Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Pengadilan Terbaru terhadap Mantan Kepala Rejim Khmer Merah Menandakan Kematian Kelompok Jiang-Luo-Liu-Zhou

28 Juni 2013 |   Oleh: Zhong Yan


(Minghui.org) Sebuah artikel baru di Minghui melaporkan begini:

“Pengadilan Tinggi Kriminal Argentina menyerahkan sebuah kasus kembali ke Pengadilan Banding Kriminal Federal pada 17 April 2013, yang meminta agar dibukanya kembali pengadilan terhadap para terdakwa berikut ini: mantan presiden dan ketua Partai, Jiang Zemin, mantan anggota Komite Tetap Partai, Luo Gan.

Keduanya dituntut atas penganiayaan dan genosida terhadap praktisi Falun Gong di China. Penuntut, Himpunan Falun Dafa Argentina (FDAA), telah dua kali melakukan banding atas kasus ini. Kini kasusnya akan dibuka kembali.

FDAA berharap bahwa pengadilan Argentina bisa menegakkan spirit hukum dengan mengeluarkan surat penangkapan internasional bagi Jiang dan Luo.”

(http://en.minghui.org/html/articles/2013/6/3/140287.html)

Saya percaya bahwa keputusan kasus ini akan memberikan momentum bagi banyak penuntutan terhadap mantan kepala Partai Komunis China (PKC) Jiang di seluruh dunia, dan akan memberikan motivasi kepada lebih banyak orang lagi untuk mengadili Jiang dan kaki tangan utamanya, Luo Gan (mantan anggota Komite Tetap Partai), Liu Jing (mantan Deputi Direktur Kantor 610 Pusat), dan Zhou Yongkang (mantan kepala Komite Politik dan Hukum). Ini adalah para kepala kejahatan dalam penganiayaan terhadap Falun Gong.

Kelompok Jiang-Luo-Liu-Zhou adalah Paling Jahat dan Penjahat Genosida yang Pernah Dijumpai dalam Sejarah Umat Manusia.

Karena iri hati terhadap popularitas Falun Gong, Jiang Zemin secara sembunyi-sembunyi mendirikan Kantor 610 Pusat dan berbagai cabang di seluruh China pada 10 Juni 1999, dengan menjadikan ratusan juta praktisi yang mengikuti prinsip Sejati-Baik-Sabar sebagai sasaran. Untuk membenarkan penganiayaan yang tak berdasar ini, kelompok Jiang-Luo-Liu-Zhou tanpa alasan memanipulasi berbagai aparatur negara, dan menggunakannya untuk menganiaya Falun Gong.

Selain itu, praktisi mengalami lebih dari seratus macam metode penyiksaan, dan membawa mereka ke rumah sakit jiwa dan pusat-pusat pencucian otak, kelompok Jiang-Luo-Liu-Zhou juga mengejutkan dunia dengan mengambil organ tubuh hidup-hidup dari para praktisi yang masih hidup. Kejahatan yang belum pernah terjadi ini tidak pernah ditemukan di planet ini, dan di luar bayangan dari orang normal manapun.

Selama penganiayaan ini, kelompok Jiang-Luo-Liu-Zhou tidak hanya mengganggu sejumlah warga China dengan mengintimidasi dan memaksa mereka agar tetap diam, tetapi juga membahayakan masa depan China sendiri. Karena harus memilih antara melindungi kepentingan pribadi atau suara hati, banyak orang China dan pemerintah asing di seluruh dunia yang secara enggan bersekongkol dengan tindakan kejahatan PKC ini. Partisipasi yang pasif dari mereka dalam penganiayaan dilakukan, baik secara langsung atau tidak langsung, ini merupakan hal yang memalukan bagi mereka.

Kekejaman terhadap Falun Gong juga menyebabkan kemerosotan moralitas dan hancurnya sistem hukum China. Seluruh negeri ini dibelit oleh berbagai masalah sosial, dan China benar-benar dalam krisis yang besar.

Penganiayaan praktisi Falun Gong yang sudah berlangsung lama dan berskala besar selama 14 tahun ini juga telah menjadi beban besar bagi China di komunitas internasional, seperti yang terlihat dengan munculnya berbagai protes yang ditujukan pada para pemimpin PKC saat mereka berkunjung ke luar negeri. Aksi protes yang menyambut kunjungan kepala Partai Xi Jingping yang baru menjabat saat ke Amerika Serikat  adalah contohnya.

Jiang Zemin Digugat di 17 Negara -- Kebaikan Selalu Menang Atas Kejahatan

Jiang Zemin telah digugat karena tindakan anti kemanusiaan, genosida, dan penyiksaan di 17 negara dan berbagai kawasan, antara lain Amerika Serikat, Kanada, Australia, Swiss, dan Belgia, Spanyol, Jerman, Yunani, Hong Kong dan Taiwan.

Prinsip hukum manusia yang tidak pernah berubah yaitu kebaikan akan selalu menang atas kejahatan. Meski akan ada beberapa yang jatuh bangun dalam prosesnya, tetapi jika dilihat dari sejarah, maka manusia memiliki harapan. Kasus Argentina yang menentang Jiang Zemin dan Luo Gan dengan jelas memperlihatkan ini.

Minghui juga sama melaporkan ini:

“Pada 13 Desember 2005, FDAA melayangkan tuntutan terhadap Luo Gan, yang kemudian ia menjadi Wakil Direktur Kantor 610, saat dia mengunjungi Argentina. Dia dituntut karena menggunakan Kantor 610 untuk menjalankan rencananya secara langsung dan menyebarkan penganiayaan terhadap Falun Gong. Kasus ini diterima oleh Hakim Dr. Octavio Araoz de Lamadrid, dari Pengadilan Kriminal Federal No. 9.

Pada Desember 2009, setelah empat tahun melakukan investigasi dan mengumpulkan berbagai saksi dari banyak praktisi Falun Gong, Hakim Lamadrid mengeluarkan surat penangkapan internasional yang meminta Interpol menangkap sang tergugat yaitu Jiang dan Luo saat mereka meninggalkan China, dan mengesktradisi mereka untuk pengadilan di Argentina atas kejahatan mereka terhadap kemanusiaan. Sang Hakim memasukkan Jiang ke dalam kasus Luo setelah dia menemukan bahwa mantan presiden China ini telah mencetuskan penganiayaan terhadap Falun Gong.

Duta Besar China di Argentina mengeluarkan surat resmi kepada Menteri Luar Negeri Argentina; Pejabat Pengadilan Argentina, dan berbagai menteri negara yang berbeda, meminta “agar dihentikan semua kasus terkait dengan Falun Gong” segera setelah mereka menerima pemberitahuan atas surat penangkapan terhadap Jiang dan Luo ini. Mereka juga mengancam bahwa kasus itu seharusnya tidak diproses, dan hal itu akan merusak hubungan bilateral antara China dan Argentina.

Tidak lama kemudian, Hakim Lamadrid dipaksa untuk mengundurkan diri dan pemerintah Argentina segera mengatur hakim lain untuk mengantikan posisinya. Pada hari pertama hakim yang baru ditunjuk itu mengambil ahli, dia segera menarik surat penangkapan internasional terhadap Jiang dan Luo dan menutup kasus tersebut karena kurangnya bukti.

FDAA melakukan banding kepada Pengadilan Banding Kriminal Federal, pada Desember 2010 bahwa kasus ini mempraktekkan prinsip peradilan universal, dan bukti yang cukup akan penganiayaan, yang diberikan oleh penggugat, adalah cukup untuk diterima dan dipercayai.

Tetapi, pengadilan menolak kasus ini berdasarkan prisinp “non bis in idem” [Jika Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah memutuskan kasus itu maka tidak ada pengadilan yang bisa mencoba untuk menangani kasus yang serupa].

Intinya, prinsip yang memegang dua masalah identik tidak dapat diangkat secara indipenden terhadap terdakwa yang sama karena kasus yang sama berdasarkan pelanggaran HAM terhadap pengikut Falun Gong telah dibawa ke Spanyol, Pengadilan Banding yang menjalankan prisinp ini.”

FDAA lalu melakukan banding terhadap Pengadilan Tinggi Kriminal Argentina, dimana pada 7 April 2013, telah menolak keputusan Pengadilan Banding Kriminal Federal yang menutup kasus ini dan meminta agar kasus ini dikembalikan ke Pengadilan Kesembilan dari Pengadilan Kriminal Federal untuk disidangkan kembali.

Kelompok Jiang-Luo-Liu-Zhou Menghadapi Masa Depan yang Bahkan Lebih Suram dari Mantan Kepala Rejim Khmer Merah

Pada 30 Mei 2013, Nuon Chea dan Khieu Samphan, dua mantan pemimpin tinggi Rejim Khmer Merah, untuk pertama kalinya secara terbuka meminta maaf kepada korban di sebuah pengadilan di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Mereka masih menjalani peradilan di Pengadilan Internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kembali Februari 2009, pengadilan genosida PBB membuka sidang di Phnom Penh dan mendakwa lima petinggi Rejim Khmer Merah era Pol Pot dengan tuduhan kejahatan perang, anti kemanusiaan, penyiksaan, dan pembunuhan. Mantan kepala Penjara S21 Kang Kek IEW mengakui bahwa sebanyak 15.000 tahanan meninggal dunia akibat dianiaya selama masa jabatannya pada tahun 1975 hingga 1979. Dia dijatuhi hukuman 35 tahun penjara pada tahun 2010 dan pengadilan menolak bandingnya.

Dari tahun 1975 hingga 1978, Rejim Khmer Merah yang didukung oleh PKC telah membunuh hampir dua juta orang di Kamboja, sebuah negara dengan populasi kurang dari delapan juta orang. Para korban termasuk 200.000 warga China yang tinggal di sana.

Takdir dari para pemimpin rejim Khmer Merah ini adalah sebuah tanda ramalan bagi kelompok Jiang-Luo-Liu-Zhou. Buktinya, mereka menghadapi masa depan yang makin suram karena mereka tidak hanya membunuh banyak orang, juga berusaha memfitnah Fa Buddha dan merusak moralitas China. Apa yang menunggu mereka tidak hanya keadilan di dunia manusia, tetapi juga penderitaan yang tiada akhir di neraka.

Chinese version click here
English version click here