Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Kisah Ibu Saya, Hu Qili

11 Okt. 2009 |   Oleh: putri dari Hu Qili


(Minghui.org) Nama ibu saya adalah Hu Qili. Usianya 48 tahun. Sebelumnya ia bekerja di Konstruksi Pertama Perusahaan Rumah Sakit dari Biro Pertambangan Shuangyashan (sekarang adalah Rumah Sakit Fangyuan) di Provinsi Heilongjiang. Ia pergi ke Beijing untuk memohon keadilan bagi Falun Gong pada 21 Nopember 1999, dan dia dipecat oleh direktur rumah sakit, Mou Lingqin dan Sekretaris Partai Komunis, Li Qinghua dua hari kemudian. Selama sepuluh tahun terakhir ini, ibu saya telah tiga kali  ditahan secara ilegal dan dua kali dikirim ke kamp kerja paksa. Ia sedang menjalani hukuman.

Foto Hu Qili bersama dengan putrinya

1. Mulai untuk Berlatih

Suatu hari pada tahun 1996, ibu saya pergi ke Taman Yishoushan untuk berolah raga. Ia melihat sebuah papan dan membacanya, “Falun Dafa: Sejati, Baik, Sabar.” Ia tertarik pada prinsip-prinsip ini dan mulai ikut berlatih.

Ia mengikuti prinsip-prinsip Falun Dafa dan berusaha keras untuk melakukannya dengan baik. Ketika bekeja di rumah sakit dan gampang menulis resep obat untuk dirinya sendiri, ia tidak melakukannya sejak berlatih Falun Gong. Etika kerjanya sangat bagus sehingga mendapat pujian dari manajer dan rekan-rekan kerja.

2. Penganiayaan


Setelah Partai Komunis China menganiaya Falun Gong pada 1999, seperti jutaan praktisi lain, keluarga kami mengalami penderitaan selama sepuluh tahun ini. Penganiayaan itu masih berlanjut sampai hari ini.

Ibu saya pertama kali ditangkap ketika pergi ke Beijing untuk memohon keadilan bagi  Falun Gong pada 21 Nopember 1999. Ia ditahan di Pusat Penahanan Xicheng selama 17 hari.

Setelah dikembalikan ke rumah, ia menceritakan bahwa direktur rumah sakit, Mou Lingqin dan Sekretaris PKC, Li Qinghua memecatnya saat ia absen. Sejak itu, ia bekerja keras untuk menutupinya.

Kedua kali ditangkap, ia ditahan di Pusat Penahanan Biro Pertambangan Shuangyashan. Saya masih ingat dengan jelas hari dimana ia kembali ke rumah. Ia sangat kurus, seluruh rambutnya berubah menjadi putih. Tatapan matanya sangat dalam, dan bibirnya membiru. Ia sangat sulit mempunyai kekuatan untuk berbicara.

Ia ditangkap untuk ketiga kalinya pada September 2001. Ia ditahan selama 58 hari di Pusat Penahanan Kotamadya Shuangyashan, dari 6 September sampai 3 Nopember 2001.

Ia juga dikirim ke Kamp Kerja Paksa Jiamusi dua kali. Yang pertama ketika ia pergi ke Beijing untuk memohon keadilan bagi Falun Dafa pada 2 Juli 2000. Ia ditangkap dan dikirim ke kamp kerja paksa selama satu tahun oleh polisi dari Biro Keamanan Publik  Shuangyashan.

Yang kedua terjadi pada saat hari ulang tahun saya. Pada 20 Februari 2002. Ibu saya sedang menyiapkan perayaan ulang tahun saya ketika empat polisi datang dan  membawanya dengan paksa. Ia dihukum dua tahun di kamp kerja paksa. Selama dua tahun itu, ia disiksa oleh penjaga dan narapidana. Setiap hari, ia dipaksa duduk di bangku tanpa sandaran dengan tiga benjolan selama 17 sampai 18 jam. Ia juga dipaksa untuk menonton video yang memfitnah Falun Gong. Karena menolak untuk melepaskan keyakinannya, ia diborgol ke belakang selama beberapa hari, dan sangat menderita.

Sekarang ia menghadapi hukuman baru. Kira-kira jam 20.00, 20 Juli 2009, empat atau lima polisi bersama direktur Li Hongbo dan Zhuo Aimin dari Kantor Polisi Lixin dari Biro Keamanan Publik Shuangyasahan menjebak kami untuk membuka pintu dengan mengatakan mereka ingin memungut bayaran. Setelah kami membukakan pintu, mereka meminta kami diam di tempat dan menggeledah rumah kami tanpa menunjukkan surat perintah atau identitas apapun. Kami bahkan tidak diijinkan pergi ke kamar mandi. Mereka mengambil barang-barang milik pribadi kami termasuk perhiasan, telepon selular, dan lebih dari 400 yuan uang tunai. Mereka juga membawa ibu saya dan menahannya di Pusat Penahanan Kotamadya Shuangyashan. Ia ditahan secara resmi dan akan segera dijatuhi hukuman.

Saya berbagi kisah pengalamannya karena saya ingin memberitahu kepada masyarakat bahwa penganiayaan Falun Gong sebenarnya adalah penganiayaan terhadap hati nurani bangsa. Jiwa dan masa depan bangsa sedang dihancurkan!

Saya tidak bisa menggambarkan penderitaan ibu saya selengkapnya. Jenis penyiksaan  fisik dan mental hanya dapat dirasakan oleh mereka yang mengalaminya sendiri. Kisah ibu saya hanya puncak dari gunung es dari seluruh penderitaan oleh praktisi Falun Gong yang tertindas.

Artikel terkait: Hu Qili Ditahan dan Dikirim ke Kamp Kerja Paksa untuk Kedua Kalinya http://clearwisdom.net/html/articles/2009/8/10/109929.html

Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2009/9/10/208066.html
English: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2009/9/21/110998.html