Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

“Setelah Melewati Bayangan Pohon Willow, Akan Ada Kecerahan Bunga Dan Sebuah Desa Lain”

25 Agu 2009

Dari Konferensi Berbagi Pengalaman Kultivasi Falun Dafa Jawa Tengah 2009

Oleh: Karnadi, praktisi Jakarta

(Minghui.org)

Salam kepada Shifu yang terhormat! Salam kepada rekan-rekan praktisi!

Artikel ini lahir dari kejadian-kejadian selama persiapan pertunjukan Shen Yun yang rencananya hadir di Jakarta pada Maret 2009. Namun di sini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan dengan rendah hati mencari ke dalam, menemukan kekurangan-kekurangan diri sendiri, serta memetik pelajaran agar dapat melakukannya lebih baik.

Karena kita adalah para pengikut Dafa dengan misi sakral membantu Shifu meluruskan Fa dan menyelamatkan makhluk hidup, kita harus mampu bangkit dari kegagalan; menghindarkan hal yang ekstrem seperti: terhenti di masa lampau, atau tidak mau belajar dari kesalahan.  

1. Menyikapi Konflik Dengan Baik – Meningkatkan Xinxing

Dalam proses mempersiapkan kedatangan Shen Yun, saya sempat terhenyak mengapa saya harus menyaksikan sekian banyak perselisihan dan bagaimana menyikapi semua ini. Namun dengan kualitas kesadaran yang rendah, setelah beberapa bulan berlalu – diri ini baru menyadari bahwa sebenarnya bukankah ini refleksi dari keterikatan hati saya sendiri.

Perselisihan – paling minimum – bukankan selalu muncul karena mempertahankan pendapat sendiri, paling sedikit bukankah karena menganggap benar diri sendiri, merasa lebih baik dari orang lain? Saya kilas balik dan telusuri kembali, bukankah itu juga refleksi dari nafsu bersaing, sifat iri hati, mentalitas pamer yang tengah bekerja.

Saya semula merasakan proses yang demikian: Pada saat melihat dua praktisi berselisih, hati tergerak - berpikir praktisi A benar, B salah. Tetapi dari sudut pandang Fa: bukankah kita katakan dia baik, belum tentu dia baik dan dikatakan buruk belum tentu dia buruk.

Pada perselisihan berikut sudah tidak berpikir demikian, tetapi lebih bertoleransi mencoba memahami hati setiap orang, dikatakan demikian – hati semakin tidak ingin terlibat.

Namun tidak ingin terlibat – bukankah itu juga suatu sikap? Bukankah banyak dewa semula juga tidak menyatakan sikap terhadap Pelurusan Fa?  

Jadi mulailah mengutarakan pendapat, tetapi berusaha mengingat kata-kata Shifu dalam ceramah mengenai Xiu Kou - agar “tidak berbicara menghasut” (Zhuan Falun) - melainkan harus mendorong terciptanya kesatuan tubuh. Ini juga suatu proses - semakin kuat pikiran lurus, baru dapat mencapai kondisi demikian.

Sesungguhnya, jika di hati ada belas kasih, banyak konflik akan mencair dengan sendirinya. Saya berpikir apakah mungkin, kita para pengikut pada masa Pelurusan Fa, saling tidak dapat menatap muka rekan-rekan kita sendiri? Kita yang merupakan partikel-partikel Dafa, saling menolak satu sama lain, saling tidak mendukung. Terhadap aspek ini saya terinspirasi oleh satu artikel pemahaman rekan praktisi yang menyarankan agar banyak melakukan pemancaran pikiran lurus terhadap sekat-sekat yang memisahkan diri kita dengan rekan-rekan praktisi. Setelah melakukan beberapa waktu, hasilnya baik, saya merasa hati lebih ringan dan ceria, serta merasa siap untuk bekerjasama dengan rekan-rekan yang mana saja sepanjang itu lurus dan bertujuan menyelamatkan makhluk hidup.  

Namun – bila hati tidak tergerak dan sungguh berbelas kasih - mengapa masih terus menyaksikan demikian banyak konflik, bahkan setelah musim pertunjukan Shen Yun berlalu? Ataukah ini semua hanya pada permukaan?

Saya berpikir karena saya belum memahami bentuk Xiulian pengikut Dafa, karena dalam benak selalu timbul perasaan kita harus saling menyayangi – hal yang tidak salah untuk orang biasa, tetapi untuk kita adalah keterikatan. Dikatakan lebih lanjut, saya mungkin orang yang takut dengan konflik.

Maka jadilah saya menyaksikan banyak konflik, hingga saya melepas rasa takut akan konflik dan memandangnya sebagai hal yang positif. Bukan saya katakan, diri ini bagaimana benar atau salah, tetapi saya katakan, cobaan ini tidak membuat saya terperosok, tetapi semakin memperkuat tekad saya untuk sungguh-sungguh melepas berbagai keterikatan hati yang sedalam lautan, sungguh melepas bersamaan dengan itu menyangkal seluruh pengaturan kejahatan, tidak akan menyenangkan mereka lagi. Bukankah sungguh tidak terbayangkan, bila para Sang Maha Sadar bertemu tetapi saling membuang muka. Saya dengan pikiran polos ingin suatu hari – bila kebetulan bertemu, tetap dapat senyum kepada anda semua, tetapi luasnya alam semesta apakah nanti dapat bertemu kembali - sulit diutarakan. Karena itu, sekarang saya hendak berkata, mari kita lakukan lebih baik, takdir pertemuan kita dengan rekan-rekan praktisi harus dihargai dan diselesaikan dengan baik, sehingga tidak ada penyesalan di hati maupun di kemudian hari.

+++

Setelah menyaksikan banyak konflik, muncul lagi satu fenomena yang beruntun. Ada satu minggu, dimana saya menjadi pendengar dari berbagai keluhan praktisi tentang praktisi lain. Betapa banyak keterikatan hati saya, setelah menjadi saksi banyak perselisihan, mengapa sekarang menjadi pendengar banyak keluhan? Praktisi A mengeluh tentang B, C dengan D, E dengan F, dari hal yang menurut saya sepele hingga cukup serius.

Bukankah ini tidak memenuhi kriteria yang Shifu katakan ‘Sepuluh ribu batang Mai terangkai jadi satu,’ (Zhuan Falun). Egois adalah karakter alam semesta lama, sedang permintaan Shifu kepada para pengikut pada masa Pelurusan Fa adalah membentuk satu kesatuan tubuh. Hal-hal yang mendorong perpecahan, harus kita lenyapkan seketika dengan pikiran lurus, jangan memberi mereka celah kekosongan.

Setiap peristiwa saya rasakan menjadi suatu peringatan, setiap kejadian dapat menjadi cermin Xinxing kita. Apakah saya sendiri telah mengkultivasi pembicaraan dengan baik? Bukankah demikian?

Walaupun langkah kaki kadang terseok, kadang baik, kadang cepat, kadang lamban, tetapi setiap kejadian akan menjadi suatu inspirasi, suatu dorongan bila kita senantiasa dapat mencari ke dalam. Selama dalam proses melakukan ini, menempa kita menjadi lebih dewasa, semakin arif. Dalam Lunyu, Shifu mengatakan, “Jika umat manusia dapat mengenali kembali diri sendiri dan alam semesta, mengubah mentalitas yang kaku, mereka niscaya akan memperoleh suatu kemajuan pesat.”

Saya berpemahaman bahwa tidak ada obat mujarab dalam menangani konflik, melainkan banyaklah belajar Fa, terutama bagi para praktisi yang berkonflik atau yang memiliki keluhan tentang rekan lain, termasuk orang yang menyaksikannya seperti saya, justru seharusnya membentuk kelompok belajar Fa bersama. Mari kita belajar Fa bersama dengan orang-orang yang pernah berkonflik dengan kita, singkirkan sejenak konflik-konflik tersebut - karena saat belajar Fa kita akan segera mengenali ketidaklurusan pikiran kita. Karena saat belajar Fa, kita mungkin tidak akan lagi berpikir mengenai keburukannya, melainkan mengenali kebaikannya - sementara kita akan menatap lebar-lebar kekurangan kita sendiri.

Melalui sharing dengan praktisi-praktisi lain, kami menyadari suatu aspek yang juga bermanfaat untuk meredam konflik, adalah tidak memperkuatnya, seperti: secara sengaja atau tidak sengaja berpihak pada orang-orang tertentu dalam konflik yang melibatkan kelompok; sepenuhnya menyadari bahwa kita tidak berkultivasi mengikuti orang-orang tertentu. Hal ini Shifu telah ajarkan secara jelas: “Jika anda ingin jadi seorang praktisi Xiulian, sepenuhnya mengandalkan kultivasi anda sendiri, sepenuhnya mengandalkan hati anda untuk menyadari, tidak ada teladan.” (Zhuan Falun)

2. Memanfaatkan Waktu Dengan Ketat

Saat mendengar pengumuman pembatalan pertunjukan Shen Yun terkilas di benak, entah apa masih ada kesempatan berikut. Namun sebagai praktisi, saya juga tidak boleh berketerikatan dengan waktu. Tetapi di sisi lain, munculnya pikiran demikian, juga menjadi suatu peringatan agar memanfaatkan waktu dan setiap kesempatan dengan baik. Teringat suatu kejadian: Suatu pagi setelah pemancaran pikiran lurus yang pertama jam 5:10, saya ditelepon oleh rekan praktisi agar menggantikan dirinya menyebarkan brosur Shen Yun di suatu area di pinggiran Kota Jakarta. “Jam berapa harus hadir?” tanya saya. Jam 6:00 pagi harus tiba di lokasi, dengan kata lain harus segera berangkat mengingat jarak tempuhnya. Dalam hati timbul keengganan, mana nanti siang ada rapat Shen Yun lagi. Merasa sudah banyak melakukan, saya menolak dan memutuskan untuk tidur kembali. Langsung saya diberi mimpi ketinggalan bus, saya melihat para penumpang yang hendak menonton Shen Yun sudah naik ke bus, sementara saya berputar-putar mencari kamar kecil. Perasaan hati hari itu sungguh tidak enak. Kita merasa telah banyak melakukan, tetapi bukankah Shifu mengajarkan bahwa “Xiulian tidak dapat mengandalkan perasaan.” (Zhuan Falun) Meskipun terkadang memang sedemikian letih setelah melakukan ‘banyak’ (dalam tanda kutip) pekerjaan Dafa… Kalau hanya dengan letih saja dapat meningkat, bukankah Guru pernah menyebutkan “petani Tiongkok-lah yang paling menderita,” (Zhuan Falun) - saat krusial baru dapat dilihat kondisi kultivasi yang sejati.

Tetapi saat diri menyatu dalam Fa, saya merasakan kebijaksanaan kita sungguh terbuka. Saya mengalami malam-malam yang indah dimana kata-kata mengalir dengan lancar, pikiran jernih dan tubuh tidak merasa lelah sedikit pun saat menerjemahkan materi-materi Shen Yun hingga larut malam. Nyamuk-nyamuk yang biasa mengerubungi kaki pun terasa sangat bersahabat. Saya merasakan keselarasan dengan lingkungan kita, hati dipenuhi belas kasih.

Selama dalam proses persiapan Shen Yun, ada kalanya ketika diri merasa dipersalahkan oleh rekan lain, timbul keengganan untuk menghadiri pertemuan. Suatu pagi saya sudah memiliki niat yang tidak baik tersebut. Namun saat berbicara dengan seorang rekan praktisi di tempat latihan, dia mengatakan sesuatu yang membuat saya segera tersadar, “Hal-hal yang kita lakukan sangatlah sakral.” Saya merasa itu adalah isyarat yang sangat jelas dari Shifu, maka siang itu saya pun hadir pada rapat persiapan seperti sediakala.

Karena pengasuh anak kami pulang ke kampung sesaat sebelum persiapan Shen Yun dimulai, anak kami yang saat itu berumur 5 tahun juga harus terus ikut, mengingat istri saya juga membantu tim penjualan tiket Shen Yun. Kadangkala kami harus membujuknya agar dia mau ikut. Suatu hari saya merasa bila tidak hadir sekali-kali tidaklah masalah, tetapi anehnya – anak saya hari itu berkeras untuk pergi ke tempat rapat. Bahkan dia menjadi uring-uringan bila tidak dituruti. Shifu melalui berbagai cara - secara jelas terus mengingatkan kami disaat pikiran lurus kami kurang atau saat rasa malas berperan.

Satu kejadian lagi adalah: Senin, tiga hari sebelum pembatalan Shen Yun, saya diajak menempel poster Shen Yun oleh seorang rekan praktisi. Mengendarai motor, kami berkeliling ke pusat-pusat kebudayaan asing dan meminta ijin menempelkan poster Shen Yun, hari yang indah semuanya berjalan lancar. Hari Rabu rekan praktisi kembali mengajak, tetapi saya berpikir sore harinya harus rapat lagi. Ternyata itu adalah pertemuan kelompok kerja yang terakhir untuk pertunjukan Maret 2009, karena keesokan harinya diumumkan pertunjukan Shen Yun dibatalkan. Hal itu menimbulkan penyesalan mendalam. Seandainya, seandainya tahu itu yang terakhir, pagi itu saya tentu akan ke luar, tak peduli bagaimana mengatur waktunya. Bukankah banyak hal serupa dalam proses Xiulian kita, kesempatan yang kita sia-siakan? Suatu ujian bukankah bisa saja merupakan ujian apakah pantas menjadi dewa atau tetap manusia? Satu momen jika berlalu, maka sudah berlalu. Ini merupakan pelajaran yang mahal untuk saya. Saya teringat kata-kata Shifu mengenai hilangnya Buddha Dharma (Zhuan Falun): “Ini adalah sebuah pelajaran sejarah yang serius.”

Ketika kecil saya gemar nonton film silat. Sebelum murid turun gunung – sang guru biasanya memberi wejangan terakhirnya dan seringkali nasehat terakhir itu sangatlah penting. Entah berapa kali kita telah baca kata penutup Shifu dalam Ceramah IX – Zhuan Falun: “Harap anda pulang ke rumah menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk sungguh-sungguh berkultivasi.”  

Penutup


Sebenarnya beberapa pemahaman di atas sudah pernah saya sharing-kan dalam skala kecil. Namun atas dorongan rekan praktisi, saya kembali mengutarakannya dalam kesempatan besar ini, semoga dapat menggugah rekan-rekan yang memiliki masalah yang sama, agar kita semua bergegas melepas keterikatan hati kita yang terakhir dan paling permukaan, yang mungkin juga keterikatan hati kita yang paling keras, serta “menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk sungguh-sungguh berkultivasi.”

Di atas adalah pemahaman pribadi saya. Mohon tunjukkan bila ada yang tidak sesuai dengan Fa.

Terima kasih kepada Shifu yang belas kasih, terima kasih kepada rekan-rekan sekalian.

Agustus 2009