Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Ayah yang Menderita karena Menegakkan Keyakinannya

29 Juni 2021 |   Oleh Mi Zhen

(Minghui.org) Dengan datangnya Hari Ayah lagi, saya sedih melihat penganiayaan terhadap Falun Gong, sebuah latihan spiritual dan meditasi, yang masih berlangsung di Tiongkok, setelah 22 tahun Partai Komunis Tiongkok memulai penindasan pertama kalinya. Praktisi yang tak terhitung jumlahnya, termasuk banyak ayah, telah ditolak haknya untuk percaya pada Sejati-Baik-Sabar dan telah ditangkap, dipenjara, dikirim ke kamp kerja paksa, dan bahkan kehilangan nyawa mereka. Keluarga telah terkoyak, dan anak-anak kehilangan orang tua mereka.

Di hari yang istimewa bagi para ayah ini, saya ingin mengenang mereka yang telah dianiaya karena mempertahankan keyakinannya. Saya berharap penganiayaan akan segera berakhir dan keluarga dapat bersatu kembali.

Setelah Kehilangan Satu Putra, Ayah Lanjut Usia Hancur oleh Penangkapan Terbaru dari Putra yang Lainnya

Yu Chunbo dan istrinya Li Fengxia (yang tidak berlatih Falun Gong) ditangkap di rumahnya pada tanggal 12 November 2020. Rumah mereka digerebek. Karena pasangan ini telah ditahan sejak penangkapannya, putri mereka ditinggalkan sendirian. Dia sangat merindukan orang tuanya dan menantikan kepulangan mereka setiap hari. Ayah Yu, berusia 70-an tahun, pergi ke berbagai lembaga pemerintah dan peradilan untuk meminta pembebasan putra sulung dan menantu perempuannya, tetapi dia dikecewakan. Pasangan itu diam-diam diadili pada tanggal 24 Mei 2021, dan sekarang sedang menunggu vonis.

Adik laki-laki Yu meninggal pada tahun 2007 ketika dia baru berusia 32 tahun sebagai akibat dari penganiayaan terhadap Falun Gong. Penangkapan terakhir Yu dan istrinya merupakan pukulan berat bagi ayahnya, dia berkata, “Tragedi terbesar orang tua adalah melihat anak-anaknya mati sebelum dirinya! Dan sekarang putra sulung saya, yang merupakan satu-satunya penopang keluarga, dibawa pergi bersama menantu perempuan saya dan sedang dianiaya. Putri mereka, yang duduk di bangku SMA, ditinggal sendirian. Dia tidak hanya di bawah tekanan akademis tetapi harus menghadapi kenyataan bahwa orang tuanya dipenjara. Tanpa cinta dari keluarganya dan dukungan finansial, dia menangis setiap hari dan berada di bawah tekanan mental yang besar.”

Adik Yu, Yu Chunhai, mulai berlatih Falun Gong pada tahun 1998. Di tengah malam pada bulan November 2000, polisi mendobrak rumah Yu dan menangkapnya di tempat tidur.

Adik Yu dijatuhi hukuman kamp kerja paksa selama dua tahun. Ketika dia pertama kali ditahan di Kamp Kerja Paksa Weizigou, dia dipukuli dan disiksa secara brutal. Seorang narapidana pernah menarik kepalanya ke bawah dan memaksanya untuk membungkuk, sementara narapidana lain menendangnya begitu keras sehingga kepalanya membentur dinding dan pingsan.

Yu dipindahkan ke Kamp Kerja Paksa Chaoyanggou pada awal bulan April 2001. Dia dipukuli, ditendang, disundut dengan rokok, dilarang tidur, dan dipaksa untuk menyilangkan kaki dalam waktu yang lama. Seorang pecandu narkoba bernama Xu Hui menggunakan papan kayu setinggi tiga kaki untuk menebasnya puluhan kali, menyebabkan pantatnya berdarah parah. Para narapidana secara terbuka menyatakan bahwa mereka hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh penjaga penjara dan direktur penjara.

Satu bulan kemudian pada bulan Mei, Yu hampir meninggal karena penyiksaan dan dibawa pulang. Dia meninggal sekitar sembilan bulan kemudian, pada tanggal 21 Januari 2007. Dia meninggalkan dua anak, berusia 2 dan 8 tahun.

Guru Bahasa Inggris dan Ayah Dua Anak Menghadapi Penjara

Zhang Jingyuan dari Kota Changchun, Provinsi Jilin, adalah seorang guru bahasa Inggris sekolah dasar dan ayah dari seorang putra berusia 18 tahun serta seorang putri berusia 21 tahun. Dia ditangkap pada tanggal 15 Juli 2020, dan telah ditahan sejak saat itu. Dia diadili tanggal 9 April 2021. Murid-muridnya sangat merindukan kepulangannya. Ibunya yang lemah berusia 70-an duduk di luar rumah dan melihat ke arah pintu masuk desa setiap hari, berharap melihat putranya kembali.

Putra Kehilangan Kedua Orang Tuanya dalam Tiga Tahun

Polisi di Kota Anshan, Provinsi Liaoning, mendobrak rumah Wang Dianguo, istrinya Yu Baofang, dan putra mereka Wang Yu pada malam hari tanggal 4 Juli 2017. Yu ditahan di Pusat Penahanan Wanita Anshan dan meninggal 13 hari kemudian. Tidak sampai satu jam setelah kematian Yu, putranya diizinkan untuk melihat ibunya terakhir kali di rumah sakit. Tidak diizinkan untuk terlalu dekat dengannya.

Wang ditahan dan tidak diizinkan untuk mengatur pemakaman istrinya. Ia kemudian divonis empat tahun penjara. Dia meninggal tanggal 16 Juni 2020, dua tahun setelah dia dipenjara.

Putri Membela Integritas Ayahnya

Yang Jianlu dari Kota Zhangjiakou, Provinsi Hebei, dihukuman delapan tahun penjara dan denda 10.000 yuan pada tanggal 16 Maret 2012. Pengacaranya membela tidak bersalah atas namanya dan memberikan pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh 415 penduduk desa untuk mendukung Yang.

Putri Yang membela ayahnya, mengatakan bahwa dia telah menyaksikan ayahnya membuat keluarganya bahagia dan harmonis setelah dia mulai berlatih Falun Gong dan cara ayahnya mengajarinya menjadi orang baik meskipun secara umum moralitas telah merosot. Dia juga berpendapat dari sudut pandang hukum bahwa ayahnya tidak bersalah karena berlatih Falun Gong dan meminta pembebasannya.

Kematian Seorang Ayah

Setelah Gong Piqi, seorang pensiunan kolonel di Divisi Artileri Cadangan Provinsi Shandong, dan istrinya ditangkap tanggal 13 Mei 2005, putri mereka kehilangan dukungan keuangan dan menjadi tunawisma.

Setelah putri mereka kemudian pindah ke AS, dia tidak dapat kembali ke Tiongkok untuk mengunjungi orang tuanya karena penganiayaan terhadap keyakinan mereka yang sama. Tanggal 17 Oktober 2017, Gong ditangkap lagi saat mengunjungi rekan praktisi.

Dari luar Tiongkok, putrinya, Gong Xiaoyan, meminta bantuan tetapi tidak dapat menahan pihak berwenang untuk menghukum ayahnya yang berusia 62 tahun hingga tujuh setengah tahun penjara pada bulan Agustus 2018.

Pada malam hari tanggal 12 April 2021, keluarga Gong tiba-tiba diberitahu oleh Penjara Jinan bahwa dia telah meninggal. Mereka melihat luka yang jelas di tubuhnya. Darah terlihat keluar dari telinga dan kepalanya bengkak serta basah.

***

Selama 22 tahun terakhir, ada banyak tragedi seperti ini. Apa yang dialami para ayah di luar imajinasi. Semoga semakin banyak orang yang memperhatikan penganiayaan dan membantu mengakhirinya.

Artikel Terkait dalam bahasa Inggris:

Having Lost One Son to the Persecution of Falun Gong, Elderly Father Calls for Another Son’s Release

Arrested in a Police Sweep, Eight Jilin Residents Tried for Their Faith

Liaoning Man Dies in Prison Three Years After His Wife Died in a Detention Center

Hebei Man Tried for His Faith, Daughter and Local Villagers Testify in His Defense

Retired Colonel Dies in Prison, Family Suspects Foul Play