Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Pencerahan Saya Setelah Tiga Mimpi Serupa

11 Mei 2022 |   Oleh praktisi Falun Dafa di luar Tiongkok

(Minghui.org) Setelah membaca artikel terbaru Guru “Sadarlah”, saya merasa mendesak, waktu yang tersisa untuk berkultivasi semakin singkat. Saya ingin bercerita tentang tiga mimpi yang saya alami. Dengan membagikannya saya berharap kita bisa menjadi lebih rajin dalam melakukan tiga hal agar tidak meninggalkan penyesalan.

Mimpi Pertama

Guru memberi saya setumpuk kertas ujian bertingkat dan meminta saya untuk membagikannya. Saya meletakkan milik saya di bagian tumpukan paling bawah karena saya merasa saya tidak melakukannya dengan baik. Saat membagikannya, saya perhatikan bahwa hampir semua orang memperoleh nilai 80-an atau 90-an dan tulisan tangan mereka rapi dan bersih. Beberapa bahkan melampirkan selembar kertas tambahan karena tidak ada cukup ruang untuk menjawab pertanyaan.

Ketika mendapatkan kertas ujian saya, saya ragu-ragu untuk melihat nilainya. Ketika mengumpulkan keberanian, saya melihat bahwa saya hanya mendapat nilai 37 poin. Saya merasa putus asa.

Saya ingin tahu mengapa nilai saya sangat rendah, jadi saya melihat lagi ujian saya. Saya menyadari bahwa saya tidak menulis sebanyak teman sekelas saya dan jawaban saya tampaknya cukup asal-asalan. Ketika saya membalik kertas, saya menyadari ada bagian matematika! Ujian saya tidak lengkap dan saya sangat ceroboh! Guru menulis dengan tinta merah, "Tunjukkan prosesnya." Dia menuliskan setiap solusi untuk saya, langkah demi langkah sampai pertanyaan itu terpecahkan.

Saya tercerahkan pada kenyataan bahwa Guru Li (pencipta Falun Dafa) menunjukkan kepada saya untuk tidak mengabaikan pertanyaan apa pun dan menyelesaikannya dengan sepenuh hati. Mereka yang mengerjakan ujian dengan baik menjawab setiap pertanyaan dengan hati-hati dan serius. Mimpi itu mencerahkan saya untuk mengidentifikasi kesenjangan antara saya dan praktisi yang lebih rajin.

Mimpi Kedua

Beberapa bulan kemudian, saya bermimpi bahwa saya akan mengikuti International Language Testing System (IELTS). Saya merasa tidak siap dan saya bergegas ke lokasi ujian. Saya tidak diizinkan masuk karena saya memakai sandal. Saya menjadi sangat cemas karena ujian sudah dimulai. Saya meminta seseorang untuk meminjamkan saya sepasang sepatu. Salah seorang guru lama saya datang dan berkata, "Biarkan saya membantu anda." Dia kemudian pergi.

Saya bertemu dengan seorang pria ketika saya memasuki gedung. Dia menyatakan kesukaannya pada saya dan ingin saya menjadi pacarnya. Ketika saya menolaknya, dia menyatakan bahwa dia memiliki jawaban untuk bagian tes mendengarkan. Dia mengeluarkan sebuah buku dan mengatakan bahwa semua jawaban ada di dalamnya. Saya mendekatinya tetapi setelah berpikir kembali, saya mundur dan mengatakan kepadanya bahwa saya akan berhasil menjawab pertanyaan itu sendiri.

Pada saat ini saya menyadari bahwa sandal saya hilang. Mereka berubah menjadi sepasang sepatu kets milik seorang praktisi yang saya kenal. Saya kemudian diizinkan memasuki ruang ujian.

Pada saat saya masuk, bagian mendengarkan dari tes sudah selesai. Pengawasnya adalah seorang guru wanita. Dia menatap saya dengan ramah dan berkata, "Tolong tunjukkan identitasmu." Saya mengeluarkan identitas saya dan dengan gugup menunjukkan padanya. Dia memberi isyarat agar saya memasuki ruangan sambil menyerahkan lembaran tes untuk saya. Setiap kursi diberi label dengan nama tetapi saya tidak dapat menemukan nama saya.

Ketika saya menemukan nama saya, saya menyadari bahwa kursi itu ditempatkan berbeda dari yang lain. Kursi itu ditempatkan di sudut dan ditumpuk tinggi, hampir setinggi kepala saya. Saya berpikir, “Ini bukan tempat duduk saya, kan?” Saya harus memanjat dan mejanya sangat kecil. Saya berpikir, “Bagaimana saya bisa naik ke sana?” Saat berdiri di sana sambil bertanya-tanya apa yang harus dilakukan, seorang manajer dari tempat kerja saya sebelumnya muncul. Pada saat ini, saya terbangun dari mimpi saya.

Ketika saya mengingat mimpi itu, saya tercerahkan akan banyak hal.

Karena saya terlambat dan tidak siap untuk ujian, saya tercerahkan pada fakta bahwa waktu adalah inti dari kultivasi. Saat memasuki gedung, saya mengatasi dua kesengsaraan: nafsu dan keuntungan. Saya tahu bahwa tidak ada jalan pintas dalam kultivasi dan tidak ada yang bisa memberi saya jawaban. Tak terhitung banyaknya Dewa yang mengawasi pengikut Dafa dan kita harus berkultivasi dengan sungguh-sungguh.

Guru cukup berbelas kasih memberikan ruang bagi saya di tempat ujian dengan menambahkan satu tempat lagi. Tapi mengapa tempat duduk saya terletak lebih tinggi dari orang lain? Saya merasa itu karena tingkat pencapaian saya masih belum maksimal dan saya perlu berusaha lebih keras dan meningkat dengan “memanjat”.

Saya berbagi mimpi saya dengan praktisi lain dan pemahamannya adalah bahwa dua manusia biasa, keduanya adalah orang yang saya kenal, menandakan bahwa saya masih perlu mengklarifikasi fakta untuk menyelamatkan lebih banyak makhluk hidup. Saya meminta bantuan manusia biasa dalam mimpi saya, padahal kenyataannya, praktisilah yang seharusnya membantu manusia biasa.

Mimpi Ketiga

Beberapa bulan kemudian, sekitar hari kedua Tahun Baru Imlek tahun ini, saya bermimpi bahwa saya akan mengikuti ujian lagi. Kertas ujiannya setebal buku. Guru mengumumkan bahwa hanya ada satu jam tersisa. Menjelang akhir, saya membalik-balik kertas ujian saya dan menyadari bahwa saya hanya menyelesaikan sepertiga dari ujian tetapi tidak menyelesaikan awalnya. Soal yang tersisa semuanya pilihan ganda. Meskipun saya tahu semua jawabannya, saya tidak akan punya cukup waktu untuk menyelesaikannya.

Pada saat itu, pengawas mengusir saya keluar dari ruangan dan tidak membiarkan saya menyelesaikan ujian. Ketika mencari tempat lain untuk menyelesaikan ujian, saya terbangun dari mimpi.

Saya tercerahkan bahwa waktu semakin singkat dan mungkin memang ada batas waktu untuk berkultivasi.

Guru berkata dalam “Siapa Benar, Siapa Salah” (Hong Yin III),

“…Cobaan besar maupun kecil jangan sampai gagal…”

Saya telah menjawab sebagian besar pertanyaan yang lebih panjang tetapi masih menyisakan beberapa pertanyaan yang lebih pendek. Poin akan dikeluarkan dari ujian saya jika saya tidak menjawab semua pertanyaan. Saya tercerahkan bahwa saya perlu memperhatikan setiap pikiran dan konsep. Apakah saya mematuhi persyaratan Guru? Apakah saya mengikuti prinsip Sejati-Baik-Sabar? Apakah saya membaca Fa dan memancarkan pikiran lurus dengan sepenuh hati?

Segala sesuatu yang kita temui dalam kultivasi adalah seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian. Jika pikiran seseorang tidak cukup fokus, ia akan melewatkan satu pertanyaan dalam ujian dan tidak dapat melewati kesulitan. Tidaklah benar bersantai dan menangani hal-hal dengan santai.

Mengapa saya diusir oleh guru dalam mimpi saya? Saya tahu bahwa itu adalah hasil dari keterikatan saya pada kenyamanan. Saya telah ditegur oleh koordinator proyek saya jadi saya ingin menghindari masalah dengan menyerah pada proyek. Keterikatan saya terhadap rasa takut akan masalah, tidak sanggup menderita kesulitan, dan tidak mencari ke dalam adalah penyebab yang mendorong saya keluar dari kultivasi.

Kesimpulan

Kita tidak bisa mengecewakan Guru. Guru berharap agar kita meningkat. Saya melihat kekurangan saya dan saya tahu bahwa tidak ada yang sepele dalam hal kultivasi. Waktu semakin singkat dan jika kita tidak melakukannya dengan baik, akan sulit bagi kita untuk mencapai standar Dafa. Saya tidak akan menghindari masalah dan mengendur lagi. Saya akan memperlakukan kesengsaraan dan kesulitan dalam kultivasi dengan serius. Saya berharap para praktisi akan menggunakan waktu yang tersisa dan menyerahkan kertas ujian yang sudah lengkap untuk membuat Guru bangga.

Saya ingin mengakhiri sharing saya dengan puisi yang saya tulis:

Kita semua datang demi Fa;
Malas dan santai adalah rintangan.
Setiap langkah dalam kultivasi harus diselesaikan dengan rajin;
Hanya dengan begitu kita dapat memenuhi sumpah janji kita dan kembali pulang bersama Guru