Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Banyak Praktisi Faun Gong di Kota Handan Dicap “Sakit Jiwa” dan Ditekan hingga Mengalami Gangguan Jiwa

19 Jan. 2013 |   Oleh: koresponden Minghui dari Provinsi Hebei, China


(Minghui.org) Partai Komunis China (PKC) telah menganiaya Falun Gong selama 13 tahun. Selama kampanye tak berperasaan ini, praktisi sehat yang tak terhitung jumlahnya telah dianiaya dengan begitu mengerikan sehingga mereka mengalami gangguan mental. Dalam rangka memberantas Falun Gong, PKC telah mencap praktisi Falun Gong yang normal  dan sehat sebagai "sakit jiwa" dan mencoba untuk menghancurkan mereka. Hal ini telah menyebabkan kerusakan besar untuk Dafa. Kekejaman dan lamanya penganiayaan telah membuat marah manusia dan dewa. Di bawah ini adalah beberapa contoh praktek yang terjadi di Kota Handan, Provinsi Hebei.

1. Cheng Huizhong Meninggal Dunia Karena "Penyakit Mental" Sebagai Akibat  dari Penganiayaan

Cheng Huizhong, pria, adalah praktisi Falun Gong berusia 71 tahun dari Kabupaten Chengan, Kota Handan. Sebelum berlatih Falun Gong, ia memiliki banyak penyakit. Setelah berlatih Falun Gong pada 20 Februari 1999, semua penyakitnya hilang.

Pada 31 Agustus 2002, Cheng ditangkap ketika ia berpartisipasi pada konferensi Fa yang diselenggarakan di daerah itu. Karena diperlakukan begitu brutal, Cheng menderita tekanan mental dan kemudian mengalami gangguan mental. Dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Tidak ingin bertanggung jawab, para pejabat PKC membebaskannya setelah memeras uang dari keluarganya. Setelah Cheng dibebaskan, ia tidak pernah dapat memulihkan kesehatannya. Pada 9 Februari 2005, dia meninggal dunia.

2. Yang Baochun Mengalami Gangguan Mental Setelah Dikirim ke Rumah Sakit Jiwa

Yang Baochun pernah bekerja di Pabrik Pelanel Jinhang di Kota Handan. Pada tahun 1999, ia pergi ke Beijing untuk mengajukan permohonan bagi Falun Gong. Dia ditangkap dan dikirim ke kamp kerja paksa, di mana dia berada di sana selama dua tahun. Pada musim dingin 2002, kaki kanannya diamputasi dan dia menjadi cacat permanen akibat penyiksaan di Kamp Kerja Paksa Handan. Agar tidak disalahkan, kamp kerja paksa mengirim Yang ke Rumah Sakit Jiwa Ankang. Direktur Rumah Sakit Jiwa Ankang sering secara diam-diam memasukkan obat yang tak diketahui jenisnya ke dalam mangkuk nasinya. Setelah itu, ia merasa sangat lemah dan tidak berdaya. Dia meneteskan air liur tak terkendali. Dia tidak bisa berbicara dengan jelas dan lidahnya menebal.

Pada tahun 2004, setelah menghabiskan banyak uang, istri Yang akhirnya bisa membawanya keluar dari rumah sakit jiwa. Pada Juni 2005, Yang pergi lagi ke Beijing, kali ini untuk mengadukan tentang bagaimana dia dianiaya di rumah sakit. Pada tahun yang sama, ia ditangkap dan dikirim kembali ke Rumah Sakit Jiwa Ankang untuk kedua kalinya. Selama lebih dari dua tahun, dokter di rumah sakit memberinya obat yang tidak diketahui jenisnya dan tidak perlu. Pada sore hari, 17 Februari 2008, bahkan hanya dengan satu kaki, Yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa.

Sekitar pukul 11 malam itu, direktur Rumah Sakit Jiwa Ankang dan lima atau enam dokter berkendaraan ke rumah Yang dan dengan paksa membawanya kembali ke rumah sakit jiwa. Ini adalah ketiga kalinya di rumah sakit jiwa. Setelah penganiayaan dalam jangka waktu yang lama, dia mulai menderita gejala penyakit mental. Pada 20 Januari 2009, ketika keluarga membawanya pulang, mereka melihat bahwa dia benar-benar telah sakit jiwa. Sedih dan putus asa, keluarganya membawanya kembali ke rumah sakit jiwa.

3. Liu Yong Diperlakukan Seperti Penderita Gangguan Jiwa oleh PKC selama 11 Tahun

Selama penganiayaan sewenang-wenang terhadap praktisi Falun Gong, PKC jahat sering mencap praktisi normal sebagai sakit mental untuk menghancurkan mereka. Banyak praktisi  terluka sangat parah. Pada Juni 2001, seorang pejabat PKC mengirim Liu Yong (pria) dari Kota Handan ke Rumah Sakit Jiwa Boding. Sejak itu Liu terus berada di sana.

Liu berusia 30 tahun ketika dirawat di rumah sakit jiwa. Begitu sampai di sana, para dokter memaksa dia menelan obat yang merusak sistem saraf pusat. Mereka bahkan memaksa membuka mulutnya untuk melihat apakah ia telah menelan obat atau tidak. Salah satu dokter mengatakan kepadanya, "Kami tahu bahwa Anda tidak sakit. Kami melakukan ini untuk Anda karena tekanan dari atasan kami. Kami tidak bisa tidak mematuhi." Dengan tujuan untuk menyakiti Liu secara mental, para dokter juga menyuntiknya dengan obat yang tak diketahui jenisnya. Setelah itu, Liu menderita sakit luar biasa, dan hampir mati. Mengandalkan keyakinan teguhnya pada Sejati-Baik-Sabar, dia selamat dan masih sehat meskipun dianiaya.

Menyadari bahwa mereka tidak bisa membuat Liu menjadi gila, para dokter memaksanya untuk melakukan tugas yang sama setiap hari. Liu mencoba melarikan diri dari rumah sakit sebanyak dua kali namun gagal. Setelah itu, ia benar-benar diisolasi. Dia bahkan tidak bisa meninggalkan koridor. Tugasnya adalah membersihkan bangunan dan semua kamar mandi. Namun demikian, Liu tetap teguh pada keyakinannya dan pernah berkata, "Tidak peduli di mana saya, saya akan memberitahu orang tahu bahwa Falun Gong adalah baik."

Khawatir Liu akan membocorkan rincian perawatannya kepada dunia luar, rumah sakit tidak membolehkan dia memegang pena atau kertas. Mereka juga melarangnya menulis surat ataupun menelepon. Kunjungan keluarga tidak diperbolehkan. Mereka mencoba untuk mengisolasi dia sepenuhnya. Ketika teman-temannya yang peduli pada Liu dan kerabatnya mencoba untuk menelepon dia di rumah sakit, para dokter tidak pernah membiarkan dia menerima pangggilan tersebut. Liu telah disiksa di rumah sakit jiwa selama 11 tahun.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana seorang pemuda bersemangat seperti Liu bisa menghabiskan 11 tahun di rumah sakit jiwa di mana ia selalu dianiaya. Selama 11 tahun terakhir ini, tidak ada sesaatpun Liu tidak ingin meninggalkan rumah sakit jiwa dan menjalani kehidupan normal. Dokter pengawas rumah sakit pernah memerintahkan seseorang dari unit kerja Liu untuk menjemputnya, tapi tak seorang pun di perusahaannya bersedia membantunya. Sedihnya, ibu Liu masih tidak ingin mendengar kebenaran tentang penganiayaan Falun Gong atau tentang anaknya. Dia masih tidak ingin menyelamatkannya. Hatinya dipenuhi dengan kebohongan, kebencian, dan fitnahan yang ditanamkan dalam dirinya oleh PKC jahat. Dia dengan keras kepala percaya bahwa anaknya menderita penyakit mental dan pemerintah sedang memberi "perawatan yang baik” kepadanya.

4. Zhang Runsheng Mengalami Gangguan Mental setelah Penganiayaan di Kamp Kerja Paksa Handan

Zhang Runsheng, 30 tahun, pernah bekerja di Pabrik Baja Handan. Pada tahun 2009, ia ditangkap dan dikirim ke Kamp Kerja Paksa Handan. Dari bulan Juni sampai Agustus, petugas Ge Qingxi dan Jia Yingjun mendirikan pusat "transformasi" bagi praktisi Falun Gong. Para petugas memukul praktisi dengan tongkat karet setiap hari dan menekan mereka untuk menulis tiga pernyataan untuk melepaskan Falun Gong.

Aparat kepolisian juga memerintahkan tahanan untuk memukul dan menendang praktisi. Akibatnya, Zhang dan praktisi lainnya memiliki luka memar di sekujur tubuh. Beberapa praktisi terluka begitu parah sehingga mereka tidak bisa berjalan. Meski begitu, para petugas tidak mengampuni mereka. Para praktisi dipaksa bekerja lebih dari 12 jam setiap hari tanpa istirahat. Tidak ada sarapan bagi praktisi pada hari Minggu. Jika mereka tidak menyelesaikan kuota, mereka harus bekerja sampai jam 2 pagi keesokan harinya. Karena pemukulan dan ancaman yang berulang-ulang, Zhang menjadi depresi dan mengalami disorientasi mental. Dia kehilangan akal dan menjadi mengompol. Menjadi sakit jiwa akibat penganiayaan, ia akhirnya dibebaskan bersyarat dengan asalan medis.

Kesimpulan

Kasus-kasus yang tercantum di atas bahkan tidak terhitung sebagai satu dari 10.000 kejahatan PKC terhadap praktisi Falun Gong. Fakta dan bukti memberitahu kita bahwa PKC yang menyebabkan “penyakit mental” ini. Dengan tujuan untuk menganiaya Falun Gong, PKC telah mencap praktisi normal sebagai sakit mental. Hal ini adalah salah satu cara yang paling kejam dan keji yang digunakan PKC jahat dalam menganiaya Falun Gong. Kita tidak bisa membayangkan berapa banyak praktisi tidak bersalah telah ditangkap dan dikirim ke pusat pencucian otak atau rumah sakit jiwa, di mana sistem saraf pusat mereka dihancurkan oleh obat-obatan. Ketika digunakan pada orang normal, obat ini dapat memiliki efek samping merugikan yang sangat serius.

Chinese version click here
English version click here