Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Pelangi Setelah Badai

1 Juni 2016 |   Oleh seorang praktisi Falun Dafa


(Minghui.org) Saya menangis sepanjang hari pada saat Ibu saya pergi.

Saya menangis ketika saya dipaksa pergi ke sekolah, ketika saya berada di sekolah, dan ketika saya pulang ke rumah. Guru saya, teman kelas, dan bahkan beberapa orang tua murid sangat khawatir.

Hal itu terjadi pada 27 Oktober 1999, beberapa minggu setelah ulang tahun ke-8 saya. Ibu saya pergi ke Beijing untuk membela Falun Dafa setelah dimulainya penganiayaan. Saya takut dia ditangkap polisi, dan hal yang dapat dilakukan oleh seorang anak berumur 8 tahun pada situasi itu hanya menangis.

Sampai sekarang, ibu saya telah ditangkap dan ditahan empat kali. Karena penganiayaan, orang tua saya bercerai ketika saya berumur 9. Tahun-tahun berikutnya terasa sulit dan kadang kala saya merasa terpencil, tetapi saya tidak pernah menyerah.

Saya yakin pasti ada pelangi setelah setiap badai.

Di bawah ini saya berbagi pengalaman saya tumbuh sebagai seorang praktisi muda Falun Dafa pada tahun sembilan puluhan dan semua bekas luka yang ditinggalkan penganiayaan pada masa kecil saya.

Kenangan Masa Kecil

Masa kecil saya dipenuhi dengan musik menenangkan yang mendampingi latihan Falun Dafa.

Ibu saya mulai latihan Falun Dafa pada 20 Mei 1995, tepat sebelum saya berusia 4 tahun. Ia mulai tertarik berlatih setelah melihat satu kelompok orang penuh kegembiraan dan berpipi merah berlatih di taman.

Setelah dia berlatih beberapa waktu, tubuh dan jiwanya berubah menjadi lebih baik. Penyakitnya menghilang dan dia menjadi lebih optimis. Keluarga kecil kami hidup harmonis, dan saat itu adalah tahun-tahun terbaik pada masa kecil saya.

Mimpi Buruk Dimulai

Awan gelap memenuhi langit pada 20 Juli 1999, dan dengan awan-awan tersebut dimulailah penganiayaan yang menghancurkan banyak keluarga bahagia, termasuk keluarga saya. Jiang Zemin telah memerintahkan agar semua praktisi Falun Dafa ditangkap, tanpa alasan yang jelas.

Ibu saya memutuskan untuk pergi ke Beijing memohon naik banding untuk Falun Dafa dan berbicara menentang perlakuan tidak adil ini.

Pada 27 Oktober 1999, ketika ayah dan saya masih tertidur lelap, ibu saya meninggalkan rumah. Ayah membangunkan saya pada pagi hari, khawatir dengan keselamatan Ibu – Saya masih teringat samar-samar ekspresi kehilangannya dan serak suaranya, dan tulisan yang ditinggalkan Ibu saya.

Tiada kata yang dapat menggambarkan perasaan saya waktu itu. Yang saya tahu hanyalah saya takut kehilangan Ibu, takut saya tidak mempunyai apa-apa lagi.

Ibu saya dicegat di stasiun kereta dan dibawa ke pusat penahanan. Dengan tidak adanya orang yang menjaga saya dan ayah akan menempuh sebuah perjalanan bisnis ke luar negeri, nenek saya datang dari kampung halamannya untuk menjaga saya.

Ulang tahun kedelapan saya adalah ulang tahun pertama tanpa orang tua.

Masa Kelam dalam Hidup Saya

Ibu saya dibebaskan setelah sebulan dan semuanya sementara kembali normal. Namun, dia tidak mungkin tinggal diam, selama banyak praktisi yang tidak bersalah masih disiksa.

Sekali lagi, dia mencoba untuk pergi ke Beijing pada 1 Mei 2000. Hati saya tenggelam setelah mendengar berita itu.

Ibu saya ditangkap dan dikirim balik ke pusat penahanan lokal. Selama masa tersebut, saya dengar dari ayah bahwa ibu terlihat seperti tumpukan tulang setelah ia mogok makan untuk menentang penganiayaan. Kami mencoba mengunjunginya tetapi ditolak. Akhirnya ibu dibebaskan pada bulan Agustus.

Pada September 2000, ibu dan saya pergi ke rumah paman setelah makan malam untuk menulis surat permohonan kepada otoritas pemerintah. Kami kembali ke rumah pada jam 10 malam, tetapi koridor rumah masih terang. Ibu saya merasa ada yang tidak benar, dan kami menunggu di luar hingga tengah malam sebelum kami kembali ke rumah.

Setelah kembali ke rumah, kami melihat sekelompok orang asing di rumah kami – polisi berbaju polos. Karena saya sangat lelah, saya pergi tidur. Para polisi tersebut mulai menggeledah rumah kami, dan akhirnya mereka menangkap ibu.

Kali ini, saya tidak menangis. Saya telah menyangka perlakuan seperti ini.

Suatu hari di bulan November saya merasa gembira ketika bangun tidur dan melihat satu set baju di kamar mandi. Saya tahu ibu sudah kembali. Belakangan saya baru tahu bahwa ibu telah melarikan diri dari pusat penahanan dan tidak dapat kembali ke rumah selama tiga bulan.

Ayah memutuskan untuk bercerai dengan ibu karena tekanan dari kakek nenek dan perusahaan. Keluarga bahagia saya hancur.

Beberapa hari setelah ibu kembali ke rumah, nenek memasak beberapa hidangan untuk merayakan ulang tahun ke-30 ibu. Namun ketika saya pulang ke rumah pada siang hari, saya tidak dapat menemukan ibu yang ternyata ditangkap kembali. Seluruh keluarga saya sangat kecewa.

Meskipun saya sedih, saya tahu bahwa saya harus melindungi semua buku Dafa dan materi lainnya. Pada tengah malam, saya memasukkan semua buku dan materi ke dalam tas sekolah saya dan lari ke rumah praktisi pada pagi harinya agar buku-buku tersebut dapat tersimpan aman.

Penangkapan terakhir menyebabkan kerja paksa selama delapan belas bulan untuk ibu.

Pada 2002, ayah menikah lagi. Dengan ibu tiri baru, saya terlihat senang pada siang hari tetapi menangis pada malam hari karena saya khawatir dengan ibu saya, yang saya tahu sedang menderita di tempat lain.

Karena situasi pada saat itu, saya tidak dapat menghubungi ibu. Satu-satunya cara kami berkomunikasi adalah dengan menulis surat, dan itu perlu waktu berbulan-bulan untuk sampai ke ibu.

Saya menerima total tiga surat dari ibu selama ia berada di kamp kerja. Saya tidak dapat membayangkan berapa kali ia menangis pada saat menulis surat.

Suatu kali, saya dan ayah cuti untuk mengunjungi ibu. Akhirnya saya melihatnya pada siang hari. Rambutnya dipotong pendek dan terlihat sangat kurus. Saya tersenyum dan tertawa di sebelahnya dan menyadari bahwa gigi depannya telah hilang. Hati saya terasa pahit. Saya memalingkan kepala untuk menyeka air mata agar ibu tidak melihatnya. Saya ingin ibu mengingat wajah gembira saya.

Ibu dibebaskan pada Maret 2003, setelah tanggal pembebasan ditunda selama setahun. Setelah dibebaskan, ia langsung dikirim ke pusat pencucian otak selama 20 hari.

Tersesat

Dengan masih berlangsungnya penganiayaan dan rumor yang disebarkan media, saya tidak dapat membedakan benar dan salah. Di bawah pengaturan sekolah, setiap murid, termasuk saya, dibawa ke bioskop untuk menonton film yang memfitnah Dafa. Kami disuruh menulis kesan setelah menontonnya.

Karena penangkapan ibu, manajemen sekolah ingin saya tampil di depan media untuk berbicara atas nama PKT. Untungnya ayah menolak permintaan itu.

Di rumah, rekan keluarga sering memberi tahu saya, “Ibu kamu terlalu keras kepala, bagaimana bisa ia bertarung melawan PKT?” Saya mulai merasa tersesat dan tidak dapat menemukan arah. Setelah ibu kembali dan menceritakan kepada saya tentang penganiayaan, saya baru tersadar akan kebenaran dan menyesali kelakuan saya.

Terkadang pada masa remaja saya, saya mulai sering bermimpi. Dalam mimpi, saya dikejar oleh orang jahat dan tidak ada yang menolong saya. Tak peduli berapa cepat saya berlari, saya tidak menemukan jalan keluar. Ini merusak kesehatan saya dan saya merasa lelah di siang hari. Hal ini baru terhenti setelah ibu menyarankan saya keluar dari PKT dan organisasi terkaitnya.

Meskipun ibu telah dibebaskan, kami tidak dapat kembali ke kehidupan sebelumnya. Saya harus meneruskan studi saya dan keluarga dari ayah mengkhawatirkan keamanan saya dan menyuruh saya agar tidak belajar dari ibu. Saya terjepit di tengah dan terkadang mempercayai mereka. Waktu lainnya saya merasa ragu.

Saya terombang-ambing antara percaya dan tidak percaya, dan tidak dapat menemukan kesimpulan.

Mengambil Sikap

Saya secara otomatis bergabung di Liga Pemuda pada 2004 ketika saya masuk SMP, karena saya berperilaku baik dan adalah ketua kelas. Ketika saya memberi tahu ibu, ia menyuruh saya cepat keluar dan menyuruh saya menonton “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis Tiongkok.”

Saya mengajukan aplikasi untuk mundur dari Liga Pemuda pada hari berikutnya setelah melihat kejahatan PKT.

Guru saya heran dan bertanya mengapa, dan saya menjawab, “Kakek saya berkata bahwa PKT buruk, dan ibu saya berkata bahwa PKT berlawanan dengan kemanusiaan dan masyarakat. Oleh karena itu saya ingin mundur dan memutuskan hubungan dengan itu.”

Guru saya tidak mencela saya ataupun menyetujui aplikasi pengunduran diri saya. Meskipun begitu, saya selalu mempertahankan bahwa saya bukan bagian dari Liga Pemuda saat mengisi formulir aplikasi.

Saya sering mencoba menghalangi teman kelas untuk bergabung dengan Liga Pemuda dan kadang kala membantu ibu membagikan materi Dafa.

Suatu kali, teman sekelas saya melaporkan saya kepada guru ketika saya membawa selembar kertas tentang PKT dan berkomunikasi dengan teman lainnya di kelas. Guru itu menyerahkan kertas itu kepada ayah karena mereka tidak dapat mengubah pikiran saya. Saya dimarahi ketika tiba di rumah. Namun, ini tidak menghalangi saya untuk percaya bahwa Falun Dafa adalah Fa yang lurus, dan bahwa PKT adalah yang benar-benar buruk.

Perlahan saya sekarang tumbuh menjadi dewasa muda. Saya telah mengalami, menyaksikan dan mempelajari banyak hal. Meskipun hidup dalam mimpi buruk, saya tahu bahwa semua ini akan berlalu dan saat untuk merayakan akan tiba suatu hari nanti.

Chinese version click here

English version click here