Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Taipei, Taiwan: Pawai Akbar Menyerukan Penghentian Penganiayaan

9 Agu 2010 |   Oleh: Li Huirong dan Shen Rong


(Minghui.org) Para praktisi Falun Gong di Taipei menggelar pawai dan nyala lilin di bagian wilayah kota yang paling ramai pada 18 Juli 2010 untuk memprotes 11 tahun berlangsungnya  penganiayaan Falun Gong di China. Aksi tersebut menyerukan kepada orang-orang di seluruh dunia untuk bangkit serta membantu mengakhiri penganiayaan.

Wisatawan dari China menonton pawai   

Sebelas tahun yang lalu, pada 20 Juli 1999, mantan pemimpin komunis China Jiang Zemin beserta rezim komunisnya melancarkan penganiayaan brutal terhadap Falun Gong dan mengklaim bahwa mereka akan dapat memusnahkan Falun Gong dalam jangka waktu tiga bulan. Meskipun penganiayaan kejam terjadi di China, namun Falun Gong malah berkembang subur di luar daratan China. Buku tuntunan utama, Zhuan Falun, telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa yang berbeda. Latihan Falun Gong ini telah tersebar di lebih dari seratus negara di seluruh penjuru dunia.

Wisatawan dari China Kagum Oleh Pawai Akbar Tersebut

Pada pagi itu, bus demi bus yang membawa wisatawan China yang mengenakan baju kaos merah menurunkan mereka di depan Gedung 101 Taipei, yaitu gedung tertinggi kedua di dunia. Jumlah mereka sekitar 8.000 orang dan mereka berasal dari berbagai penjuru negeri China. Mereka menatap spanduk-spanduk dan papan informasi mengenai Falun Gong dan penganiayaan yang telah dipersiapkan oleh para praktisi di halaman Gedung 101 dan di alun-alun yang ada di seberang  jalan. Ketika bus-bus itu tiba untuk mengangkut mereka kembali guna melanjutkan perjalanan ke obyek wisata berikutnya, mereka merasa enggan untuk meninggalkan tempat meskipun sudah diperingatkan oleh para pemandu wisata mereka. Banyak di antara mereka tidak hanya melihat papan informasi begitu saja, mereka juga mendengarkan para praktisi mengklarifikasi fakta penganiayaan dan mengambil brosur Falun Dafa.

Ketika bus-bus penjemput tiba, beberapa wisatawan China masih terus membaca papan-papan informasi    

Wisatawan China melambaikan tangan kepada para peserta pawai Falun Dafa

Ada sepasang suami-istri yang membaca  papan informasi tersebut dengan seksama. Ketika seorang praktisi menjelaskan tentang penganiayaan kepada mereka, sang istri meneteskan air mata dan nyaris tidak bisa mengeluarkan kata-kata.     




Ketika truk pembawa pengeras suara melintas, para wisatawan mendengarkan dan membaca fakta kejahatan pengambilan organ dari para praktisi Falun Gong yang masih hidup   

Membangkitkan Hati Nurani dan Mengakhiri Penganiayaan

Pawai akbar Falun Dafa dimulai pada pukul 3 sore. Marching Band Dunia Surga mengawali pawai dengan musik yang berkekuatan dan agung. Pawai itu menarik perhatian para wisatawan asal China. Banyak di antara mereka mengeluarkan ponsel dan kamera untuk mengabadikan pemandangan yang mereka tidak dapat saksikan di China. Ketika Marching Band melantunkan lagu “Falun Dafa Hao” banyak wisatawan tersebut merekam penampilan band. Seorang pria yang berasal dari Provinsi Shandong menghela nafas panjang, “Menakjubkan. Ini pertama kalinya buat kami dapat menyaksikan pawai yang begitu menakjubkan. Mustahil kita dapat menggelar pawai seperti ini di China. Jangankan pawai, orang-orang akan diinterogasi karena saling berbicara satu sama lain.”         

Mereka menonton sampai pawai itu lenyap dari pandangan mata mereka.




Wisatawan China mengambil foto dan merekam suatu pemandangan yang mereka tidak pernah dapat saksikan di China  

Seorang wanita dari Zhejiang berseru, “Mengapa begitu banyak orang berlatih Falun Gong?!” Wisatawan lainnya menjawab, “Ya, bahkan ada lebih banyak lagi di sana!” Wanita itu menyimpulkan, “Jika Falun Dafa tidak baik, tidak akan ada begitu banyak orang yang ikut latihan.” Seorang wanita lanjut usia lainnya mengungkapkan rasa setujunya, “Dulu sangat banyak orang berlatih Falun Dafa di China.”       

Pawai akbar itu mulai dari Alun-alun Gedung 101 dan menarik perhatian para wisatawan China  

Ketika orang-orang dalam bus melihat pawai itu, mereka bangkit seraya ingin mengetahuinya lewat jendela bus dan menontonnya secara lebih dekat.  




Wisatawan China melihat-lihat papan-papan klarifikasi fakta seketika mereka turun dari bus

Seorang wisatawan dari Vietnam ingin mengambil lebih banyak materi informasi untuk dibagikan kepada teman-teman dan keluarga mereka. Dia sangat senang menyaksikan pawai itu saat berkunjung ke Gedung 101. “Pawai itu sangat memukau. Saya begitu tersentuh. Para praktisi adalah orang-orang yang baik hati, tidak seperti apa yang dilaporkan dalam propagandan rezim komunis China. Saya mendukung orang-orang yang memiliki keyakinan.”     

Para wisatawan China mengambil brosur dari para praktisi dan segera membacanya  

Seorang praktisi memberi tahu fakta Falun Gong dan penganiayaan kepada wisatawan China

“Ada peragaan nyata,“ seorang wisatawan China menjerit ketika dia menyaksikan truk membawa peragaan anti-penyiksaan dalam barisan pawai itu. Wanita yang lainnya membuka kaca mata hitamnya agar bisa melihatnya dengan lebih jelas. Ketika pemandu wisata terburu-buru mengajaknya masuk ke dalam bus, wanita itu perlahan-lahan berkata, “Itu peragaan penganiayaan yang dilakukan oleh rezim komunis China. Penganiayaan itu sangat jahat.”   

Pawai itu berakhir pada pukul 6 sore, kemudian dilanjutkan dengan konferensi pers dan penyalaan lilin bersama untuk mengenang para praktisi yang meninggal karena penyiksaan dan penganiayaan kejam selama sebelas tahun terakhir.  

Seruan Untuk Membangkitkan Rasa Keadilan Serta Hati Nurani Guna Mengakhiri Penganiayaan

Pada pukul 7 malam saat matahari terbenam, 1000 praktisi yang mengenakan baju kaos berwarna kuning dengan lilin di kedua tapak tangan mereka, duduk di depan Gedung 101 untuk mengenang dan menghormati orang-orang yang telah dianiaya hingga meninggal di China. Banyak orang datang untuk menyampaikan antusias mereka serta memberikan dukungan agar penganiayaan tersebut segera diakhiri.   

Para praktisi duduk di depan Gedung 101 untuk memperingati dan menghormati mereka yang meninggal di China karena penganiayaan terhadap Falun Gong

Lin Feng-Jeng, Direktur Eksekutif Yayasan Reformasi Peradilan

Lin Feng-Jeng, Direktur Eksekutif Yayasan Reformasi Peradilan, merasa tersentuh menyaksikan begitu banyak praktisi mengungkapkan keyakinan teguh mereka pada latihan Falun Gong. Lin berharap agar upaya mereka untuk mengakhiri penganiayaan akan terus berlanjut, “Orang-orang harus mendukung upaya untuk mengakhiri penganiayaan ini. Jika kita tidak memberikan dukungan pada hari ini, siapa yang akan menjadi korban penganiayaan pada giliran berikutnya nanti?”  

Ken Chiu, Wakil Presiden CIPFG Divisi Asia   

Ken Chiu, Wakil Presiden Koalisi untuk Investigasi penganiayaan Falun Gong di China (CIPFG), mengatakan bahwa dia merasa sangat terbebani dan sedih mengingat mereka yang telah meninggal karena disiksa di seberang Selat Taiwan.   

Tien Chiu-Chin, anggota Legislatif Yuan

Tien Chiu-Chin, seorang anggota Legislatif, membungkuk sebagai tanda hormat kepada para praktisi saat dia melangkahkan kakinya di panggung. Dia berkata bahwa dirinya tidak bisa berpura-pura guna mengabaikan peristiwa penganiayaan keji itu. “Orang baik tidak akan berdiam diri dan membiarkan kekejaman demikian - ketika mereka mengetahui fakta-fakta penganiayaan.”  Dia menghimbau semua orang untuk memberikan perhatian terhadap penganiayaan itu karena  berkaitan erat dengan kebebasan dan hak asazi manusia bagi semua orang.    

Para praktisi Falun Gong menyelenggarakan renungan lilin bersama pada 18 Juli 2010 untuk mengenang para praktisi yang telah meninggal dunia dalam 11 tahun penganiayaan  

Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2010/7/19/227216.html
English: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2010/7/22/118751.html