(Minghui.org) Seorang rekan praktisi Falun Dafa baru-baru ini meminta saya untuk membantu memancarkan pikiran lurus untuknya, karena dia telah berpikir melakukan kesalahan saat mengklarifikasi fakta, dan khawatir ia akan dianiaya karena kesalahan tersebut.

Dia memberitahu saya bahwa dia telah membuat sejumlah asumsi, semuanya berdasarkan pikiran negatif. Saya mengatakan agar dia segera menyingkirkannya, karena pikiran itu hanya akan membawa masalah yang tidak perlu.

Namun dia berpikir bahwa saya tidak mau membantunya. Dan dengan penuh air mata, dia memohon agar saya membantunya, bahkan mengucapkan kata-kata kasar. Saya sungguh terkejut!

Saya menjelaskan alasan saya, dan berjanji akan memancarkan pikiran lurus untuknya dua kali sehari.

Setelah dia pergi, saya merenungkan apa yang ia katakan, dan saya punya beberapa pemahaman yang ingin saya bagikan pada rekan praktisi.

Hal Pertama yang Seharusnya Dipikirkan oleh Praktisi Adalah Guru

Sebuah ujian yang dihadapi oleh setiap praktisi adalah, apakah ia benar-benar percaya pada Guru. Di belakang setiap praktisi, selalu ada Fashen Guru—jadi Guru selalu menyertai kita.

Guru berkata,

“Akar saya sudah terpancang pada alam semesta, siapa yang dapat menggoyahkan anda, berarti dapat menggoyahkan saya, terus terang, dia dapat menggoyahkan alam semesta ini.” (Zhuan Falun)

Tetapi praktisi ini tidak pernah memikirkan Guru ketika ia dalam masalah. Hal pertama yang ia pikirkan adalah ibunya, kemudian praktisi lain.

Guru mahakuasa. Mengapa kita tidak meminta bantuan pada Guru? Bukankah ini adalah masalah mendasar dalam Xiulian?

Meski praktisi ini merasa takut setelah ia mengklarifikasi fakta di tempat umum, ia tidak takut saat sebelum atau sedang berbicara dengan orang-orang. Bukankah Guru akan melindunginya? Saya mempunyai pengalaman terhadap rasa takut setelah mengklarifikasi fakta. Namun setiap saat, hal itu disebabkan oleh konsep diri sendiri yang membawa perasaan takut.

Mengapa kita harus mengalami rasa takut setelah berbicara dengan orang-orang tentang Falun Gong di tempat umum? Saya berpikir ada dua alasan.

Pertama, kita tidak sepenuhnya menyingkirkan keterikatan terhadap rasa takut. Jika kita belum mengkultivasikan diri dengan baik pada beberapa aspek, kita dengan mudah akan mengembangkan rasa takut. Ketika konsep manusia muncul ke permukaan, rasa takut itu akan mendominasi.

Kedua, karena kekuatan lama dapat melihat ketakutan kita di ruang dimensi lain, mereka akan menciptakan ilusi, membuat seseorang terus berpikir tentang hal yang dia lakukan tidak baik, dan meningkatkan perasaan takutnya. Tujuan mereka adalah untuk menakuti kita agar kita tidak berani mengklarifikasi fakta di depan publik. Kekuatan lama mencoba menghancurkan kita. Kita seharusnya tidak tertipu dengan ilusi ini.

Kita seharusnya meminta bantuan pada Guru untuk mengatasi ketakutan kita. Kita seharusnya juga mencari konsep manusia dan menyingkirkannya, serta memancarkan pikiran lurus dan menolak pengaturan kekuatan lama.

Guru berkata,

“Pikiran lurus para pengikut kuat
Guru memiliki kemampuan mengatasi keadaan langit.”

(“Budi Jasa Guru dan Pengikut” dari Hong Yin II)

Jika pikiran lurus kita cukup, Guru dapat melakukan segalanya untuk kita. Jika kejahatan masih berani menganiaya, Guru pasti mampu menghentikan mereka.

Gurulah yang Menyelamatkan Manusia

Guru berkata,

“Sesungguhnya yang menyelamatkan manusia adalah Fa, yang mengerjakan hal ini hanyalah Shifu, anda hanya mengarahkan orang yang mempunyai takdir pertemuan untuk mendapatkan Fa, dapat benar-benar diselamatkan atau tidak, masih harus dilihat apakah orang tersebut dapat berkultivasi mencapai kesempurnaan baru ditentukannya. Perhatikan benar-benar: Dengan sengaja atau tidak berbicara bual, Buddha pun akan terkejut, jangan menciptakan rintangan bagi Xiulian anda sendiri, dalam aspek ini ucapan anda juga harus dikultivasi, harap anda semua dapat memahaminya.” (“Tidak Berbicara Sombong” dari Petunjuk Penting Gigih Maju)

Praktisi semuanya berada pada taraf kondisi berbeda dalam Xiulian mereka. Jika ada praktisi yang melakukan dengan baik dalam kultivasi, dia akan dipuji, dan seseorang akan menjadikan dirinya sebagai panutan dalam kultivasinya. Namun kita semua tahu bahwa kita seharusnya menjadikan Fa sebagai Guru, bukan individu praktisi, beberapa praktisi sering melupakan prinsip ini.

Jika kita memujanya, mengidolakan atau bergantung pada praktisi yang gigih, sadar atau tidak sadar, kita akan menghancurkan praktisi ini.

Praktisi yang menerima pujian seharusnya hatinya tidak tergerak. Kita seharusnya sadar bahwa kemampuan yang kita miliki diberikan oleh Guru dan Fa. Kita seharusnya menyadari bahwa “Kultivasi itu tergantung pada diri sendiri sedangkan evolusi Gong tergantung pada Shifu.” (Zhuan Falun)

Guru-lah yang menyelamatkan manusia dan kita hanya meningkatkan diri kita dalam prosesnya.

Jika kita tidak dapat mempertahankan Xinxing dan berpikir terlalu tinggi tentang diri kita saat menerima pujian, atau jika kita mengembangkan mentalitas pamer dan ingin praktisi lain mengikuti kita, kita akan berada dalam bahaya. Kekuatan lama akan menggunakan celah kekosongan ini untuk menganiaya kita.

Tanpa Guru dan Dafa, kita bukanlah apa-apa. Jadi seharusnya kita tidak menganggap diri kita terlalu tinggi, karena hal itu berbahaya, khususnya dalam menghadapi penganiayaan.

Jangan Berpikir Negatif

Seorang praktisi pernah mengatakan pada saya bahwa ibunya selalu berpikir dia akan dianiaya karena berlatih Falun Dafa, jadi dia memancarkan pikiran lurus untuk menyingkirkan penganiayaan khayalan itu. Semua hal itu berasal dari benaknya. Bukankah pikiran negatif semacam ini memiliki konsekuensi? Penganiayaan khayalan akan menjadi nyata. Bukankah dia memberikan alasan bagi kejahatan untuk menganiaya dia?

Saya pernah membaca sebuah artikel yang dipublikasikan di situs web Minghui, di mana seorang penulis berkata bahwa kakinya mengalami pembengkakan saat melalui karma penyakit. Namun dia mampu duduk dalam posisi sila ganda dalam belajar Fa bersama di rumah praktisi senior, namun gagal melakukannya saat dia seorang diri atau bersama orang lain. Dia bingung, dan bertanya pada praktisi senior tersebut. Praktisi itu berkata bahwa dia mencoba tidak memiliki pikiran negatif terhadap penulis, karena itu hanya akan memberikan energi kepada kekuatan lama dan meningkatkan karma penyakit. Ketika praktisi lain bertanya pada praktisi senior ini jika penulis telah pulih, dia selalu berbicara positif.

Pikiran lurus praktisi sangat penting bagi rekan praktisi yang berada dalam kesengsaraan. Dampak dari pikiran positif dan negatif sangat berbeda.

Guru berkata:

“Makin kalian memandang kesulitannya besar, maka pekerjaannya makin sulit dilakukan, rupa terbentuk dari hati.” (“Ceramah Fa pada Konferensi Dajiyuan”, Ceramah di Berbagai Tempat 10)

Pikiran kita mampu mengubah lingkungan, jadi kita perlu mempertahankan pikiran lurus.

Hidup dalam masyarakat yang penuh dengan pikiran negatif, yang paling utama adalah bagaimana menyingkirkan mereka, khususnya kebiasaan terhadap rasa curiga.

Praktisi perlu menyingkirkan pikiran negatif saat memancarkan pikiran lurus dan dalam kehidupan sehari-hari. Karena hal itu akan dimanfaatkan oleh kejahatan, memberi mereka alasan menganiaya kita. Ketika sebuah pikiran negatif muncul, kita sudah harus menyingkirkannya segera.

Di atas merupakan pemahaman saya. Harap dikoreksi dengan belas kasih jika ada sesuatu yang tidak tepat.