Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Kisah Xiulian Buddha Milarepa (8)

9 Juli 2018 |   Oleh Editorial Minghui

(Minghui.org) Pegunungan Himalaya sepanjang sejarah selalu menjadi tempat tinggal bagi banyak orang Xiulian, orang-orang menjalani hidup dengan sederhana, setiap orang pandai menyanyi dan menari, selain ini semua -- adalah menganut Fa Buddha. Pada saat itu ada seorang praktisi Xiulian bernama Milarepa. Semua status Buddha dan Bodhisattva adalah buah hasil kultivasi dari banyak kehidupan dan kalpa, tetapi Milarepa sebaliknya telah berhasil mencapai GongDe yang sepadan seperti Buddha dan Bodhisattva ini dalam satu generasi dan kehidupan, dan kemudian hari menjadi leluhur pendiri Tantra Tibet aliran Putih.

-------------------------------------------------------------------------

(Menyambung artikel sebelumnya)

Rechungpa bertanya: “Maha Guru yang saya hormati, Anda bagaimana berkultivasi jalan tapa [derita]? Di tempat apa menjalankan kultivasi?”

Milarepa berkata: “Esok paginya, putra dari guru telah mempersiapkan sekantong Zanba dan sebungkus makanan persembahan kepada saya, dan berkata kepada saya: {Ini sebagai persembahan untuk anda dalam menjalankan kultivasi, mohon anda bersumpah untuk tidak melupakan kami!} Saya pun mengambil makanan ini, pergi ke sebuah gua di atas gunung besar belakang rumah tua keluarga saya untuk berlatih kultivasi bermeditasi Dhyana. Saya dengan sangat irit memakan Zanba yang dicampur air, setelah waktu lama, tubuh berubah menjadi sangat lemah, namun KungFu sebaliknya bertambah banyak. Telah berkultivasi seperti ini selama beberapa bulan, pada akhirnya bahan makanan seluruhnya habis dimakan, tubuh lemah hingga tidak bisa terus menyokong. Saya dalam hati berpikir: ‘Lebih baik pergi ke peternakan sapi untuk meminta sedikit mentega, pergi ke ladang pertanian untuk meminta sedikit Zanba; lebih baik menjaga tubuh ini agar tidak mati kelaparan, barulah dapat melanjutkan kultivasi’.”

“Saya pun turun dari atas gunung, tiba di sebuah peternakan terdekat, dan melihat ada sebuah tenda dari kulit sapi. Saya lalu berkata di depan tenda: {Wahai Shizhu [panggilan biksu terhadap orang biasa]! Biksu yoga datang meminta mentega!} Siapa sangka kebetulan sekali ternyata itu adalah tenda milik bibi. Begitu bibi mendengarnya, tahu bahwa itu adalah suara saya, tidak tahan meluapkan amarahnya, segera melepaskan anjing galak untuk menggigit saya. Saya segera menggunakan batu untuk memukuli anjing itu dan membela diri; saat ini bibi telah menurunkan tiang penopang tenda kulit sapi, menyerbu ke hadapan saya, dengan suara keras memaki: {Dasar kamu anak tak berguna! Musuh keluarga! Iblis desa! Barang tak tahu malu! Kamu datang untuk apa? Cuma ayah kamu saja yang mau melahirkan anak macam kamu!} Mulut tanpa hentinya memaki, tongkat di tangan pun dikibaskan turun. Saya menarik kaki langsung kabur, sialnya karena kekurangan gizi, kekuatan fisik menjadi lemah; sebuah batu menyandung kaki, segera tercebur ke dalam sebuah sungai kecil. Bibi tanpa henti memaki, menggunakan tongkat memukul secara membabi buta; saya dengan berjuang setengah mati, barulah berhasil berdiri. Dengan tangan bersandar pada tongkat penuntun jalan, dua mata meneteskan air mata, menyanyi di hadapan bibi:”

“Seorang anak gadis yang ikut keluar bersama bibi setelah mendengar lagu saya, juga tidak tahan hingga meneteskan air mata karena bersimpati. Bibi juga merasa malu tidak enak hati, lalu pulang ke dalam tenda, kemudian menyuruh anak gadis itu membawakan sekantong mentega dan keju kepada saya. Lalu saya pun sambil terpincang-pincang melangkah meninggalkan tenda bibi, secara berurut kembali tiba di tenda lain untuk mengemis makan. Orang-orang ini tidak saya kenali, namun mereka sebaliknya mengenali saya. Setelah melihat saya datang, semuanya secara teliti mengamati saya, juga menyumbangkan [Dana] banyak sekali makanan kepada saya. Saat ini saya dalam hati berpikir: ‘Bibi walau bersikap demikian terhadap saya, paman juga pasti tidak akan dengan mudahnya melepaskan saya; lebih baik pergi ke tempat lain untuk meminta-minta saja’. Lalu membawa makanan hasil minta-minta -- tiba di pinggiran desa.”

“Siapa sangka dikarenakan rumahnya telah roboh, beberapa tahun terakhir paman sudah pindah tinggal di pinggiran desa. Saya sama sekali tidak tahu -- sampai akhirnya tiba di depan pintu rumah dia. Paman melihat saya telah datang, melompat bangun dan berseru: {Dasar bajingan kamu! Anak tak berguna! Aku walaupun tua hingga tinggal beberapa tulang saja, namun orang yang ingin aku cari-cari seumur hidup, tepatnya adalah kamu!} Sambil berkata demikian, mengambil batu dan bagaikan curah hujan dihantamkan ke arah saya. Saya bergegas membalikkan badan kabur. Paman segera lari pulang ke rumah, membawa keluar panah sambil berteriak: {Oi anak tak berguna berhati serigala berjantung anjing! Masih belum cukupkah kamu mencelakakan desa ini? Hai para jiran! Para tetangga! Cepatlah keluar! Musuh kita telah datang!} Banyak orang muda, mendengar teriakan paman, segera keluar, membantu melempari batu dan memukuli saya. Ternyata mereka semua adalah orang-orang yang pernah dirugikan oleh saya. Begitu saya melihat situasinya tidak bagus, takutnya dipukuli mereka hingga mati, terpaksa berpura-pura melakukan Shouyin Fennu dan berseru dengan suara lantang: {Wahai Yidam Maha Guru dari perguruan pewaris aliran! Oh Xiluga sang penguasa samudra! Praktisi telah bertemu musuh yang ingin mencabut nyawa! Mohon Dewa pelindung Fa membalas mereka dengan panah hitam! Saya walaupun telah mati, Dewa pelindung Fa tidak akan mati!}”

“Setelah semua orang mendengarnya menjadi ketakutan, bahkan menarik dan menyeret paman demi menghalanginya. Ada sejumlah orang yang bersimpati kepada saya juga mendekat untuk bermediasi, orang-orang yang melempar batu dan memukuli saya juga mendekat untuk memohon ampun saya. Mereka telah menyumbangkan banyak sekali makanan kepada saya, hanya paman saja yang sedari awal sampai akhir tidak mau berkompromi dengan saya, juga tidak memberi saya sumbangan apa pun. Saya mengambil makanan itu, secara perlahan kembali ke gua di gunung, di perjalanan diri sendiri merenung: ‘Saya tinggal di dekat desa, hanya membuat mereka marah dan tidak tenang, lebih baik segera meninggalkan tempat ini saja!’”

“Malam itu, saya mengalami sebuah mimpi, pertanda mimpi sepertinya meminta saya tinggal beberapa hari lagi barulah pergi. Oleh karena itu saya pun memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi.”

“Setelah lewat beberapa hari, Zessay datang, sambil membawakan makanan yang sangat enak dan arak untuk menjenguk saya, setelah bertemu saya lalu memeluk saya sambil menangis keras. Dia sambil tersedu-sedu menceritakan secara detail bagaimana ibu meninggal dan situasi adik yang berkelana ke tempat jauh. Setelah mendengar ibu dan adik bernasib tragis, membuat saya tidak tahan juga ikut menangis sedih.”

“Kemudian, saya berhasil menahan kesedihan, lalu bertanya kepada Zessay: {Kamu sampai sekarang masih belum menikah?}”

“{Semua orang takut dengan Dewa pelindung Fa kamu, siapa pun juga tidak berani menginginkan saya. Walaupun ada orang menginginkan saya, saya juga tidak ingin menikah! Kamu yang berkultivasi Fa Ortodoks seperti ini, sungguh kesempatan yang sulit diperoleh!}”

“Setelah diam sejenak, Zessay kembali bertanya kepada saya: {Rumah dan ladang kamu sekarang rencananya mau bagaimana ditangani?}”

“Saya pun mengerti maksud dia, saya dalam hati berpikir: ‘Saya meninggalkan duniawi dan melepas keluarga demi fokus berkultivasi Fa Ortodoks, sepenuhnya adalah kemurahan hati dari Maha Guru Marpa; mengenai Zessay, seharusnya menjalinkan sebuah jodoh baik Fa Buddha dengan dia, hal ini lebih baik dari segalanya. Mengenai hal duniawi, dia seharusnya memutuskan sendiri, saya harus memberitahu dia maksud saya ini agar dia mengerti’.”

“Saya pun berkata kepada dia: {Jika kamu bertemu adik Peta, maka rumah dan ladang semuanya berikan kepada dia saja! Sebelum bertemu dengan dia, kamu boleh menikmati aset keluarga ini. Jika adik Peta dipastikan sudah mati, maka rumah dan ladang itu saya berikan kepada kamu.}

“{Apakah kamu sendiri tidak menginginkannya?}”

“Saya berkata: {Saya berkultivasi jalan tapa, menjalani hidup layaknya tikus dan burung, oleh karena itu ladang bagi saya tidak ada kegunaan apa pun. Walaupun saya memiliki aset seluruh dunia ini, ketika mati juga sama saja tidak dapat dibawa pergi. Sekarang saya telah melepas segalanya, tidak saja bahagia di kemudian hari, sekarang juga sudah merasa bahagia. Jalan saya bertolak belakang dengan manusia biasa. Mulai sekarang, mohon kamu sebaiknya jangan menganggap saya sebagai manusia.}”

“Dia berkata: {Kalau begitu, kamu juga bertentangan dengan orang yang menganut metode kultivasi lain?}”

“Penganut ajaran Buddha yang titik tolaknya mempelajari ajaran Fa dalam sutra hanya demi mencari ketenaran duniawi, bila alirannya sendiri lebih hebat mengalahkan yang lain -- maka akan bersuka cita, jika orang lain kalah maka akan bergembira; secara membabi-buta mengejar nama mengejar kepentingan, di udara tergantung gelar seorang penganut ajaran Buddha, mengenakan jubah kuning, penganut ajaran Buddha semacam inilah yang saya tentang. Jika dengan suka cita -- murni penuh ketulusan, maka penganut dari segala aliran, juga akan mengarah ke Bodhi [pencerahan], ini saya mutlak tidak akan menentang. Oleh karena itu, orang yang pada dasarnya tidak murni -- saya sama sekali tidak menyetujui.}”

“Zessay berkata: {Saya sama sekali belum pernah mendengar ada penganut ajaran Buddha seperti kamu yang demikian melarat dan lusuh! Apakah kamu menganut metode dari Mahayana [kendaraan besar]?}”

“{Ini adalah sebuah kendaraan Fa yang paling hebat di antara semua kendaraan, melepaskan delapan hal duniawi, kendaraan Fa paling tinggi yang dapat Jisheng Chengfo [bisa menjadi Buddha dalam kehidupan ini].}”

“{Apa yang kamu katakan dan kerjakan, semuanya tidak sama dengan para Fashi [guru Fa] yang lain. Kalau begitu, kelihatannya di antara dua hal berbeda ini pasti ada sebuah yang salah. Andaikan keduanya juga adalah Fa, maka, saya masih lebih suka milik mereka.}”

“Saya berkata: {Fashi yang disukai oleh kalian selaku orang sekuler, saya sama sekali tidak menyukainya. Makna ajaran mereka walaupun tidak sama dengan saya, namun mengenakan jubah kuning sambil bergelut dalam delapan hal duniawi [delapan angin], pada akhirnya juga tidak memberi makna nyata; walaupun tidak tergerak oleh delapan angin duniawi, jarak untuk menjadi Buddha, terentang bagaikan dua kutub. Hal ini, kamu tidak akan memahami. Singkatnya, jika kamu mampu berhati teguh, maka lebih baik pergi berkultivasi Fa dengan giat; bagaimana kalau tidak mampu? Maka lebih baik pergi merawat ladang saja!}”

“Zessay berkata: {Saya tidak menginginkan rumah dan ladang kamu, kamu lebih baik berikan kepada adik perempuan kamu saja! Saya ingin berkultivasi Fa Buddha, namun metode kultivasi seperti kamu ini, saya tidak mampu menjalaninya.} Selesai berkata demikian dia pun pergi.”

“Setelah lewat beberapa hari, bibi mendengar bahwa saya tidak menginginkan ladang, sangat terheran-heran, berpikir: ‘Dengar-dengar dia mengikuti perintah dari Maha Guru, sudah tidak menginginkan ladang, saya coba pergi melihat-lihat apakah benar atau tidak!’ Demikianlah lalu membawakan arak dan makanan untuk menjenguk saya. Dia begitu bertemu muka langsung berkata kepada saya: {Keponakanku! Beberapa hari yang lalu adalah salah saya, kamu adalah penganut ajaran Buddha, mohon kamu bersabar dan memaafkan! Saya ada maksud untuk menggantikan kamu berladang, setiap bulan akan memberi kamu bayaran; kalau tidak -- ladang kamu terbengkalai juga sangat disayangkan, menurut kamu boleh atau tidak?}”

“Saya berkata: {Bagus sekali! Setiap bulan saya hanya perlu satu Kai (catatan: satuan berat dari Tibet, ‘satu Kai’ setara dengan dua puluh lima Kati) makanan sudah cukup, sisanya untuk bibi saja!} Bibi dengan sangat puas pun berlalu.”

“Kemudian kembali berlalu dua bulan, bibi pun datang, berkata kepada saya: {Semua orang berkata bahwa membajak ladang kamu, Dewa pelindung Fa kamu akan marah dan melepaskan mantra. Mohon kamu jangan melepaskan mantra ya!}”

“Saya berkata: {Saya bagaimana mungkin akan melepaskan mantra? Kamu adalah orang yang memiliki GongDe, tolong kamu dengan tenang membajak ladang dan mengantarkan makanan kepada saya saja.}”

“Dia berkata: {Kalau demikian, saya menjadi tenang, mohon kamu bersumpah boleh tidak?}”

“Saya berpikir dalam hati: ‘Apa maunya dia ya? Walaupun niat jahat, juga dapat dibalikkan untuk mengikat jodoh pertemuan’. Saya pun menyetujui dia untuk bersumpah, dia kembali berlalu dengan sangat senang.”

“Saya lanjut menjalani kultivasi dengan gigih maju di dalam gua, walaupun telah menghabiskan upaya yang paling keras, namun masih belum mampu menumbuhkan GongDe yang penuh kehangatan dan kebahagiaan. Tepat ketika sedang memikirkan bagaimana sebaiknya menangani, malam itu pun mengalami sebuah mimpi, dalam mimpi saya sedang membajak sebuah ladang yang sangat-sangat keras, bagaimana digali pun tidak bergerak. Tepat ketika hendak menyerah, Maha Guru Marpa tiba-tiba menampakkan diri di udara, dan berkata: {Anakku! Gunakanlah tenaga untuk membajak! Asalkan kamu terus bergerak maju dengan gagah berani, tidak perlu takut dia keras, pada akhirnya akan berhasil!} Selesai berkata demikian, Maha Guru Marpa pun membajak di depan, saya membajak di belakang, kemudian di semua tempat tumbuhlah banyak sekali semai.”

“Setelah terbangun, dalam hati sangat gembira: namun juga berpikir, pemandangan mimpi tidak lebih hanya penampilan dari niat pikiran saja, orang biasa saja tidak terikat dan menaruh perhatian, sedangkan saya bergembira karena mimpi, bukankah ini terlalu bodoh? Walaupun demikian, saya tahu ini adalah semacam pertanda, jika berusaha keras dan gigih maju -- pasti dapat tumbuh GongDe.”

“Saat ini saya sudah ada niat pergi ke gua Humapai [Kuda Putih Pelindung] untuk menjalani kultivasi. Tepat saat itu bibi membawakan tiga Dou [sepuluh liter] Zanba, sebuah pakaian kulit yang koyak, sepotong kain, sebongkah minyak campuran lemak dan mentega untuk mengunjungi saya. Berkata kepada saya dengan penuh kemarahan: {Barang-barang ini adalah bayaran untuk penjualan ladang kamu. Setelah kamu mengambil barang-barang ini, tolong pergi ke tempat jauh yang tidak terdengar oleh telinga saya dan tidak terlihat oleh mata saya. Karena semua orang desa berkata: ‘Thopaga telah mencelakakan kita demikian buruk, sekarang kamu kembali memanggil dia pulang, di kemudian hari orang-orang desa mungkin semuanya dibunuh habis dan dipenggal oleh dia! Bila kamu tidak mengusir dia, maka kami akan membunuh kamu bersama dengan dia!’ Ini sebabnya saya khusus datang memberitahu kamu, lebih baik mohon kamu pergilah ke tempat yang jauh saja! Apabila kamu harus berada di sini, takutnya mereka bukan membunuh saya, sebaliknya malah sungguh akan membunuh kamu!}”

“Saya tahu dengan jelas orang desa pasti tidak akan berkata demikian. Bila saya bukan orang yang sungguh-sungguh menjalankan kultivasi, saya pasti tidak akan bersumpah agar bibi bisa merebut ladang saya. Saya bersumpah tidak akan melepas mantra, sama sekali bukan ingin agar bibi menipu dan merebut ladang saya. Dalam hati adalah berpikir demikian, saya lebih baik berkata kepada bibi: {Saya adalah orang yang menjalani kultivasi, yang paling penting bagi kultivator adalah mengultivasikan kesabaran dalam menghadapi hinaan, jika tidak dapat bersabar menghadapi kesulitan, maka bagaimana bisa mengultivasikan kesabaran dalam menghadapi hinaan? Bila saya malam ini telah mati, bukan saja ladang menjadi tidak ada gunanya, segala hal di atas dunia pun menjadi tidak ada gunanya. Mengultivasikan kesabaran dalam menghadapi hinaan untuk menjadi Buddha adalah paling krusial, bibi tepatnya adalah padanan saya dalam mengultivasikan kesabaran untuk menghadapi hinaan. Saya bisa bertemu dengan Fa Ortodoks, juga adalah kemurahan hati dari paman dan bibi; demi membalas kemurahan hati kalian, saya bersumpah berharap kalian di masa yang akan datang menjadi Buddha. Tidak saja saya tidak menginginkan ladang, bahkan rumah diberikan kepada anda juga boleh.} Selesai berkata saya pun menyanyikan sebuah lagu:”

Mengikuti kemurahan hati Maha Guru, bebas lepas tinggal di gunung; petaka dan kebahagiaan sang murid, Shizun mengetahui semuanya dengan jelas.

Manusia sekuler bergelut demi karma; hidup mati sulit keluar pergi; jika tamak dengan hal duniawi, mutlak terlepas dari akar kehidupan.

Manusia sekuler sibuk berbuat jahat, akhirnya menanggung karma buruk penderitaan; rasa tamak dan cinta bodoh, menyeret manusia memasuki api neraka.

Karena mengejar harta dan kekayaan, konflik perseteruan sering memicu permusuhan; arak baik bagaikan obat beracun, saat ketagihan sulit membebaskan diri.

Wahai bibi yang mencintai kekayaan, seakan tidak jijik dengan ketamakan; kikir pelit dengan benda duniawi, kuatirnya tertipu oleh setan kelaparan.

Semua yang dikatakan oleh bibi, sepenuhnya adalah kata bohong belaka; bila banyak bicara seperti demikian, sungguh tidak bermanfaat bagi anda.

Seluruh ladang milik keluarga saya, semuanya dipersembahkan untuk bibi saja; manusia menuruti Fa memperoleh kebersihan, aula Buddha berada dalam hati.

Belas kasih menyelamatkan jiwa menderita, malapetaka-penderitaan-karma tersapu angin; saya selaku yang lebih tinggi, melampaui sifat diri tak tergerakkan.

Sang Maha Kasih yang baik, mohon berilah Jiachi kepada pengikut, bebas lepas tinggal di gunung.

“Setelah bibi mendengar lagu saya, dia pun berkata: {Keponakan seperti kamu ini, barulah kultivator yang sesungguhnya!} Dengan penuh kepuasan dan senang hati dia pun turun gunung.”

“Saya setelah mengalami berbagai macam ujian ini, timbullah hati antipati yang jauh lebih besar terhadap dunia sekuler; karena telah memutuskan untuk melepas rumah tinggal dan ladang, dalam hati sebaliknya malah merasa tenang tanpa gangguan. Maka saya pun segera terpikir untuk menjalankan kultivasi di gua Humapai. Gua ini adalah tempat saya mulai menjalani kultivasi sampai hari di mana saya mencapai kesempurnaan, oleh karena itu di kemudian hari orang-orang menyebutnya sebagai ‘Gua Menjejakkan Kaki’.”

“Keesokan harinya, saya mengambil barang-barang hasil penjualan ladang dan barang-barang yang tersisa di tubuh, di pagi hari saat orang masih belum bangun dan langit masih gelap -- saya berjalan tiba di gua Humapai. Gua itu adalah sebuah gua yang sangat cocok untuk ditinggali. Setelah tiba langsung memasang sebuah alas tebal, di atasnya ditaruh sebuah bantalan kecil, sebagai tempat duduk untuk berDhyana. Selesai menata semuanya, saya pun menyanyikan sebuah lagu Ikrar Sumpah: ---- ----”

Sebelum saya bisa membuktikan Jalan, bersumpah selamanya tinggal di sini; walaupun kedinginan dan mati kelaparan, tidak mencari pakaian dan makanan.

Walau mengalami sakit hingga mati, tidak turun gunung mencari tabib; walau menahan penderitaan membahayakan nyawa, tidak turun gunung mencari obat.

Bahkan dalam sekejap mata pun, tidak menggunakan tubuh berwarna ini, untuk mengejar kepentingan duniawi; hanya mengandalkan Tubuh Mulut Pikiran, berjuang mencapai status Sang Sadar.

Berdoa memohon Maha Guru terhormat, semua Buddha di sepuluh penjuru; agar memberi anugerah maha Jiachi, agar sumpah ini tidak dilanggar.

Berdoa memohon kepada Maha Dakini, dan kepada para pelindung Fa; membantu saya menggunakan jodoh baik, agar sumpah ini berhasil diwujudkan.

“Saya kembali melanjutkan bersumpah: {Saya bila tidak berhasil mencapai kesempurnaan, tidak melahirkan pembuktian kemenangan, walaupun mati kelaparan juga tidak akan turun gunung untuk mencari makan, mati kedinginan pun tidak akan turun gunung untuk meminta pakaian, mati karena penyakit pun tidak akan turun gunung untuk mencari obat. Memutuskan untuk melepas total kehidupan ini dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia sekuler. Tiga karma tidak tergerak (karma Tubuh, karma Mulut, karma Pikiran disebut tiga karma, Tubuh Mulut Pikiran tidak tergerak oleh segala godaan, nama kunonya adalah tiga karma tidak tergerak), sepenuh hati menjalankan kultivasi menjadi Buddha, memohon kepada Maha Guru dan para Yidam Jalan Kosong untuk memberi perlindungan Fa dan Jiachi agar sumpah ini bisa berhasil. Jika melanggar sumpah ini, daripada meninggalkan sebuah tubuh manusia yang tidak berkultivasi Fa Ortodoks, masih lebih baik segera mati. Oleh karena itu jika saya melanggar sumpah maka mohon para pelindung Fa di samudra luas segera mencabut nyawa saya. Setelah saya mati, masih harus memohon Maha Guru dan para Yidam untuk memberi Jiachi agar bisa bereinkarnasi dalam sebuah tubuh manusia yang bisa berkultivasi Fa Ortodoks.”

“Untuk mendukung sumpah sendiri, saya setiap harinya hanya makan sedikit sekali Zanba, hari demi hari terus menjalankan kultivasi tapa.”

“Hati saya walaupun ada pegangan Maha Shouyin, namun dikarenakan makanan yang terlalu sedikit, kekuatan fisik tidak cukup, napas tidak teratur, sulit sekali melahirkan kehangatan dan kebahagiaan (‘wujud kehangatan’ dan ‘wujud kebahagiaan’ dianggap sebagai wujud umum dari segala kondisi Ding, ‘Zhuohuoding [Ding Api Menyala]’ dianggap lebih luar biasa.), keringat dingin di badan banyak sekali. Maka sepenuh hati berdoa memohon kepada Maha Guru. Pada suatu malam, di bawah siraman cahaya terang, seakan melihat Maha Guru Marpa, ada banyak anak gadis mengelilingi untuk melakukan pertemuan. Di antaranya ada orang berkata: {Milarepa itu, jika tidak dapat melahirkan kehangatan dan kebahagiaan, bagaimana baiknya ya?} Maha Guru Marpa berkata: {Dia harus berkultivasi seperti ini seperti ini.} Selesai berkata demikian langsung memeragakan postur kultivasi kepada saya. Setelah terbangun, saya pun mengikuti Fa melakukan Shouyin Liuzao [enam tungku] (yaitu sejenis posisi duduk yang khusus). Demi melahirkan kebahagiaan tubuh, mencampur dengan napas, menggunakan angin akar kehidupan (disebut Qi kehidupan, berdasar pada delapan kesadaran) dan kendali vokal, menggunakan Fa agar terbebas dan leluasa menaklukkan khayalan, hati diperluas dan hambar. Setelah menjalankan kultivasi seperti ini, seperti yang diharapkan – tumbuhlah kehangatan dan kebahagiaan.”

“Kemudian setelah lewat satu tahun, dalam hati pun terbayang ingin pergi jalan-jalan di luar, pergi ke desa untuk jalan-jalan. Tepat saat bersiap-siap ingin pergi, tiba-tiba teringat sumpah yang dulu saya ikrarkan.”

“Diri menyemangati diri sendiri, bahkan sepanjang hari tanpa henti sedikit pun menjalani dengan gigih maju dan gagah perkasa, kemampuan spiritual secara bertahap bertambah tinggi. Demikianlah kembali lewat tiga tahun.”

“Walaupun saya dalam setahun hanya makan satu Kai Zanba, namun setelah melewati beberapa tahun ini -- bahan makanan pun telah habis dimakan, pada akhirnya tidak tersisa satu pun yang dapat dimakan. Jika berlanjut terus seperti ini hanya akan mati kelaparan. Saya pikir manusia di dunia menggunakan tubuhnya yang berharga dengan upaya keras mengejar kekayaan, setelah memperoleh sedikit lalu bersuka cita, jika kehilangan lalu sakit kepala, sungguh menyedihkan. Emas yang memenuhi seluruh tiga ribu Dunia Besar, dibandingkan dengan Misi menjadi Buddha, sungguh tiada artinya. Jika tidak menjadi Buddha dan secara sia-sia kehilangan tubuh ini, sungguh sayang sekali. Kalau begitu, apakah saya harus pergi mencari sedikit makanan untuk mempertahankan nyawa ini? Pada saat yang sama saya juga kembali teringat sumpah yang diucapkan dulu, pada akhirnya haruskah saya turun gunung atau tidak? Berpikir terus berulang kali, merasa bahwa sekarang pergi keluar, sama sekali bukan karena ingin bersenang-senang, namun karena ingin memperoleh sumber makanan yang diperlukan untuk berkultivasi Fa, oleh karena itu tindakan ini bukan saja tidak termasuk melanggar sumpah, namun adalah hal yang harus dilakukan. Demi memperoleh sedikit sumber makanan untuk bertapa, saya pun pergi ke depan gua Humapai.”

“Di tempat itu, terlihat sangat luas, cahaya matahari sangat hangat, air sungai bersih jernih, di semua tempat tumbuh lebat rumput hijau dan tanaman jelatang berwarna hijau. Begitu saya melihatnya, sangat bersuka cita, dalam hati berpikir: {Kalau begini sudah tidak perlu turun gunung lagi. Cukup hanya makan jelatang saja.} Sejak saat itu saya pun makan jelatang untuk melewati hari, terus melanjutkan kultivasi.”

“Setelah lewat lama sekali, baju yang dikenakan di luar -- lapuk hingga sepotong kain pun tidak tersisa. Karena hanya makan jelatang dan tak ada makanan yang lain, badan pun hanya tersisa satu rangka tulang, dikarenakan makan jelatang -- rambut kepala dan pori-pori pun berubah menjadi hijau.”

“Saya teringat dengan surat bersegel yang diberikan oleh Maha Guru kepada saya, saya meletakkan surat bersegel itu ke atas kepala, dalam hati gembira bukan main, walaupun tidak makan sedikit pun, namun seperti telah memakan makanan yang manis sekali, saya merasa sangat puas dan nyaman. Saya ingin membuka surat itu untuk dilihat-lihat, namun ada sebuah pertanda yang memberitahu, saat untuk membuka surat bersegel belumlah tiba. Oleh karena itu tidak dibuka. Demikianlah kembali lewat satu tahun.”

“Pada suatu hari, sekelompok pemburu yang membawa anjing pemburu, ketika sedang berburu, apa pun tidak berhasil diperoleh, tanpa sadar telah tiba di depan gua saya, begitu bertemu dengan saya, ketakutan hingga berteriak keras: {Kamu manusia atau hantu?}”

“Saya berkata: {Saya adalah manusia, seorang manusia yang menjalani kultivasi!}”

“Mereka berkata: {Kamu bagaimana bisa berubah menjadi seperti ini? Mengapa seluruh tubuh menjadi hijau?}”

“{Karena makan jelatang terlalu lama, barulah jadi seperti ini.}

“{Makanan untuk menjalankan kultivasi kamu ada di mana? Pinjamkan makanan kamu kepada kami untuk dimakan, kami di kemudian hari akan membayar kamu dengan uang. Jika kamu tidak mengeluarkannya, kami akan membunuh kamu!} Mereka pun mencari-cari di dalam gua, dengan galak mengancam saya.”

“Selain jelatang, saya tidak memiliki apa pun. Jika ada, juga tidak perlu disembunyikan, karena saya percaya bahwa terhadap kultivator, orang-orang hanya memberi persembahan makanan, dan sama sekali tidak ada orang yang merampok makanan milik kultivator!}”

“Di antaranya ada seorang pemburu berkata: {Memberi persembahan kepada kultivator ada manfaat apa?}”

“Saya berkata: {Memberi persembahan kepada kultivator akan membawakan keberuntungan.}”

“Dia pun menertawakan saya: {Baiklah! Baiklah! Saya akan datang memberi persembahan kepada kamu untuk sekali saja!} Selesai berkata demikian, dia lalu mengangkat saya dari tempat duduk dan dijatuhkan ke atas tanah, kembali melempar saya ke atas, jatuh ke bawah, kembali dilempar. Demikianlah angkat dan lempar, tubuh saya yang kurus dan lemah tentu saja tidak dapat menahannya, deritanya bukan main. Namun mereka walau demikian melecehkan saya, dalam hati saya malah timbul belas kasih kepada mereka, sangat mengasihani mereka, tidak tahan hingga meneteskan air mata.”

“Seorang pemburu lain yang sedang duduk di samping tidak ikut melecehkan saya pun berkata: {Oi! Kamu jangan berbuat demikian. Dia sungguh seorang biksu yang menjalani kultivasi tapa! Bahkan jika dia bukan orang yang menjalani kultivasi, menganiaya seorang yang demikian kurus, juga tidak terhitung sebagai pahlawan! Lagi pula perut kita lapar juga bukan karena dia. Hal yang tidak sesuai aturan semacam ini, cepat hentikan!} Lalu kembali berkata kepada saya: {Biksu yoga! Aku sungguh mengagumi kamu. Aku tidak mengganggu kamu, mohon kamu memberi aku perlindungan!} Pemburu yang menganiaya saya berkata: {Aku sudah baik-baik menaikkan dan menurunkan persembahan kepada kamu. Kamu juga harus memberi perlindungan kepada aku!} Sambil berkata demikian dia pun pergi sambil tertawa terbahak-bahak.”

“Saya sama sekali tidak melepaskan mantra, mungkin ini adalah hukuman dari Tiga Pusaka, mungkin juga karena balasan atas perbuatan jahat dia sendiri, di kemudian hari ada kabar katanya setelah lewat tidak lama, dikarenakan sebuah hal, hakim menjatuhi hukuman mati kepada pemburu itu, selain pemburu yang berkata tidak mau menganiaya saya itu, orang lain semuanya mendapat hukuman yang sangat berat.”

(Bersambung)