Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Rezim Polisi Komunis Mengumpulkan Informasi dari Anak-anak dalam Upaya untuk Menjebak Orangtua Mereka yang Berlatih Falun Gong

9 April 2011 |   Oleh: Yi Jiayan


(Minghui.org) Suatu hari di tahun lalu, sebuah pertemuan bisnis berubah tertawa ketika seorang manajer pemasaran berkata, "Kita harus bekerja keras untuk mencegah kebakaran, pencurian, dan pemerintah!" Semua yang hadir adalah orang-orang terdidik dengan sarjana atau gelar master, dan tawa mereka hanya menegaskan satu hal. Partai Komunis China (PKC) merupakan ancaman yang sama seperti kebakaran dan pencurian. Rakyat China berorientasi pada keluarga, dan selalu waspada pada potensi kebakaran atau pencurian.

Mengenai masalah keamanan, saya ingin mengingatkan semua orang, terutama mereka yang tertarik menonton berita, bahwa prioritas utama dalam mencegah PKC merugikan kita adalah bersikap kritis atas beritanya, yang tidak hanya menipu tetapi juga meracuni dan bahkan menyesatkan pikiran rakyat China. Ada banyak pelajaran dalam hal ini. Ketika muncul penganiayaan terhadap Falun Gong, banyak kejadian yang tidak valid seperti yang diperlihatkan di TV. Berikut adalah beberapa contoh yang menunjukkan bagaimana polisi rejim Komunis mengumpulkan informasi dari anak-anak dalam upaya untuk melakukan tuduhan palsu terhadap orangtua mereka yang berlatih praktisi Falun Gong.

Kasus 1: Masa Kecil yang Menderita dari Seorang Gadis Berumur 11 Tahun di Kota Wuhan, Provinsi Hubei

Qing Qing berumur sebelas tahun tidak ingin pergi ke sekolah. Untuk pergi keluar, dia bahkan mencoba untuk melarikan diri dari rumah. Dia tidak takut belajar. Ketika berada di sekolah, dia sering hanya duduk dengan tenang dan mempelajari buku-bukunya. Dia mungkin bahkan lebih baik dalam belajar membaca dan menulis daripada anak-anak lain seusianya. Tapi dia masih dihantui oleh kenangan yang datang kembali setiap kali pergi ke sekolah.


Foto Qing Qing semasa kecil


Qing Qing bersama ibunya, Hu Huifang

Kenangan yang terjadi di sekolah masih membuatnya ketakutan. Pada tahun 2008, guru Qing Qing menyuruhnya pergi ke kantor. Qing Qing mengikuti gurunya ke kantor dan menemukan beberapa orang asing menunggunya. Mereka bertanya tentang ibunya, Hu Huifang, adalah seorang praktisi Falun Gong.

Ibunya dibawa ke sebuah kamp musim dingin di Cailin Guest House di Distrik Hongshan, Kota Wuhan pada 11 Februari 2008, saat Tahun Baru Imlek. Saat ia mengajar di kelas di kamp musim dingin, sekelompok petugas berpakaian preman dari Divisi Keamanan Domestik Departemen Kepolisian Kota Wuhan menerobos masuk ke kelas dan menahan Hu Huifang dan Chen Man, guru lain yang juga seorang praktisi Falun Gong. Hari itu adalah hari terakhir Qing Qing melihat ibunya

Sekarang Qing Qing baru mengerti siapa orang-orang asing itu. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan dan mencatatnya dengan seksama. Di akhir pertanyaan, mereka meminta Qing Qing untuk menandatangani dan cap jari pada catatan yang mereka buat. Ketika berumur sembilan tahun, ia tidak mengerti mengapa para petugas mengajukan pertanyaan, dan bahkan dia tidak tahu apa yang ditulis di catatan mereka.

Petugas yang mendapatkan catatan dari anak kecil itu menjadi "bukti," yang diajukan di pengadilan saat persidangan ibunda dari Qing Qing pada 16 April 2009. Hu Huifang dihukum empat tahun penjara di akhir persidangan dan dikirim ke Penjara Wanita Wuhan pada Juli 2009. Ketika Qing Qing melihat ibunya dalam kondisi yang sangat buruk di penjara, ia menjadi tertekan.

Polisi masih sering pergi ke sekolah Qing Qing untuk mengintimidasi dirinya. Dia sekarang merasa ketakutan karena setiap saat bisa bertemu petugas di sekolah. Tanpa perlindungan orangtuanya, sekolah telah menjadi tempat yang benar-benar mengerikan bagi Qing Qing. Setiap kali dia disuruh pergi ke sekolah, dia merasa panik.

Dalam penganiayaan Falun Gong, rejim Komunis hampir "menguasai" setiap segmen masyarakat. Membuat kebohongan dan menyebabkan kehancuran keluarga yang tak terhitung jumlahnya, terutama anak-anak mereka.

Qing Qing telah mengalami penganiayaan yang sedang berlangsung di China selama 11 tahun ini. Sepertinya penderitaan Qing Qing tidak akan berakhir.

(Untuk detilnya, baca di sini: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2011/2/14/123236.html)

Kasus 2: Polisi Wuhan Mengincar Lu Hai dalam Upaya Mereka Menganiaya Orangtuanya

Pada akhir 2010, polisi dua kali mengundang seorang anak laki-laki bernama Lu Hai untuk makan malam di sebuah restoran yang bagus. Dia bisa menonton kaset video orangtuanya, di mana sudah lama tidak dilihatnya selama bertahun-tahun. Para petugas bersikap ramah dan ngobrol santai dengannya. Pemilik restoran mungkin merasa senang untuk Lu Hai, tetapi dia tidak tahu bahwa anak itu menjadi Qing Qing yang kedua. Polisi juga merekam Lu Hai pada kedua pertemuan tersebut.

Lu Hai sebelumnya memiliki keluarga yang bahagia. Kedua orangtuanya adalah praktisi Falun Gong. Ibunya, Li Shihong, adalah seorang wanita berhati baik dan suka membantu orang lain. Ayahnya, Lu Qiqi, 46, adalah seorang insinyur negara. Sebagai penanggung jawab utama di bidang teknis, Lu Qiqi merancang beberapa gedung setempat. Standar moralnya tinggi. Atasannya memuji dia dengan mengatakan, "Orang-orang datang ke sini untuk menghasilkan uang dari perusahaan. Lu ke sini untuk menghasilkan uang bagi perusahaan." Lu mulai berlatih Falun Gong pada 1997 dan mengikuti prinsip Sejati-Baik-Sabar. Namun, sejak rezim memulai penganiayaan terhadap Falun Gong 20 Juli 1999, orangtua Lu Hai telah berulang kali dipenjara dan disiksa.

Lu Qiqi ditangkap lagi pada Desember 2007 ketika sedang membagikan materi klarifikasi kebenaran Falun Gong di Kota Shenzhen. Pengadilan Negeri Baoan di Shenzhen menjatuhkan hukuman empat tahun penjara kepadanya. Dia sekarang berada di Penjara Shaoguan, Provinsi Guangdong.

Nenek dari pihak ibu Lu Hai berumur 70 tahun, Song Wenxiu, ditangkap di depan rumahnya pada siang hari, 31 Maret 2009. Yang terlibat dalam penangkapan adalah Yu Jiming dari Kantor Polisi Danshuichi dan petugas dari Departemen Kepolisian Distrik Jiangan. Para petugas menggeledah apartemennya dan menyita 1.200 yuan dalam tunai. Ketika ibunda dari Lu Hai, Li Shihong, tiba di rumah sore itu, ia juga ditangkap dan ditahan. Yang melakukan perbuatan kotor itu adalah Luo Lin dari Divisi Keamanan Domestik, petugas dari Departemen Distrik Jiangan, dan Yu Jiming, Yuan Qinghong, dan Wan Baozhu dari Kantor Polisi Danshuichi.

Dalam upaya untuk mengarang apa yang disebut "bukti" terhadap Li Shihong, polisi mengarah pada putranya, Lu Hai. Beberapa hari setelah penangkapan, polisi pergi ke sekolah Lu Hai dan menginterogasi dia. Setelah mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, mereka memaksanya untuk menandatangani dan mencap sidik jarinya pada dokumen. Mereka kembali pada Juni 2009, saat ujian pertengahan. Mereka memerintahkan guru untuk membawanya ke kantor, di mana mereka menekan dia selama dua jam untuk mengungkapkan siapa yang telah menghubungi ibunya, dan apa yang telah dilakukannya. Lu Hai tidak dapat menanggung tekanan ini dan menelepon bibinya ketika ia pergi ke kamar kecil. Bibinya bergegas ke sekolah dan membawanya pulang.

Dengan taktik mereka, polisi ditolak tiga kali ketika berusaha membuat tuduhan terhadap Li Shihong. Di bawah tekanan, pengadilan setempat akhirnya menerima kasus pada Desember 2009, dan menjatuhkan empat tahun penjara. Dia sekarang berada di Penjara Wanita Wuhan.


Foto waktu kecil LuHai


Lu Qiqi dan Li Shihong

PKC tidak ada bedanya dengan penjahat ketika mendatangi Lu Hai dan keluarganya. Polisi menyita ribuan yuan saat menggeledah rumah mereka. Parahnya lagi, PKC merampas kebebasan keyakinan keluarganya, yang menjadi jaminan kebahagiaan mereka. Petugas Polisi mengganggu Lu Hai di sekolah sehingga tidak mungkin baginya untuk menjaga hubungan anak dan orangtua yang normal. Mereka membawanya ke restoran yang bagus adalah tidak ada kebaikan apapun, karena mereka menggunakan tipu daya untuk mencabut kebebasan keyakinan keluarga mereka sambil berusaha untuk menekan keberanian mereka untuk menuntut pelaku. Singkatnya, polisi berusaha untuk merampas masa depan keluarga yang cerah yang dibangun atas prinsip-prinsip Sejati-Baik-Sabar, sehingga mereka bisa mendapat uang saku kotor, Lu Qiqi dan Li Shihong harus melepaskan keyakinan mereka di bawah tekanan.

(Informasi lebih lanjut atas penindasan Lu Qiqi dan Li Shihong:
http://www.clearwisdom.net/html/articles/2009/5/14/107332.html
http://www.clearwisdom.net/html/articles/2010/7/30/118948.html)

Kasus 3: Polisi Pelanggar Hukum Memaksa Putra Praktisi Falun Gong untuk Bertindak sebagai Saksi pada Sebuah Otopsi

Di Kabupaten Fucheng, Provinsi Hebei, sekelompok polisi Fucheng pergi ke suatu tempat yang bernama Jiangcun pada 23 Februari 2002, untuk mencari remaja berumur 16 tahun bernama Liu Dong. Mereka mengatakan padanya bahwa mereka ada di sana untuk membawanya menemui ayahnya yang sakit kritis. Remaja itu kemudian dibawa ke lantai empat Rumah Sakit Kabupaten Fucheng, di mana ia harus menunggu beberapa jam. Ketika polisi akhirnya mengatakan dia bisa melihat ayahnya, Liu Dong meminta untuk menunggu ibunya. Mereka bersikeras ia masuk terlebih dahulu karena mereka tidak tahu kapan ia akan tiba. Mereka selanjutnya membawa dia ke sebuah kamar kumuh di sisi tenggara rumah sakit.

Adalah normal bagi seorang anak untuk mengunjungi ayahnya yang sakit, tapi kenapa polisi harus mengemudi sangat jauh untuk mencari Liu Dong? Dan bagaimana ayahnya berakhir di Rumah Sakit Kabupaten Fucheng? Berikut adalah beberapa rincian.

Praktisi Liu Qiusheng tinggal di Desa Qingdong, Kotapraja Cuimiao, Kabupaten Fucheng, Provinsi Hebei. Polisi menangkapnya pada 2 Februari 2002, dan membawanya ke departemen kepolisian. Wakil kepala polisi Kou Wentong, dan Zhang Zhijun, Kepala Divisi Politik dan Keamanan, mengikat dan menyiksanya lebih dari satu jam sampai ia kehilangan kesadaran. Hal tersebut diketahui dari tahanan bahwa Liu kemudian dipukuli berkali-kali dan dicekok paksa di tempat tidur kematian.

Dalam waktu 20 hari, antara tanggal 2 dan 22 Februari 2002, pria berumur 44 tahuan yang kuat dan sehat disiksa sampai mati. Dalam upaya untuk menutupi kejahatan mereka, polisi, termasuk Kou Wentong, pergi ke kepala cabang partai desa. Mereka berkolusi untuk mengelabui putra Liu Qiusheng yang berumur 16 tahun, Liu Dong, agar meninggalkan pekerjaan pabriknya, hadir di ruang otopsi, dan menjadi saksi.


Teatrikal: Diikat di ranjang kematian

Mengapa polisi menipu Liu Dong untuk bertemu dengan ayahnya? Apakah mereka ingin dia mengucapkan selamat tinggal kepada ayahnya? Tidak! Kenyataannya, oleh hukum, anggota keluarga harus hadir. Jika ibunda dari Dong Liu datang, dia pasti akan mempertanyakan penyebab kematian. Tetapi Liu Dong, itu akan berbeda.

Remaja seusia Liu Dong sudah banyak menderita akibat kematian ayahnya karena penyiksaan. Dia mengalami trauma ketika melihat dokter membelah jasad ayahnya. Polisi memberitahu istri Liu Qiusheng setelah otopsi selesai dilakukan. Istrinya melihat bahwa telinga, wajah, bibir, bahu kanan, dan dada kanan berwarna hitam-biru, namun laporan otopsi resmi menyatakan, "Tidak ada luka eksternal yang ditemukan. Penyebab kematian adalah penyakit jantung."

Pertama Liu Dong harus menerima kematian ayahnya, kemudian dipaksa untuk menyaksikan otopsi! Polisi menggunakan kehadirannya di otopsi untuk menyatakan kematian ayahnya akibat alamiah, bukan penyiksaan!

(Untuk informasi lebih lanjut tentang penindasan dan pembunuhan Liu Qiusheng, dapat dilihat di sini:
http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2005/2/15/57565.html
http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2004/11/1/54081.html)

Chinese: http://www.minghui.org/mh/articles/2011/3/13/中共警察对未成年人非法取证陷害其父母(图)-237452.html
English: http://www.clearwisdom.net/html/articles/2011/3/28/124094.html