Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Berita Susulan: Suami Meninggal Dunia Tujuh Tahun Setelah Istri Meninggal karena Penganiayaan Terhadap Keyakinan Mereka pada Falun Gong

24 Mei 2021 |   Oleh koresponden Minghui di Provinsi Liaoning, Tiongkok

(Minghui.org) Sebelumnya adalah seorang yang sehat dan kuat, Li Guogang menderita inkontinensia, hilang ingatan, dan gangguan mental saat dia dibebaskan setelah menjalani satu tahun hukuman di Kamp Kerja Paksa Masanjia yang terkenal dengan kekejamannya, karena berlatih Falun Gong, latihan kultivasi yang telah dianiaya oleh rezim komunis Tiongkok sejak 1999. Setelah menderita kesehatan yang buruk selama hampir satu dekade, Li akhirnya meninggal dunia pada usia 65 tahun pada tanggal 3 Januari 2020, tujuh tahun setelah istrinya meninggal dunia karena penganiayaan terhadap keyakinan mereka yang sama.

Kematian Li

Li, yang dulu bekerja di pabrik pembuat kertas di Kota Linghai, Provinsi Liaoning, menderita penyakit prostat pada tahun 1995 dan dirawat di rumah sakit selama satu bulan. Dia sangat lemah setelah keluar dari rumah sakit dan harus memakai celana tebal pada musim panas. Pada bulan Maret 1996, dia diperkenalkan dengan Falun Gong. Tidak lama setelah itu, dia sembuh dan kembali bekerja. Terkesan oleh penyembuhan dirinya, banyak anggota keluarganya juga mulai berlatih Falun Gong.

Setelah penganiayaan dimulai pada tahun 1999, Li pergi ke Beijing untuk memohon hak berlatih Falun Gong. Dia ditangkap pada Septembe 1999 dan ditahan di Penjara Kota Linghai selama satu tahun. Pada tahun 2003 dia ditangkap lagi dan diberikan hukuman satu tahun di Kamp Kerja Paksa Jinzhou.

Saat perjalanan pulang ke rumah setelah bekerja pada malam tanggal 18 Juli 2010, para petugas polisi menghentikan Li di sebuah jembatan dan menangkapnya. Dia dibawa ke Divisi Keamanan Domestik untuk diinterogasi dan ditahan di Penjara Kota Linghai selama 15 hari. Dia kemudian ditahan di Kamp Kerja Paksa Masanjia selama satu tahun.

Li dibebaskan pada tanggal 18 Juli 2011. Pada jam 3.50 pagi tanggal 23 Juli, dia tiba-tiba terbangun, membangunkan adik perempuannya yang tinggal bersama, dan berkata dia harus pergi keluar karena ada bau tidak sedap di dalam rumah. Dia pergi keluar, dan kembali dalam waktu hanya lima menit kemudian, lalu mengatakan ada bau yang sama berasal dari luar rumah. Saat dia sedang bicara, dia mulai merintih, terjatuh, dan mulai kejang-kejang sendiri dan busa keluar dari mulutnya. Kejang-kejang itu berlangsung 40 menit dan dia pingsan selama 15 menit. Hari berikutnya, dia mengalami empat episode yang sama dan menjadi tidak sadarkan diri.

Keluarga Li membawanya ke rumah sakit untuk tes darah dan pemeriksaan otak. Dokter berkata bahwa kondisinya ini disebabkan oleh encephalitis dan memintanya pulang saja.

Beberapa minggu ke depan, kondisi Li terus merosot. Ingatannya menurun secara cepat. Saat keluar rumah, dia tidak bisa mencari jalan pulang. Dia selalu lapar dan terus makan. Dia juga menjadi pemarah dan sering bertempramen buruk.

Putri Li membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan MRI pada tanggal 7 September 2011. Karena Li terus mengalami kejang-kejang, dokter memberinya tiga suntikan obat penenang, yang tidak membawakan hasil. Dokter menyatakan bahwa dia mungkin mengalami infeksi di sistem syaraf pusat.

Li dirawat selama sepuluh hari tetapi tidak bisa membaik. Karena tidak sanggup membayar 1.000 yuan setiap harinya, putrinya akhirnya membawanya pulang ke rumah.

Setelah itu, kondisinya bahkan menjadi lebih parah. Dia tidak bisa tidur. Dia sering memutar-mutar kedua matanya dan berbicara ngawur. Karena keluarganya tidak bisa menjaganya setiap waktu, mereka membawanya ke sebuah panti jompo.

Setelah berjuang dengan kondisi mentalnya selama sembilan tahun, Li pun meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 2020. Keluarganya mencurigai bahwa dia mungkin telah disuntik dengan obat-obat berancun di kamp kerja paksa.

Kematian Istrinya

Istri Li, Wang Lanzhi pergi ke Beijing untuk memohon bagi Falun Gong pada bulan Juli 1999. Dia ditangkap pada tanggal 28 Oktober di Beijing dan ditahan di Pusat Penahanan Distrik Dongcheng selama 38 hari sebelum dipindahkan ke Pusat Penahanan No.1 Beijng (juga dikenal dengan nama Pusat Penahanan Changping). Pada tanggal 16 November, dia dipecat dari Perusahaan Pembuat Kertas Jincheng.

Pihak berwenang menyetujui penangkapan Wang pada tanggal 4 Desember 1999. Satu bulan kemudian, dia dibawa kembali ke Pusat Penahanan Distrik Doncheng dan kemudian dijatuhi hukuman enam bulan oleh Pengadilan Distrik Dongcheng.

Wang mengajukan banding atas putusan itu ke Pengadilan Menengah No. 2 Beijing, yang memutuskan untuk menegaskan keputusan awal.

Saat masa hukumannya berakhir pada tanggal 26 April 2000, Wang dipindahkan kembali ke Linghai. Tetapi pihak berwenang membawanya langsung ke sebuah pusat pencucian otak dan memerintahkannya untuk menuliskan sebuah surat pernyataan untuk tidak berlatih Falun Gong atau pergi ke Beijing untuk mengajukan permohonan lagi. Keluarganya dipaksa untuk membayar uang jaminan sebesar 1000 yuan ke polisi.

Wang ditangkap lagi pada pertengahan Februari 2003 karena membentangkan spanduk bertuliskan “Falun Dafa Hao (baik).” Dia dijatuhi hukuman enam tahun di Penjara Wanita Provinsi Liaoning.

Karena Wang menolak untuk melepaskan Falun Gong, para petugas memaksanya untuk berdiri di ruang cuci pakaian hanya mengenakan pakaian dalam setiap malamnya. Selama hari itu, dia dipukuli tanpa henti dan dicaci maki. Tahanan bernama Zhang Yangping, yang didakwa telah melakukan pembunuhan, pernah menamparnya di wajah, mendorongnya, dan menarik rambutnya untuk memaksanya berdiri karena Wang tidak mau membaca buku-buku yang mengfitnah Falun Gong. Zhang sendiri pernah sekali menceritakan bahwa setiap kali tahanan itu memukuli Wang, dia menampar wajahnya lebih dari 30 kali.

Tahanan-tahanan lain mencubit Wang di seluruh badan, yang membuatnya lebam. Saat para tahanan marah, mereka juga memukuli Wang untuk melepaskan amarah. Mereka mengarang bahwa mereka tidak usah meminta izin dari para petugas untuk membukulinya. Dan para petugas memperingatkan Wang bahwa jika dia melaporkan pemukulan ini, dia harus mendapatkan izin dari para tahanan lain yang ditugaskan untuk mengawasinya.

Ketika tangan-tangan para tahanan lain kesakitan kerena memukulinya, mereka memukuli Wang dengan sepatu atau keranjang pakaian mereka. Mereka menyumpal mulut Wang dengan pakaian mereka dan tidak membiarkannya berbicara. Dia harus makan dan berjalan sesuai permintaan mereka.

Siksaan ini membuat gerakan Wang menjadi lamban dan kedua matanya bengkak. Saat dia dibebaskan, dia sudah berada dalam kondisi mengigau.

Setelah Li ditangkap pada bulan Juli 2010, polisi menggeledah rumah mereka saat Wang berada di rumah sendirian. Dia sangat terkejut, dan gangguan jiwanya memburuk. Dia berkeliaran di luar dan tidak berani pulang ke rumah. Pada tanggal 12 Februari 2013, hari ketiga dari Tahun Baru Imlek, Wang meninggal dunia.