Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Terpidana Mulai Berlatih Falun Dafa di Penjara, Dianiaya karena Keyakinannya

9 Juni 2020 |   Oleh koresponden Minghui di Provinsi Yunnan, Tiongkok

(Minghui.org) Pu Emei, seorang petani dari Kota Yiwei di Provinsi Yunnan, ditangkap dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena keterlibatannya dalam kasus penculikan dan perdagangan anak pada tahun 2000. Setelah bertemu Falun Dafa di pusat penahanan, sebuah ajaran spiritual kuno yang mengikuti prinsip-prinsip Sejati-Baik-Sabar, dia menyadari beratnya kejahatan yang dia lakukan dan seberapa jauh dia telah jatuh, tumbuh keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik.

Saat dia berlatih keyakinannya dan mengikuti prinsip-prinsip Falun Dafa untuk meningkatkan karakternya saat menjalani hukuman di Penjara Wanita Kota Jinan, para penjaga menganiaya dia dengan kejam. Mereka memukulinya dengan kejam dan menyengat dengan tongkat listrik. Setelah dibebaskan, dia dilecehkan dan ditangkap karena memberi tahu orang-orang tentang Falun Dafa telah mengubahnya. Dia kemudian dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan diperlakukan tidak manusiawi di Penjara Wanita No. 2 Provinsi Yunnan.

Tak lama setelah Pu dibebaskan dari masa hukuman keduanya pada tahun 2018, pihak berwenang terus mengawasinya, memaksanya untuk pergi dari rumah untuk menghindari penganiayaan. Anak-anaknya juga dilecehkan oleh polisi, ketika mereka berusaha menemukan keberadaan Pu.

Di bawah ini adalah kisah Pu tentang penganiayaan yang dideritanya.

Datang Memperoleh Dafa

Nama saya Pu Emei, dan saya berusia 51 tahun. Awal saya berlatih Falun Dafa berbeda dari kebanyakan praktisi. Dalam masyarakat dengan moralitas yang merosot drastis, saya adalah bagian dari arus deras dalam arus menurun dan berpartisipasi dalam bisnis ilegal atas dorongan orang lain. Saya ditangkap pada Juli 2000 karena keterlibatan saya dalam kasus penculikan dan perdagangan anak.

Ketika disekap di Pusat Penahanan Kota Zibo, saya bertemu seorang tahanan yang menonjol di antara yang lainnya. Dia selalu ceria dan optimis, berbeda dengan orang lain yang sedih dan putus asa. Saya bertanya kepadanya mengapa dia berada di penjara dan mengetahui bahwa dia adalah seorang praktisi Falun Dafa. Pada saat itu, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menganiaya Falun Dafa selama satu tahun karena popularitasnya yang sangat besar.

Saya terkesan dengan ketekunan praktisi, dan prinsip lurus yang diajarkan Falun Dafa. Ketika praktisi semakin banyak memberi tahu saya tentang Falun Dafa, saya menjadi seorang praktisi dan hidup dengan prinsip-prinsip Dafa Sejati-Baik-Sabar. Saya berjanji pada diri sendiri, "Tidak peduli kesusahan macam apa yang mungkin saya hadapi, saya akan mempertahankan keyakinan saya pada Dafa sampai akhir."

Penganiayaan di Penjara Wanita Kota Jinan

Pihak berwenang menjatuhkan hukuman lima tahun penjara kepada saya, dijalani di Penjara Wanita Kota Jinan di Provinsi Shandong, pada akhir tahun 2000. Segera, saya ditugaskan ke bangsal kedua untuk melakukan pekerjaan yang tidak dibayar - menjahit mainan berbulu. Saya bekerja dari jam 6:30 pagi sampai 10 malam. atau bahkan tengah malam. Tidak ada hari libur, kecuali tiga hari libur untuk Tahun Baru Imlek.

Semua tahanan dipaksa menonton video yang memfitnah Falun Dafa, dan secara terbuka menyatakan dukungan mereka terhadap penganiayaan. Bukannya mematuhi, saya memberi tahu penjaga penjara tentang pengalaman saya di pusat penahanan, dan perubahan positif saya setelah berlatih Dafa, termasuk pemulihan dari sejumlah penyakit seperti sakit perut, radang usus, batu ginjal, aritmia, dan rematik.

Ketika saya terus berlatih, para penjaga menolak untuk mengurangi masa hukuman meskipun saya rajin berpartisipasi dalam kerja paksa.

Suatu hari para penjaga memperoleh selembar kertas dengan tulisan tangan saya tentang ceramah Dafa saat menggeledah seorang praktisi. Lima penjaga membawa saya ke kantor dan, setelah menutup semua tirai, menyengat saya dengan dua tongkat listrik, satu di belakang leher dan satu lagi di telapak tangan saya. Dua penjaga kemudian memukul dan menendang saya. Penjaga Liu Hongtao menginjak kaki saya dengan sepatu hak tinggi, melukai kaki saya. Setelah penjaga lelah, mereka memerintahkan dua narapidana untuk membersihkan lantai. Kemudian, saya dipaksa jongkok selama sehari di bengkel. Minggu berikutnya, saya dipaksa bekerja dengan jam kerja yang panjang.

Ketika saya menolak menulis pernyataan jaminan untuk melepaskan keyakinan saya, para penjaga memukuli saya lagi. Setelah itu, saya ditahan di sel isolasi selama seminggu. Perlakuan tidak manusiawi pada bulan pertama di penjara menyebabkan saya kehilangan banyak berat badan.

Isolasi kurungan saya secara sewenang-wenang diperpanjang untuk minggu kedua, setelah itu saya menjadi sasaran disiplin ketat. Saya dilarang membeli makanan apa pun dan tidak diizinkan mencuci dan mandi sebelum tidur. Para penjaga juga menghina saya dengan memaksa saya berjongkok di area terbuka tengah asrama saya sementara narapidana lain lewat dengan membersihkan kloset sebelum saya diizinkan kembali ke sel saya untuk tidur. Ketika saya mencoba menulis surat pengaduan kepada sipir dan jaksa penjara, para penjaga menugaskan narapidana untuk mengawasi saya sepanjang waktu. Saya tahu mereka takut bahwa mereka akan bertanggung jawab jika otoritas yang lebih tinggi mengetahui bahwa saya mulai berlatih Falun Dafa saat berada dalam tahanan mereka.

Penganiayaan di Pusat Penahanan Kota Yiwei

Sepuluh tahun berlalu setelah saya dibebaskan dari Penjara Wanita Kota Jinan. Dipandu oleh prinsip-prinsip Falun Dafa, saya memulai kehidupan baru dan menikmati kedamaian batin. Saya juga menggunakan waktu luang untuk mengklarifikasi fakta tentang Dafa dan menceritakan kisah saya kepada orang-orang, berharap mereka tidak akan tertipu oleh propaganda rezim komunis tentang Falun Dafa dan kehilangan kesempatan untuk mendapat manfaat darinya.

Karena hal itu, saya ditangkap pada tanggal 8 April 2014 dan rumah saya digeledah. Pihak berwenang menyita barang-barang Falun Dafa dan komputer laptop putri saya.

Di kantor polisi, saya diikat ke bangku harimau dengan tangan dan kaki saya diikat oleh cincin besi. Saya tidak diizinkan menggunakan toilet. Sehari kemudian, saya dipindahkan ke Pusat Penahanan Kota Yiwei.

Ilustrasi penyiksaan: bangku harimau

Saya dipaksa melakukan kerja berat - memoles kertas timah khusus yang digunakan dalam upacara peringatan dan diberi kuota 800 lembar per hari. Karena bahan tersebut mengandung zat beracun seperti timah, banyak tahanan mengalami alergi kulit, bengkak dan melepuh.

Meskipun pekerjaan fisiknya berat, kami hanya diberi nasi setengah matang dan makanan yang mengandung cacing dan kotoran. Ketika seorang narapidana mengeluh karena diberi makanan kadaluwarsa, dia dipasangi borgol dan belenggu selama tiga hari.

Pengadilan Kota Yiwei menghukum saya empat tahun penjara pada tanggal 6 Februari 2015. Ketika otoritas pusat penahanan mengetahui bahwa saya berencana untuk mengajukan banding, mereka melarang pengacara saya mengunjungi saya.

Wakil direktur pusat penahanan, Zhang Guangxu dan lima penjaga menahan saya dan memukul saya dengan seikat kawat kuningan pada tanggal 14 Februari 2015. Kaki saya penuh dengan luka dan memar. Saya kemudian dipasangi belenggu.

Saya melakukan mogok makan, dan kemudian muntah darah dalam jumlah besar. Mereka kemudian takut hidup saya dalam bahaya, pihak berwenang membebaskan saya dari belenggu dan membawa saya ke Rumah Sakit Kota Yiwei.

Penganiayaan di Penjara Wanita No. 2 Provinsi Yunnan

Pengadilan menguatkan hukuman semula pada tanggal 15 Februari 2015. Saya dipindahkan ke Penjara Wanita Kedua Provinsi Yunnan pada tanggal 17 April. Semua barang saya, termasuk kebutuhan sehari-hari seperti sabun tangan, disita kecuali dua set pakaian dalam. Para penjaga menggeledah tubuh saya dan mempermalukan saya dengan memaksa saya telanjang dan berjongkok dengan tangan di belakang kepala saya. Karena saya menolak untuk melepaskan keyakinan saya, dua tahanan ditugaskan untuk mengawasi saya sementara saya harus duduk di bangku kecil sepanjang hari.

Para penjaga menuntut saya menulis pernyataan jaminan, berjanji untuk melepaskan Falun Dafa, tetapi saya menolak. Saya berkata, “Saya berusaha untuk menjadi orang baik, dan mengikuti prinsip Sejati-Baik-Sabar. Apa yang salah dengan itu? Apakah anda lebih suka saya kembali ke hidup sebagai penjahat?"

Kemudian, saya diminta untuk melakukan kerja keras di bengkel, menjahit boneka mainan dan memasang saklar listrik. Ketika saya tidak dapat memenuhi kuota pekerjaan yang ditentukan, saya dipaksa bekerja pada hari Minggu tanpa cukup istirahat.

Para penjaga membuat semua tahanan menonton tayangan yang memfitnah Falun Dafa pada tahun 2016, dan memerintahkan semua orang untuk menulis laporan pemikiran. Saya mengambil kesempatan untuk menulis artikel yang mengungkap kebohongan PKT tentang Falun Dafa. Sebagai imbalannya, para penjaga memanggil ke kantor mereka dan memarahi saya. Mereka juga memindahkan saya ke sudut kotor bengkel, di mana harus bekerja sendiri sebagai hukuman.

Hukuman penjara saya berakhir pada tanggal 9 Februari 2018. Namun, saya tidak diizinkan pergi sampai personil dari Kantor 610 kota [agen di luar kerangka hukum yang dibentuk untuk menganiaya Falun Gong] dan polisi dari kantor polisi setempat mendatangi saya. Pihak berwenang tampaknya mengawasi saya setelah itu, ketika putri dan saya naik kereta sebulan kemudian, kami digeledah oleh petugas keamanan stasiun kereta tanpa alasan yang sah.

Saya terpaksa meninggalkan rumah untuk menghindari pelecehan oleh Kantor 610 dan polisi setempat, yang berlanjut hingga hari ini. Pihak berwenang juga terus menelepon kedua putri saya pada hari libur umum dan tanggal sensitif dan menanyai mereka tentang keberadaan saya. Ini telah menyebabkan putri saya khawatir tentang saya, dan dengan pelecehan polisi yang terus-menerus, mereka tidak dapat menjalani kehidupan yang normal.