Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Elite Teknikal dari Korea: Falun Dafa Mencerahkan Hidup Saya

5 Juni 2015 |   Oleh He Yu dan Tang Xiuming di Kota New York


(Minghui.org) Ki Tae Jeong, penduduk asli dari Korea, tampak berusia 40 tahunan  di mata orang lain – ramah dan sehat. Namun, yang terlihat bisa menipu. Sebenarnya Ki sudah memasuki usia pensiun, tapi taipan telekomunikasi yang cerdas ini tidak membiarkan hal ini diketahui oleh sembarang orang.

Pada siang yang cerah di musim panas, Jeong berdiri di antara 8.000 praktisi Falun Dafa di Manhattan dalam persiapan pawai merayakan 23 tahun latihan spiritual ini diperkenalkan kepada publik.

Para praktisi Falun Dafa yang berasal lebih dari 50 negara berkumpul di Kota New York untuk berpartisipasi dalam perayaan ini, termasuk Jeong. Mereka berpartisipasi dalam banyak acara mulai dari tanggal 13 Mei sampai 14 Mei, termasuk konferensi berbagi pengalaman kultivasi, peragaan latihan bersama, dan pawai.

Ki Tae Jeong bersama istrinya

Wakil Presiden dari Korean Telecom: Falun Dafa Mencerahkan Hidup Saya

Ki Tae Jeong adalah wakil presiden bidang pengembangan teknikal di KT Corporation, penyedia layanan komunikasi terbesar di Korea Selatan. Hal ini membuat kami sedikit terkejut ketika kami bertemu dengan seorang pria paruh baya yang sopan santun.

Dia mulai berbicara tentang pengalamannya sebagai praktisi Falun Dafa, predikat yang disandangkannya dengan bangga selama 14 tahun. Jeong berkata bahwa kualitas dari ketenangan batin yang diperolehnya dari latihan Falun Dafa selama tahun-tahun telah membantu mengembangkan pikiran kreatifnya, membuatnya selangkah lebih maju di bidang industrinya.

“Dunia industri selalu haus akan inovasi, dan setelah berlatih Falun Dafa, saya bisa menawarkan inovasi yang diperlukan. Latihan ini benar-benar membantu saya menjernihkan pikiran dan memberi wawasan serta solusi-solusi unik untuk bergerak di pasar telekomunikasi [di Korea Selatan],” kata Jeong.

Dan semua itu tampak seperti metode mencoba dan berhasil: semua rekan Jeong tahu bagaimana Jeong menempatkan dirinya dalam penentuan keputusan, dan sangat mendukung.

Ketika Jeong melihat kehidupannya sebelum berlatih Falun Dafa, dia hampir merasa bahwa itu adalah orang lain yang menjalani kehidupan tersebut. Dia selalu memiliki jadwal kerja yang sangat sibuk dengan tanggung jawab ganda di bagian pengembangan serta mengajak makan malam klien-kliennya.

“Saya pulang ke rumah dalam keadaan tidak mabuk hanya satu atau dua malam dalam seminggu. Seperti yang bisa Anda bayangkan, saya adalah kutukan bagi kehidupan istri saya di waktu itu,” kata Jeong. “Ayah saya adalah seorang pecandu alkohol dan meninggal dunia karena menderita kanker hati, jadi bukannya saya tidak tahu betapa berbahaya alkohol itu. Tapi saya tetap tidak bisa berhenti minum.”

Namun, di akhir tahun 2000, hidup Jeong berubah menjadi lebih baik ketika seorang temannya dari Jepang memperkenalkan latihan spiritual, yang disebut “Falun Dafa” kepadanya.

“Apa yang diajarkan oleh latihan itu sepenuhnya adalah konsep baru bagi saya; saya tidak dapat menjelaskannya, tapi saya merasakan inilah. Benar-benar ‘sesuatu’ dan bagus,” kata Jeong. “Saya menjadi sangat tertarik dengan latihan ini dan tentu saja, saya mulai melihat kehidupan saya berubah menjadi lebih baik hampir seketika saat itu juga.”

“Biasanya saya minum setengah liter minuman keras dan dua botol bir dalam sehari. Selain itu, saya juga merokok kurang lebih sebungkus dalam sehari. Itu semua adalah obat bagi saya, dan di masa itu jika anda bertanya, saya tidak bisa membayangkan tanpa “obat-obat tersebut” sehari pun,” kata Jeong.

Setelah Jeong berlatih Falun Dafa selama sebulan, akhirnya dia bisa berhenti minum minuman keras dan merokok. Benar-benar tidak ada proses, katanya. Rasa ingin minum dan merokok hilang begitu saja, seolah dia tidak ingin minum dan merokok sebelumnya.

Ketika pertama kali menolak minuman keras di suatu pesta makan malam, klien-kliennya mengira bahwa dia sedang bercanda dan terus menawarinnya minum. Dia harus serius menyatakan bahwa dia sudah berkultivasi dan sekarang sepenuhnya berhenti merokok dan minum alkohol.

Melihat perubahan yang sangat besar dari Jeong, istri, ibu, adik (laki-laki) dan saudari Jeong, semua mulai berlatih Falun Dafa. Dia juga menawarkan untuk mengajarkan latihan Falun Dafa kepada rekan-rekannya dengan jadwal rutin.

Yun Kyong Hyon (Ph.D) dan istrinya Hi Jin Lee (Ph.D)

Peneliti Senior dari Institut Ilmu Pengetahuan Nasional: Navigator Kehidupan Saya

Yun Kyong Hyon adalah seorang peneliti senior dan juga direktur departemen di Institut Nasional Ilmu Pengetahuan Matematika di Korea Selatan.

Baginya, Falun Dafa adalah studi yang paling sulit dan supernormal, serta kunci bagi banyak teka-teki sepanjang hidupnya. Hyon mampu menemukan hal baru melalui keyakinannya, wawasan filosofi baru bukan hanya tentang pekerjaannya, tapi juga tentang alam semesta yang lebih besar.

Dia mengatakan bahwa keuntungan terbesar dari berlatih Falun Dafa adalah menjadi navigator bagi kehidupannya. Yun Kyong Hyon mengetahui Falun Dafa dari seorang profesor tua pada tahun 2003 dan memutuskan untuk mencobanya, lalu pergi ke Amerika Serikat untuk program pasca doktoral pada tahun 2005.

Namun, Falun Dafa bukan hanya latihan yang meningkatkan kemampuan otak bagi Hyon; latihan ini juga menawarkan bimbingan bagi kehidupannya ketika terjadi kekacauan dan tanpa arah.

Hyon pergi ke Amerika Serikat untuk studi pasca doktoral pada tahun 2005. Namun, ketika dia kembali ke negaranya pada tahun 2012, sebuah tantangan yang tak terduga menunggunya. Keluarganya dalam kondisi emosional dan juga bermasalah dalam finansial, semua mata tertuju ke arahnya, sebagai anak laki-laki paling tua juga paling terdidik, untuk membantu menyelesaikan masalah mereka.

“Saya tahu bahwa Falun Dafa dapat membantu menyelesaikan masalah mereka, jadi saya berusaha untuk membujuk mereka agar belajar Falun Dafa dan meminta mereka berbuat layaknya seorang praktisi,” kata Hyon. “Dilihat lagi, itu bukanlah ide yang terbaik. Saya tidak melakukannya untuk kebaikan mereka, saya melakukannya untuk diri saya sendiri. Dan memaksakan sesuatu – bahkan jika itu adalah hal yang baik – kepada orang lain bukanlah berbelas kasih.”

Dia mendiskusikan masalahnya dengan rekan-rekan praktisi, yang menawarkan banyak bantuan untuknya dan perlahan-lahan membuatnya memahami bahwa seorang praktisi harus memperlakukan keluarganya dengan belas kasih dan sabar. Mereka menyarankan supaya Hyon melihat ke dalam untuk mencari apa penyebab dari semua masalah ini dan menemukan solusinya.

Hyon segera menyadari bahwa ketika moralitasnya meningkat dan menjadi lebih baik, keluarganya menjadi lebih sehat. Mereka juga menjadi lebih mau menerima upanyanya dan juga latihan kultivasi ini. Bahkan ayahnya mengajukan diri untuk menjadi relawan dalam usaha pengumpulan tanda tangan untuk membantu mengakhiri pembunuhan terhadap para praktisi yang diambil organnya dimana sedang terjadi di Tiongkok.  

Istri Hyon, Hi Jin Lee juga bergelar doktoral di bidang matematika, dia adalah seorang yang perfeksionis sebelum berlatih Falun Dafa. Latihan spiritual Falun Dafa telah merubah kepribadiannya secara drastis.

“[Setelah berlatih Falun Dafa,] saya belajar untuk melihat ke dalam dan menyadari sifat tangan besi saya adalah penyebab dari kebanyakan masalah saya. Sifat arogan saya menjadi berkurang, mentalitas bersaing menjadi berkurang, iri hati berkurang. Dan seperti itulah, saya menjadi orang yang lebih ramah dan santai,” kata Lee.

“Falun Dafa telah mengajarkan saya apa itu belas kasih dan bagaimana mempertimbangkan orang lain. Anda bahkan bisa mengatakan bahwa Falun Dafa adalah cahaya hidup saya,” kata Lee.

Chinese version click here
English version click here