Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Semua Keajaiban Karena Belas Kasih Guru

28 Maret 2011 |   Oleh: Fuji di daratan China


(Minghui.org) Tanggal 20 Mei 1995 adalah keberuntungan terbesar saya dapat menemukan Falun Dafa. Saya saat itu berumur 25 tahun. Sejak hari itu, saya tidak kendur dalam kultivasi. Sebuah kehormatan paling besar untuk mengikuti Guru Li Hongzhi yang membimbing kultivasi saya. Bahkan ketika mengalami penyiksaan mengerikan dalam penganiayaan berdarah ini, saya menjalani setiap langkah dengan pencerahan, kekuatan, perlindungan Guru, dan tetap tenang ketika telah kehilangan segalanya di dunia ini. Saya telah merasakan belas kasih tak terhingga dari Guru Li Hongzhi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Saya akan menceritakan beberapa kejadian yang mencatat kebesaran Guru Li Hongzhi dan keampuhan dari Dafa.

Saat itu Saya Tidak Merasa Sakit, Tubuh Saya Terasa Ringan

Pada tanggal 1 Mei 2000, saya lolos dari pengawasan ketat dan dapat menghindari pemeriksaan pihak berwenang dalam perjalanan ke Lapangan Tiananmen. Ini adalah kedua kalinya saya membuktikan kebenaran Fa di Tiananmen. Saya merasa sebagai partikel Dafa, mengetahui bahwa Guru Li dan Dafa sedang difitnah oleh media negara, jika saya tidak melangkah maju untuk menunaikan tugas suci ini, menghilangkan fitnahan, hidup saya akan sia-sia.

Ketika saya duduk di alun-alun dengan bersila ganda, saya menangkupkan kedua tangan dan melafalkan Fa Guru untuk mengusir keterikatan rasa takut. Saya merasa tengah menjelujurkan kaki terbaik saya bagi orang-orang di dunia. Tiba-tiba, saya merasa tubuh ini tinggi dan kokoh, sendirian, sepertinya kerumunan orang banyak menghilang dari alun-alun yang luas. Kemudian, saya tidak tahu kapan, dua petugas polisi bersenjata merengut lengan dan menyeret saya ke sebuah kendaraan polisi. Saya dibawa ke Pos Polisi Qianmen. Praktisi Dafa dari seluruh negeri dibawa ke tempat ini. Kemudian mereka dengan cepat dipindahkan ke tempat penahanan lain.

Disamping mengulangi permintaan saya untuk menghentikan penganiayaan, saya tidak menjawab pertanyaan polisi. Petugas menggunakan metode penyiksaan yang disebut "memanggul pedang di punggung." Mereka mengikat tangan saya di belakang dengan satu tangan di atas bahu dan lainnya di punggung bawah. Para petugas menarik dengan keras dua tangan untuk disatukan dan memborgolnya bersama-sama. Ketika saya merasa kedua lengan akan patah akibat rasa sakit yang luar biasa, arus hangat mengalir melalui seluruh tubuh,  melenturkan tulang dan melenyapkan rasa sakit.

Para petugas tidak berhenti sampai disitu, kemudian mereka memaksa saya setengah jongkok dengan kepala mendongak. Seorang petugas menginjak kaki saya untuk menjaga saya dalam posisi ini. Sesekali ia akan menampar atau memukul saya. Petugas lain memegangi tangan saya dan mengguncang sepasang borgol dengan keras, yang mengiris daging pergelangan tangan saya pada setiap guncangan. Kemudian seorang petugas tinggi besar menendang saya jatuh ke tanah sebelum menyeret untuk memaksa saya jongkok seperti sebelumnya. Seorang petugas kurus dan pendek masuk. Dia menyalakan rokok dan memasukkan rokok menyala ke dalam hidung. Rasa sakit itu luar biasa, bulir-bulir keringat dan air mata mengalir deras di wajah saya.

Meskipun rasa sakit luar biasa, saya tetap tenang dan tidak memendam kebencian. Saya tidak berpikir hendak menyerah atau bekerjasama dengan polisi. Saya hanya berpikir jika sepasang borgol dapat dilonggarkan sedikit, saya tidak akan merasa sakit sedemikian rupa. Tapi rasa sakit terus meningkat. Saya menyadari bahwa ini merupakan pikiran manusia biasa. Saya bertekad di dalam pikiran: Untuk menegakkan kebenaran alam semesta, sakit atau kematian tidak akan menghentikan saya. Puisi Guru bergema di pikiran:

Hidup dengan tidak ada yang dicari.
Meninggal pun tidak menyesali yang ditinggalkan.
Padamkan semua pikiran yang berlebihan
Tidak sulit berkultivasi Buddha.
("TIDAK TERSISA " dari Hong Yin)

Pada saat itu saya tidak merasa sakit lagi, dan tubuh saya terasa ringan. Pada saat petugas membuka borgol, saya telah kehilangan semua rasa di tangan ini. Seorang petugas mengatakan kepada saya untuk menggerakkan jari agar menghindari cacat. Keesokan harinya saya dibawa kembali ke kampung halaman. Saya pulih dalam empat bulan.

Duduk Bersila Ganda dengan Belenggu Seberat Lebih dari 20 Pon

Pada pertengahan Mei 2000, saya dibawa ke pusat penahanan untuk kedua kalinya. Kami telah melakukan latihan kelompok di tempat umum selama lebih dari dua bulan. Akhirnya, Kantor 610 menangkap banyak praktisi. Saya bertukar pengalaman dengan praktisi lain di pusat penahanan, "Dimanapun kita berada, itu adalah tempat latihan kita. Dafa adalah paling lurus. Tidak ada yang salah dengan belajar Fa dan melakukan latihan. Kita harus menciptakan lingkungan kita sendiri dan tidak terintimidasi oleh penjaga pusat penahanan dan petugas polisi yang mengarahkan senjata pada kita."

Suatu malam sekitar pukul 04:00, enam rekan praktisi di sel kami datang dan duduk bersila ganda. Para penjaga segera datang dan berteriak dari luar jendela, "Berhenti melakukan latihan!" Praktisi lain berhenti, tapi saya tidak bergeming. Saya melafalkan puisi Guru, "Manusia biasa tidak mengenal saya, saya duduk dalam misteri" ("SANG SADAR" dari Hong Yin)

Para penjaga terus berteriak. Narapidana terbangun oleh teriakan mulai menyalahkan saya. Beberapa datang menghampiri. Mereka mencoba untuk mendorong saya ke tanah tetapi tidak mampu. Setelah banyak usaha, mereka dapat menarik salah satu kaki saya keluar dari posisi sila (lotus). Kecuali mereka memegang kaki saya dengan segenap tenaga mereka, jika tidak kaki akan kembali ke posisi lotus. Oleh karena itu, para tahanan terpaksa menyerah. Para penjaga mengancam, "Kita tunggu sampai besok untuk mengurus Anda."  Saya duduk dalam sila ganda sampai fajar.

Tak lama setelah sarapan pagi, dua penjaga dan beberapa narapidana laki-laki datang untuk membuka pintu sel. Mereka memanggil saya ke pintu. Seorang penjaga menampar saya belasan kali. Kepala saya membentur gerbang besi setiap kali saya ditampar. Saya tidak merasa sakit. Setelah itu, saya menemukan ada benjolan di bagian belakang kepala.

Mereka memasang belenggu pada saya yang beratnya lebih dari 20 pon. Hanya tahanan terpidana mati yang dipasangkan belenggu ini. Bahkan  tahanan yang mencoba untuk menghentikan saya dari berlatih malam sebelumnya berpikir hukuman tersebut terlalu berat. Saya tetap tenang. Saya pikir saya bisa mengatasi halangan dengan keyakinan teguh pada Dafa. Saya mengangkat kaki saya dan duduk dengan kedua kaki disilangkan dalam posisi lotus. Saya merasa kaki saya selembut mie yang telah dimasak. Seolah-olah tidak ada belenggu.

Komentar beredar di antara para narapidana. "Praktisi Falun Gong dapat duduk dengan kaki disilangkan sambil mengenakan belenggu bagi terpidana hukuman mati. Guru Falun Gong luar biasa! Muridnya begitu kuat!" Narapidana di sel saya menunjukkan rasa hormat yang besar kepada saya. Mereka mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan oleh belenggu berat dengan tidak menguncinya. Rekan-rekan praktisi melakukan mogok makan, menuntut pelepasan belenggu. Ketika saya berjalan ke sel narapidana lain, mereka akan mendekat ke pintu sel dan menaikkan jempol mereka, berteriak, "Luar biasa! Falun Gong!"

Setelah itu, praktisi kembali dapat latihan kelompok setiap pagi di halaman. Penjaga dan polisi bersenjata berjalan lalu lalang dan tidak mengganggu.

Melompat dari Lantai Dua, Saya Merasa Seperti Burung Layang-Layang

Saya berulang kali menulis surat kepada para pucuk pimpinan PKC di kota kami untuk membuktikan kebaikan Falun Dafa serta mengirim surat kepada berbagai organisasi pemerintah untuk menjelaskan fakta tentang Falun Dafa. Sekretaris PKC kota memerintahkan badan keamanan negara untuk menemukan pengirim surat. Pada bulan September 2000, saya disergap saat hendak mengirim surat lagi. Saya dibawa ke Grup Keamanan Politik di lantai dua kantor polisi. Saya menolak  memberikan mereka informasi apa pun. Ketika hari telah sangat larut, petugas mengunci saya di kantor dan pulang ke rumah.

Saya berpikir saya tidak melanggar hukum dan tidak ingin ditahan ilegal di sana. Saya memandang sekeliling dan melihat bahwa saya bisa melarikan diri ke luar jendela. Tapi banyak pikiran mengganggu saya. Bagaimana jika saya patah tangan atau kaki saat melompat dari ketinggian ini? Bagaimana jika penjaga keamanan di pos gerbang melihat saya dengan senternya?

Saya menangkupkan tangan di depan dada dan memanggil Guru. Saya mencoba untuk tenang. Saya pikir ada begitu banyak hal yang harus saya lakukan untuk membuktikan Fa. Begitu pikiran ini muncul, saya langsung tenang.

Saya memutuskan untuk melarikan diri pukul 2:30-3:00 subuh. Dari jendela, saya menunggu penjaga keamanan menyelesaikan patroli mereka, kemudian saya melemparkan tas. Saya memanjat keluar jendela dan naik ke mesin AC. Saya menemukan beberapa kabel di bawah AC untuk dipijak sambil memegang jeruji baja di luar jendela. Saya kemudian melompat ke daerah terbuka. Saya mendarat ringan, hanya sedikit melewati parit dalam. Saya tidak merasakan apa pun, dan merasa seperti burung layang-layang mendarat di sebuah cabang pohon.

Saya mengambil tas dan berjalan ke pintu gerbang. Dua penjaga keamanan tengah tiduran di kursi mereka. Mereka melihat saya berjalan menuju pusat gerbang dan melambaikan tangan saat berjalan keluar melalui kamar mereka. Saya menyadari bahwa pintu gerbang terkunci dan  hanya akan dibuka jika kendaraan melewatinya. Saya dengan tenang berjalan melewati kedua penjaga tersebut.

Seluruh Tubuh Saya Tidak Bergeming; Tidak Seorangpun Dapat Menggerakkannya

Karena pengaruh dari cerita kultivasi tradisional, saya menerima begitu saja bahwa seseorang harus menanggung banyak penderitaan baru dapat tercerahkan. Kemudian, artikel baru Guru keluar. Saya menyadari bahwa pikiran saya ini sesuai dengan pengaturan kekuatan lama dan memungkinkan mereka untuk memanfaatkan kebocoran dalam diri ini. Pada bulan Maret 2001, saya dibawa ke kamp kerja paksa. Penganiayaan jauh lebih parah daripada di pusat penahanan. Perangkap di mana-mana. Sulit untuk mengatasi semua itu tanpa pikiran lurus dan perbuatan lurus seorang kultivator.

Pada tanggal 14 Mei saya dipindahkan dari "Divisi Pengawasan ketat" ke "Divisi Transformasi." Penjaga kamp kerja paksa menggunakan segala macam tekanan dan kekerasan untuk mencoba "merubah" saya. Saya selalu mengikuti ajaran Guru “Dalam keadaan apa pun jangan bekerja sama dengan permintaan, perintah, atau suruhan kejahatan. Jika anda semuanya berbuat demikian, maka lingkungan sudah tidak begini lagi."   ("Pikiran Lurus Pengikut Dafa Memiliki Keampuhan" dari Petunjuk Penting Untuk Gigih Maju II)

Lebih dari 20 orang ditugaskan untuk "merubah" saya. Mereka mengutuk saya, memukul di kepala, dan menggaruk di bawah ketiak saya.

Saya teringat Fa Guru, "Sabar bukan sifat pengecut, lebih-lebih bukan bersikap pasrah terhadap perlakuan buruk." ("Bersabar Sampai Batas Akhir Kesabaran" dari Petunjuk Penting Untuk Gigih Maju II) Saya membayangkan diri ini sebagai pengikut Dafa, keras bagai intan dan penuh kekuatan. Saya menggoyangkan lengan untuk menyingkirkan mereka. Saya juga berpikir bahwa mereka harus berhenti melakukan hal buruk terhadap Dafa.

Saya berpikir ini tidak harus berlanjut setiap hari. Saya berkata perlahan tapi tegas, "Biarlah langit dan bumi menjadi saksi saya: Jika saya mengingkari janji saya mengikuti Guru, saya akan disambar petir." Saya mendengar kata-kata itu bergema tiga kali saat saya merasa tubuh ini diselimuti energi yang kuat. Tidak bergeming. Tidak ada yang bisa menggerakkan saya. Mereka bahkan tidak bisa menggerakkan lengan saya, ketika mereka menusuk mata saya, bola mata saya keras. Saya berdiri di sana seperti itu selama tiga jam. Ketika saya berpikir hendak menggunakan kamar kecil, saya berjalan pergi (catatan: kejahatan menggunakan larangan penggunaan kamar kecil untuk menyiksa praktisi). Tidak ada yang berani menghentikan saya. Mereka semua takut. Hanya beberapa hari saja, saya dapat meninggalkan kamp kerja paksa.

Saya Melihat Tangisan di Mata Banyak Orang; Mereka Tersentuh oleh Falun Dafa

Pada pertengahan Juni, sebelum saya dibebaskan, saya belajar kata-kata kunci untuk memancarkan pikiran lurus dari seorang rekan praktisi. Kebanyakan praktisi tidak tahu tentang hal ini sebelumnya. Saya gembira mendapatkan Guru telah mengajarkan kami pendekatan baru ini. Saya sangat semangat ingin mengatakan kepada sebanyak mungkin praktisi. Guru melihat hati saya dan membuat pengaturan bahwa saya bertemu dengan demikian banyak praktisi hanya dalam beberapa hari.

Memancarkan pikiran lurus memainkan peran besar dalam memusnahkan lingkungan jahat di kamp kerja paksa. Pada satu kesempatan, empat narapidana menolak untuk mendengarkan penjelasan, kemudian memaki praktisi dan Guru. Saya memperingatkan mereka dengan pikiran lurus yang kuat, "Jika Anda terus seperti ini, Anda tidak akan dapat berbicara sepatah kata pun." Keesokan harinya, empat narapidana ini semua sakit tenggorokan dan gejala mirip flu. Mereka menggunakan obat suntikan satu minggu penuh. Setelah itu, mereka akan berpikir dua kali sebelum mengumpat Dafa.

Ada banyak kasus lain seperti ini. Kami secara intensif memancarkan pikiran lurus untuk melenyapkan unsur-unsur kejahatan di belakang para penjaga dan narapidana yang ditugaskan untuk memantau kami. Kami menetapkan bahwa mereka akan segera menerima ganjaran. Mereka juga menjadi lelah setelah melakukan perbuatan buruk atau memutuskan untuk berhenti melakukan perintah jahat. Beberapa narapidana berubah pikiran dan akhirnya membantu kami. Kami dapat belajar Fa, melakukan latihan, memancarkan pikiran lurus, serta menerima artikel-artikel Guru terbaru.

Unsur kejahatan di dimensi lain berpikir bahwa sebagai sebuah kelompok, praktisi terlalu kuat. Mereka mencoba memisahkan kami. Saya dibawa ke "Divisi Produksi." Meskipun saya tidak harus melakukan kerja paksa, saya dipaksa pergi ke bengkel kerja dengan narapidana yang ditugaskan untuk memantau saya. Saya menolak untuk pergi. Kepala Divisi memanggil enam tahanan untuk menyeret saya ke sana. Sepanjang jalan, saya berteriak "Falun Dafa baik!" dan "Fa Meluruskan langit dan bumi."

Di bengkel kerja, saya memberi tahu orang-orang bagaimana saya mendapat manfaat dari berlatih Falun Gong. Saya menjelaskan kepada mereka bagaimana pemerintah merekayasa insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen untuk melemparkan tuduhan palsu pada Dafa dan menimbulkan kecurigaan rakyat. Kepala Divisi marah dan memerintahkan orang-orangnya untuk membungkam saya, tetapi tidak seorangpun mampu membekap mulut saya. Saya berdiri dan terus menjelaskan fakta dan berseru kepada orang-orang untuk mendukung Dafa dengan hati nurani mereka.

Seorang kepala divisi lain memberikan mikrofon ke tahanan bernama Lin Na untuk membaca sebuah artikel koran yang memfitnah Falun Dafa. Saya mendekatinya dan berteriak, "Lin Na, jangan membacanya. Anda akan menghadapi pembalasan karma karena memfitnah Dafa." Dia terguncang. Setelah beberapa kata, ia terdiam.

Saya mulai menceritakan kepada orang-orang fakta tentang Falun Gong. Ada lebih dari 400 orang di bengkel kerja. Saya membacakan puisi Guru dalam Hong Yin, dan menyanyikan melodi dari musik Dafa Pudu dan Jishi. Saya larut dalam Fa. Air mata menetes dari mata saya. Saya juga melihat air mata membasahi mata banyak orang. Mereka tersentuh oleh belas kasih Falun Dafa.

Tetap Awet Muda

Setelah meninggalkan kamp kerja paksa, saya telah mengabdikan delapan tahun terakhir untuk memberi tahu orang-orang fakta kebenaran dan bagi kegiatan Dafa lainnya. Saya memahami prinsip-prinsip Fa untuk sepenuhnya menyangkal pengaturan kekuatan lama. Saya telah menemukan penyebab mengapa saya dianiaya. Saya telah mampu melakukan semuanya dengan lancar. Saya berkali-kali masuk ke dalam situasi berbahaya, tetapi setiap kali saya dapat melewatinya dengan aman.

Sudah 16 tahun sejak saya mulai berkultivasi Dafa. Saya kelihatan seperti seseorang di akhir usia dua puluhan. Saya pergi mengunjungi putri saya di perguruan tinggi September lalu, dan disangka sebagai seorang siswi.

November lalu, saya naik kereta mengunjungi seorang rekan praktisi di penjara. Seorang wanita tua duduk di sebelah saya. Saya memanggil dia sebagai bibi. Ternyata, anaknya berusia sama dengan anak saya. Saya pikir saya telah bersikap kurang sopan. Ternyata dia hanya satu tahun lebih tua dari saya. Saya minta maaf dan memanggilnya kakak. Penumpang di samping kami terkejut. Tak satu pun dari mereka percaya bahwa usia kami sama. Saya mengeluarkan kartu identitas diri. Saya katakan kepada mereka, "Saya terlihat muda karena berlatih Falun Dafa. Penampilan saya dapat mengungkapkan keagungan Falun Dafa. Marilah kita semua ingat bahwa Falun Dafa adalah satu-satunya harapan yang dapat menyelamatkan kita."

Chinese:  http://www.minghui.org/mh/articles/2011/2/23/ 征文 选登 - 处处 神迹 颂 师恩-236429.html
English: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2011/3/13/123779.html