Falun Dafa Minghui.org www.minghui.org CETAK

Praktisi Indonesia Mengadakan Konferensi Berbagi Pengalaman Kultivasi

16 Mei 2024 |   Oleh praktisi Falun Dafa di Indonesia

(Minghui.org) Pada 11 Mei 2024, Konferensi Berbagi Pengalaman Kultivasi Falun Dafa Indonesia sukses diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat. 15 praktisi berbagi pengalaman mereka, memperoleh manfaat secara fisik maupun mental setelah berkultivasi Dafa, mencari ke dalam, melepaskan berbagai keterikatan hati, serta mengasimilasikan prinsip Dafa Sejati-Baik-Sabar, demikian pula berbagi pengalaman menyentuh mereka saat mengklarifikasi fakta dan membuktikan Dafa di lingkungan keluarga, pekerjaan, dan berbagai proyek.

图1:师尊华诞暨世界法轮大法日来临之际,二零二四年五月十一日,印度尼西亚举行法轮大法修炼心得交流会。

Menjelang perayaan ulang tahun Guru Li dan Hari Falun Dafa Sedunia, Konferensi Berbagi pengalaman kultivasi Falun Dafa diadakan di Bandung pada 11 Mei 2024 

图2~5:二零二四年五月四日,学员在印度尼西亚修炼心得交流会上发言。

Praktisi berbagi pengalaman mereka saat Konferensi Fa Indonesia 2024

Membuktikan Dafa di Tempat Kerja

Arief, seorang insinyur, berbagi pengalamannya, mengultivasikan Xinxing (watak) di tempat kerjanya. Dia berkata, “Seorang kolega di perusahaan sering mengkritiknya secara terbuka di depan rekan-rekan lain. Suatu hari, pimpinannya memberi tahu Arief bahwa beberapa tugasnya akan dialihkan ke rekan ini.” Sejak itu, Arief merasa rekan-rekan lainnya mulai menjaga jarak dengannya.

Awalnya, Arief berpikir dirinya telah sungguh-sungguh mencari ke dalam, tetapi situasi tidak berubah. Maka dia mulai memeriksa diri apakah yang dia lakukan selaras dengan kriteria seorang praktisi Xiulian. Suatu hari dia menyadari bahwa tujuannya mencari ke dalam sesungguhnya adalah untuk menyelesaikan masalahnya sesegera mungkin, bukan sungguh-sungguh mencari ke dalam untuk menemukan kekurangan diri dan menyingkirkan keterikatan hatinya tanpa syarat.

Dia menemukan bahwa kebenciannya terhadap kolega ini sesungguhnya telah tertanam di hatinya karena kolega ini pernah melukai hatinya sebelumnya. Dia juga menemukan keluhan terhadap pimpinannya, berpikir bahwa pimpinannya tidak menghargai dirinya; Arief merasa marah ketika para rekan kerjanya memandang remeh dirinya dan dia merasa iri hati ketika kolega lain menerima perhatian lebih dari pimpinan. Semua hati manusia ini saling memperkuat satu sama lain, sehingga tidak mudah untuk melepaskannya. Satu-satunya jalan adalah meningkatkan diri melalui kultivasi.

Arief menyadari harus meningkatkan belajar Fa-nya, dan dia memperhatikan untuk melenyapkan substansi-substansi buruk ini ketika memancarkan pikiran lurus. Bersamaan, dia melakukan yang terbaik untuk meningkatkan kualitas kerjanya, bekerja dengan rajin dan bertanggung jawab. Dia merasa hatinya menjadi lebih ringan dan tiada beban lagi.

Beberapa bulan berlalu. Suatu hari, koleganya ini datang ke meja Arief untuk mendiskusikan masalah pekerjaan. Arief mencatat perubahan pada sikap koleganya. Tanpa diduga, koleganya bertanya bagaimana Arief bisa tetap demikian tenang dan sabar. Arief berbagi dengannya tentang prinsip-prinsip yang diajarkan Falun Dafa, koleganya ini mendengarkan dengan saksama dan sepertinya tersentuh. Kemudian dia secara inisiatif mengakui kesalahannya terhadap Arief.

Sikap pimpinannya juga berubah. Pada penilaian kinerja akhir tahun, pimpinan memberikan Arief evaluasi yang memuaskan dan juga kenaikan gaji.

Berkultivasi dalam Proses Mendistribusikan Koran

Sebelum berlatih, Santi menderita beragam penyakit seperti migrain, vertigo dan asam lambung yang akut. Setelah berkultivasi Dafa di tahun 2003, hanya dalam beberapa bulan, semua penyakitnya lenyap secara ajaib. Pada 2006, dia bergabung dengan tim distribusi koran Epoch Times, yang berlanjut hingga hari ini.

Awalnya Santi menyebarkan koran Epoch Times ke toko-toko yang dijalankan orang Tionghoa, kemudian ke instansi pemerintah. Dalam prosesnya, dia mengatasi banyak kesulitan. Kakak perempuannya pernah menertawakan dirinya, “Kenapa tidak bayar orang saja untuk mengantar koran?” Tetapi Santi tidak tergerak dan tetap mengantar koran secara langsung. Saat membagikan koran-koran itu, Santi menjelaskan, “Koran ini melaporkan kebenaran, mempromosikan kebaikan dan kebajikan.”

Secara bertahap, beberapa manusia biasa yang telah memahami fakta kebenaran melalui koran Epoch Times juga bersedia membantu menyebarkan koran, seperti di pasar, biara, atau restoran masakan Tionghoa.

Seorang biksu yang berpengaruh pernah mengatakan kepada seorang umatnya, “Koran ini memberitakan kebenaran. Menyebarkannya akan membawakan berkah untuk dirimu.” Sejak itu, penganut agama Buddha ini telah mengantarkan koran ke biara dan komunitas di sekitarnya selama lebih dari sepuluh tahun. Biksu senior ini juga merekomendasikan biksu-biksu lainnya di biaranya untuk membaca koran ini.

Pemilik restoran masakan Tionghoa berkata bahwa dia suka membaca koran Epoch Times dan meletakkan koran itu di restorannya. Jika satu edisi ada yang tidak habis dibagikan, dia akan menggabungkan edisi lama dengan yang baru hingga semuanya habis dibagikan.

Setelah membaca artikel Guru baru-baru ini “Menjauhi Marabahaya”, Santi menyadari bahwa proses mendistribusikan koran selama bertahun-tahun ini sesungguhnya adalah kesempatan dan belas kasih yang Shifu berikan untuk meningkatkan Xinxing-nya, memungkinkan dirinya berasimilasi dengan Sejati-Baik-Sabar dalam prosesnya.

Meningkatkan Xinxing Ketika Mengklarifikasi Fakta

Yuli berasal dari Indonesia dan telah bekerja di Meksiko sejak 2023. Tahun lalu, dia telah berpartisipasi dalam kegiatan peringatan 20 Juli di depan konsulat Tiongkok setempat.

Koordinator memintanya untuk menyebarkan brosur dan mengklarifikasi fakta ke orang-orang yang melintas. Awalnya, Yuli hanya membagikan brosur dan tidak berbicara tentang penganiayaan yang masih berlangsung di Tiongkok. Seorang rekan praktisi lansia memintanya untuk berbicara, meski Yuli telah menjelaskan bahwa bahasa Spanyolnya tidak lancar, rekan ini terus mendesaknya untuk berbicara. Yuli mulai merasa kesal dengan praktisi ini. Dia terus membagikan brosur tanpa mengklarifikasi fakta, tetapi lagi-lagi praktisi ini menghampirinya, memintanya untuk bicara.

Yuli akhirnya menyapa seorang pejalan kaki. Di luar dugaan, ternyata pria itu bisa berbicara bahasa Inggris, maka Yuli pun menjelaskan tentang Falun Dafa dan fakta penganiayaan yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Dafa. Pria ini merasa sangat prihatin terhadap penganiayaan karena keyakinan praktisi terhadap prinsip-prinsip Falun Dafa. Dia juga bercerita, teman-teman anaknya yang berasal dari Tiongkok tidak dapat mengakses beberapa platform media sosial tertentu karena blokade internet yang diterapkan oleh rezim komunis Tiongkok. Setelah memahami fakta kebenaran, pria ini menyatakan dukungan dan rasa hormatnya atas upaya-upaya damai praktisi Falun Dafa dalam menentang dan mengakhiri penganiayaan.

Dari kejadian ini, Yuli menyadari bahwa Guru telah menggunakan mulut rekan praktisi untuk mendorongnya agar mengklarifikasi fakta secara langsung dan melepaskan keterikatan takutnya.

Dari Berlatih Seorang Diri Hingga Membuka Tempat Latihan

Eni adalah seorang pedagang di pasar tradisional yang mengenal Falun Dafa saat pandemi merebak di tahun 2020. Karena dia adalah satu-satunya praktisi di kotanya, dia mencoba berlatih di tempat latihan di kota tetangganya, tetapi tempat latihan ini tutup akibat pembatasan berkumpul selama merebaknya virus PKT (pneumonia Wuhan). Dia kemudian mengikuti kelas belajar daring bersama rekan-rekan praktisi di kota lain. Setelah mendengar sharing rekan-rekan praktisi, dia memahami pentingnya belajar Fa dengan baik dan mencari ke dalam, juga belajar bagaimana memancarkan pikiran lurus.

Melalui belajar Fa, Eni secara bertahap meningkatkan Xinxing-nya (watak), misalnya: Dia menemukan dua orang yang selama ini membantunya di pasar sering mencuri barang dagangannya. Setelah mengetahui hal ini, Eni memberhentikan kedua orang itu, tetapi tidak melaporkan mereka ke polisi. Eni memahami kehilangan materi ini merupakan bentuk pembayaran karma. Di masa lalu, Eni juga senang mengobrol dengan para pedagang lain tentang situasi politik dan gosip lainnya. Setelah menyadari pentingnya mengultivasi pembicaraan, dia memanfaatkan waktu luangnya untuk lebih banyak belajar Fa.

Dia secara bertahap memahami bahwa praktisi memiliki tanggung jawab untuk membantu orang-orang memahami fakta kebenaran, maka dia memutuskan untuk membuka tempat latihan di kotanya. Namun, setelah beberapa waktu masih tidak ada yang bergabung di tempat latihannya maka Eni menutupnya kembali. Tahun lalu, Eni untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam Konferensi Fa Indonesia. Terinspirasi oleh sharing rekan-rekan lain, dia membuka kembali tempat latihan di kotanya, yang terus berlanjut hingga hari ini.

Setelah Konferensi Fa berakhir sekitar pukul 4 sore, praktisi berkumpul di ruang konferensi mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Guru terhormat.