Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Perjalanan Xiulian Bagian 3: Menemukan Panggilan, Menunaikan Sumpah Janji

9 Juli 2016

(Minghui.org) Sebagai pengikut Dafa haruslah menyadari diri sendiri memiliki kemampuan apa, dan kemampuan tersebut haruslah digunakan untuk klarifikasi fakta. Saya seorang trainer, dosen dan juga seorang profesional yang bekerja di sebuah perusahaan. Saya memahami, sebagai seorang pengikut Dafa, di manapun kita berada, berusahalah menjadi seorang yang baik. Pemahaman saya tentang menjadi seorang yang baik sebagai pengikut Dafa berarti menggunakan kemampuan yang dikaruniai kepada kita sebagai alat kita mengklarifikasi fakta, menyelamatkan makhluk hidup … dan itu adalah panggilan, sumpah janji kita sebagai pengikut Dafa!

“Mengapa sampai begitu tidak punya kemampuan? Wahai pengikut Dafa, saya dulu telah mengatakan, bahwa kalian di langit semua adalah raja, ke mana kemampuannya? Orang mengatakan anda datang dari tingkat tinggi, bagaimanapun harus membawa sedikit unsur tersebut, memiliki sedikit kecerdasan tersebut, ke mana kemampuan itu?” (Ceramah Fa pada Konferensi Fa New York, Mei 2016).

Guru seringkali mengatakan dalam ceramah beliau - tidak ada yang kebetulan dan sebetulnya semua punya asal-usul dan pengaturan di belakangnya. Sejenak saya melihat kehidupan yang saya lalui dan ternyata semua itu memang sudah ada dalam pengaturan. Apalagi sebuah proses pelurusan Fa yang sedemikian besar, pastilah sudah dalam rancangan yang saksama sejak jauh lampau.

“Melalui pengukuhan yang begitu lama waktunya, dua kali periode bumi, sejarah selama 200 juta tahun, telah diatur peristiwa ini. Sebagai pengikut Dafa, kalian tidak punya alasan apa pun tidak menyelesaikan misi diri sendiri. Ketika anda duduk di sini, ketika anda disebut sebagai pengikut Dafa, tak peduli anda gigih maju atau tidak, praktisi baru atau lama, anda niscaya punya kewajiban tersebut. Jika tidak ada ikatan takdir, hari ini anda pasti tidak dapat duduk di sini.” (Ceramah Fa pada Konferensi Fa New York, Mei 2016)


+++


13 – 15 Mei 1998 terjadi kerusuhan massif yang menimpa bangsa Indonesia khususnya etnis Tionghoa, pada saat itu banyak sekali toko, rumah dan harta benda lainnya milik warga Tionghoa menjadi sasaran penjarahan. Bahkan banyak terjadi kebiadaban lainnya yang mencoreng moral bangsa Indonesia, yang meninggalkan luka yang tidak mungkin bisa dilupakan begitu saja oleh warga keturunan Tionghoa.

Meskipun bukan etnis Tionghoa, sebagai aktivis mahasiswa, saya bersama beberapa rekan mahasiswa terpanggil dan membuat organisasi kemanusiaan yang bertujuan membantu korban kerusuhan Mei 1998 tersebut.

Awalnya ketika saya menjadi dosen honorer di universitas yang sama, saya tidak terpikirkan akan kembali berinteraksi dengan organisasi mahasiswa tersebut, tapi ketika saya menjadi pengikut Dafa, saya diingatkan akan tujuan utama dan kesempatan menyelamatkan makhluk hidup melalui apa yang pernah saya rintis dari waktu sebelumnya.

Awalnya, saya berusaha memperkenalkan Falun Dafa ke para mahasiswa dan juga dosen. Dalam proses tersebut saya bertemu dengan beberapa dosen senior yang keturunan Tionghoa, yang memiliki kesalahpahaman terhadap Falun Dafa. Saya mencoba mengklarifikasi fakta dan memberikan majalah dan brosur kepada mereka, namun saya merasa tidak berkemampuan untuk mengurai pikiran buruk mereka. Saat itu saya belum menyadari mengapa saya tidak berkemampuan, tapi ketika saya terus belajar Fa, saya memahami untuk menyelamatkan makhluk hidup kita pun harus memiliki syarat dan kriteria yang sesuai dengan tingkat mereka berada, barulah kita mampu menyelamatkan makhluk hidup di tingkat tersebut.

Memutar Film Dokumenter “Free China”

Saya adalah seorang organisatoris, terbiasa memimpin, mengelola dan mengkoordinasi kegiatan. Melalui organisasi kemahasiswaan tersebut, saya berinisiatif untuk membuat acara nonton bareng segenap civitas akademisi universitas tersebut.

Saya dan tim mahasiswa berkoordinasi intensif, mulai dari membuat proposal kegiatan, sesi pengenalan Falun Dafa dan mengapa ditindas serta detil kebutuhan pelaksanaan kegiatan seperti ruang dan peralatannya Saya berusaha memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik.

Sejujurnya ada kekawatiran bahwa kegiatan ini akan diganggu oleh dosen atau staf yang memiliki kesalahpahaman dengan Falun Dafa. Namun hingga akhir, kegiatan berlangsung dengan baik. Saya hanya sedikit mendapat tekanan dari kepala urusan kegiatan kemahasiswaan yang menuduh saya “didanai oleh organisasi Falun Dafa.” Saya memberikan klarifikasi kepadanya bahwa praktisi Falun Dafa menggunakan uangnya sendiri untuk melakukan kegiatan serta seluruh kegiatan bersifat kemanusiaan dan nirlaba, hingga akhirnya ia menyetujui kegiatan tersebut.

Untuk pelaksanaan kegiatan ini rekan-rekan praktisi mendukung penuh mulai dari konsumsi dan semua yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tersebut sehingga mahasiswa tidak terbebani harus mencari dana kegiatan, namun fokus pada pelaksanaan kegiatan.

Kami membuat acara dengan target yang optimis, kami membagi pemutaran film dokumenter tentang penganiayaan Falun Dafa tersebut menjadi tiga sesi, dan satu sesinya berjumlah 150 orang. Dan ternyata pada hari pendaftaran tiga sesi semua penuh.  Di kesempatan itu juga mengundang praktisi Tiongkok untuk hadir sebagai korban langsung penindasan dan diakhir acara kami meminta dukungan tanda tangan dari audiens bagi petisi kami yang menyerukan penghentian pengambilan organ paksa dari rekan-rekan praktisi Dafa di Tiongkok. Dan kegiatan ini adalah salah satu kegiatan yang dianggap sukses karena mampu menarik mahasiswa yang cukup banyak.

Pameran Foto dan Pemutaran Film “Tears and Blood behind Made in China”

Saya kembali melakukan proyek klarifikasi fakta dengan organisasi mahasiswa yang sama. Saya menawarkan kerjasama pameran foto atau lukisan agar dilaksanakan di kampus yang pada saat itu tengah melakukan kegiatan yang mengangkat tema kerusuhan Mei. Sayangnya pada saat itu beberapa rekan praktisi yang saya mintai  pendapat tidak memberikan respon positif, bahkan cenderung melihat hal tersebut sulit dilakukan. Akhirnya kesempatan untuk klarifikasi fakta pameran foto lewat begitu saja. Saya mencari ke dalam, saya belum memenuhi syarat.

Ketika salah satu rekan praktisi mengajak saya mengadakan pameran foto, saya menyanggupi dan saya mulai menggunakan jaringan yang bisa saya tempuh untuk melaksanakan proyek penyelamatan ini.

Ada dua universitas yang menyanggupi untuk kerjasama.

Di salah satu universitas dilakukan pemutaran film klarifikasi ‘Tears and Blood Behind Made in China” sebanyak tiga sesi dan pameran foto “The Journey of Falun Dafa.” Kegiatan ini pun hampir tidak jadi berlangsung karena ternyata ada koordinasi yang tidak baik di internal kampus. Baik ruangan untuk pemutaran film dan tempat pameran foto mendadak tidak bisa dipakai. Saya sendiri memahami ini adalah gangguan kekuatan lama. Ruangan yang sudah dipesan jauh hari ternyata diambil alih oleh fakultas lain tanpa kami diberitahu dan ruangan pameran yang akan digunakan tengah digunakan dan esoknya ruangan tersebut juga sudah dikontrak sebuah perusahaan yang akan melakukan pameran. Padahal surat menyurat sudah kami lakukan dengan baik sebelumnya. Saya memancarkan pikiran lurus, dan menyangkal pengaturan kekuatan lama. Beruntung saya bersama para mahasiswa berhasil menerobos situasi, bahkan kami mendapatkan ruangan yang lebih baik dari sebelumnya.

Proyek penyelamatan ini berjalan dengan baik, bahkan ada yang berkomentar kok bisa Falun Gong masuk kampus, dan saya melihat satu keajaiban dan terharu, para mahasiswa yang menjadi panitia dengan gigih dan kerja keras mempromosikan pameran tersebut dan turut meneruskan informasi tentang penindasan yang terjadi di Tiongkok. Ini adalah masa yang sebentar lagi manusia biasa akan berlomba-lomba memberitakan Falun Dafa,

Di dalam proses Xiulian ini banyak hal saya simpan di dalam hati, karena saya memahami mentalitas pamer diri saya yang begitu kuat. Mentalitas pamer ini saya mampu melihat jelas karena saya menyadari kemampuan yang saya miliki. Melalui karma pikiran dan bisikan telinga saya mendengar karma pikiran  berkata, “Kamu hebat, karena kamu ini semua bisa berhasil, tanpa kamu mana bisa!” Hal-hal seperti ini bisa mengganggu proyek penyelamatan khususnya dalam koordinasi dengan sesama praktisi. Jika tidak sunguh disadari akan menjadi penghambat.

Saya percaya nasihat Guru terkait koordinasi bahwa kita pengkut Dafa dalam melakukan proyek penyelamatan ini haruslah satu tubuh. Yang saya pahami arti satu tubuh berarti tidak menonjolkan diri, tidak menganggap saya yang paling berjasa dan penting. Dengan demikian akan tercipta suatu situasi yang harmonis dan dewasa.

Dengan menjadi pengikut Dafa, tujuan hidup saya kini menjadi jelas, saya harus bergegas menyelamatkan makhluk hidup, senantiasa berpikir dan berupaya untuk kebaikan orang lain.

Terima kasih Guru atas bimbingannya, terima kasih rekan-rekan praktisi.