Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Mengikuti Kriteria Pengendalian Diri dan Toleransi Yang Lebih Tinggi Dalam Perkawinan

18 Maret 2010 |   Oleh: praktisi Falun Dafa dari China


(Minghui.org) Kemarin suami mengatakan kepada saya, "Seprai-seprai ini berkualitas rendah. Mereka penuh dengan statis listrik." Saya memandang ke arah seprai tersebut dan tahu bahwa dia yang telah membeli seprai. Saya segera menjawab, "Saya pernah beri tahu bahwa kamu tidak tahu bagaimana memilih barang. Kamu tidak setuju dengan saya. Kamu lihat, yang saya beli dengan harga yang sama masih lebih baik." Kemudian saya menyadari bahwa kata-kata saya mengandung begitu banyak keterikatan hati: mengkritik orang lain, memandang rendah orang lain, perasaan kesal, mementingkan diri sendiri, puas diri, pamer, dan lain-lain.

Baru-baru ini, saya sering berbicara kepadanya seperti itu. Saya tidak menyadari bahwa saya hanya berharap dia untuk berkultivasi - bukannya mengultivasi diri sendiri. Ketika berbagai hal terjadi, saya pertama kali melihat kesalahan-kesalahannya. Jika dia berdebat, saya akan meminta dia untuk mencari ke dalam. Saya memusatkan perhatian pada kekurangannya. Saya selalu ingin berada di atasnya. Dalam benak saya, tidak ada hal baik yang dia lakukan. Setelah itu, saya menyadari hal itu tidaklah benar. Saya seharusnya tidak memperlakukannya seperti itu. Tapi ketika terjadi sesuatu, saya lupa. Saya mulai mengkritik dirinya ketika dia melakukan sesuatu yang saya tidak suka. Saya bahkan marah,  setelah itu menyesal. Mengingat masa lalu dalam kultivasi pribadi, saya selalu dapat mencari ke dalam dan ketat terhadap diri sendiri ketika terjadi sesuatu. Lingkungan di rumah pun harmonis. Kami, sebagai suami dan istri, memiliki hubungan yang baik.

Mengapa saya kurang mampu mengendalikan diri akhir-akhir ini? Saya pikir alasannya bahwa saya tidak dapat menangani hubungan antara suami istri dengan baik karena keterikatan pada perasaan (qing). Saya meletakkan hubungan suami istri di posisi yang pertama dan meletakkan hubungan kami sebagai sesama praktisi di tempat yang kedua. Karena dia adalah suami, saya merasa dapat mengatakan apa pun yang saya inginkan dan melakukan apa pun yang saya inginkan tanpa batasan, seperti manusia biasa. Kami bertengkar satu sama lain dan tidak dapat membentuk satu tubuh.

Mencari ke dalam, saya menemukan keterikatan egoisme, mencari kenyamanan, dan berbagai konsep manusia. Saya percaya pepatah kuno, "Laki-laki bekerja di luar, dan perempuan mengurus rumah tangga," adalah benar. Seorang suami harus bekerja di luar dan memastikan bahwa keluarga kami punya cukup uang untuk hidup. Tapi suami saya ditangkap secara ilegal oleh pihak berwenang dan ditahan selama bertahun-tahun. Saya harus bekerja keras untuk mencari nafkah dan mengurus anak-anak dan orang tua kami. Saya harus banyak mengalami kesusahan. Saya tahu ini disebabkan oleh kejahatan PKC, tapi ketika keterikatan untuk mencari kenyamanan muncul, atau ketika kami mengalami kesulitan keuangan, saya marah kepadanya. Saya merasa pantas mendapatkan lebih, karena saya telah bekerja keras dan berkorban banyak untuk keluarga. Saya mengharapkan imbalan. Jadi saya sering menggunakan pepatah "Laki-laki bekerja di luar, dan wanita mengurus rumah tangga" untuk mengkritik dia. Saya pikir dia harus berbuat dan berkorban lebih banyak demi keluarga untuk meringankan beban saya, sehingga hidup saya lebih nyaman.

Meskipun pepatah kuno mengatakan, "Laki-laki bekerja di luar, dan wanita mengurus rumah tangga" mungkin baik bagi manusia biasa, kita sebagai praktisi tidak dapat dibatasi oleh kata-kata ini. Kita perlu mengukur diri kita dengan standar Fa.

Guru berkata, "Tetapi selaku seorang praktisi Gong, itu sangat mengecewakan. Jika anda bersaing dan bertengkar seperti manusia biasa, anda adalah manusia biasa, jika anda berbuat lebih bersemangat daripada dia, anda bahkan lebih buruk daripada dia yang hanya manusia biasa." (Zhuan Falun)

Dibandingkan dengan kriteria Guru, saya benar-benar merasa malu. Saya menggunakan konsep manusia biasa untuk menutupi keterikatan manusia biasa saya. Bukankah ini tindakan seorang manusia biasa?

Ada beberapa alasan untuk hal ini: Ketika saya sedikit belajar Fa, konsep manusia biasa mendominasi. Juga, budaya Partai telah mempengaruhi saya. Wanita modern yang kuat dan kurang feminin. Pada zaman dahulu, suami dan istri saling menghormati, bahkan standarnya lebih tinggi bagi kita sebagai praktisi Dafa. Guru mengatakan kepada kita bahwa kita harus belajar Fa lebih banyak. Untuk memahami prinsip-prinsip Fa, saya harus belajar Fa lebih banyak, ketat dengan diri sendiri, dan memperlakukan suami saya sebagai sesama praktisi. Saya harus mengukur diri dengan standar Fa, memikirkan orang lain terlebih dahulu dalam setiap situasi, dan mencari ke dalam jika ada masalah. Saya harus bersikap toleran, mengakui kelebihannya, dan menunjukkan kekurangannya dengan hati yang baik. Kita harus menjadi satu tubuh dan melakukan tiga hal dengan baik.

Jika suami atau istri Anda juga seorang praktisi, Anda berdua harus memeriksa pikiran dan perilaku Anda terhadap pasangan Anda dan lebih menahan diri. Saya berharap pasangan yang berlatih Falun Dafa menyadari hal ini.

Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2010/2/13/218057.html
English: http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2010/3/6/115174.html