Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Pentingnya Kesabaran

14 Okt. 2009 |   Oleh: praktisi Falun Dafa di Provinsi Heilongjiang


(Minghui.org) Saya adalah seorang praktisi yang menangani masalah-masalah teknis bagi praktisi lain. Saya menyadari bahwa saya sering kali kurang sabar ketika berhadapan dengan orang. Bahkan kadang-kadang saya tidak memperlihatkan ketidaksabaran, saya masih merasakan ketidaksabaran di dalam hati. Terutama ketika melihat masalah yang sama terjadi berulang-ulang, saya mengeluh, "Bagaimana kamu bisa begitu bodoh? Anda harusnya tahu apa yang terjadi hanya dengan melihatnya."

Ada sebuah tempat produksi materi klarifikasi fakta keluarga yang jauh dari kota, dimana sulit bagi saya untuk pergi ke sana. Para praktisi tidak memiliki pengetahuan teknis dan dengan demikian dibingungkan oleh masalah-masalah paling sederhana. Pada awalnya, saya cukup bersabar karena menyadari rekan-rekan praktisi dan saya bekerja untuk menyelamatkan semua makhluk hidup. Namun, karena semakin banyak panggilan pelayanan yang diperlukan, ketidaksabaran saya mulai tampak keluar.

Ketidaksabaran ini termanifestasi pada beberapa bidang. Sebagai contoh, ketika seorang rekan kerja mengajukan pertanyaan sederhana kepadaku, saya menjawab singkat atau mengabaikan pertanyaan untuk sementara waktu. Saya menjadi kesal dan tidak sabar ketika seorang praktisi membaca dengan lambat saat belajar Fa bersama. Juga, saya tidak ingin mendengar pendapat yang berbeda dengan saya, dan bahkan berdebat untuk mengungkapkan pendapat saya.

Guru menyuruh kita untuk melihat ke dalam ketika mengalami masalah. Baru-baru ini, kami membaca ceramah-ceramah Guru yang lama di kelompok belajar Fa bersama. Ketika Guru ditanya oleh pertanyaan dangkal, bahkan kadang-kadang pertanyaan-pertanyaan konyol, beliau menjawabnya dengan sabar satu demi satu. Saya hanya bisa membatin, "Guru benar-benar sangat sabar."

Setelah berpikir cermat, saya menyadari bahwa dibalik kesabaran ada belas kasihan Guru yang besar. Saya mengerti bahwa munculnya ketidaksabaran sebagai akibat kurangnya belas kasihan.

Jadi bagaimana kita dapat menjadi lebih berbelas kasih? Saya percaya itu ada hubungannya dengan jumlah keterikatan yang kita miliki. Bagaimana bisa seseorang memiliki belas kasih dewa tanpa membuang keterikatan? Pada saat yang sama, belas kasih juga dapat mencerminkan kondisi kultivasi kita.

Saya berharap semua praktisi yang memiliki pengetahuan teknis akan membantu praktisi lain dengan belas kasih dan sabar untuk merubah dari ketidaktahuan menggunakan peralatan menjadi tahu menggunakannya. Kita seharusnya tidak hanya mengajar orang lain cara menggunakan peralatan, tetapi juga bagaimana memperbaiki peralatan sehingga peralatan kita dapat digunakan lebih baik dalam penyelamatan makhluk hidup.

Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2009/9/26/208910.html
English: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2009/10/5/111333.html