Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Membandingkan Penutupan Informasi Pandemi dengan Kampanye Penganiayaan PKT yang Terakhir

17 Juli 2020 |   Oleh seorang Praktisi Falun Dafa di luar Tiongkok

(Minghui.org) Setiap beberapa tahun sejak berkuasa, PKT memerintahkan kampanye politik, menargetkan kelompok tertentu untuk memperbarui intimidasinya terhadap orang-orang Tiongkok. Saat qigong menjadi tren di tahun 1990-an, Falun Gong, sebuah latihan spiritual dan meditasi kuno yang berdasarkan prinsip “Sejati, Baik, Sabar,” dengan cepat menjadi terkenal di antara ribuan sekolah qigong karena bebas biaya belajar, merupakan ajaran spiritual yang mendalam, dan sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Meskipun pemerintah awalnya mempromosikan Falun Gong karena Falun Gong dapat menurunkan biaya perawatan kesehatan negara, popularitasnya yang luar biasa dandi luar kendali pemerintah yang akhirnya mendorong PKT untuk memilihnya sebagai target kampanye politik baru. Pada 1999, sepuluh tahun setelah pembantaian mahasiswa pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen, PKT memerintahkan penganiayaan terhadap Falun Gong.

Menggabungkan pengalamannya selama puluhan tahun dalam perjuangan politik dengan teknologi modern yang berkembang pesat, PKT mampu membuat penganiayaan terhadap Falun Gong lebih terselubung, licik dan canggih dari pada semua kampanye sebelumnya. Dengan penyensoran internet yang ketat dan janji manfaat ekonomi bagi Barat, tidak hanya orang-orang Tiongkok tetapi juga seluruh dunia telah menutup mata terhadap penangkapan besar-besaran, penahanan, penyiksaan, dan pembunuhan Praktisi Falun Gong.

Melihat kembali bagaimana penganiayaan terhadap Falun Gong telah berkembang dalam dua dekade terakhir, oranghanya bisa terkagum-kagum melihat kemiripan taktik dalampenutupan informasi yang digunakan untuk menganiaya Falun Gong dan untuk pandemi virus corona.

Jika seluruh dunia lebih agresif dalam memerangi semua penggambaran yang tidak benar dan penutupan dan penyangkalan dan penandingannarasi fakta dalam hal penyalahgunaan transplantasi organ; jika sistem global menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam hal penyalahgunaan transplantasi organ; dan jika Tiongkok [menghadapi] tekanan global untuk transparansi dan akuntabilitas dalam sistem kesehatannya yang berhubungan dengan penyalahgunaan transplantasi organ, kita tidak akan mempunyai virus corona ini sekarang,” kata David Matas, seorang pengacara hak asasi manusia Kanada yang telah menyelidiki PKT dalam hal pengambilan organ dari tahanan hati nurani yang disetujui negara.

Orang dapat berasumsi bahwa Partai Komunis Tiongkok tidak berniat menyebabkan penyebaran virus korona, tetapi apa yang mereka lakukan secara aktif adalah kesembronoan. Dan saya akan mengatakan bahwa seluruh dunia juga telah bergabung dengan mereka dalam kesembronoan ini. Dan sekarang kita semua menderita akibatnya.” Matas melanjutkan.

Di bawah ini kita bisa melihat kembali sejarah PKT dengan harapan bisa memberikan beberapa petunjuk tentang bagaimana mencegah tragedi ini terjadi lagi.

Penyensoran

Sama seperti PKT tidak mengizinkan siapa pun mengungkapkan informasi tentang wabah virus corona, mereka juga mencegah Praktisi Falun Gong mengungkapkan penganiayaan terhadap keyakinan mereka. Outlet media swasta dan pemerintah, situs web, dan blog pribadi diperintahkan untuk tidak memublikasikan informasi tentang penganiayaan.

Demikian pula, otoritas yang memblokir penerbitan rangkaian genom virus corona sama dengan pelarangan penerbitan buku-buku dan materi audiovisual Falun Gong. Akibatnya, orang-orang tidak dapat melihat informasi resmi, orang hanya dapat melihat propaganda dari pemerintah.

Seorang Praktisi Falun Gong memberitahukan Minghui.org pada tahun 2011 bahwa ia menghadiri rapat kerja tingkat kabupaten tentang dimulainya babak lain dalam mengedit kronik lokal. Pemimpin redaksi berkata, “Sama sekali tidak diperbolehkan untuk menggunakan kata yang berhubungan dengan Kantor 610 (sebuah agen di luar kerangka hukum yang dibentuk khusus untuk menganiaya Falun Gong) atau Falun Gong dalam artikel. Masyarakat internasional mengkritik situasi HAM Tiongkok. Penganiayaan terhadap Falun Gong tidak dapat muncul dalam kronik lokal. Di beberapa daerah, artikel itu ditolak dan harus diedit ulang hanya karena mereka menggunakan informasi yang berkaitan dengan Falun Gong.”

Menurut seorang karyawan Baidu, mesin pencari terbesar di Tiongkok, sebagian besar “kata-kata sensitif” yang disensornya terkait dengan Falun Gong, seperti berbagai nama; metode penyiksaan yang dijelaskan oleh praktisi; Gao Zhisheng, seorang pengacara Tiongkok yang dikenal karena membela praktisi Falun Gong; dan buku Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis, yang menyoroti sejarah penipuan dan pembunuhan PKT.

Setelah menangkap dan menyiksa Praktisi Falun Gong, polisi sering mengancam praktisi untuk tidak melaporkan kejadian ke Minghui.org, pusat berita dan platform komunikasi untuk Praktisi Falun Gong di seluruh dunia. Sementara itu, polisi juga mengawasi ponsel, telepon rumah, dan email praktisi dalam upaya mencegah mereka meningkatkan kesadaran orang-orang tentang penganiayaan. Pada awal pandemi, otoritas mengawasi media sosial Dr. Li Wenliang dan menegurnya karena "menyebarkan rumor" tentang wabah tersebut.

Tetapi penyensoran tidak menghentikan praktisi Falun Gong memublikasikan berita. Dengan semua saluran informasi yang dikontrol ketat oleh PKT, beberapa praktisi memilih untuk menginterupsi sinyal TV untuk menyiarkan informasi tentang penganiayaan. Antara tahun 2001 hingga tahun 2005, total 129 praktisi, hampir sepertiganya adalah wanita, ditangkap karena memanfaatkan kabel TV untuk memublikasikan berita. Lebih dari 85% praktisi, berjumlah 110 orang, dijatuhi hukuman penjara mulai dari 3 hingga 20 tahun, dengan rata-rata hukuman penjara 12,5 tahun.

Pada tahun 2017, 11 praktisi yang dihukum meninggal dunia karena cedera yang disebabkan oleh penyiksaan atau masalah kesehatan, sementara 10 praktisi lainnya juga kehilangan nyawa selama tahun itu. Beberapa praktisi yang masih hidup, saat ini masih menjalani hukuman di penjara, sementara yang lain, meskipun sudah dibebaskan, masih berjuang untuk menyembuhkan cedera jangka panjang yang diderita saat mereka ditahan.

Praktisi lain dihukum dan disiksa hanya karena berbicara dengan orang-orang tentang Falun Gong atau mendistribusikan literatur tentang penganiayaan. Liu Wei, seorang wanita, warga Kota Tonghua, Provinsi Jilin, ditangkap pada 17 Agustus 2011 karena berbicara dengan orang-orang tentang Falun Gong. Ia dijatuhi hukuman 4,5 tahun dua puluh hari kemudian oleh Pengadilan Kota Ji'an. Dalam kasus lain, Wang Baoshan, seorang praktisi di Kota Tangshan, Provinsi Hebei, ditangkap di tempat kerja pada tanggal 3 Juli 2017, beberapa hari setelah spanduk berbunyi ”Dunia Membutuhkan Sejati-Baik-Sabar” ditemukan di tempat sekitarnya. Ia kemudian dijatuhi hukuman 5,5 tahun dan didenda 20.000 yuan

Berita Palsu

Bersamaan dengan penutupan berita penganiayaan, PKT juga menyebarkan berita palsu dan propaganda untuk memfitnah praktisi Falun Gong dan membenarkan penganiayaan.

Pada akhir tahun 2000, satu setengah tahun setelah PKT melancarkan penindasan terhadap Falun Gong, kampanye ini gagal mendapatkan dukungan dari banyak anggota PKT. Pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin melakukan kunjungan keliling provinsi selatan pada awal 2000 untuk mencari dukungan terhadap kampanye ini dari para pemimpin lokal. Sementara, dukungan publik untuk kampanye ini telah menyusut.

Pada tanggal 23 Januari 2001, lima orang diduga membakar diri di Lapangan Tiananmen di Beijing. Seluruh adegan tertangkap di kamera dari berbagai sudut. Hanya beberapa jam setelah kejadian ini, media yang dikendalikan oleh negara dibanjiri dengan laporan bahwa para pelaku pembakaran diri adalah Praktisi Falun Gong. Laporan ini termasuk cuplikan para korban yang mengerikan, menggambarkan ajaran Falun Gong bertanggung jawab langsung atas tragedi itu.

Dalam beberapa minggu ke depan, media yang dikelola pemerintah terus melaporkan tanpa henti, dengan cepat mengubah orang-orang di seluruh Tiongkok yang menghormati dan bersimpati pada Falun Gong menjadi marah dan menyerang latihan ini. Kejahatan bersifat kebencian yang menargetkan praktisi Falun Gong meningkat, dan PKT meningkatkan penganiayaannya dengan meningkatkan penangkapan, penyiksaan, pembunuhan, dan pengambilan organ secara paksa.

Dua dekade kemudian, rekayasa pembakaran diri tetap menjadi kesalahpahaman terbesar orang Tiongkok tentang Falun Gong.

Sengaja Menuduh Dengan Tidak Benar

Dalam pandemi, pasien virus corona dikategorikan mempunyai penyakit lain agar PKT dapat menutupi tingkat keparahan wabah. Akan tetapi, dalam penganiayaan terhadap Falun Gong, Sengaja menuduh dengan tidak benar dilakukan dengan dua cara: praktisi yang sehat dicap sakit mental, dibawa ke rumah sakit jiwa, dan disuntik dengan obat-obatan beracun, sehingga menjadi pasien yang sesungguhnya; Sementara itu, orang lain dengan penyakit mental tetapi yang tidak pernah berlatih Falun Gong dicap sebagai praktisi dan dikatakan menjadi gila setelah mempelajari latihan tersebut.

Dalam kampanye propaganda lain melawan Falun Gong, PKT mengarang “1.400 kasus kematian” dan mengklaim bahwa orang-orang ini meninggal karena berlatih Falun Gong. Setelah meneliti lebih dalam pada kasus ini, terungkap bahwa keberadaan beberapa “korban” memang tidak ada, beberapa korban tidak pernah berlatih Falun Gong, dan satu orang yang dikatakan menolak intervensi medis meninggal di tangan dokter yang merawatnya.

Satu contoh, Wang Anshou, seorang pekerja di Pabrik Mesin Taishan di Kota Xingtai, Provinsi Shandong, membunuh orang tuanya dengan sekop ketika gangguan mentalnya kambuh. Keputusan kasus perdata Pengadilan Rakyat Kota Xingtai yang dikeluarkan pada tanggal 10 November 1999 menyatakan, “Hasil pengamatan pengadilan bahwa terdakwa menderita gangguan mental sebelum menikah dan terdakwa berusaha menyembunyikannya. Setelah menikah, penyakit mental terdakwa berulang kali kambuh dan terdakwa mempunyai masalah dalam upaya penyembuhan gangguan mental pada waktu yang lama. Terdakwa membunuh orang tuanya dengan sekop ketika penyakit mentalnya kambuh.” “Permintaan cerai yang kuat dari istri terdakwa mendapat dukungan dari pengadilan.”

PKT menyalahkan penyebab pembunuhan yang dilakukan Wang adalah karena berlatih Falun Gong, meskipun fakta keputusan pengadilan tidak mengatakan Wang berlatih Falun Gong. Selain itu, Wang memiliki gangguan mental sejak tahun 1988, empat tahun sebelum Falun Gong diperkenalkan kepada publik yaitu pada tahun 1992.

Penyembunyian

Ketahanan praktisi dan upaya gigih untuk menangkal fitnah telah membuat lebih banyak orang mengetahui kebohongan PKT. Ini berubah menjadi dilema bagi Partai. Mulai tahun 2003, PKT mengadopsi strategi yang disebut “longgar di luar tetapi ketat di dalam,” mengubah penganiayaan dari tontonan publik menjadi agenda tersembunyi yang bergerak di bawah tanah. Orang dalam PKT menyebutnya “perang tanpa asap.”

Setelah penganiayaan menjadi tersembunyi, PKT mengklaim bahwa Falun Gong telah dikalahkan dan telah hilang dari Tiongkok, berusaha untuk mengalihkan perhatian internasional dari pelanggaran hak asasi manusianya. Taktik ini mirip dengan klaim kemenangan PKT melawan virus.

Pemusnahan Barang Bukti

Pada tahun 2006, “Annie,” mantan istri seorang ahli bedah, menjadi pelapor pertama yang mengungkapkan pengambilan organ vital secara paksa dari praktisi Falun Gong yang masih hidup oleh PKT untuk dijual kepada orang Tiongkok dan orang asing yang kaya. Ini menjelaskan mengapa jumlah transplantasi organ meroket di Tiongkok setelah penganiayaan terhadap Falun Gong dimulai, meskipun tidak ada sistem donasi organ yang mapan.

Annie membuat pernyataan publik pertamanya tentang kekejaman pengambilan organ pada bulan Maret 2006, mengatakan bahwa suaminya mengatakan kepadanya bahwa ia secara pribadi telah mengeluarkan kornea dari sekitar 2.000 tahanan Falun Gong di rumah sakit Sujiatun di Kota Shenyang dalam dua tahun sebelum Oktober 2003. Ia mengatakan bahwa tidak ada "donor" kornea yang selamat setelah prosedur ini karena sebagian besar organ vital mereka juga diambil dan kemudian tubuh mereka dikremasi.

Menanggapi tuduhan dan penyelidikan internasional tentang pengambilan organ secara paksa, Kantor PKT Provinsi Heilongjiang mengeluarkan pengumuman pada tanggal 25 Maret 2006, memerintahkan semua departemen terkait untuk menghancurkan dokumen rahasia, seperti bagaimana PKT menghancurkan sampel virus dalam pandemi saat ini.

Pengumuman tersebut mengamanatkan, “Dalam menghancurkan dokumen ini, seseorang harus memastikan tidak ada cara untuk memulihkan kembali dokumen asli. Dokumen kertas harus dibakar atau diiris dan diubah menjadi bubur kertas. Penghancur kertas yang digunakan harus memenuhi persyaratan untuk penghancuran dokumen rahasia. Dokumen yang diiris akan dikirim ke tempat yang ditunjuk untuk dihancurkan. Dua orang atau lebih diharuskan hadir, dan tidak seorang pun boleh meninggalkan tempat kejadian sebelum dokumen tersebut dihancurkan sepenuhnya.”

Sebenarnya, lebih banyak perintah dalam penganiayaan diberikan secara lisan, terutama yang dilakukan oleh Kantor 610 lembaga di luar hukum seperti Gestapo, dan mereka yang menerima perintah dilarang untuk mencatat instruksi.

Dalam upayanya untuk menutupi kejahatan pengambilan organ tubuh, PKT membentuk program donor sukarela dari orang yang sudah meninggal dunia pada tahun 2010 tetapi hanya sedikit pendaftaran karena hambatan budaya Tionghoa yang tidak mendukung penyumbangan organ mereka. Menurut China Organ Harvest Research Center (COHRC), “Akun resmi menunjukkan bahwa persentase organ yang bersumber dari sumbangan melonjak dari 23% pada 2013 menjadi 80% pada 2014, dengan sumbangan sukarela menjadi satu-satunya sumber organ resmi pada tahun 2015. Ini tidak masuk akal bahwa sebuah transisi yang sempurna dalam sistem ini bisa terjadi hanya dalam waktu satu atau dua tahun.”

Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam BMC Medical Ethics menyimpulkan bahwa “dari pada disebut 'sistem sukarela yang tidak ada cacat, yang dijanjikan oleh para pejabat,' sebenarnya adalah sebuah 'sistem sukarela yang tampaknya beroperasi bersamaan, dengan penggunaan donor tidak sukarela (kemungkinan besar adalah narapidana) yang diklasifikasikan dengan salah sebagai 'donor sukarela.' Penelitian juga mengatakan tujuan dari data yang diproduksi adalah 'untuk menciptakan kesan yang menyesatkan kepada komunitas transplantasi internasional tentang keberhasilan reformasi donasi organ sukarela Tiongkok, dan untuk menetralisir kritik dari aktivis yang menuduh bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan telah dilakukan dalam perolehan organ untuk transplantasi.'”

Mengalihkan Kesalahan

Sering kali, ketika negara-negara seperti Amerika Serikat mengecam PKT karena rekor hak asasi manusianya yang terkenal jahat, PKT mengkritik mereka mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok. Sementara itu, di dalam Tiongkok, PKT menyalahkan Praktisi Falun Gong di luar negeri yang mengungkap penganiayaan telah “berkolusi dengan pasukan asing anti-Tiongkok” dan “merusak citra Tiongkok.”

Ketika juru bicara PKT, Zhao Lijian menyalahkan Angkatan Darat AS yang membawa virus ke Wuhan selama Pertandingan Dunia Militer pada Oktober 2019, orang akan teringat bagaimana mantan ketua PKT, Jiang Zemin secara pribadi membagikan pamflet yang memfitnah Falun Gong kepada lebih dari sepuluh kepala negara selama KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang diadakan di Selandia Baru pada akhir tahun 1999. Di Prancis, Jiang Zemin mencap Falun Gong sebagai “ajaran sesat” di hadapan media asing untuk mempercepat kebijakan penganiayaannya.

Sejarah terulang kembali. Apa pun masalahnya, PKT yang “selalu agung” tidak pernah mengakui kesalahan. Terkadang ia berperan sebagai korban, dan terkadang ia memainkan peran sebagai penyelamat dunia. Tetapi apa pun peran yang dipakai, sifatnya yang represif dan otoriter tidak akan pernah berubah.