Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Teguh dalam Dafa, Gigih Melakukan Tiga Hal Sebaik Mungkin

27 Okt. 2018 |   Okt. 2018 | Oleh praktisi Falun Dafa di Bali

(Minghui.org)

Awal Mula Mendapatkan Fa

Perkenalkan saya praktisi dari Bali, Indonesia, mendapatkan Fa di akhir tahun 2009. Pada saat itu ayah mengajak saya beserta ibu, kakak perempuan serta saudara kembar saya pergi ke sebuah lapangan dekat rumah melihat orang berlatih Falun Dafa. Pertama kali kami pergi ke sana, latihan sudah hampir selesai, kemudian di minggu berikutnya hanya saya dan saudara kembar saja yang ikut berlatih, di minggu selanjutnya kami sudah mendapatkan buku “Zhuan Falun” untuk dibaca dan lembaran tentang bagaimana melakukan pemancaran pikiran lurus. Pertama kali membaca Zhuan Falun, saat membaca Ceramah 1, saya benar-benar terkesima. Buku Zhuan Falun telah memberikan saya jawaban dari mana asal mula manusia dan apa tujuan hidup manusia di bumi ini. Sampai akhirnya saya membaca Ceramah ke-2, saya memahami di buku Zhuan Falun inilah benar-benar dijelaskan bagaimana cara manusia untuk berkultivasi balik pulang kembali ke rumah yang sesungguhnya.

Sebelum menjadi praktisi Falun Dafa, dari kecil saya sangat tertarik akan hal-hal spiritual. Saya dulu percaya pada suatu agama, yang dikatakan berkali-kali bahwa akan terjadi bencana besar yang menghancurkan umat manusia di akhir jaman. Saya merasa resah, sangat khawatir, saya berpikir bagaimana agar saya bisa selamat dari bencana besar itu?? Suatu kali saya bahkan pernah menangis saat melakukan persembahyangan dan pemujaan memohon kepada Dewa agar menyelamatkan saya dari bencana. Hal itu benar-benar sesaat sebelum saya bertemu Falun Dafa.

Di sisi lain, sebelum berlatih Falun Dafa, sejak kecil saya mengalami banyak gangguan dari dimensi lain. Hampir tiap malam saya akan terbangun dan mendengar suara-suara dari dimensi lain yang membuat saya sangat ketakutan, sampai-sampai ibu pernah ingin membawa saya ke psikolog. Hal itu masih terbayang-bayang kuat di benak saya sampai lulus SMA, saya masih belum berani tidur sendiri.

Sampai saya mendapatkan Fa di akhir tahun 2009, tepat setelah saya lulus SMA, dan mulai kuliah di daerah Bali Selatan yang lokasinya agak jauh dari kampung halaman. Saya tinggal sendiri di kota tersebut. Saat itulah keberanian saya tidur sendiri diuji. Namun seiring saya membaca Zhuan Falun dan FZN dengan tekun, akhirnya perasaan takut di diri saya semakin menipis dan berangsur-angsur menghilang, kadang saya melewati malam dengan rasa sangat takut sampai tidak berani tidur, kadang ada saat dimana rasa takut tidak ada sama sekali. Dalam 6 bulan kultivasi, rasa takut berlebihan saya terhadap makhluk dimensi lain berangsur-angsur hilang, ayah sangat kagum pada perubahan yang terjadi pada diri saya berkat Dafa.

Xiulian Berspesialisasi Tunggal dan Melepaskan Diri dari Kekuatan Lama

Selama 6 bulan lebih membaca Zhuan Falun, Guru mengatakan di “Zhuan Falun” Ceramah 3, “Jika anda ingin Xiulian, anda harus berspesialisasi tunggal, bila tidak demikian, anda sama sekali tidak akan dapat Xiulian.” Saya memahami, jika kita ingin sungguh-sungguh berkultivasi maka kita harus bisa memutuskan untuk sepenuhnya berada di jalur yang diatur oleh Shifu, yaitu berspesialisasi tunggal. Di Indonesia, mengharuskan kami memiliki suatu agama dan di tempat saya tinggal dilingkungan pedesaan diharuskan untuk mengikuti berbagai kegiatan keagamaan untuk menunjukkan bahwa kami memang benar percaya akan Tuhan, jika tidak mereka akan menganggap kami tidak percaya Tuhan. Untuk mengatakan kepada keluarga besar saya termasuk orang tua bahwa saya ingin sungguh-sungguh Xiulian dalam Dafa, berspesialisasi tunggal pun tidak mudah. Awal mula saya berkata kepada mereka, ayah dan ibu tidak menerima begitu saja walaupun mereka memahami bahwa Falun Dafa adalah baik, namun hampir seluruh keluarga besar saya menerima apa yang saya putuskan dan memahami saya. Selama itu, kehidupan keluarga saya tetap harmonis, namun ujian akan terjadi jika saat ada kegiatan keagamaan. Saya merasakan orang tua saya menjadi seorang yang berbeda disaat mereka melakukan kegiatan keagamaan. Mereka seketika sangat tidak terima dan tetap menyuruh saya melakukan kegiatan keagamaan bersama. Dengan tetap berpikiran lurus saat itu saya sama sekali tidak mengakui bahwa itu adalah diri mereka yang sesungguhnya. Saya sharing dengan salah satu praktisi yang sudah berspesialisasi tunggal. Saya bertanya bagaimana agar saya bisa melewati ini semua. Saya harus bisa tetap teguh di Dafa! Hanya Guru yang bisa menyelamatkan saya! Praktisi tersebut kemudian menyarankan saya untuk lebih banyak membaca Fa, percaya kepada Guru, tetap lakukan tiga hal dengan baik. Saya kemudian perbanyak belajar Fa, memancarkan pikiran lurus tepat waktu dan melakukan pemancaran pikiran lurus tambahan untuk membasmi iblis-iblis serta kekuatan lama yang memanfaatkan orang tua untuk mengganggu saya untuk Xiulian berspesialisasi tunggal. Dan benar saja, begitu kegiatan keagamaan selesai orang tua saya kembali harmonis dengan saya, benar-benar seperti tidak terjadi apa-apa! Seakan-akan kegiatan keagamaan itu tidak pernah ada! Bahkan mereka mengajak saya menghabiskan waktu berjalan-jalan bersama. Hal itu terjadi setiap 6 bulan sekali disaat ada kegiatan besar keagamaan selama 2 tahun.

Di tengah konflik untuk meningkatkan Xinxing tersebut, saya tetap fokus melakukan tiga hal. Saya perbanyak belajar Fa, memancarkan pikiran lurus tepat waktu dan melakukan klarfikasi fakta kepada turis Tiongkok Daratan. Sampai akhirnya di akhir tahun 2012, beberapa bulan di saat menjelang akan ada perayaan besar keagamaan, ayah mengundang beberapa praktisi ke rumah untuk menjelaskan lebih lanjut perihal apa yang saya lakukan. Praktisi-praktisi yang datang ke rumah saya masih berada di formalitas dan masih melakukan kegiatan keagamaan. Di saat sharing tersebut beberapa praktisi ini malah menyalahkan saya atas apa yang saya lakukan selama ini. Bagaimana orang tua saya menjadi tidak marah saat itu. Bukannya mereka membantu saya untuk berspesialisasi tunggal. Saat itu saya tetap memancarkan pikiran lurus di dalam hati dan saya benar-benar tidak mengakui itu adalah diri mereka! Akhirnya diskusi mereda, beberapa praktisi ini akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Di saat kegiatan besar keagamaan sudah berlalu, ibu mengusir saya dari rumah. Saya sama sekali tidak kaget. Saya hanya berpikir dalam hati, baiklah jika ini yang akan terjadi. Bagaimanapun hidup saya sudah sepenuhnya di Dafa! Saya mempunyai Guru, jika saya bersungguh-sungguh di Dafa, Guru akan mengatur saya sebaik mungkin! Saya tidak akan kekurangan sesuatu apapun! Saat itu saya masih menjadi mahasiswa di suatu universitas. Saya tinggalkan laptop, kendaraan, serta barang-barang yang diberikan oleh orang tua saya saat itu. Saya akhirnya meninggalkan rumah.

Saya tinggal di rumah seorang praktisi yang sudah berspesialisasi tunggal. Saat kita teguh di Dafa, Guru akan melihat hati kita! Di saat saya meninggalkan rumah, orang tua menelpon saya, mengatakan menyesal telah mengusir saya. Ibu berkata bahwa di saat mereka mengusir saya itu bukanlah kata-kata dari lubuk hati mereka. Mereka benar-benar meminta untuk saya segera pulang! Akhirnya mereka menjemput saya di rumah praktisi tersebut untuk pulang kembali. Selama di rumah praktisi, praktisi ini membantu saya untuk mengklarifikasi kepada orang tua saya. Orang tua saya akhirnya mengerti dan menerima semuanya. Sampai saat ini di saat ada kegiatan keagamaan, mereka sudah tidak menyuruh saya ikut kegiatan agama lagi, saya memahami iblis itu telah dimusnahkan. Kekuatan lama sudah tidak berani mengganggu saya lagi karena saya telah menyatakan sikap untuk teguh di Dafa dan di jalur yang diatur oleh Shifu saat saya diusir dari rumah. Akhirnya keluarga saya benar-benar kembali harmonis seperti dulu. Benar-benar seperti tidak ada konflik yang terjadi.

Akhirnya saya lulus kuliah. Saya lulus dengan nilai yang memuaskan, kemudian mendapatkan pekerjaan yang bagus di pemerintahan, itu semua membuat orang tua bangga kepada saya. Itu semua adalah berkah Dafa! Mereka benar-benar melihat, merasakan bahwa saya sebagai praktisi Dafa adalah baik, Falun Dafa adalah baik! Di saat kita menyatakan sikap untuk teguh di Dafa, akan ada ujian untuk melihat bagaimana hati kita, apakah hati kita sudah sepenuhnya di Dafa atau belum.

Berspesialisai tunggal adalah hal yang serius. Di lingkungan tempat saya tinggal masih banyak praktisi yang belum berani untuk menyatakan sikap dan berdalih dengan mengatakan, hati mereka sudah sepenuhnya di Dafa, tidak apa untuk tetap ikut kegiatan keagamaan. Namun bukankah kita berkultivasi jiwa dan raga? Jiwa memang sudah sepenuhnya di Dafa, namun jika raga masih pergi ke kegiatan keagamaan bukankah itu berarti masih di dua jalur? Bukankah belum sepenuhnya percaya akan Guru? Memang ada ujian di saat kita menyatakan sikap, namun itu hanyalah ujian di dalam Xiulian untuk melihat keteguhan hati kita, seberapa teguh hati kita. Jika kita tetap teguh dan ingin melewatinya, maka kita akan bisa melewatinya, segalanya akan diselaraskan dan harmonis kembali, kekuatan lama tidak akan berani mengusik lagi. Memang tidak mudah, semua itu harus diikuti dengan belajar Fa yang baik, karena Fa yang akan membimbing kita untuk melakukan apa yang harus kita lakukan, serta melakukan pemancaran pikiran lurus tepat waktu dan melakukan klarifikasi fakta dengan baik. Saya percaya Guru dan Dafa akan menyelaraskan segalanya, terima kasih Shifu!

Berkembangnya Tempat Klarfikasi Fakta di Bali

Di pertengahan tahun 2010 setelah 6 bulan saya berlatih Falun Dafa, pembimbing setempat memberi tahu bahwa ada kewajiban yang harus dilakukan oleh praktisi Falun Dafa, yaitu melakukan tiga hal dengan baik. Tiga hal tersebut yaitu Belajar Fa dengan baik, memancarkan pikiran lurus tepat waktu serta keluar memberi tahu orang-orang tentang fakta kebenaran Falun Dafa terutama kepada turis Tiongkok yang telah diracuni oleh propaganda kebencian Partai Komunis Tiongkok. Saat mendengar hal itu saya bertekad untuk melakukan tiga hal dengan baik. Awal mula saya ikut pembimbing tempat latihan setempat mengklarifikasi fakta di Tanah Lot. Tanah Lot adalah salah satu destinasi di Bali yang wajib dikunjungi oleh turis Tiongkok. Praktisi tersebut menyewa sebuah kios untuk tempat kami memajang spanduk dan brosur. Kios itu berlokasi di pasar yaitu di depan parkir bus-bus yang mengangkut turis Tiongkok. Setiap turis yang lewat mereka akan terkejut dengan spanduk yang kami pajang. Ada yang ketakutan seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, namun banyak juga turis-turis Tiongkok mengambil foto spanduk kami. Praktisi Tiongkok yang tinggal di Bali juga ikut mengklarifikasi fakta di tempat itu. Mereka melakukan kegiatan pengunduran diri, banyak turis Tiongkok yang mengundurkan diri setelah mengerti fakta kebenaran Falun Dafa.

Beberapa tahun sebelumnya dari awal pembimbing tempat latihan membuka kios di Tanah Lot, intervensi dari Kedubes Tiongkok di Indonesia sudah mulai mengganggu praktisi tersebut. Namun saat itu pemerintah desa mau mendengar klarifikasi fakta dari praktisi tersebut. Namun di tahun 2011 intervensi terjadi lagi. Kepala pasar Tanah Lot mulai mengganggu kami. Mereka menurunkan paksa spanduk-spansuk kami, menutup dan mengambil kunci kios kami. Melihat hal tersebut praktisi di beberapa kabupaten di Bali kemudian berkumpul berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan terhadap kepala pasar Tanah Lot tersebut. Satu-persatu praktisi mencoba untuk mendatangi rumah Kepala Pasar untuk berbincang lebih dekat serta mengklarifikasi fakta kepada dia. Namun sampai terakhir kepala pasar itu mengatakan tetap tidak akan mengijinkan kegiatan kami di Tanah Lot. Kami tidak mengakui kata-kata Kepala Pasar tersebut. Kami teguhkan pikiran lurus dan melakukan pemancaran pikiran lurus untuk membasmi iblis dan kekuatan lama yang mengganggu kami melalui Kepala Pasar.

Selama beberapa bulan kios kami di Tanah Lot masih ditutup oleh Kepala Pasar. Pembimbing tempat latihan setempat mengatakan kepada saya bahwa dalam pikirannya terbersit pikiran; “Pulau Bali ini kecil, turis Tiongkok yang sedang berlibur di Bali dimana pun pasti akan bisa ditemui!” Lalu kami serta beberapa praktisi lainnya mulai berpencar ke objek-objek wisata di daerah Bali Selatan. Kami perlahan-lahan berdiskusi dengan praktisi di daerah-daerah tersebut serta pembimbing tempat latihan setempat mendorong mereka untuk mulai melakukan klarifikasi fakta kepada turis Tiongkok. Tanjung Benoa, Pantai Kuta, Uluwatu akhirnya di tempat-tempat tersebut kami bisa membuka tempat untuk klarifikasi fakta kepada turis Tiongkok. Semakin banyak pula teman-teman praktisi Bali yang sangat gigih untuk keluar mengklarifikasi fakta. Bersamaan dengan hal tersebut, keajaiban pun terjadi. Kepala pasar Tanah Lot tiba-tiba menyerahkan kunci kios kepada pembimbing tempat latihan setempat, kami diijinkan untuk membuka kios kembali di Tanah Lot. Hal itu merupakan keajaiban. Guru pernah berkata pada Ceramah Fa pada Konferensi Fa di San Francisco tahun 2005: “Oleh sebab itu anda menjumpai hal baik, hal buruk, asalkan anda telah berkultivasi Dafa, semuanya adalah hal baik, itu pasti.” Tutupnya tempat klarifikasi di Tanah Lot memberikan kesempatan kepada praktisi Bali untuk dapat melakukan klarifikasi di banyak tempat lainnya. Bahkan sampai hari ini, hampir di setiap sudut objek wisata di Bali dimana terdapat banyak turis Tiongkok, para praktisi akan bersama-sama melakukan klarifikasi fakta, serta meningkat bersama-sama. Semua itu adalah benar-benar keajaiban. Terima kasih Shifu!

Meningkatkan Xinxing dan Mengklarifikasi Fakta kepada Turis Tiongkok

Sejak pertengahan tahun 2010 sampai saat ini saya melakukan kegiatan klarifikasi fakta bersama teman-teman praktisi Bali lainnya. Selama itu banyak ujian Xinxing yang saya alami. Mulai dari di saat turis Tiongkok tidak mau mengambil materi klarifikasi, mengejek, menertawai saya, membuang bahkan menendang materi klarfikasi di hadapan saya. Pernah suatu kejadian saya sedang klarifikasi di daerah Ubud di mana turis Tiongkok sangat banyak untuk berbelanja di sana, ada 1 rombongan turis Tiongkok yang sedang menunggu bus jemputan mereka. Saat itu saya ada di sebelah mereka, saya mulai menyodorkan materi, salah satu dari mereka mengambil Koran Dajiyuan yang saya bagikan. Turis itu kemudian berdiskusi dengan tim rombongannya tentang isi Koran Dajiyuan. Reaksi mereka sangat kaget saat melihat Koran tersebut, sembari mengejek saya, mereka bertanya kepada saya “Apakah kamu mengerti isi koran tersebut?” Kemudian saya menjawab bahwa saya tidak bisa membaca bahasa Mandarin. Begitu saya menjawab, hampir seluruh turis rombongan tersebut menertawai saya! Saat itu hati manusia saya muncul. Saya merasa malu karena telah ditertawai begitu keras oleh rombongan tersebut. Namun saat itu saya cepat memberi tahu salah satu turis yang bisa berbahasa Inggris bahwa walaupun saya tidak mengerti cara membaca Mandarin, namun saya mengerti isi koran tersebut karena saya mempunyai yang versi bahasa Indonesia. Turis tersebut kemudian mengerti. Saya merasa sedikit lega.

Tidak sedikit pemandu wisata yang melarang turis mereka mengambil materi klarifikasi fakta, bahkan pernah materi yang telah diambil oleh turis dirampas kembali oleh pemandu wisata kemudian dibuang begitu saja di hadapan saya. Dulu, hal-hal seperti itu cepat membuat saya kesal dan menyerah. Saya tidak mencari ke dalam. Saya belum memiliki hati yang belas kasih. Sangat lama saya tidak menyadari dan memperbaiki diri agar tidak cepat merasa kesal kepada mereka. Namun suatu hari di saat saya sedang dalam perjalanan menuju termpat klarifikasi, sekilas pikiran saya tidak ingin melakukan klarifikasi hari itu, namun tiba-tiba ada suatu suara yang mengingatkan saya, “Kamu tidak boleh seperti itu!” Saya tiba-tiba tersadarkan! Bagaimanapun saya harus pergi mengklarifikasi fakta kepada mereka! Saya harus memiliki hati yang belas kasih! Saya tersadarkan itulah hati manusia yang masih harus saya kultivasikan. Akhirnya di hari itu saya tetap melanjutkan perjalanan menuju lokasi untuk mengklarifikasi fakta. Saya sangat berterima kasih kepada Guru yang telah mengingatkan saya untuk meningkatkan Xinxing saya. Sejak saat itu sampai saat ini, berangsur-angsur seiring belajar Fa saya mulai bisa mengultivasi hati saya agar tidak menjadi cepat marah di kala turis Tiongkok ataupun pemandu wisata berlaku tidak baik pada saya dan tetap tersenyum tulus.

Tidak semua turis Tiongkok tidak mau mendengar fakta kebenaran. Dikala saya mengklarifikasi fakta memegang spanduk, tersenyum tulus dengan nian yang kuat, saya berucap (dalam bahasa Mandarin): “Huan ying lai dao Bali dao, Fa Lun Da Fa Hao! (Selamat datang di Bali, Falun Dafa baik)”, hampir seluruh turis Tiongkok yang saya temui akan tersenyum balik atau mengacungkan jempol terhadap spanduk yang saya bawa ataupun mengambil materi. Saat itu saya merasa Guru sedang menyemangati saya untuk melakukan klarifikasi fakta dan mengultivasi hati dengan lebih baik.

Selama kurang lebih 8 tahun mengklarifikasi fakta, turis Tiongkok yang datang ke Bali semakin hari semakin banyak, bahkan di tahun 2017 menduduki peringkat pertama sebagai turis yang paling banyak berkunjung di Indonesia. Hal itu membuat saya menjadi bangga, merasa puas diri. Saya berpikir, banyak turis Tiongkok yang datang ke Bali, saya tidak akan kekurangan tempat untuk melakukan klarifikasi fakta kepada mereka, Banyak teman praktisi lainnya juga yang semakin gigih maju melakukan klarifikasi fakta kepada turis Tiongkok. Dengan berpikir seperti itu tanpa sadar saya menjadi sedikit mengendur untuk keluar, saya berpikir turis Tiongkok yang datang ke Bali tidak akan ada habisnya, sibuk sedikit saja karena urusan kantor, saya memutuskan untuk tidak keluar. Biasanya saya keluar seminggu 4 kali atau 5 kali namun saat itu menjadi 2 kali seminggu. Hal itu berlangsung kurang lebih sebulan. Seakan diperingatkan oleh Guru, satu-satunya vulkan yang masih aktif di Bali tiba-tiba mengalami erupsi. Bandara ditutup selama seminggu. Segala penerbangan dari berbagai negara dibatalkan, termasuk penerbangan dari Tiongkok. Saat itulah saya mulai tersadarkan! Bagaimana saya bisa melakukan klarifikasi fakta jika tidak ada turis Tiongkok yang datang ke Bali? Selama 2 bulan Bali mengalami penurunan jumlah turis yang drastis terutama turis Tiongkok. Saya merasa sangat putus asa. Saya hampir tidak bertemu turis Tiongkok saat itu. Selama 2 bulan itu juga saya dan saudara kembar saya sampai mencari-cari turis Tiongkok di beberapa tempat klarifikasi di Bali. Saya menyesal tidak memanfaatkan waktu yang diberikan kepada saya sebelumnya. Saya berpikir sisa waktu yang diberikan Guru kepada praktisi sudah akan benar-benar berakhir. Saya sangat sedih dan menyesal! Saya putus asa dan berpikir akankah Guru memberi saya kesempatan sekali lagi untuk melakukan tiga hal dengan baik? Saya merasa belum melakukan klarifikasi fakta kepada turis Tiongkok dengan baik dan telah membuang-buang waktu.

Sampai akhirnya saya sangat berterima kasih kepada Guru yang telah memperingati saya berkali-kali. Di bulan ketiga, jumlah turis mulai meningkat. Saya merasa sangat bersyukur Guru masih memberikan kesempatan waktu kepada saya untuk melakukan tiga hal dengan sebaik mungkin. Saya merasa sangat bersyukur! Sejak saat itu sampai hari ini, sepulang kerja dan di saat jadwal untuk keluar, saya dan saudara kembar saya akan keluar untuk mengklarifikasi fakta. Kami sangat bersyukur atas kesempatan dan waktu yang masih diberikan Guru kepada kita. Terima kasih Guru atas kesempatan yang telah diberikan kembali kepada kami!

Sekian sharing pengalaman dari saya, jika ada kata-kata yang tidak sesuai Fa, mohon dikoreksi. Terima kasih Shifu! Terima kasih kepada teman-teman sekalian!

(Dibacakan pada Konferensi Fa Asia tahun 2018 di Seoul)