Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Penganiayaan Falun Gong: Pelaku Yang Menyakiti Orang Lain Juga Menyakiti Diri Mereka Sendiri

18 Agu 2022 |   Oleh He Yiming dan Liu Qingqing

(Minghui.org) Chris Gueffroy, 20, adalah orang terakhir yang tertembak dan terbunuh ketika mencoba menyeberangi Tembok Berlin dari Jerman Timur ke Jerman Barat pada 5 Februari 1989. Empat penjaga perbatasan yang terlibat menerima penghargaan dari komandan mereka, Erich Wöllner.

Tapi ceritanya tidak berakhir di situ. Setelah reunifikasi Jerman dan jatuhnya komunisme di Eropa Timur, empat penjaga diadili dan Ingo Heinrich, yang bertanggung jawab atas tembakan fatal itu, dipenjara. Komandan mereka Wöllner juga dihukum karena “beberapa [kasus] pembunuhan dan percobaan pembunuhan atau membantu dan bersekongkol.”

Pelajaran dari Dinasti Ming

Sepanjang sejarah dan budaya, diketahui bahwa siapa pun yang menganiaya orang yang tidak bersalah akan dimintai pertanggungjawaban pada akhirnya. Contoh lain adalah Wei Zhongixian, seorang pejabat tinggi di akhir Dinasti Ming yang dikenal sebagai orang kasim paling kejam dalam sejarah Tiongkok. Dengan kekuasaannya yang meningkat, yang menyaingi Kaisar Tianqi, banyak pejabat tunduk kepadanya sementara mereka yang tidak tunduk ditahan dan disiksa sampai mati. Ini termasuk Zuo Guangdou, yang disiksa sampai "tidak lagi dalam bentuk manusia" sebelum mati.

Setelah Kaisar Tianqi meninggal, Wei juga kehilangan kekuasaan. Banyak pejabat dan cendekiawan mengajukan tuntutan terhadapnya kepada kaisar baru. Wei dipaksa supaya bunuh diri, mayatnya dipotong-potong dan dipajang sebagai peringatan kepada publik. Para pengikutnya, terutama mereka yang tergabung dalam Pengawal Seragam Bersulam, polisi rahasia kekaisaran, juga dieksekusi.

Teror Zaman Modern

Setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengambil alih kekuasaan pada tahun 1949, ia meluncurkan beberapa gelombang kampanye politik untuk menargetkan mereka yang dianggap “musuh”, termasuk petani (Land Reform pada 1950-an), pemilik bisnis (kemitraan publik-swasta, 1950-an), dan intelektual (“anti-kanan” pada 1950-an, Revolusi Kebudayaan pada 1960-an). Dalam beberapa dekade terakhir, rezim beralih ke pembangkang (Pembantaian Lapangan Tiananmen pada tahun 1989) dan praktisi Falun Gong (sejak 1999).

Mirip dengan tragedi yang terjadi di Tembok Berlin atau di Dinasti Ming, banyak orang secara membabi buta mengikuti perintah PKT untuk menindas orang yang tidak bersalah. Sedikit yang mereka tahu bahwa, meskipun "kerja keras" mereka dapat membawa keuntungan pribadi dalam waktu dekat, "prestasi" itu suatu hari nanti bisa menjadi bukti untuk meminta pertanggungjawaban atas kejahatanmereka.

Dua puluh tiga tahun telah berlalu sejak PKT mulai menindas Falun Gong pada Juli 1999, tetapi tragedi itu terus berlanjut. Dalam enam bulan pertama tahun ini, 92 praktisi meninggal karena penganiayaan, 366 dijatuhi hukuman, 1.447 ditangkap, dan 1.260 dilecehkan oleh pihak berwenang.

Selama bertahun-tahun, Minghui telah mendokumentasikan sejumlah besar kasus di mana praktisi ditahan, disiksa, dipenjara, atau menjadi sasaran cuci otak karena keyakinan mereka pada Sejati-Baik-Sabar, dengan lebih dari 110.000 pelaku terlibat. Jika para pelaku ini tidak berhenti melakukan perbuatan buruk, mereka mungkin menghadapi konsekuensi serius di masa depan.

Sebab dan Akibat

Edgar Cayce, seorang peramal Amerika yang dikenal sebagai "the sleeping prophet", menemukan bahwa banyak penyakit orang disebabkan oleh karma di masa lalu.

Satu kasus adalah tentang seorang anak laki-laki berusia 16 tahun yang menderita cedera tulang belakang dalam kecelakaan mobil dan lumpuh. Ibunya menemui Cayce untuk meminta bantuan. Saat dalam keadaan kerasukan, Cayce menemukan bahwa bocah itu adalah seorang prajurit pada Kekaisaran Romawi yang senang menganiaya orang Kristen. Akibatnya, dia menderita cedera tulang belakang sekarang karena dosa-dosanya.

Orang lain hampir buta dan Cayce melihat bahwa dia adalah tentara pada Persia kuno, yang telah membutakan musuh dengan besi panas. Dalam siklus hidup ini, dia pada gilirannya menderita sesuatu yang serupa.

Ada tertulis di dalam Alkitab, “Barangsiapa memimpin ke dalam penawanan, ia akan ditawan; dia yang membunuh dengan pedang harus dibunuh dengan pedang.” Seperti cerita di atas, banyak pejabat PKT, petugas polisi, dan orang lain yang berpartisipasi dalam penganiayaan terhadap Falun Gong juga menghadapi konsekuensi. Beberapa menganggap konsekuensi itu sebagai pembalasan menurut hukum langit.

Wang Jizhong adalah direktur Kantor 610 di Kabupaten Laoting, Provinsi Hebei. Ketika praktisi Falun Gong mendesaknya untuk tidak menganiaya Falun Gong, dia menolak dan berteriak, “Saya tidak percaya pada pembalasan. Itu omong kosong!” Ayah mertuanya setuju, “Kami akan menangkap kalian semua [praktisi Falun Gong].” Tidak lama setelah itu, Wang meninggal dalam kecelakaan mobil dan ayah mertuanya juga kehilangan nyawanya karena pendarahan otak.

Ji Shaochun adalah seorang petugas polisi di Kabupaten Quzhou, Provinsi Hebei, yang sering menindas praktisi. Praktisi mengatakan kepadanya bahwa melakukan hal itu tidak baik untuknya. Ji menjawab: “Ya, saya memang menganiaya Falun Gong, tetapi tidak ada yang bisa kamu lakukan. Ya kan?" Saat Ji sedang mengendarai mobil polisi pada Agustus 2012, dia menabrak traktor dan meninggal di tempat.

Yang Dongsheng adalah seorang hakim di Pengadilan Kabupaten Lushan di Provinsi Henan yang mengalami kecelakaan pada Agustus 2011. Dari 10 orang di dalam mobil polisi, tiga orang meninggal, termasuk Yang. Ketiga orang yang meninggal telah menghukum praktisi Falun Gong sebelumnya. Ketika praktisi telah menjelaskan kepada mereka fakta Falun Gong, Yang menolaknya. Dia menjawab: “Saya tidak peduli dengan keyakinan atau hukum – saya hanya ingin bersekutu dengan Partai. Tidak ada belas kasihan untuk Falun Gong. PKT meminta saya untuk menghukum praktisi Falun Gong, dan saya akan melakukannya – tidak ada yang bisa kamu lakukan!”

Ada contoh serupa lainnya, seperti Zhang Zhongsheng (seorang petugas polisi dari Kantor Polisi Leifeng di Kota Fushun, Provinsi Liaoning), Wang Xiaodong (seorang petugas polisi di Kota Fushun), dan Li Zhen (wakil direktur Pengadilan Wanghua), yang semuanya meninggal, baik karena kecelakaan atau sakit.

Membuat Pilihan yang Tepat

Seiring berjalannya waktu, beberapa pejabat telah mendengarkan, dan belajar dari praktisi apa itu Falun Gong dan telah memilih untuk berhenti melakukan perbuatan buruk.

Tidak lama setelah Tahun Baru Imlek 2022, dua praktisi lanjut usia – Hui dan Mi – pergi membagikan materi yang melawan propaganda kebencian PKT. Seseorang melaporkannya ke polisi dan mereka dibawa ke kantor polisi. Beberapa petugas polisi kemudian membawa Hui ke rumahnya pada sore hari untuk penggeledahan rumah. Putra Hui membawa makan siang dan Hui makan perlahan karena dia tidak punya gigi. Petugas polisi pergi dan kembali sekitar dua jam kemudian. Melihat bahwa petugas akan membawa Hui pergi, putranya bertanya kapan dia bisa menjemputnya. Seorang petugas mengatakan jam 17:00 sore. Baik Hui dan Mi kemudian dibebaskan pada pukul 17:00 sore.

Suatu kali, tiga praktisi pergi membagikan kalender Tahun Baru dengan informasi yang berkaitan dengan Falun Gong. Seorang pejalan kaki menghubungi polisi dan ketiganya dibawa ke kantor polisi. Di kantor polisi, seorang petugas mengeluarkan kalender praktisi dan meletakkannya di atas meja di sebelah praktisi. Setelah beberapa saat, petugas polisi lain masuk dan melihat kalender. Dia mengambil beberapa, meletakkannya di bawah mantelnya, dan berjalan pergi, seolah-olah tidak ada orang di ruangan itu. Kemudian petugas polisi ketiga masuk dan melakukan hal yang sama. Dengan cara ini, semua kalender habis terbagikan dan praktisi segera dibebaskan.

Pada akhir musim semi tahun ini (2022), dua praktisi dilaporkan ke polisi ketika mereka membagikan materi informasi Falun Gong. Seorang petugas membawa praktisi ke kantor polisi di mana mereka menjelaskan kepadanya apa itu Falun Gong dan memintanya untuk tidak menganiaya praktisi. Petugas kemudian membawa praktisi ke rumah mereka setelah dia berjanji akan membebaskan mereka pada hari yang sama.

Dia menjelaskan: “Saya telah menerima banyak materi dan panggilan telepon dari anda para praktisi. Seorang praktisi yang saya tangkap dijatuhi hukuman lima tahun. Saya sangat menyesal.”

Seorang praktisi menyarankan agar dia dapat membantu menyelamatkan praktisi yang dihukum. Dia berkata dan hampir menangis: “Tidak, sudah terlambat karena dia sudah di penjara. Plus, satu lagi juga dipenjara selama 7 tahun. Saya sangat malu pada diri saya sendiri.

Segera setelah itu, petugas membebaskan kedua praktisi.

Artikel Terkait dalam bahasa Mandarin:

抚顺市警察张忠胜遭暴毙引起反思跟邪党走-恶相随