamu.}”

“Saya berkata: {Sayangnya saya tidak memiliki makanan apa pun yang bisa diberikan kepada kalian.}”

“{Oh! Jangan khawatir, berikan saja kepada kami makanan yang kamu makan -- itu sudah cukup!}”

“{Saya di sini hanya ada jelatang liar! Kalian nyalakan api untuk memasak jelatang saja!}”

“Setelah mendengar perkataan saya, mereka pun menyalakan api untuk memasak jelatang. Mereka berkata: {Kami memerlukan sedikit mentega untuk dimasak bersama di dalamnya.}”

“{Jika ada mentega maka bagus sekali! Saya sudah tidak menggunakan mentega beberapa tahun, di dalam jelatang ada mentega!}”

“{Kalau begitu mohon kamu beri kami sedikit bumbu bolehkah?}”

“{Saya tidak punya bumbu sudah beberapa tahun, dalam jelatang ini ada bau yang memberi rasa.}”

“Para pemburu itu berkata: {Kalau begitu, walau hanya garam atau apa pun juga berilah kami sedikit!}”

“Saya berkata: {Setelah punya garam masih minta apa lagi, saya tidak memiliki garam sudah beberapa tahun, dalam jelatang ada garam!}”

“Para pemburu berkata: {Pakaian dan makanan kamu sungguh tidak normal, mana ada orang yang hidup seperti kamu! Walau kamu membantu orang lain menjadi pembantu mengerjakan pekerjaan, juga paling tidak dapat makan kenyang dan berpakaian hangat. Oh! Oh! Di atas dunia sudah tidak bisa ditemukan orang yang lebih tragis dan lebih menyedihkan dari kamu.}”

“Saya berkata: {Mohon kalian jangan berkata demikian! Saya adalah orang yang paling sulit ditemui dan memperoleh kemenangan di antara kerumunan manusia. Saya bertemu dengan Marpa Sang Guru Besar Penerjemah, telah memperoleh lafalan Jishen Chengfo, tinggal di pegunungan sunyi yang tiada orang, melepas rasa rindu terhadap kehidupan ini, menjalankan kultivasi dan bermeditasi Dhyana, memperoleh keberhasilan Samadhi, nama - reputasi - kehormatan - pakaian - makanan - kekayaan - kepentingan, tidak ada satu macam pun yang dapat mengerakkan hati saya. Ini karena saya telah menjinakkan semua kekhawatiran duniawi. Di atas dunia sudah tidak ada lagi orang yang pantas mendapat gelar Pria Jantan Berkarakter. Semua orang walau tumbuh di negara yang berkembang pesat Fa Buddha-nya, namun jangankan menjalankan kultivasi, bahkan pikiran untuk mendengar Fa juga tidak ada; seumur hidup kalian, sibuk berbuat dosa melakukan kejahatan, jika masuk ke neraka -- harap-harap tidak dalam, soal waktu -- harap-harap tidak lama. Seperti kalian ini barulah orang yang sungguh-sungguh paling tragis, paling menyedihkan di dunia! Dalam hati saya senantiasa damai dan bahagia. Sekarang izinkan saya nyanyikan sebuah lagu tentang Kebahagiaan dalam Menjalankan Kultivasi untuk didengar kalian.}”

“Mereka pun dengan rasa ingin tahu, sangat tertarik dan dengan tenang mendengarkan saya menyanyi:”

Memberi hormat atas maha karunia Guru Marpa, berharap meninggalkan kehidupan ini dan memohon Jiachi; 

di dalam gua tebing Kuda Putih Pelindung, ada saya si Mila sang praktisi yoga.

Demi memohon Jalan Bodhi yang paling tinggi, tidak memedulikan pakaian makanan melepas kehidupan ini;

di bawah ada kebahagiaan alas duduk tipis, di atas ada kebahagiaan pakaian dari Papo (catatan: Papo adalah nama tempat, sekarang adalah wilayah Nepal);

kultivasi walau berbadan kurus -- itulah kebahagiaan damai, setimpal dengan lapar kedinginan -- menjelma kebahagiaan tubuh;

khayalan liar dapat dimusnahkan -- itulah kebahagiaan Xinxing, tidak kekurangan kedamaian ketenangan -- itulah kebahagiaan sesungguhnya;

ketika ini bahagia -- itu juga ikut bahagia, saya telah menyadari semua yang disebut kebahagiaan;

demi memberitahu generasi berbakat rendah tanpa Jodoh [Yuan], saya ingin bermanfaat untuk diri dan lainnya.

Biar bagaimanapun menjalankan kultivasi dengan damai bahagia, kalian semua bersedih sedangkan saya merasa lucu;

matahari hari ini terbenam di gunung barat, tuan-tuan terhormat segera kembali ke kampung halaman.

Nyawa saya tidak tahu kapan saatnya berakhir, tiada waktu kosong mengobrol hal kotor duniawi;

Demi membuktikan status Kebuddhaan yaitu mencapai kesempurnaan, tolong jangan ganggu saya berkultivasi mengamati Dhyana.

“Setelah mendengar lagu saya -- mereka pun berkata: {Suara lagu kamu sungguh bagus! Semua kebahagiaan yang kamu bicarakan ini, mungkin saja benar. Namun kami sama sekali tidak mampu menjalaninya. Sampai jumpa!} Semuanya segera turun gunung.”

“Penduduk dari kampung halaman saya Kya Ngatsa -- setiap tahun akan mengadakan sebuah pertemuan besar membangun patung Buddha. Pada pertemuan tahun ini, para pemburu itu bersama-sama menyanyikan lagu Kebahagiaan dalam Menjalankan Kultivasi saya itu. Semua orang memuji bahwa lagu ini sungguh bagus. Saat itu adik Peta juga mengemis hingga di pertemuan itu. Setelah dia mendengar lirik lagu ini lalu berkata: {Pengarang lagu ini, mungkin adalah seorang Buddha!}”

“Seorang pemburu berkata sambil tertawa terbahak-bahak: {Ha! Ha! Buddha ataukah makhluk hidup saya sama sekali tidak tahu, namun lagu ini, tepatnya adalah dinyanyikan oleh abang kamu Thopaga itu yang kelaparan hingga tersisa tulang berulang di saat sekarat!}”

“Peta berkata: {Ayah dan ibu saya meninggal sangat awal, para kerabat dan teman pun berubah menjadi musuh, abang juga sudah pergi entah ke mana, hanya tertinggal saya gadis sial pengemis makan, kalian masih menggunakan saya sebagai bahan lelucon, sungguh hati kalian terlalu jahat!} Sambil berkata demikian dia pun mulai menangis tersedu-sedu. Saat itu Zessay juga berada di pertemuan, melihat Peta menangis, lalu menghibur dia dengan berkata: {Jangan menangis! Jangan menangis! Orang yang mengarang lagu ini, sepertinya sangat mirip dengan abang kamu. Beberapa tahun yang lalu saya juga pernah bertemu dengan dia. Bagaimana kalau kamu juga pergi ke gua Humapai untuk melihat-lihat, apakah benar dia atau bukan? Saya juga akan pergi bersama dengan kamu!}”

“Peta merasa ini sangat masuk akal, lalu membawa sebotol arak yang dituangkan oleh Lama dan sedikit Zanba dari beras, datang ke gua Humapai.”

“Peta tiba di gua Humapai, di depan pintu masuk gua, mengintip-intip ke dalam, terlihat saya sedang duduk, mata cekung ke dalam, berubah menjadi dua lubang besar; tulang di tubuh, sebatang demi sebatang menonjol ke luar, seperti puncak gunung saja. Seluruh badan sedikit daging pun tidak ada, kulit dan tulang seperti akan berpisah, pori-pori di sekeliling tubuh muncul bulu halus berwarna hijau; rambut kepala panjang juga longgar, kusut masai menutupi, tangan kaki juga kering kerontang, seperti akan retak hancur. Begitu Peta melihatnya, awalnya mengira adalah hantu, ketakutan hingga ingin pergi, tiba-tiba teringat perkataan ‘Abang kamu yang sekarat kelaparan’, lalu dengan ragu bertanya: {Kamu manusia ataukah hantu?}”

“{Saya adalah Mila Thopaga!}”

“Dia begitu mendengar itu adalah suara saya, berlarian masuk gua, memegang saya dan menangis: {Abang! Abang!} Segera pingsan ke tanah.”

“Begitu saya berjumpa dengan adik Peta, suka duka bercampur aduk. Setelah memikirkan berbagai cara barulah bisa membangunkan dia. Dia menggunakan tangan untuk menutupi wajahnya, berkata sambil menangis: {Ibu memikirkan kamu sampai meninggal. Di desa tidak ada orang yang bersedia membantu saya, karena tidak tahan dengan penderitaan, saya tidak ada pilihan berkelana ke empat penjuru untuk mengemis makanan. Dalam hati terus berpikir: ‘Abang sudah matikah? Atau masih hidup? Andaikan masih hidup, hari-hari harus dilewati dengan gembira!’ Siapa sangka kamu juga berubah menjadi seperti ini. Di dunia ini apakah masih ada yang lebih tragis dibanding kita berdua kakak beradik?} Sambil berkata demikian lalu meneriakkan nama ayah dan ibu, memukuli dada dan membanting kaki, menangis keras sejadi-jadinya.”

“Saya sebisa mungkin menghibur dia, namun sama sekali tidak berhasil, maka dengan sangat sedih menyanyikan sebuah lagu Pelipur Lara kepada adik Peta.”

“Peta pun berkata: {Jika benar demikian, maka sungguh kesempatan yang sulit diperoleh, namun takutnya tidak bisa diandalkan! Jika sungguh benar demikian, mengapa penganut ajaran Buddha yang lain tidak seperti kamu? Meskipun tidak sepenuhnya mirip seperti kamu, juga seharusnya ada satu bagian yang mirip! Orang yang menjalani kultivasi semacam kamu ini, saya bahkan tidak pernah dengar ada orang yang pernah membicarakannya.} Sambil berkata demikian, arak dan makanan diberikan kepada saya untuk dimakan. Setelah saya selesai memakan makanan itu, segera merasa kebijaksanaan menjadi terang benderang. Malam itu, kemampuan spiritual pun mengalami pertumbuhan yang tinggi sekali.”

“Esok paginya setelah Peta pergi, tubuh dan hati saya pada saat yang bersamaan merasakan damai gembira dan juga serangan sakit yang belum pernah ada sebelumnya, kondisi hati telah timbul berbagai macam perubahan dan gejala -- yang baik maupun tidak baik. Walaupun berupaya keras mengultivasikan pandangan, juga tidak dapat menghilangkan persoalan ini. Setelah lewat beberapa hari, Zessay membawa banyak mentega dan daging yang telah disimpan lama, juga ada sebotol arak, datang menjenguk saya bersama Peta. Kebetulan saya sedang keluar mengambil air. Sekembalinya dari mengambil air, dikarenakan di tubuh hampir sedikit pakaian pun sudah tidak ada, hanya sebuah tubuh berbulu warna hijau, maka mereka merasa malu tidak enak hati ketika melihat saya, kepala ditundukkan ke arah lain, berdiri di pinggir dan mulai menangis.”

“Saya memasuki gua dan duduk ke bawah, mereka berdua pun mengambil Zanba - mentega dan arak - daging untuk diberikan kepada saya.”

“Peta berkata kepada saya: {Abang! Tak peduli dilihat dari aspek mana pun, kamu juga tidak mirip seorang manusia! Pergi keluar memperoleh sedikit makanan manusia untuk menjalankan kultivasi -- apakah itu tidak boleh? Saya juga akan memikirkan cara untuk membantu kamu memperoleh sebuah pakaian untuk dikenakan}”

“Zessay juga berkata: {Tak peduli bagaimana pun juga, memakan sedikit makanan itu harus, saya juga akan memikirkan cara membantu kamu memperoleh sebuah pakaian.}”

“Saya berkata: {Saya kapan matinya juga tidak tahu, pergi meminta-minta hanya akan menyia-nyiakan waktu, mana ada gunanya? Walaupun mati kedinginan mati kelaparan, juga adalah mati demi Fa, saya sama sekali tidak akan menyesal. Meninggalkan kultivasi, pergi demi pakaian dan makanan, berupaya keras mengumpulkan uang dan kekayaan, makan makanan bagus, pakai pakaian bagus, makan minum sepuasnya bersama saudara dan teman, menyanyi sembarangan mengobrol tanpa arah, tertawa-tawa melewati hari, menjalani hidup semacam ini adalah sepotong kecil kehidupan berharga milik manusia, saya mutlak menentangnya. Maka kalian juga tidak perlu membantu saya mencari pakaian; saya juga lebih-lebih tidak akan pergi meminta-minta. Kalian semua menjalankan apa yang dianggap benar -- itu sudah cukup!}

“Peta berkata: {Kamu sungguh mencari penderitaan untuk diri sendiri, saya juga tidak tahu kamu bagaimana barulah bisa puas, kelihatannya kamu juga sudah tidak ada cara lain lagi untuk menyiksa diri - untuk menambah penderitaan diri!}”

“Saya berkata: {Kondisi saya ini mana bisa dihitung apa, tiga jalur kejahatan [tiga jalur dari enam jalur reinkarnasi] adalah penderitaan yang sesungguhnya! Namun semua makhluk mudah berbuat jahat, orang yang pergi sendiri mencari penderitaan ini sungguh terlalu banyak untuk disebutkan satu-satu. Terhadap situasi saya sekarang, saya sudah sangat puas. Lalu menyanyikan sebuah lagu tentang Kepuasan untuk didengar mereka berdua:”

“Setelah Zessay mendengar lagu saya, sangat menyesal, dan berkata: {Segala hal yang kamu katakan dulu, dengan segala hal yang dijalankan sekarang, sepenuhnya sama, sungguh membuat orang kagum!}”

“Peta berkata: {Tak peduli bagaimana Abang berkata, kamu sedikit pakaian dan makanan juga tidak ada, saya dalam hati sungguh tidak tahan. Biar bagaimana pun juga saya akan memikirkan cara memperoleh sebuah pakaian untuk kamu. Kamu berkata bahwa tidak mencari pakaian demi menjalankan kultivasi, biar mati pun tidak menyesal, namun selama kamu masih belum meninggal, saya masih akan membantu kamu memikirkan cara untuk memperoleh makanan dan pakaian.}”

“Selesai berkata demikian mereka berdua pun pergi.”

“Saya dikarenakan telah memakan makanan bagus, di tubuh muncul serangan penderitaan dan kebahagiaan serta gangguan pikiran lainnya yang semakin besar, pada akhirnya sama sekali tidak bisa meneruskan kultivasi. Oleh sebab itu saya pun membuka segel surat dari Maha Guru untuk dilihat. Di atasnya berisikan berbagai macam lafalan untuk menyingkirkan-menghalau bahaya -- meningkatkan diri -- mengubah bahaya menjadi GongDe, dan khusus berulang kali mengingatkan saya, bahwa sekarang harus memakan makanan yang bagus. Dikarenakan tenaga saya tiada hentinya digunakan untuk menjalankan kultivasi dengan giat, membuat faktor kunci dari tubuh (mengacu pada Empat Elemen Utama yaitu Tanah - Air - Api - Angin, yang disebut sebagai faktor kunci dari segala materi) semuanya berkumpul dalam meridian. Hal ini, semuanya dikarenakan makanan yang terlalu buruk, maka tidak ada tenaga yang bisa diserap.”

“Saya pun menghabiskan sedikit arak yang dibawakan oleh Peta dan makanan yang dibawakan oleh Zessay, mengikuti petunjuk dari surat bersegel, mengandalkan kunci hati, kunci Qi dan kunci pandangan, lalu menjalankan kultivasi dengan giat. Setelah berhasil membuka simpul meridian kecil di tubuh, simpul di antara Meridian Tengah pun ikut terbuka, menumbuhkan kebahagiaan yang belum pernah ada sebelumnya, merasakan pikiran terang - tanpa niat. Taraf kondisi ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kesadaran tidak umum semacam ini membuktikan GongDe, kestabilan, kebesaran, dan transformasi kehilangan menjadi GongDe. Saya memahami dengan jelas bahwa pikiran khayalan berasal dari tubuh, mengetahui dengan jelas bahwa bereinkarnasi -- mencapai Nirvana -- segala Fa juga ada Sebab-Musabab [Yuan]-nya; segala macam kesadaran hati sendiri membawa ke tempat masing-masing, tindakan buruk mendatangkan reinkarnasi, sedang perbuatan baik dapat terbebaskan mencapai Nirvana. Sedangkan Nirvana hidup mati ini -- sifat dua hal ini bagaikan cahaya terang dari sifat Kosong tidak mendua (tepatnya adalah aliran Fa tidak mendua yang sering disebut-sebut dalam Sutra Vimalakirti). Alasan tumbuh GongDe yang tidak umum semacam ini, adalah hasil akumulasi menjalankan pemurnian dalam kultivasi tapa; sebab tumbuh GongDe yang tidak umum semacam ini, barulah bisa berhasil karena makanan dan lafalan yang sangat mendalam, yang berjalan harmonis dengan Yinyuan. Ini sebabnya jalan leluasa pembaca mantra, yang merupakan jurus kemenangan Bodhi terhadap nafsu materi, telah menumbuhkan keyakinan yang mantap. Secara mendalam juga mengetahui bahwa kemurahan hati dari Peta dan Zessay dalam mempersembahkan makanan juga luar biasa. Demi membalas kemurahan hati mereka, secara khusus bersumpah, akan mencapai Bodhi [Pencerahan]. Mempersembahkan semua pahala kembali ke semuanya.”

“Saya melanjutkan kultivasi dengan giat, secara perlahan merasa di siang hari tubuh dapat berubah sesuka hati, membubung ke udara dan menampilkan berbagai macam kemampuan supranatural [Shentong]. Di malam hari dalam mimpi, dapat berjalan-jalan di puncak dunia, dapat menghancurkan gunung dan sungai. Dapat menjelmakan ratusan ribu tubuh jelmaan, mendengar Fa utama dari semua Buddha di tanah sakral, dan membabarkan Fa kepada makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya. Tubuh dapat masuk dan keluar dari air maupun api, dapat berubah menjadi berbagai macam Dewa. Saya dalam hati bersuka cita sekali, sambil menikmatinya, juga sambil terus berkultivasi. Tidak lama, saya sungguh dapat terbang dengan mudahnya. Saya pun terbang ke Remen -- sendirian di puncak gunung mengultivasikan pandangan, dan melahirkan kehangatan dan kebahagiaan dari Zhuohuoding yang belum pernah ada sebelumnya.”

“Dalam perjalanan terbang kembali ke gua Humapai, ketika melewati sebuah desa kecil Langda, ada dua orang ayah dan anak sedang membajak ladang, mereka dulunya adalah satu komplotan dengan paman. Sang ayah tepat sedang memegang cangkul menggali tanah, sang anak sedang mengendarai sapi untuk membajak ladang. Sang anak begitu mendongakkan kepala terlihat saya sedang terbang di langit, segera berkata: {Ayah lihatlah! Kamu lihat di atas langit ada seseorang sedang terbang!} Dia telah melupakan pekerjaan membajak ladang, dua mata tiada henti melihat saya sedang terbang di udara. Ayah dia berkata: {Ah! Apa yang bisa dilihat, Nyangtsa Kargyen di Kya Ngatsa telah melahirkan seorang putra setan, kelaparan pun tidak mati kelaparan, orang-orang menyebutnya ‘Mila iblis jahat’, pasti dia orangnya! Jangan biarkan bayangan dia menutupi diri kamu, bajaklah ladang dengan baik!} Si orang tua itu takut mengenai bayangan saya, lalu menghindar sana-sini untuk menyingkir ke samping. Sang putra berkata: {Melihat orang hidup dapat terbang, sungguh hal yang menarik! Bila saya dapat terbang, walau kaki patah juga bersedia.} Demikianlah dia pun tidak membajak ladang lagi, sepasang mata terus menatap saya yang ada di udara.”

“Saat itu, saya beranggapan saya telah memiliki kekuatan untuk melakukan Misi yang bermanfaat bagi semua makhluk, saya seharusnya pergi menyebarkan Fa menyelamatkan makhluk -- itu barulah benar. Namun Yidam menampakkan diri dan berkata kepada saya: {Harus mengikuti instruksi Maha Guru menjalani kultivasi sepanjang hidup -- itu barulah benar, di atas dunia ini selain menjalankan kultivasi -- tidak ada lagi hal yang lebih bermanfaat bagi penyebaran Fa dan semua makhluk.} Saya dalam hati berpikir: ‘Persoalan menjalankan kultivasi sepanjang hidup, dapat menjadi contoh bagi biksu di kemudian hari, mempunyai manfaat yang sangat besar bagi semua makhluk dan pengajaran Fa di kemudian hari. Oleh karena itu saya memutuskan tetap menjalankan kultivasi sepanjang hidup di pegunungan.”

“Kembali berpikir: {Saya tinggal di tempat ini sudah bertahun-tahun, orang yang tahu tentang saya juga secara bertahap menjadi banyak. Hari ini anak kecil ini juga telah melihat saya terbang, di kemudian hari takutnya orang yang datang akan makin banyak. Jika terus tinggal di sini, mungkin akan terjatuh dalam delapan hal duniawi, karena godaan dari iblis langit dan reputasi, pada akhirnya tujuan (catatan: maksudnya mencapai kesempurnaan) mungkin akan terputus di tengah jalan. Lebih baik pergi ke tempat terkenal ‘Chuwar’ yang diisyaratkan oleh Maha Guru untuk menjalankan kultivasi saja.} Saya pun membopong panci tanah yang digunakan untuk memasak jelatang, dan meninggalkan gua Humapai.”

“Dikarenakan berkultivasi tapa dalam waktu lama, kekuatan fisik saya tidak bisa bertahan, pakaian lusuh terseret-seret di tanah, sekali tidak hati-hati, membuat kaki tersandung jatuh ke sisi jalan. Begitu tali putus, panci tanah juga ikut hancur. Dalam panci ada seonggok rumput liar berwarna hijau, yang ikut panci tercerai-berai di tanah. Saya melihat pemandangan ini, teringatlah prinsip ‘tidak abadi [anitya]’, dan timbul hati untuk gigih maju yang makin mendalam. Di belakang lereng kebetulan ada seorang pemburu sedang makan, berlari ke tempat saya dan melihat tangan saya sedang memegang pecahan panci, lalu bertanya: {Panci tanah itu telah hancur, kamu masih memegangnya untuk apa? Tubuh kamu demikian kurus, juga berwarna hijau, apa sebabnya?}”

“Saya secara sederhana memberitahu dia proses kultivasi saya. Setelah dia mendengarnya lalu berkata: {Ini sungguh kesempatan yang sulit diperoleh! Mohon kamu ke atas lereng dan makan bersama kami -- boleh tidak?} Saya pun mengikuti dia ke atas lereng. Di sana masih ada beberapa pemburu yang sedang duduk, di antaranya ada seorang yang berkata kepada saya: {Oi! Teman! Saya lihat mata kamu terlihat sangat bagus, jika menggunakan orang seperti kamu yang berkultivasi tapa ini untuk mengerjakan hal duniawi, pasti dapat menunggangi kuda bagus bagaikan singa, dalam rumah akan ada ternak dan pelayan terbaik, menikmati jabatan dan kekayaan, siapa pun juga tidak berani menganiaya anda. Kamu dapat melewati hari dengan sangat nyaman. Jika tidak -- paling minimal, kamu melakukan usaha, juga dapat menghidupi diri sendiri, melewati hari dengan penuh kenyamanan. Walaupun sial, menjadi pembantu orang lain, juga dapat makan dengan kenyang dan berpakaian hangat, pastinya jauh lebih baik dari kondisi kamu sekarang. Dulunya kamu mungkin tidak tahu bagaimana caranya, di kemudian hari kamu lakukan sesuai perkataan saya, pasti tidak akan salah.}”

“Seorang lansia lain berkata: {Sudahlah! Sudahlah! Kamu jangan berkata sembarangan, orang ini kelihatannya sungguh adalah seorang yang sungguh menjalani kultivasi, mana mungkin akan mendengar perkataan kita orang duniawi, lebih baik jangan banyak mulut! Ah! Tuan! Suara anda sungguh indah, mohon anda nyanyikan lagi lagu untuk kami dengar.}”

“Saya berkata: {Kalian melihat saya, merasa saya sangat tragis. Namun di atas dunia ini, orang yang lebih beruntung daripada saya, yang hidupnya lebih bahagia, takutnya sudah tidak dapat dicari lagi.}”

“Saya meninggalkan para pemburu, dan berjalan menuju Chuwar; setelah tiba di Peykhu, sampai di Dingri, lalu di samping jalan berbaring untuk beristirahat sejenak. Ada beberapa gadis dengan dandanan sangat cantik, bersiap-siap untuk menghadiri Fahui [pertemuan], ketika melewati tempat ini telah melihat saya yang bertubuh kurus kering seperti balok kayu, seorang gadis berkata: {Oh kalian lihatlah! Orang ini sungguh menyedihkan! Kita harus bersumpah, di kehidupan mendatang jangan memperoleh sebuah tubuh manusia seperti ini}”

“Gadis yang lain berkata: {Sungguh kasihan! Penampilan seperti ini -- siapa pun yang melihatnya juga akan ikut sedih.}”

“Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa saya di dalam hati juga sedang berpikir, sejumlah makhluk yang bodoh ini sungguh menyedihkan! Tidak tahan sampai tumbuh rasa kasihan yang sangat besar terhadap mereka, lalu berdiri dan berkata kepada mereka: {Oi! Mohon kalian jangan berkata demikian, juga tidak perlu sedih seperti ini. Sejujurnya, walau kalian telah bersumpah, ingin memperoleh sebuah tubuh manusia seperti saya ini, juga tidak mudah! Apakah kalian menaruh kasihan kepada saya? Apakah saya menyedihkan? Saya beritahu kalian, pandangan sesat barulah hal menyedihkan yang sesungguhnya, bodoh dungu barulah sungguh patut dikasihani!}”

“Seorang gadis setelah mendengarnya langsung berkata kepada seorang gadis di sampingnya: {Dia adalah Milarepa! Kita hanya melihat orang lain, namun tidak melihat diri sendiri, telah mengucapkan kata-kata yang tidak patut ini, mari kita bersumpah mengaku salah kepada dia!}”

“Mereka berdua pun datang ke hadapan saya memberi hormat dan meminta ampun, juga mempersembahkan tujuh kulit kerang kecil kepada saya, para gadis yang lain juga semuanya ikut memberi hormat kepada saya, dan memohon saya membabarkan Fa.”

“Saya tiba di daerah Drin, telah mendengar situasi detail mengenai dua daerah Chuwar dan Kyipuhk, lalu memutuskan pergi ke gua Matahari di Kyipuhk untuk menjalankan kultivasi, setelah tinggal beberapa bulan di dalam gua Matahari, kesadaran mengalami peningkatan yang sangat pesat. Penduduk di daerah Drin, sering kali membawakan makanan untuk memberi persembahan kepada saya, dan cukup sering ada banyak orang yang datang menjenguk saya, secara bertahap saya merasa ini ada sedikit hambatan bagi kultivasi saya memasuki Ding, lalu terpikir instruksi Shifu tentang pergi ke pegunungan yang tidak ada manusia untuk menjalankan kultivasi.”

“Saat ini Peta sudah berhasil memperoleh sejumlah wol, dan merajutnya menjadi segulung kain wol, dia membawa kain wol ini ke gua Humapai untuk mencari saya, namun saya sudah pergi, dia pun ke empat penjuru untuk menanyakan keberadaan saya. Ada orang memberitahu dia: {Di daerah tinggi Gungthang ada seorang biksu yoga yang mirip seperti ulat rumput, dari Peykhu setelah melewati Lato lalu berjalan ke arah selatan.} Begitu dia mengetahui itu adalah saya, lalu menyusul ke selatan untuk mencari saya. Ketika tiba di daerah Drin, kebetulan melihat Bari Sang Guru Besar Penerjemah sedang mengadakan Fahui besar. Tempat duduk Fa dari Guru Penerjemah Bari, alas duduk yang ditampilkan tingginya beberapa tingkat, parasol besar dan bendera kemenangan yang terlihat mengesankan, tergantung tinggi sekali di atas kepala, panji-panji yang terbuat dari kain satin dan berwarna lima, melambai-lambai ke empat penjuru. Para murid Lama kecil meniup trompet, minum arak dan menuangkan teh, sibuk ramai dalam satu kelompok; orang-orang yang hadir di pertemuan itu sangat banyak, sungguh sebuah pertemuan megah yang ramai sekali. Peta melihat situasi semacam ini, dalam hati berpikir: {Orang lain belajar ajaran Buddha, ada situasi dan kenikmatan seperti ini, ajaran Buddha yang dipelajari abang saya itu sungguh spesial! Selain mencari penderitaan untuk diri sendiri, sama sekali tidak ada keuntungannya, masih harus menerima ejekan dari orang-orang, para saudara juga ikut kehilangan muka. Kali ini bertemu dengan abang, harus baik-baik berdiskusi dengan dia sejenak, dan memikirkan cara agar diangkat menjadi murid Lama besar Bari ini.}

“Peta bertanya-tanya tentang keberadaan saya kepada orang-orang yang hadir di pertemuan, ada orang memberitahu dia bahwa saya melewati Drin dan tiba di Kyipuhk, setelah berhasil mencari saya, begitu bertemu muka langsung berkata kepada saya: {Abang! Fa yang kamu kultivasikan ini adalah sebuah Fa yang mengajari orang agar mulut tidak makan -- tubuh tidak berpakaian, sungguh memalukan, membuat saya sungguh tidak ada muka untuk bertemu orang. Hal lain tidak perlu diungkit, bagian bawah tubuh kamu sedikit kain untuk menutupi saja tidak ada, betapa jeleknya! Sekarang mohon kamu ambillah kain wol ini sebagai penutup saja!}”

“{Kamu coba lihat orang lain yang belajar ajaran Buddha! Coba lihat Bari Sang Guru Besar Penerjemah yang dihormati, yang diduduki di bawah tubuh adalah alas yang tebalnya beberapa tingkat; di atas tubuh payung penutup maha besar; yang dikenakan di badan adalah kain satin halus, juga minum teh, juga minum arak, murid dan pengikut dia meniup trompet. Orang-orang di pertemuan mengerumuni dia, persembahan yang diberikan tidak terhitung jumlahnya. Seperti ini barulah bermanfaat bagi orang banyak - saudara - teman, semua orang barulah bisa puas dan bangga. Oleh karena itu saya merasa dia adalah kultivator terbaik di antara orang yang berkultivasi Fa, kamu coba lihat apakah ada cara untuk menjadi murid di bawah bimbingan dia, walaupun menjadi seorang Lama yang paling kecil, juga dapat menjalani hidup dengan sangat nyaman. Kalau tidak, oh abang! Fa kamu ini dan nyawa saya! Kita kakak beradik dua orang takutnya tidak bisa hidup lama!} Berkata demikian lalu menangis dengan suara keras.”

“Saya berkata kepada Peta: {Kamu jangan berkata demikian, kalian menjadi malu karena tubuh telanjang saya, saya rasa ini adalah tubuh yang dari asalnya dimiliki oleh setiap orang, kelihatan juga tidak memalukan, ketika orang tua melahirkan saya memang seperti ini, lalu kenapa disebut memalukan? Orang-orang itu yang jelas-jelas tahu bahwa tidak boleh berbuat dosa karma -- sebaliknya malah melakukan dosa karma tanpa memedulikan rasa malu, sehingga membuat orang tuanya khawatir; mencuri aset dari Tiga Pusaka Maha Guru; juga demi memuaskan nafsu pribadi sendiri, menggunakan segala cara menipu semua makhluk, mencelakakan diri sendiri, juga mencelakakan orang lain. Orang semacam ini, adalah orang yang paling dipandang rendah oleh Dewa. Tindak tanduk orang semacam ini, barulah disebut memalukan, mereka tidak saja dalam kehidupan ini memalukan, di masa mendatang juga memalukan, di samping itu, jika kamu berkata bahwa tubuh yang dilahirkan oleh orang tua adalah memalukan, maka ketika orang tua melahirkan kamu, dada kamu sama sekali belum ada dua payudara, namun kenapa kamu sekarang juga merasa malu terhadap payudara ini?}”

“{Kamu mengira saya tidak punya makanan, tidak punya pakaian, menjalankan kultivasi dengan demikian menderita, itu karena saya tidak bisa mencari makanan, tidak bisa mencari pakaian, itu adalah salah. Alasan saya berkultivasi tapa seperti ini, pertama adalah karena saya takut dengan penderitaan di dalam tiga jalur kejahatan; kedua adalah karena saya melihat jalur reinkarnasi menakutkan sekali persis seperti membuang manusia hidup-hidup ke dalam lubang api. Dunia sekuler yang kacau balau berantakan, manusia di dunia yang mengejar nama dan memperebutkan kepentingan, segenap delapan hal duniawi, bagi saya menjijikkan dan membuat saya muak persis seperti makanan busuk yang dimuntahkan oleh orang sakit, begitu saya melihat hal ini, persis seperti melihat darah daging yang dibunuh oleh orang tua kandungnya, dalam hati sedih sulit diungkapkan, ketiga adalah karena instruksi dari Maha Guru Marpa kepada saya: ‘Tinggalkan delapan hal duniawi dan kekacauannya, jangan pedulikan pakaian dan makanan serta omongan orang lain, harus tinggal di pegunungan yang tidak ada manusianya, melepas segenap harapan dan niat di kehidupan ini, berkonsentrasi menjalankan kultivasi dengan gigih maju’, ini sebabnya keinginan saya untuk menjalankan kultivasi dengan giat, juga adalah demi menghormati ajaran dari Maha Guru.}”

“{Saya menjalankan kultivasi untuk menghormati instruksi Maha Guru, bukan saja bermanfaat buat diri sendiri, namun pada akhirnya juga bermanfaat bagi segenap makhluk hidup. Manusia hidup di dunia, setiap saat dapat mati, daripada dibuat pusing oleh delapan hal duniawi, lebih baik mencari pembebasan akhir. Mengenai perkataan kamu meminta saya menjadi pengikut Lama Bari, perkataan ini sungguh terlalu menggelikan! Jika saya ingin menampilkan diri di duniawi, paling tidak juga tidak akan lebih rendah dibanding Lama Bari. Saya dikarenakan ingin Jisheng Chenfo, maka barulah berkultivasi jalan tapa [derita]. Adik Peta! Kamu juga harus melepas delapan hal duniawi, belajar ajaran Buddha dengan baik, ikutlah dengan abang kamu ke gunung bersalju untuk menjalankan kultivasi, di masa mendatang akan bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain, akan seperti pancaran sinar matahari yang terang menerangi bumi pertiwi.}”

“Setelah Peta selesai mendengarnya lalu berkata: {Delapan hal duniawi yang kamu dengar itu tepatnya adalah kebahagiaan di dunia manusia! Kita kakak beradik tidak perlu melepaskannya! Kamu tahu dengan jelas bahwa diri sendiri tidak dapat seperti Lama Bari, demi menutupi rasa malu, dengan sengaja mengatakan berbagai hal yang seakan-akan masuk akal, kamu menyuruh mulut saya tidak makan, tubuh tidak berpakaian, pergi ke puncak bersalju Lachi untuk kedinginan dan kelaparan, saya tidak mau! Mulai sekarang, saya mau pergi ke mana pun -- diri sendiri juga tidak tahu. Abang! Mohon kamu jangan seperti rusa liar yang panik kabur ke mana-mana dikejar oleh anjing, menetaplah di sini -- boleh tidak? Kamu juga boleh menjalankan kultivasi, saya juga dapat dengan mudah mencari kamu, orang-orang di sini sepertinya memiliki rasa percaya kepada kamu, maka menetaplah dalam waktu lama di sini. Jika tidak mohon kamu tinggallah beberapa hari lagi, terlebih dulu gunakan kain wol ini untuk melilit pinggang, tutupilah bawah tubuh. Saya pergi sebentar, beberapa hari lagi akan datang kembali.}”

“Demikianlah saya berjanji dengan Peta untuk tinggal di sini beberapa hari, dia pun pergi ke desa Drin untuk mengemis makanan.”

“Setelah Peta pergi, saya pun membagi kain wol menjadi beberapa bagian, menggunakan satu bagian besar sebagai sebuah topi besar yang menutupi seluruh kepala, juga menggunakan sepotong kain sebagai sepasang sepatu, lalu menggunakan sepotong kain menjadi dua puluh penutup kecil, untuk membungkus sepuluh jari kaki dan sepuluh jari tangan, terakhir membuat sebuah penutup, untuk menutupi tubuh bagian bawah saya.”

“Setelah lewat beberapa hari, Peta pun kembali, dan bertanya kepada saya apakah pakaian saya telah selesai dijahit? Saya berkata telah selesai dijahit, lalu memperlihatkan beberapa penutup itu kepada dia.”

“Begitu dia melihatnya segera berteriak: {Abang! Kamu sungguh bukan seorang manusia! Sedikit rasa malu pun tidak tahu, kain wol yang susah payah saya peroleh dengan ditukar hasil minta-minta -- kamu jadikan potongan kecil, sepenuhnya disia-siakan! Ada kalanya kamu seperti sedikit waktu senggang pun tidak ada, sibuk menjalankan kultivasi, ada kalanya kamu malah banyak waktu untuk mengerjakan hal yang demikian menggelikan! Oh! Kamu sungguh tidak mirip seorang manusia!}”

“Saya berkata: {Saya adalah seorang manusia yang sesungguhnya, orang yang menjalankan Misi penting, saya paling tahu rasa malu, itu sebabnya segenap aturan pantangan dan sumpah janji -- saya jaga dengan sangat baik. Dikarenakan kamu adik saya, merasa bagian vital saya kelihatan jadi tidak enak, merasa malu, namun saya juga tidak bisa memotongnya, maka walau ini membuang-buang waktu saya menjalankan kultivasi, demi memuaskan keinginan kamu, saya lalu bersabar membuat beberapa penutup ini, saya juga terpikir bila bagian bawah tubuh yang tonjol keluar adalah memalukan, maka, tangan - kaki - kepala - jari tangan - segala bagian yang menonjol seharusnya juga terasa memalukan. Ini sebabnya -- semuanya saya buatkan sebuah penutup. Saya sama sekali tidak menyia-nyiakan kain wol, saya menggunakannya untuk membuat penutup yang menutupi rasa malu. Kelihatannya, seakan-akan kamu lebih tahu rasa malu dibanding saya, jika bagian vital saya memalukan, maka bagian vital kamu memalukan tidak? Mengumpulkan harta kekayaan yang memalukan juga tidak lebih baik dari tidak punya apa-apa!} Dia mendengar perkataan saya, satu suara pun tidak terdengar, marahnya sampai raut mukanya berubah hijau, hijau juga kehitam-hitaman.”

“Saya melanjutkan: {Orang-orang di atas dunia, menganggap hal tidak memalukan sebagai hal memalukan, menganggap hal memalukan sebagai hal tidak memalukan, sebaliknya melakukan penipuan dan mencelakakan orang, melakukan hal berdosa dan kejahatan, malah tidak dianggap sebagai memalukan!}”

“Raut wajah Peta masih hijau kehitam-hitaman, memberikan makanan dan mentega hasil minta-minta kepada saya lalu berkata: {Tak peduli bagaimana pun juga, kamu selalu tidak bersedia melakukan apa yang saya katakan. Namun saya selalu tidak bersedia berpisah dengan abang, mohon kamu makanlah makanan ini. Saya kembali ke bawah gunung untuk mencari makanan.} Selesai berkata lalu ingin pergi, saya dalam hati berpikir: ‘Apakah hati Peta sungguh tidak bisa diubah oleh Fa?’ Saya pun berkata kepada Peta: {Kamu jangan pergi terlebih dulu, tunggulah makanan ini selesai dimakan barulah pergi. Selama waktu tinggal di sini, walaupun kamu tidak berkultivasi Fa, kamu pun bisa terhindar dari berbuat dosa di bawah gunung, maka tinggallah beberapa hari di sini.}”

“Peta pun menetap, selama waktu ini, saya sebisa mungkin memberitahu dia tentang prinsip buah karma dari perbuatan baik dan jahat. Dia secara bertahap mulai ada pemahaman yang benar terhadap Fa Buddha, temperamen juga sedikit demi sedikit berubah.”

(Bersambung)