Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Kebaikan dan Belas Kasih Membuat Saya Melewati Masa-Masa Sulit (Bagian 1)

20 April 2022 |   Oleh praktisi Falun Dafa di Provinsi Sichuan, Tiongkok

(Minghui.org) Sejak saya mengikuti latihan spiritual Falun Dafa (juga disebut Falun Gong) dan berkultivasi sesuai dengan prinsip universal Sejati-Baik-Sabar, saya menjadi jauh lebih toleran.

Saya dulu sombong dan sangat memikirkan diri sendiri. Saya tidak memiliki toleransi dan tidak tahan dengan kesalahan apa pun. Sejak saya meningkatkan toleransi saya dapat melihat dunia ini, melihat orang-orang, dan hal-hal di sekitar saya dengan belas kasih.

Rekan kerja dan atasan saya senang melihat perubahan ini dalam diri saya—mereka tidak lagi harus berurusan dengan rekan kerja yang suka asal bicara, suka bertengkar, dan keras kepala, dan jauh lebih bahagia bekerja dengan orang yang polos dan baik hati seperti saya.

Ketika Partai Komunis Tiongkok (PKT) meluncurkan penganiayaan terhadap Falun Dafa pada Juli 1999, kepala sekolah saya mengatakan kepada saya: “Kami membicarakannya dan semua setuju bahwa anda harus melanjutkan latihan anda. Jika anda kembali ke kebiasaan lama, kami tidak akan bisa mengatasinya. Hati-hati." Hingga saat ini saya merasa bahwa saya telah berkultivasi dengan cukup baik—dari murid-murid saya hingga orang tua mereka, rekan kerja hingga teman dan keluarga saya, semua orang mengatakan saya telah menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Setelah saya ditahan karena keyakinan saya, saya tidak diizinkan untuk mengajar dan diturunkan ke posisi petugas kebersihan. Namun, saya tidak mengeluh dan saya senang melakukan pekerjaan pemeliharaan dan membersihkan. Seorang guru memberi tahu saya: "PKT tidak menjadikan anda orang baik tetapi Falun Dafa melakukannya."

Petisi kepada Pemerintah Pusat di Beijing

Pada tahun 2000 saya pergi ke Beijing mengajukan petisi kepada pemerintah pusat untuk pertama kalinya. Saya tidak pernah bepergian sendiri dan saya bahkan tidak tahu cara membeli tiket kereta api. Rumah saya sedang dipantau pada saat itu tetapi saya menemukan cara untuk pergi. Guru memberi saya isyarat bahwa saya harus naik kereta api ke Beijing. Saya tidak punya banyak uang dan saya hanya mampu naik kereta lambat dengan layanan sementara ke Beijing yang dijadwalkan berangkat dalam tiga hari.

Saya menghabiskan tiga hari berikutnya menunggu di lobi stasiun kereta api. Untuk menghemat uang, saya hampir tidak makan apa-apa. Dua pemuda yang duduk di sebelah saya pergi ke kota yang berbeda. Kami mulai mengobrol dan mengenal satu sama lain dengan cukup baik. Sebelum naik kereta, salah satu dari mereka memberi saya informasi kontak kakak laki-lakinya dan menekankan agar saya menelepon dia jika saya membutuhkan bantuan di Beijing. Dia memberi tahu saya bahwa saudaranya adalah seorang koki dan saya hanya perlu menyebutkan bahwa saya adalah temannya.

Saya bertanya kepadanya, “Apakah anda tidak khawatir saya menipu saudara anda?” Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum: “Saya tahu anda orang profesional. Ini bulan Maret dan anda sangat terburu-buru untuk pergi ke Beijing. Anda mesti ada urusan penting. Saya juga dapat mengatakan bahwa anda berbeda dari kebanyakan orang. Anda adalah orang yang baik dan jujur. Anda mesti pergi untuk alasan yang baik. Saya tidak punya uang tetapi saya akan berusaha membantu anda.” Saya berterima kasih padanya. Saya ingin meninggalkan nomor telepon saya tetapi saya khawatir akan keselamatannya. Saya mengambil secarik kertas mencatat nomor saudaranya di atasnya.

Saat menaiki kereta kami, seorang ibu muda berusia 29 tahun dari pedesaan meminta bantuan saya. Dengan bayi perempuan yang baru lahir di gendongannya, dia meninggalkan rumah untuk menghindari Komite Perencanaan Kelahiran desa. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia sedang menuju ke Kota Shiyan di Provinsi Hubei untuk mencari suaminya yang bekerja di sana. Satu-satunya barang bawaannya adalah tas popok yang berisi beberapa pakaian dan sekantong besar tepung. Dia berencana menggunakan tepung itu memulai warung kecil untuk menghidupi dirinya sendiri begitu dia berada di Shiyan.

Saya mencoba menggendong bayi itu tetapi bayinya menangis jadi saya membantunya membawakan tasnya. Saat itu menjelang akhir liburan Tahun Baru Imlek dan banyak orang kembali ke kota. Kereta yang kami naiki ke rute ini sementara telah ditambah keretanya untuk memenuhi permintaan. Kabin kami penuh sesak dan kami hanya bisa berdiri. Saya menghitung uang di dompet saya dan mengeluarkan lebih dari belasan yuan untuk membeli bangku plastik agar ibu muda itu bisa duduk. Kereta bergerak perlahan dan berhenti lama di setiap pemberhentian, tidak peduli stasiun kecil atau besar.

Pada hari kedua, saya tidak bisa berdiri lagi. Saya bertanya kepada ibu muda itu apakah saya bisa duduk di tasnya tetapi dia berkata tidak, khawatir saya akan merusaknya. Sebelum saya bisa mengatakan apa-apa, seorang pria di dekatnya berkata kepadanya: “Apakah anda tidak egois? Saya perhatikan bahwa dia membeli bangku untuk Anda duduki. Dia sudah berdiri sejak kami naik kemarin. Kantong sampah anda itu—mengapa dia tidak bisa duduk di atasnya? Jika Anda tidak ingin dia duduk di atasnya, biarkan dia duduk di bangku. Anda bisa berdiri.” Saya tidak ingin mempermasalahkannya tetapi begitu penumpang di sekitar kami mendengar pria itu, mereka tidak akan membiarkan saya terus berdiri dan bersikeras agar saya duduk di tas ibu muda itu. Dia malu.

Juga menjadi jelas bahwa ibu muda itu tidak tahu bagaimana merawat bayinya. Dia menjelaskan bahwa di rumah, ibunya merawat anak itu. Dia tidak memberinya apa pun untuk dimakan dan ketika bayinya menangis, dia juga menangis. Dia juga membiarkan bayinya buang air di lantai kabin. Orang-orang di sekitar kami sangat kesal. Ibu muda itu tahu bahwa orang-orang tidak senang dengannya dan dengan demikian dia menjadi lebih cemas. Dia tidak tahu harus berbuat apa.

Untuk membantunya, saya menghabiskan lebih banyak uang dan membeli sekantong biskuit mahal dan sekantong kecil jeruk. Saya remasbiskuit menjadi bubuk-bubuk halus untuk memberi makan bayi dan memeras jus jeruk ke dalam mulut bayi. Dengan perut kenyang, dia akhirnya tertidur. Saya menemukan beberapa koran bekas, membersihkan air seni bayi dan kursi, dan membuang sampahnya.

Seorang pria muda di dekatnya bertanya kepada saya, “Anda sama sekali tidak terlihat memiliki hubungan keluarga dengannya. Ketika anda pergi membuang sampah, kami bertanya padanya. Dia bilang dia tidak mengenal anda dan bahkan tidak tahu nama anda. Benarkah?" Saya mengangguk. Dia bahkan lebih penasaran, “Kalian berdua tidak saling kenal, tetapi anda sangat membantunya. Mengapa? Untuk apa anda membantunya? Bagi saya tidak akan. Anda sangat baik. Saya heran menemukan masih ada orang seperti anda saat ini!”

Ada banyak polisi di kereta yang mondar-mandir memeriksa penumpang. Saya tidak memberi tahu pemuda itu bahwa saya adalah seorang praktisi Dafa. Namun, ketika saya berbalik, seorang pria yang lebih tua tau dan tersenyum ke arah saya: “Saya tahu siapa anda. Anda adalah seorang praktisi Falun Dafa.” Saya terkejut. Dia melanjutkan: “Di desa kami ada banyak praktisi, mereka semua orang baik, sama seperti anda.” Saya lega mendengarnya. Saya mengatakan kepadanya: “Tolong jangan beri tahu siapa pun. Saya akan pergi ke Beijing untuk mengajukan petisi kepada pemerintah dan saya tidak ingin dihentikan sebelum saya sampai di sana.” Dia berkata: “Jangan khawatir. Saya tidak akan mengatakan apa-apa.”

Setelah beberapa saat, saya menyadari bahwa saya seharusnya memberi tahu pemuda yang saya temui di stasiun kereta api bahwa saya adalah seorang praktisi. Karena keegoisan dan kekhawatiran saya, kesempatan terlewatkan. Namun, Guru mengatur agar saya berada di tempat saya sekarang, dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang baik dan berharga ini. Saya tidak boleh melewatkan kesempatan apa pun, kalau tidak saya akan menyesal. Jadi saya memberi tahu semua orang di sekitar saya bahwa saya adalah seorang praktisi Falun Dafa dan saya akan pergi ke Beijing untuk mengajukan petisi kepada pemerintah.

Lebih dari belasan orang di sekitar saya semuanya pergi ke Beijing sebagai pekerja kontrak. Mereka terkejut mendengar apa yang saya rencanakan dan menganggapnya mengagumkan. Seorang pria berpakaian rapi tampaknya memiliki lebih banyak pengalaman bekerja dan tinggal di kota besar. Dia mengungkapkan bahwa dia akan pergi ke Beijing untuk bekerjasebagai koki.

Dia meminta saya untuk menuliskan nama buku Zhuan Falun di buku catatannya. Dia mengatakan kepada saya bahwa seorang temannya juga berlatih Falun Dafa dan telah memberitahunya tentang latihan tersebut tetapi dia tidak mempercayainya. Dia berpikir bahwa latihan qigong saat ini semuanya palsu. Namun, cerita saya membuatnya penasaran tentang Falun Dafa. Dia berkata dia akan mencari dan membaca buku Zhuan Falun ketika dia sampai di rumah.

Seorang pria memperingatkan saya: “Anda tidak bisa pergi ke Beijing. Kami telah melihat polisi menangkap praktisi di Tiananmen dan juga memukul mereka. Sangat berbahaya jika anda pergi ke sana. Jika anda tidak punya tempat untuk pergi, ikut kami dan kami akan membantu anda.” Saya berterima kasih kepada mereka atas kebaikannya.

Kereta tiba di stasiun Beijing. Dengan sisa 30 yuan, saya naik taksi ke Lapangan Tiananmen.

“Anda Sangat Berani.”

Kedua kalinya saya pergi ke Beijing, saya membawa serta anak saya yang berusia lima tahun. Saya sudah tahu bagaimana menjagadiri sendiri dan anak saya. Saya juga ada beberapa ratus yuan di dompet. Namun, seorang praktisi muda berusia 14 tahun dari Beijing dan kami berdua ditangkap oleh petugas polisi dari Distrik Huairou dan ditahan selama dua hari. Kami dibebaskan pada malam hari ketiga.

Kami bertiga berjalan sebentar dan bertemu dengan dua pedagang yang menjual minuman di jalan. Saya memberi tahu mereka bahwa kami adalah praktisi Falun Dafa dan bagaimana praktisi disiksa di pusat penahanan. Para pedagang sangat bersimpati. Salah satu dari mereka berkata: “Ada beberapa praktisi Falun Dafa di desa kami. Saya juga pernah berlatih. Anda tunggu di sini. Saya akan mencari taksi untuk membawa anda ke stasiun kereta bawah tanah. kemudian anda akan butuh tiga yuan naik kereta bawah tanah ke Stasiun Kereta Barat. Cepatlah dan bawa anak anda pulang.”

Taksi datang dan kami menyetujui tarif 150 yuan. Setelah mengeluarkan uang untuk tiket kereta api pulang, saya hanya punya uang beberapa yuan untuk membayar sopir jadi tidak cukup. Untungnya, praktisi muda berusia 14 tahun itu memiliki 50 yuan yang diberikan oleh praktisi lain kepadanya.

Saat itu awal Oktober, akhir dari hari libur nasional, dan banyak orang yang sedang melakukan perjalanan pulang. Seorang wanita muda tanpa tiket telah mengambil tempat duduk saya di kereta. Setelah semua penumpang naik kereta dan duduk di kursi mereka, hanya saya yang berdiri. Ketika wanita muda itu mengetahui bahwa dia telah mengambil tempat duduk saya, dia merasa malu. Saya bilang padanya kita bisa berbagi.

Kereta datang dari wilayah Timur Laut. Para penumpang secara bertahap diperingatkan satu sama lain dan mulai mengobrol. Seorang penumpang berkata bahwa ketika orang-orang naik kereta api di Timur Laut, semua orang diminta mengutuk Falun Dafa. Orang-orang bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi—mengapa PKT membuat masalah besar tentang Falun Dafa?

Seorang lelaki tua berusia 60-an memiliki tingkah laku yang khas dan tidak ada yang mau berbicara dengannya. Ketika saya menyuruh anak saya menyapanya, dia senang dan mengangguk pada kami. Ketika percakapan beralih ke Falun Dafa, dia angkat bicara. Perlahan, tapi dengan suara keras, dia berkata: “Saya beri tahu anda. Saya tahu Falun Dafa adalah latihan yang baik.”

Seseorang bertanya kepadanya: "Bagaimana anda tahu?" Dia tidak menjawab, jadi saya yang menjawab: “Pria ini benar. Falun Dafa baik. Saya adalah seorang praktisi Falun Dafa.” Semua orang menoleh dan menatap saya tidak percaya tapi kagum. Seorang wanita paruh baya berkata: “Wow. Anda sangat berani. Anda akan ditangkap di Timur Laut.”

Ketika kami sampai di rumah, ibu memberi tahu saya bahwa polisi setempat berulang kali menelepon untuk mencari tahu di mana saya berada. Namun, semuanya baik-baik saja ketika saya pergi bekerja.

Satu Kibasan Tangan

Karena penganiayaan saya harus meninggalkan rumah. Pada hari Tahun Baru 2001, saya membeli tiket kereta api untuk belasan praktisi dari kota pegunungan terpencil, beberapa praktisi setempat dari kota saya, dan saya sendiri. Lebih dari 20 orang dari kami pergi ke Beijing.

Pada hari kami tiba di Lapangan Tiananmen, ada gelombang tak berujung dari orang-orang yang meneriakkan "Falun Dafa Baik" dan spanduk Dafa ada di mana-mana. Saya berdiri tepat di gerbang Tiananmen dan bergabung dengan mereka, berseru, "Falun Dafa baik!"

Awalnya, saya khawatir tas saya akan hilang, jadi saya membawanya di punggung. Kemudian saya berpikir seandainya saya jatuh, saya akan menggunakan tas saya sebagai alas agar saya tidak terluka. Pikirkan kacaudan sepele semua terpikir. Namun, begitu saya mengangkat tangan, pikiran berpacu saya terhenti. Yang bisa saya dengar hanyalah para turis di sekitar kami yang berkata satu sama lain, “Lihat! Falun Gong!”

Dua petugas polisi berlari ke arah saya. Mereka hanya beberapa meter jauhnya tetapi seolah-olah di dimensi yang berbeda, mereka berlari dalam gerakan lambat seperti di film-film. Saya terus berteriak, “Falun Dafa baik! Falun Dafa baik!” dan hampir kehilangan suara ketika mereka akhirnya mendekati saya. Yang satu meraih lengan saya dan yang lain menutup mulut saya. Dengan satu kibasan tangan, mereka berdua jatuh ke belakang.

Walkie-talkie mereka berbunyi, “Berapa banyak? Seorang wanita? Tangkap dia.” Salah satu petugas meminta bantuan: “Tenaga kami tidak cukup. Kami butuh dukungan.” Orang di ujung walkie-talkies tidak mengerti: "Apakah anda memberi tahu saya bahwa anda berdua tidak dapat menangani satu wanita?"

Dua polisi bersenjata datang lagi dan mereka berempat menyeret saya ke samping. Saya ditangkap dan ditahan di Kabupaten Yanqing. Begitu banyak praktisi Falun Dafa ditahan sehingga hampir semua narapidana kriminal dibebaskan untuk memberi ruang.

Musim dingin di Beijing sangat dingin. Papan kayu tempat kami tidur di atasnya tanpa alas tidur dan tidak ada pemanas ruangan. Belasan praktisi yang ditahan telah melakukan mogok makan selama beberapa hari. Beberapa terluka selama interogasi dan tidak bisa bergerak.

Tepat ketika saya bertanya-tanya apa yang harus dilakukan selanjutnya, seorang gadis muda membaca ajaran Guru yang baru dengan lantang dan bagian ini menarik perhatian saya,

“Satu Dewa turun menyelamatkan manusia, manusia menyalibkan Dewa, betapa besarnya kejahatan manusia, sampai hari ini pun masih sedang membayar kembali. Namun itu bukan hanya manusia saja yang melakukan, adalah diciptakan oleh kehidupan dari tingkat lebih tinggi yang telah bejat.” (“Ceramah Fa pada konferensi Fa di Kawasan Great Lakes di Amerika Utara,” Dao Hang)

Rasanya seperti bola lampu dinyalakan! Saya berkata: “Kita tidak bisa tinggal di sini. Kita turun ke dunia ini untuk menyelamatkan orang-orang, sama seperti sang sadar itu. Jika orang menganiaya kita, mereka akan melakukan dosa sebesar memaku Yesus di kayu salib. Bahkan jika kita bisa menanggungnya, para penganiaya akan musnah. Dengan semua yang telah menimpa kita, tubuh fisik kita tidak akan bertahan sampai hari ini tanpa perlindungan Guru dan menahan rasa sakit bagi kita. Namun, kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus pergi dari sini. Kita harus menggunakan kebijaksanaan, bersikap rasional, dan tetap tenang.”

Penjaga dan staf bingung. Salah satu pejabat berteriak, “Jiang sialan (merujuk pada Jiang Zemin, mantan kepala PKT yang melancarkan penganiayaan terhadap Falun Dafa)! Dia tidak berbuat baik tetapi menyebabkan masalah tanpa alasan. Kami ada begitu banyak tahanan Falun Gong di sini di Kabupaten Yanqing. Jika mereka semua mati, beritanya akan menyebar sebelum saya pulang malam ini. Mengapa tidak menahan orang jahat tetapi malah mengunci orang baik? Neraka apa?! Jika anda ingin menghancurkan Falun Gong, berikan saya perintah tertulis resmi! Saya tidak mendapatkan apa pun selain 'kata-kata' dari para petinggi. Berdasarkan apa? Siapa yang akan bertanggung jawab? Siapa yang akan disalahkan?!”

Kemudian pada hari itu, semua praktisi yang ditahan dibebaskan secara berkelompok. Ketika saya berjalan keluar dari pusat penahanan, saya menyadari bahwa salju turun dengan lebat. Orang-orang berbicara tentang penutupan jalan di jalan raya. Tiga praktisi lanjut usia dan saya menghentikan taksi tetapi tidak tahu bahwa pengemudinya telah digantikan oleh petugas polisi berpakaian preman.

Dia membawa kami ke depan kantor polisi setempat dan menyuruh kami keluar. Banyak petugas mengelilingi kami. Mereka tidak mendekat tetapi mengawasi kami dari kejauhan. Kami terjebak dan tidak bisa kemana-mana. Saya duduk di salju dan tiga praktisi tua juga duduk. Salju tebal terus turun dan menutupi kami seperti selimut tebal.

Setelah berjam-jam duduk di salju, seorang lelaki tua yang lewat menghampiri saya dan menyentuh lengan baju saya: “Pakaian yang sangat tipis. Gadis ini pasti dari selatan. Kamu pasti sekarat dalam cuaca dingin ini.” Pada saat itu, saya menjadi hipersensitif terhadap suara dan pikiran saya tajam. Saya mendengar suara dari seberang jalan, “Jalan ditutup. Naik kereta ke Beijing.”

Saya segera membuat rencana. Saya dengan ringan meremas tangan seorang praktisi tua dan memberi isyarat padanya untuk mendekati saya. Saya membisikkan padanya seluruh rencana saya. Pada saat itu saya menyadari bahwa kami berempat adalah satu tubuh, seperti empat biksu dalam Perjalanan ke Barat. Kami harus bekerja sama untuk keluar dari situasi ini.

Kami berpegangan dan mendukung satu sama lain dan berjalan menuju stasiun kereta. Kami berjalan dan berjalan di salju sampai kami tersesat dan tidak bisa berjalan lagi. Orang dewasa yang lewat mengabaikan permintaan bantuan kami, tetapi sekelompok anak-anak mengantar kami ke stasiun kereta. Seorang praktisi melihat sekeliling dan menghitung lebih dari seratus polisi dan petugas berpakaian preman di stasiun kereta api, semua hanya menunggu kami berempat.

Seorang gadis kecil memberi tahu kami: “Tidak ada kereta yang pergi ke Beijing. Kereta akan ke Zhangjiakou.” Apa yang harus dilakukan? Kami bingung. Namun, gadis kecil itu kembali dan berkata: “Bu. Saya menyesal. Saya berbohong. Orang-orang itu menyuruh saya berbohong. Saya ingat bahwa ibu mengatakan kepada saya bahwa anak yang baik tidak akan berbohong. Kereta itu akan pergi ke Beijing dan akan segera berangkat.”

Saya mengetahui bahwa kami bisa beli tiket saat naik, jadi kami memutuskan untuk naik kereta. Kami juga membuat rencana untuk berteriak dengan lantang, “Falun Dafa baik,” jika polisi menghentikan kami. Kami akan memberi tahu orang-orang semua hal buruk yang telah dilakukan penegak hukum dan mengungkap perbuatan jahat mereka.

Kami naik kereta menuju Beijing. Kami berempat dengan cepat pindah ke kabin yang berbeda untuk menghindari orang-orang yang mengikuti kami. Begitu sampai di stasiun Beijing, kami masing-masing mengambil tiket sendiri dan turun secara terpisah. Membaur ke dalam kerumunan dengan cepat, saya mengambil kacamata saya dari tas saya dan memakainya. Saya juga meminjam sisir untuk meluruskan rambut saya.

Lapisan salju tebal telah menumpuk di tanah seperti selimut yang lembut. Orang-orang mengalami kesulitan berjalan di salju yang dalam, tetapi saya merasa seringan balon. Segera setelah saya berhenti di tepi jalan, sebuah taksi berhenti tepat di depan saya. Seorang penumpang turun dan saya naik.

Melalui jendela, saya melihat kerumunan besar membentang di kedua sisi jalan menunggu taksi. Sopir itu berkata: “Seolah-olah saya datang ke sini untuk menjemput anda. Wanita itu bersikeras bahwa saya datang jauh-jauh ke sini dan tidak ingin keluar lebih awal, apa pun yang terjadi. Di sepanjang jalan orang-orang melambai pada saya tapi dia tidak mengizinkan saya berhenti. Jadi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi begitu saya berhenti, anda masuk.”

Saya tahu bahwa semuanya pengaturan Guru.

(Bersambung)