Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Pemahaman Saya tentang Sentimentalitas dan Keegoisan

26 Juni 2021 |   Oleh praktisi Falun Dafa Tiongkok

(Minghui.org) Baru-baru ini kultivasi saya mandeg, dan saya tidak tahu mengapa. Saya tidak bisa menembus keadaan itu untuk waktu yang lama. Sifat iblis saya menampakkan dirinya. Saya bekerja keras untuk menahannya, tetapi saya tidak dapat menahannya jika pihak lain terlalu tidak masuk akal. Selain itu, saya tidak bisa mentolerir orang lain lagi. Saya merasa orang-orang di sekitar saya tidak memiliki nilai moral dasar seorang manusia.

Saya tahu keegoisan adalah faktor kondisi buruk ini, dan mungkin semuanya disebabkan oleh keegoisan. Saya tahu perlu menyingkirkan konsep dan keterikatan manusia sepenuhnya. Saya juga tahu semua yang terjadi adalah kesempatan yang baik bagi saya untuk berkultivasi.

Mungkin karena saya berkali-kali gagal dalam ujian Xinxing, kesengsaraan menumpuk. Gangguan iblis jahat jelas merupakan salah satu faktornya. Namun di tengah kekacauan itu saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Memohon Petunjuk Guru

Kemarin, saya meminta petunjuk kepada Guru untuk memberi tahu apa masalah saya. Mungkin Guru melihat kualitas kesadaran saya buruk, saya tidak mau mengakui masalah, dan maju selangkah untuk menghadapinya, Guru memberi saya peringatan keras.

Hari ini, ketika mempelajari bagian “Benar-benar Membawa Orang Menuju Tingkat Tinggi” di Zhuan Falun, saya tiba-tiba merasakan petunjuk dari Fa. Saya langsung mendapatkan ketenangan pikiran. Seperti tersadarkan, saya mengerti segalanya.

Sentimentalitas saya terlalu kuat! Bagi seorang praktisi, memiliki “sentimentalitas” yang kuat bukanlah hal yang baik. Terus terang, seberapa besar "sentimentalitas" yang dimiliki seseorang, begitu besar pula keegoisan yang dimilikinya. Beban yang tidak perlu ini adalah keterikatan bagi seorang praktisi.

Mungkin orang tidak mau mengakuinya, karena orang mengira “sentimentalitas” itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Misalnya, manusia biasa dengan "sentimentalitas" yang kuat akan melakukan bunuh diri untuk orang yang mereka cintai.

Beberapa orang mengagumi tindakan seperti itu, tetapi pada kenyataannya, tergila-gila terhadap kekasih adalah tidak rasional. Orang-orang ini tidak tahu apa yang mereka lakukan. Tindakan itu egois, bukan? Itu berbahaya bagi diri mereka sendiri dan juga orang lain, dan membuat semua orang terjebak dalam sentimentalitas.

Tentu saja, praktisi hidup dalam masyarakat manusia biasa, tetapi kita tidak menganjurkan “sentimentalitas” ekstrem yang mendorong orang untuk mengikuti orang lain sampai mati. Sebaliknya kita mengikuti pengabdian tradisional antara suami dan istri, menerima takdir sebab dan akibat, hidup bersama dalam harmoni, mendorong satu sama lain, dan kembali ke rumah yang sebenarnya bersama-sama.

Membahas Nilai Kekeluargaan

Bagaimana dengan kekerabatan? Menurut saya, kekerabatan adalah hal yang paling membingungkan yang harus dihadapi manusia. Mengapa? Karena kekerabatan bisa sangat "kuat". Seberapa kuat? Beberapa orang mengklaim hubungan kekerabatan mereka sangat "lemah", tetapi pada kenyataannya, sebagian besar waktu mereka gunakan untuk itu.

Itu karena orang-orang ini terluka, dan akibatnya, mereka iri, benci, dan balas dendam atas apa yang tidak bisa mereka dapatkan. Mereka tidak benar-benar melepaskan keterikatan.

Pepatah mengatakan "darah lebih kental dari air" mengacu pada kekerabatan. Namun pada kenyataannya, kekerabatan adalah tembok yang menghalangi orang untuk kembali ke rumah mereka yang sebenarnya. Segala sesuatu di dunia manusia dibangun untuk membingungkan manusia. Jika seorang praktisi terikat padanya, dia akan hancur; jika seorang praktisi menganggapnya enteng, dia akan dapat melampauinya.

Mengapa saya mengatakan "kekerabatan" lebih membingungkan manusia biasa, kadang-kadang bahkan praktisi, terhadap "cinta romantis" antara seorang pria dan seorang wanita?

Karena dalam masyarakat modern yang merosot saat ini, orang masih menghargai "kekerabatan", karena hanya beberapa anggota keluarga yang termasuk dalam kategori ini. Sedangkan "cinta", terus terang, dalam masyarakat yang merosot, berapa banyak pasangan yang dapat mengikuti tradisi dan menjadi tua bersama, mengingat begitu banyak pilihan di luar sana di dunia? Selain itu, "kekerabatan" telah membuat begitu banyak kultivator gagal.

Saat ini, masyarakat modern yang merosot tidak lagi dianggap sesat, karena semua orang menyimpang. Sentimentalitas yang menyesatkan tercipta di tengah semua faktor ini, dan bahkan para praktisi bingung dalam menangani keterikatan mereka pada sentimentalitas.

Dengan kata lain, sentimentalitas tidak ingin mati. Hal ini sangat licik. Misalnya, seseorang melakukan sesuatu dan berpikir dia melakukannya bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk keluarganya, dan karena itu tidak menganggapnya sebagai keterikatan.

Tetapi, jika seseorang mencari ke dalam dengan menggunakan prinsip-prinsip Fa, perlahan-lahan ia akan menemukan akar masalahnya, yang masih untuk dirinya sendiri -- untuk tidak kehilangan “kekerabatan”, tidak kehilangan “ego”, tidak kehilangan kepedulian ada orang-orang yang secara khusus baik bagi mereka, dan tidak kehilangan semua yang dimiliki -- yang disebut kenikmatan materi dan kebahagiaan manusia selama puluhan tahun.

Terus terang, seseorang tidak ingin menderita, tidak ingin kehilangan reputasi dan keuntungan pribadi, dan terlebih lagi, tidak ingin mengubah diri sendiri. Semuanya untuk diri sendiri, untuk diri palsu.

Keegoisan, Sentimentalitas, dan Belas Kasih

Jika motifnya benar-benar demi orang lain, yaitu belas kasih, seseorang tidak akan terusik, jengkel, atau frustrasi. Jika ada sedikit ketidakmurnian, tidak peduli seberapa dalam keegoisan tersembunyi, selama keterikatan yang paling fundamental disentuh, baik itu "keegoisan" atau "sentimentalitas," keterikatan itu akan meledak, dan seseorang akan terusik, jengkel, frustrasi, atau bahkan dendam.

Akan sangat mengerikan bagi seorang praktisi karena menempuh jalan iblis, seseorang tidak akan memperoleh buah sejati. Seseorang tidak akan menjadi Sang Sadar, tetapi juga akan menciptakan karma, apalagi hidup sesuai dengan gelar pengikut Dafa periode Pelurusan Fa.

Dalam masyarakat yang mempertahankan moral, kesalehan anak dan cinta ibu adalah sentimen umum manusia. Tanpa sentimentalitas seperti itu, manusia tidak bisa disebut manusia. Saat ini, banyak hal telah menyimpang dan menghasilkan banyak konsep seperti kesetiaan yang bodoh dan kesalehan anak yang bodoh tanpa prinsip, dan setiap orang menambahkan bahan bakar ke dalam nyala api.

Saat ini, melindungi diri sendiri telah menjadi konsep yang dapat dibicarakan semua orang secara terbuka dan tanpa rasa malu. Manifestasi sifat iblis telah menjadi mode di kalangan anak muda, berpikir itu adalah kepribadian yang maju, dan banyak orang bahkan memujinya.

Pada kenyataannya, ketika sesuatu benar-benar bertentangan dengan kepentingan pribadi mereka, "kekerabatan" atau "cinta romantis" menjadi tidak berharga dan dapat dibuang ke luar jendela. Kebajikan tradisional seperti menegakkan keadilan, tidak takut mati untuk tujuan yang adil, menyerahkan hidup seseorang untuk keadilan, kesetiaan, bakti, berkah, martabat manusia, dan belas kasih, dianggap konyol oleh banyak orang di zaman modern ini.

Terlepas dari kemerosotan moral, apa yang terjadi di permukaan tidak dapat menghentikan keinginan bawaan orang; semua orang di lubuk hati mereka ingin bebas. Itulah sebabnya banyak kuil-kuil telah dikunjungi dalam beberapa tahun terakhir. Adapun apakah itu berhasil atau tidak, itu bervariasi dari orang ke orang.

Di mana ada sentimentalitas, di situ ada “keegoisan”, dan sebaliknya. Bagaimana belas kasih bisa lahir dari “keegoisan?” Belas kasih juga tidak datang dari sentimentalitas. Setidaknya bagian yang belum menyelesaikan kultivasi tidak memiliki belas kasih, jadi bagaimana mungkin ada belas kasih ketika sifat iblis muncul?

Belas kasih bukanlah sentimentalitas; itu melampaui sentimentalitas. Belas kasih tidak membuat siapa pun merasa tertekan atau memberikan perlakuan khusus kepada siapa pun. Belas kasih bisa mencairkan apa saja.

Tabu besar bagi para praktisi adalah pembenaran diri dan menganggap diri sendiri sebagai seseorang yang istimewa. Faktanya, tidak ada seorang pun yang istimewa, dan tidak ada yang istimewa, oleh karena itu terus mengultivasi diri sendiri adalah dasar dan fundamental bagi seorang praktisi. Gagal melepaskan keterikatan ego sama dengan berkultivasi dengan pengejaran.

Setelah berkultivasi selama bertahun-tahun, baru sekarang saya memahami apa itu kultivasi. Kultivasi adalah pada diri sendiri, bukan sesuatu yang dilakukan untuk menunjukkan kepada orang lain.

Catatan redaksi: Artikel ini hanya mewakili pemahaman penulis dalam keadaan kultivasi mereka saat ini dimaksudkan untuk berbagi pengalaman di antara praktisi sehingga kita dapat “Banding belajar banding kultivasi.” (“Berkultivasi Nyata,” Hong Yin)